
Will membawa kembali Bia ke apartemen, Ia begitu bahagia bisa melihat Bia bersamanya. Ia baringkan Bia dengan hati-hati, Bia begitu pucat dan sangat mengirit dalam berbicara.
"Sayang..." panggil Will
"hmm" jawabnya singkat
Will langsung naik ke tempat tidurnya duduk di samping Bia. Lalu memasang tangan kirinya untuk menjadi sandaran Bia.
"Aku ingin banyak bertanya kepadamu, tapi sepertinya kau belum siap.." ucap Will sambil mencium rambut Bia.
"Iyaa, aku lagi malas berbicara Will" jawab Bia.
"Baiklah sayang, kau tidurlah. Aku akan menemanimu disini" ucap Will.
Bia menjawab dengan anggukan dan sedikit tersenyum. Ia memutar badannya menghadap ke Will kemudian langsung mendapat pelukan hangat darinya. Bia sudah memejamkan matanya, terlihat begitu pulas lalu Will tersenyum dan akhirnya ia pun ikut tertidur.
Pagi harinya, Will bangun lebih awal dia meminta untuk semua anak buahnya agar mengamankan apartemen selama ia bersama dengan Bianca.
Kriiiinnnggg...
Kriingggggg..
Terdengar suara telepon berdering, Will yang sedang bersantai langsung mengangkatnya.
"Hallo sayang, aku dengar kau sudah berhasil membawa Bia pulang" ucap Sandra
"Yaa, dia sudah kembali..." jawabnya singkat sambil memandangi Bia tidur.
"Jangan lupa dengan janjimu sayang" ucapnya.
"Kau bisa meminta apapun dariku, tapi untuk tubuhku dan hatiku hanya bisa di miliki oleh Bia" jelas Will, mendengar perkataan Will Sandra menjadi marah dan tidak terima bahwa Will sudah membodohinya.
"Aku tidak menginginkan hartamu, aku meminta janjimu. Jika tidak, maka Bia akan merasakan sakit yang lebih Bryan berikan kepadanya" ancam Sandra. Lalu telepon itu Will matikan, ia tidak ingin meladeni ocehan Sandra yang tidak berguna.
"Will..." panggil Bia yang baru saja bangun dari tidurnya.
"Yaa!!! Apa kau menginginkan sesuatu ??" tanya nya yang langsung berjalan menghampiri Bia.
"Apa kau berbicara dengan seseorang ??" tanya Bia balik.
"Ooh itu Zen, aku memberitahunya untuk mengurus perusahaan. Karena aku akan menemuimu hari ini" jawab Will bohong.
__ADS_1
"Oh begitu, aku lapar Will" ucap Bia sambil memegang perutnya.
"Baiklah aku akan membelikan sesuatu untukmu" sahutnya dan langsung keluar untuk membeli makanan.
Setelah Will keluar, Bia bergegas mandi ia merasa tubuhnya sudah kembali pulih. Saat Bia sedang merendam, Will kembali dari luar membawa beberapa minuman dan makanan. Ia akan memasak untuk Bia, namun karena Bia lama tidak kunjung keluar dari kamar mandi akhirnya Will masuk dan mengecek keadaan Bia. ia melihat Bia sedang memejamkan matanya sambil mengelus tangannya dengan lembut. Will tersenyum dan tiba-tiba gairahnya terbangun lalu menelan saliva dan berjalan menghampirinya.
Will pun melepas pakaiannya, ia masuk ke dalam bathtub. Bia membuka mata, dan Will sudah berada di sampingnya. Bia tersipu malu, tubuh mereka saling menyentuh di dalam air. Will membelai tubuh Bia yang begitu mulus, membuat tubuhnya bergetar merasakan kenikmatan dari setiap sentuhannya. Will begitu memperlakukan Bia dengan lembut dan perlahan mereka berciuman. Lalu Will mengajak Bia berdiri dan mandi bersama di bawah shower yang membasahi mereka.
Will memegang wajah Bia lalu menyentuh bibirnya, menatap dalam kemudian mereka kembali berciuman dan Bia memeluk tubuh kekar Will dengan erat. Setelah itu terjadilah hubungan panas di bawah percikan air, untuk yang kedua kalinya Bia merasakan setruman hebat di tubuhnya. Ia begitu menyukainya, bahkan beberapa kali mendesah membuat Will semakin memacu tenaganya dengan kencang. Mereka basah di bawah shower yang hangat, Will begitu energik gairahnya lebih tinggi saat berhubungan dengan Bia.
Setelah selesai melakukan hubungan hangat itu, Will meminta Bia untuk memakai pakaian pilihannya. Kemudian kembali ke dapur untuk memasak makanan yang akan di santap bersama dengan Bia.
Mereka terlihat begitu sangat bahagia, saling melempar candaan dan tertawa terbahak-bahak. Will merasakan ketenangan di hatinya, ia tidak ingin melewatkan moment terindah bersama Bia.
Saat mereka sedang menikmati makan, bel pintu berbunyi.
"Biarkan aku saja yang membuka pintu" ucap Bia sambil tersenyum lebar.
Betapa terkejutnya Bia melihat Ny.Farida datang menemui Bia di apartemen Will.
"Mama.." Bia memuncat.
"Ny.Farida..." ucap Will.
"Apa aku mengganggu..." sahutnya
Will langsung memeluk pinggang Bia, seolah ia memberi perlindungan untuknya.
"Tidak, silahkan masuk Ny. Farida..." ajak Will ke dalam, dan Bia masih terdiam kaku.
Ny.Farida berjalan masuk melewati mereka, Will langsung membangunkan Bia dari keterkejutannya.
"Biaaa..." ucap Will berbisik di telingannya.
Bia langsung merespon mengedipkan mata dan beberapa kali menelan saliva. Ia sangat syok melihat orang yang selalu ia tunggu bertahun-tahun, sekarang berada di hadapannya.
Ny Farida melihat-lihat isi apartemen Will, ia sangat kagum dengan isi furniture apartemen Will begitu tertata rapi mewah dan sangat luas.
"apa kau tinggal sendiri disini Max ??" tanyanya yang menyebut nama Max bukan Will.
"Yaa, aku tinggal sendiri dan sekarang bersama Bianca" jawabnya tegas melirik Bia penuh cinta.
__ADS_1
"mama sudah tahu jika Will ini adalah Max ??" Bia tidak menyangka jika ibunya mengetahui identitas Will yang sebenarnya.
"Mama sudah tahu semuanya, ini alasan mama datang kemari" jawabnya yang sudah duduk di sofa empuk milik Will.
"Senang bisa bertemu denganmu Ny.Farida" Will terlihat senang dengan kedatangannya, dan Bia menjadi bingung.
"Ayahmu sangat senang mendengar anak laki-lakinya masih hidup. Ia akan menyusul ke Indonesia secepatnya" jelas Ny.Farida.
"Bagaimana Ny.Farida, apa kesepakatan kita bisa di mulai setelah kau bertemu denganku dan Bianca" ucap Will.
"Kesepakatan apa Will ?? apa kau yang mengundangnya kemari ?? apa yang sebenarnya terjadi" tanya Bia semakin bingung.
"Maafkan aku sayang, aku menghubungi mamamu untuk meminta restu hubungan kita" jawabnya.
"Dan aku menceritakan semua tentang identitas asliku, karena bagaimana pun mamamu adalah istri dari ayah kandungku" jawabnya lagi.
"Aku begitu syok mendengar kau masih hidup Max, rasa bersalahku selalu menghantuiku tapi sekarang saat aku melihatmu ada di hadapanku semuanya langsung hilang begitu saja" sahut Ny.Farida sedih.
"mama..." ucap Bia ikut bersedih.
"Apa Bianca sudah tahu yang sebenarnya ??" tanyanya kepada Will.
"Sudah, Bia sudah mengetahui yang sebenarnya dan dia menerima apa yang telah terjadi" Will berbicara sambil menatap ke wajah Bia dengan senyuman lalu memegang jari tangannya dengan lembut.
"Huuufff...Syukurlah"
"Mama lega jika Bianca sudah mengetahui" ucapnya.
Lalu Ny Farida menghampiri Bia, dan Will menggeserkan tubuhnya memberi celah untuk Ny.Farida bersama Bia.
"Anakku, maafkan mamamu ini nak. Mama bukan membuangmu sayang, tapi dosa besar yang mama lakukan ini membuatmu menderita. Mama merebut ayah Max karena ke egoisan, membuat hidup mereka menderita. Dan saat itu kami adalah sahabat, ibunya Max tidak pernah membalas mama dengan kekerasan. Ia malah menyodorkan Max untuk menjagamu karena saat itu mama merasakan depresi berat akibat papamu yang selalu meneror hidup mama"
"Bia sekarang sudah dewasa, anak mama terlihat sangat cantik. Mama tidak bisa percaya, bahwa takdir membawa kalian hidup bersama seperti ini. Maafkan mama sayang" Ny.Farida memeluk Bia dengan derasnya air mata. Mereka tenggelam dalam kesedihan dan kebahagiaan.
"Mama tidak salah ma, Bia yang salah tidak bisa menjadi anak yang baik untuk mama. Mama... Bia rindu mama, 14 tahun tahun mama tidak pernah menghubungi Bia. Bahkan Bia sakit pun mama tidak peduli dengan Bia, saat Bia ada di ujung kehidupan, Will lah yang datang menyelamatkan Bia ma. Bia pikir, mama sengaja ingin membunuh Bia secara perlahan. Bia seperti hidup sebatang kara ma, saat para sahabat Bia memiliki ibu, Bia hanya memilik bibi Wiwi yang selalu menjaga Bia"
"ma, banyak yang bilang mama membuang Bia. Tapi Bia tidak pernah berpikir seperti itu ma, mama yang terbaik di hati Bia. Sampai saat ini Bia masih menunggu mama pulang. Terima kasih ma, sudah datang untuk Bia dan duduk bersama Bia. Jangan pergi lagi ma, Bia bisa tiada jika mama pergi meninggalkan Bia. Hidup mati Bia ada di mama, jantung Bia adalah mama. Jika mama pergi lagi, maka mungkin Bia akan menghilang dari dunia ini" Bia menangis terisak, ia tidak bisa membendung air matanya. Will yang mendengar pernyataan Bia ikut larut dalam kesedihan ia menunduk dan mengeluarkan air mata.
Bia dan Ny.Farida kembali berpelukan, moment yang begitu hangat. Will sangat senang, ternyata didikan ibunya membawa pengaruh yang positif untuknya dan orang sekitar.
Tak henti-hentinya Ny.farida mengucapkan terima kasih kepada Will, ia tidak mengira bahwa Will bisa begitu baik kepadanya bahkan tidak ada dendam sedikit pun di hati Will.
__ADS_1