
"Zen, kirim proposal ini ke para investor. Biarkan mereka melihat isi tawaran kontrak baru" Jelas Will yang terlihat serius.
"Oya mana perban yang aku minta ??" tanyanya.
"Ada di mejaku tuan, akan aku ambilkan" jawab Zen.
Lalu di apartemen, Bia mulai gelisah dengan kabar Will. Ia sengaja tidak ingin mengganggu Will karena ia pikir Will akan menghubunginya. Tapi ternyata itu hanya harapan kosong saja.
"Ma, mengapa Will tidak menghubungiku. Padahal ini sudah 3 hari dia di Singapura, apa terjadi sesuatu dengannya ??" Bia mulai cemas.
"Mungkin lagi di perjalanan sayang, bersabarlah. Will pasti akan meneleponmu" jawab Ny.Farida santai.
"Yaa semoga saja begitu" sahut Bia masih murung. Lalu muncul di benaknya untuk mencoba menelepon ke kantor Will, ia ingin tahu apa Will akan pulang dari Singapura atau masih lama di Singapura.
Telepon pun tersambung...
"Hallo dengan perusahan Golden Star, ada yang bisa saya bantu" ucap resepsionis.
"Ya hallo, maaf saya ingin bertanya apa hari ini tuan Will akan pulang dari Singapura" tanya Bia tanpa basa basi.
"jika boleh tahu, dengan siapa saya berbicara ??" tanyanya.
"Saya Desi" jawab Bia memberi nama palsu.
"Baik nona Desi, tuan Will hari ini sedang sibuk dan beliau berada di kantor. Tuan Will juga tidak melakukan penerbangan di Singapura, apa masih ada yang di tanyakan nona ??" ucapnya.
"OOH begitu.. cukup, terima kasih" Bia tidak menyangka mendengar penjelasan karyawan Will. Ia bergegas ke kamar, lalu berganti pakaian untuk menemui Will di kantor. Bia ingin meminta penjelasan kepada Will atas kebohongan yang sudah ia buat.
"ma, aku pergi dulu..." Bia langsung saja keluar dan menutup pintu.
"Tapi Bi..." Ny.Farida tidak bisa mencegah Bia, ia tidak tahu Bia pergi kemana. Kemudian ia menelepon Will, namun tidak mendapat jawaban.
Para pengawal Will hanya bisa memerhatikan Bia keluar dari apartemen, mereka tidak bisa mengambil tindakan sebelum Will memberi perintah kepada mereka. Akhirnya Bia bisa pergi tanpa di kawal oleh pengawal Will namun tanpa Bia tahu salah satu dari mereka sudah membututinya.
Sesampainya Bia di kantor Will, Bia memakai masker agar tidak ada yang memgenalinya. Ia ingin melihat apa saja yang sudah Will lakukan di kantor sampai-sampai lupa untuk menghubunginya.
__ADS_1
Bia turun dari mobil, ia masuk dan bertemu dengan karyawan Will di meja resepsionis.
"Apa tuan Will ada di ruangannya ??" tanya Bia
"Apa nona sudah buat janji ??" tanyanya.
"Eemm sudah.." jawab Bia.
"Sebentar yaa nona..." ucapnya lalu menelepon ke ruangan Zen, bahwa ada yang ingin bertemu dengan tuan Will dan sudah mempunyai janji.
Mendengar ucapan resepsionis, Zen merasa Will tidak ada janji dengan seorang wanita. Lalu ia meminta kepada resepsionis untuk menyuruh wanita itu pulang karena Will sedang sibuk dengan pekerjaannya tanpa dia tahu bahwa wanita itu adalah Bianca.
Bianca yang mendapat jawaban itu menjadi kesal, ia lalu duduk menunggu Will keluar ruangan.
Dan di ruangan, Will sedang membuka pakaian untuk mengganti perban luka sobek di pinggangnya. Saat itu Sely masuk tanpa ketuk pintu terlebih dahulu, ia melihat Will tanpa sehelai pakaian terlihat tubuh Will yang begitu kekar dan berotot.
"Will, sedang apa kau ?? Yaa tuhan, sini aku bantu" Sely langsung merebut perban yang sedang Will pegang.
"Terima kasih Sel"
"Tidak apa-apa, aku akan memberi alkohol terlebih dahulu" ucap Sely.
Bia yang semakin gelisah, mencoba ingin merobos masuk ke ruang kerja Will. Saat resepsionis itu sedang pergi toilet, Bia langsung mengambil kesempatan untuk segera masuk berjalan menuju ke ruang kerja Will.
"Bagaimana Will, apa masih sakit ??" tanya Sely.
"Sudah tidak, hanya nyeri saja"
"Kau seharusnya jadi dokter, biar aku mudah berobat denganmu" ucap Will membuat Sely tertawa, dan jarak pandang mereka begitu dekat. Will menatap mata Sely, dan di respon baik oleh Sely. Ia pun menatap wajah Will yang begitu tampan dengan dalam, bahkan melihat ke arah bibir Will seraya ingin merasakan ciuman manis di bibir Will.
Dan di saat mereka masih tenggelam dalam tatapan, Bia masuk ke ruangan Will. ia melihat Will sedang menyenderkan tubuhnya di meja kerja tanpa pakaian dengan mata yang memandang ke arah wajah Sely, lalu tangan Sely memegang pinggang Will dengan mata yang juga menatap wajah Will penuh harapan.
"OOOHH... SEPERTI INI TERNYATA" ucap Bia membuat mereka tersadar dan menoleh ke arah Bia.
"Bia..." Will terkejut, ia sangat-sangat terkejut.
__ADS_1
"Aku bisa jelaskan semua ini sayang" ucap Will langsung menghampiri Bia.
"Simpan sayangmu itu, terima kasih Sely. Kau sudah membuka pikiranku" ucap Bia langsung meninggalkan Will dan Sely begitu saja.
"BIA... BIANCAAAA" panggil Will sambil mengejar Bia. Sedangkan Sely terdiam, ia tidak bisa berkata apa-apa.
"LEPASKAN TANGANKU, JANGAN MENYENTUHKU LAGI WILLY SAN" Bia murka, ia merasa di khianati.
"Dengarkan aku dulu, aku bisa menjelaskannya. ini salah paham, Bi.. Biaaa" Will kembali mengejar Bia.
"AKU BILANG LEPASKAN TANGANKU, HUBUNGAN KITA SELESAI SAMPAI DISINI" ucapan Bia membuat Will tertampar.
"JANGAN MENGEJARKU, AKU TIDAK BUTUH PENJELASAN APAPUN DARIMU" Bia sambil menunjuk wajah Will.
"KAU MASIH BELUM BERUBAH, SEMUA UCAPANMU HANYA OMONG KOSONG" Ucap Bia lalu langsung meninggalkan Will begitu saja.
Will marah dengan dirinya sendiri, pikirannya menjadi rumit. Ia berjalan cepat ke ruangan kerja untuk segera memakai pakaiannya kemudian bergegas mengejar Bia sebelum Bia melakukan hal yang tidak ia inginkan.
"Will, kau mau kemana ?? pertemuan akan di mulai ??" ucap Zen yang melihat Will berlari di dalam kantor.
"Apa ada dengannya?? mau kemana dia" gumam Zen.
Lalu Will melihat Bia sudah naik ke dalam mobilnya, ia pun mengejar Bia. Di perjalanan Will mengikuti Bia dari belakang, terlihat Bia mengendarai mobil dengan cepat. Bukannya kembali ke apartemen Will, Bia malah pergi ke rumahnya. Ia tidak ingin lagi tinggal di apartemen Will.
Sesampainya disana, Bia melihat rumah begitu kotor. Ia langsung mengingat terakhir kejadian di rumah itu.
"Kenapa bibi Wiwi, mengapa ia tidak meneleponku ??" Bia kembali mengingat bibi Wiwi.
Will yang melihat Bia dari jauh, sedang memperhatikannya dengan teliti.
"Apa kau yang lakukan disana Bia ??" gumam Will.
Lalu Will melihat Bia menelepon seseorang, kemudian Bia kembali ke mobilnya dan bergegas pergi dari rumahnya.
"Mau pergi kemana lagi ??" Will kembali bergumam.
__ADS_1
Bia terlihat sedang memutar mobilnya, lalu ia berjalan pelan dan kembali menghentikan mobilnya. Dan ternyata Bia berada di rumah Sarah yang tak jauh dari rumahnya. Terlihat Bia memeluk Sarah dan menangis, Will yang melihat itu merasa hatinya pun ikut sakit. Kebodohan dan keteledorannya yang telah merusak hubungannya dengan Bia. Will menahan amarah, wajahnya memerah bahkan tangannya menggenggam erat setir mobil dengan penuh amarah.