DIA BIANCAKU

DIA BIANCAKU
BAB 59. HILANG


__ADS_3

Setelah pertengkaran di malam itu, Bia menghilang. Para sahabatnya tidak bisa menemukan keberadaan Bia, bahkan di apartment milik Will yang di tinggali oleh Ny.Farida juga tidak ada tanda-tanda Bia disana.


Sarah dan Dona begitu cemas, mereka mulai terlihat panik.


"Aduh kakiku sakit, aku sudah tidak sanggup berjalan" Dona mengeluh.


"Kalau begitu di mobil saja, merepotkan sekali" Sarah sedikit protes.


"Hihh dasar bawel..." sahut Dona sambil memijit betis kakinya.


"Sudah sayang, jangan bertengkar. Kita harus fokus mencari Bia !!" ucap Leo yang juga membantu mencari Bianca.


"Will sangat menyebalkan, lihatlah... Dia tidak menampakkan batang hidungnya" suara Sarah begitu kesal.


"Yaa, kali ini aku tidak respect dengan Will. Bisa-bisanya dia tidak ikut mencari Bia" Dona juga ikut kesal dengan sikap Will yang acuh.


"Aku juga tidak mengerti mungkin saja Will sedang banyak pekerjaan di kantornya" jawab Leo.


"Intinya Will tidak peduli dengan Bia, sampai-sampai Zen juga ikut acuh" sahut Sarah.


"Sudahlah, aku pusing mendengar omelan kalian. Kita pulang saja dulu, nanti sore kita lanjutkan pencariannya" Leo mulai terlihat letih.


Setelah mereka mengambil keputusan untuk beristirahat terlebih dahulu, tiba-tiba Leo mendapat pesan singkat dari Zen.


Leo apa kau bersama Sarah dan Dona ?? jika tidak, segeralah ke kantor Will. Ada yang ingin di sampaikan oleh Will, kami tunggu.


Leo membaca pesan singkat itu secara sembunyi-sembunyi, ia tidak ingin Dona mengetahuinya. Lalu dengan cepat, Leo membalas pesan singkat itu. Oke, aku akan kesana !!!.


Dengan terburu-buru Leo langsung membawa Sarah dan Dona untuk pulang, ia menurunkan mereka di rumah Dona. Dan berjanji kepada Dona akan segera kembali setelah ia menyelesaikan pekerjaannya terlebih dahulu.


Leo melaju dengan cepat, ia penasaran apa yang akan Will bicarakan dengannya. Tak membutuhkan waktu lama, akhirnya Leo sampai di depan kantor Will. Ia langsung memarkirkan mobilnya di samping mobil Will, dan berjalan dengan tergesa-gesa.


"Will..." panggil Leo dengan nafas yang tersengal-sengal.


"Leo, apa kau lari ??" tanya Will terkejut melihat Leo yang terlihat begitu letih.

__ADS_1


"Yaa aku lari, karena pesan dari Zen mengenaimu" jawab Leo sedang mengatur nafas.


"Astaga, jalan santai saja... Aku tidak akan pergi jauh" sahut Will mulai menghibur.


"What happen Will ??? Are you Ok ??" tanya Leo cukup cemas.


"Yeah, I'm fine !!! Aku ingin meminta pendapatmu" Will mulai duduk di ruang tamu kerja lalu di susul Leo yang juga ikut duduk bersamanya.


"Apa yang ingin kau bicarakan ??" tanyanya lagi.


"ini tentang Bianca, aku tidak bisa berpikir jernih. Aku butuh masukanmu dan Zen"


"Aku sepertinya akan menyerah, Bianca tidak bisa mengendalikan emosinya jika bertemu dengan pria-pria yang mencintainya itu" Will terlihat kesal.


"Lalu apa bedanya denganmu Will ??" ucap Leo.


"Aku ?? aku sudah berubah, apa pernah kau melihatku bersama wanita lain"


"Tapi Bianca, kau bisa menilainya. Dia begitu semangat untuk bertemu dengan Joe bahkan dia sempat membohongiku. Lalu jika bertemu Darren, dia begitu terlihat manis. Lihatlah semalam dia memcemaskan keadaan Darren" jelas Will seperti menguliti sikap Bia.


"Kau tidak adil Leo, coba bagaimana jika Dona yang melakukannya ?? Apa kau bisa menerimanya ??" tanya Will balik.


"Aku lihat dulu tujuannya Will, jika sikapku seperti itu terus yang ada aku akan menyakiti hati Dona" Leo membalas dengan sedikit sengit.


"Jadi menurutmu sikapku ini salah ???" Will kembali bertanya.


"Ya wajar jika kau cemburu, tapi tidak wajar jika Bianca sampai sekarang menghilang entah kemana" jawab Leo mengingatkan Will untuk bisa memikirkan Bia.


"Aku yakin dia sedang bersama Darren, dan aku yakin juga itu adalah maunya" Will mencoba untuk tidak peduli.


"Will, jika sikapmu seperti ini terus maka semua perjuanganmu hanya sia-sia. Kau sudah sejauh ini Will, jangan sampai kau menyesal !!!" jelas Leo membantu membuka pola pikir Will yang buntu.


Will sejenak berpikir keras, ia berusaha menyatukan kembali pikiran-pikiran jernihnya. Namun sikapnya masih terlihat acuh, mungkin karena hatinya lelah dengan sikap Bia yang terlihat masih ingin bermain-main dengan perasaannya.


"Apa kau tahu dimana Bia berada ?? semenjak semalam Bia pergi, Dona dan Sarah selalu membuatku pusing. Mereka mengkhawatirkan Bia !!!" ucap Leo meenyadarkan lamunan Will.

__ADS_1


"Kan aku sudah bilang Bia pasti bersama Darren" jawab Will cepat.


"Lalu kau tidak mengkhawatirkannya Will ??" tanya Leo yang tidak terima dengan sikap dingin Will.


"Entahlah... Aku masih jenuh dengan sikapnya" Will membuat Leo kecewa.


"Kau benar-benar keterlaluan Will"


"Oo-yaaa, bagaimana perkembangan kasus ART Bia ?? Apa sudah ditemukan ??" tanya Leo yang baru tahu cerita tentang hilangnya bibi Wiwi.


"Sudah, aku sudah mendapatkan informasinya. Ternyata ada seseorang yang menyelamatkan bibi Wiwi, dan kabar kematiannya telah di rekayasa oleh orang itu" jelas Will.


"Di rekayasa ?? apa motifnya ??" tanyanya terus-terusan, Leo begitu penasaran.


"Aku pikir ini berkaitan dengan Bianca, orang itu ingin membuat Bianca hilang arah" Will mengingat ucapan dari informannya.


"Apa seserius itu Will ?? Apa kau tahu siapa orang itu ??" Leo sangat ingin tahu, karena informasi itu akan ia ceritakan kepada Dona.


"Yaa, aku tahu siapa orang itu !!!"terlihat Will menyipitkan matanya dan berpikir jauh untuk membayangkan seseorang yang telah merekayasa kematian bibi Wiwi.


Tapi sayangnya Will tidak memberitahu siapa orang itu kenapa Leo, ia akan menyimpan rapat-rapat rahasia penting itu. Karena suatu saat nanti akan berguna untuk ia jadikan sebagai senjata makan tuan.


Setelah percakapan mereka di kantor Will, Leo meminta Zen untuk menemaninya bertemu dengan Sarah dan Dona. Ia ingin jika Zen ikut andil dalam pencarian Bianca, sebab bagaimana pun juga Bianca sudah Leo dan Zen anggap sebagai keluarga.


Will masih terlihat sibuk dengan pekerjaannya, walaupun ia sibuk namun pikirannya memikirkan Bianca. Hanya saja ia pintar menyembunyikan pikirannya dengan sikap acuhnya.


Leo sudah pergi bersama Zen, dan Will masih duduk di kursi kerjanya. Ia terlihat menelepon seseorang, karena ia merasakan nafsu birahinya tiba-tiba muncul. Ia ingin melakukan hubungan itu bersama seorang wanita yang sudah pernah menemaninya.


"Hallo, kau sedang dimana ?? Apa bisa menemaniku ??" ucap Will di telepon.


"Aku di jalan, baiklah aku akan segera ke kantormu" jawab gadis itu.


"Cepat, aku sudah tidak tahan" Will terlihat begitu menginginkannya.


"Bersabarlah Will, aku sebentar lagi sampai" jawabnya dengan tersenyum.

__ADS_1


Kemudian telepon itu mati, Will lalu bergegas mandi mengganti pakaiannya di ruang khusus sebelahan dengan ruang kerjanya di kantor.


__ADS_2