
"Kenapa diam ??? Hmmm" Will berjalan menghampirinya membuat jantung berdetak lebih kencang.
Ada apa denganku, kenapa jantungku tidak bisa di atur berbicara dalam hati.
"Apa kita jadi pergi makan malam di luar, atau aku pesan saja. Lalu kita makan disini" Will sambil memegang tangannya mengelus-elus dengan lembut.
"Eeeee makan disini saja, aku malas berganti pakaian" jawab Bia terbata-bata, ia langsung melepaskan tangan yang sedang Will pegang.
"Iyaa sudah, aku akan pesankan makanan. Mau makan apa ???" ucapnya.
"Apa saja" Bia tidak punya pilihan makanan.
Setelah Will memesankan makanan malam, ia tersenyum sendiri melihat Bia yang masih saja canggung kepadanya. Perasaannya saat itu menjadi nyaman, ia merasakan seperti mempunyai pasangan. Walaupun ia sadar bahwa ini hanya sementara, tapi ia yakin akan indah pada waktunya. Ia kembali berfikir bagaimana menjelaskan yang sebenarnya kepada Bia.
"Apakah kamu sudah lama tinggal disini ???" Tanya Will.
"Aku ???" jawabnya menunjuk dirinya sendiri.
"Apa ada orang lain di ruangan ini" Will menggelengkan kepalanya.
"Heheee, iyaa aku sudah lama disini. Aku tinggal hanya berdua dengan bibi Wiwi" jawabnya.
"Kemana kedua orangtuamu???" Tanya Will ingin tahu.
"Papa dan mamaku ada di luar negeri, entah kenapa mereka tidak ingin tinggal disini lagi bersamaku. jika mereka ingin bertemu denganku, aku yang harus terbang menghampiri mereka" jelasnya.
Will yang mendengar penjelasan Bia menjadi yakin, bahwa ini ada hubungannya dengan kasus di masa lalu. Ia kembali bertanya kepada Bia, namun ia duduk lebih dekat untuk bisa memahami Bia dari setiap ceritanya.
"Apakah kamu punya seseorang yang spesial di masa lalu ???" Tanya Will kembali.
"Tidak ada, mantan pun tidak spesial" jawabnya dengan wajah yang menggemaskan.
"Maksud aku bukan itu, saat masih kecil apakah ada yang memberikan memori yang indah ???" Will sedikit menahan kesabarannya karena Bia menjawab tidak fokus.
"Oooh itu, emmm ada sih. Tapi dia sudah meninggal" jawabnya.
__ADS_1
Benar saja, Will semakin antusias mendengar jawabannya. Karena ia yakin hanya dirinya yang memberi memori indah di waktu kecil dulu.
"Jika dia kembali lagi, apa yang ingin kamu lakukan kepadanya" ucap Will tiba-tiba membuat Bia merasa heran.
"Hahaha, tidak mungkin orang yang sudah tiada bisa hidup kembali" jawabnya, ia beranggapan Will sedang bercanda dengannya.
Saat Will ingin berbicara kembali, bel rumah berbunyi. Makanan yang di pesan Will sudah datang, mereka menyantap makanan bersama. Will yang terbiasa hidup sendiri, langsung cekatan mempersiapkan makanan dan memindahkan ke wadah makanan.
Bia melihat itu menjadi heran, mengapa seorang CEO ternama mau melakukan itu sendiri sedangkan ia bisa menyuruh bibi Wiwi untuk menyiapkan semua makanan yang sudah di pesan.
"Sini aku saja..." Bia mencoba merebut piring makanan.
"Tidak apa-apa, aku di apartement biasa melakukannya sendiri. Jadi ini hal kecil untukku" jawabnya.
"Hah, aku tidak salah dengar. Kau begitu pelit, mengapa tidak mencari ART. Menyedihkan, seorang CEO terkenal tidak punya ART" Ucapnya membuat Will malah mendekati Bia.
"Aku hanya ingin dirimu yang melayaniku" Will membuat Bia mundur bahkan ia mengunci tubuh Bia dengan kedua tangannya.
"Hahahaa, kau sepertinya mabuk" jawab Bia asal, ia langsung mengangkat salah satu tangan Will dan menjauh darinya.
Melihat tingkah Bia, Will hanya bisa tersenyum puas. Wajah Bia terlihat memerah. Bia langsung duduk di meja makan, terlihat gestur tubuhnya yang canggung.
Will terkejut mendengar keterangan Zen bahwa aktivitas Bia ada yang memantau. Lalu ia berfikir mencari cara untuk bisa menginap di rumah Bia, bagaimanapun caranya. Kecemasan Will makin tidak karuan.
Akhirnya ia punya ide konyol untuk bisa menginap di rumah Bia. Will duduk di sofa ruang tengah, ia menyandarkan badannya dan kemudian berpura-pura tertidur di sofa.
"Willy, hello Willy San" Bia mencoba membangunkannya, namun tidak berhasil.
"Astaga, apakah dia ke kenyangan sampai harus ketiduran di rumahku. Benar-benar merepotkan" ucapan Bia terdengar oleh Will.
Bia menatap wajah Will yang sedang berpura-pura tertidur, ia amanati wajah tampan Will dengan senyuman.
"Maaf yaa tuan mesum, aku hanya penasaran dengan pipimu" ucapnya gemas.
Bia akhirnya berhasil mencubit pipi Will dengan pelan, pipinya begitu lembut seperti kulit bayi. Ia bergumam dalam hati Aku yakin dia pasti perawatan wajah.
__ADS_1
"Oke, kali ini aku izin kan dia menginap di rumahku. Tapi tidak untuk esok harinya" Bia kembali berbicara sendiri dan di dengar lagi oleh Will.
Bia ke atas untuk mengambil selimut di kamarnya, ketika Bia sedang di kamarnya Will membuka mata lalu menahan tawa karena mendengar setiap ucapan Bia. Tak lama kemudian Bia pun turun kembali, ia menyelimuti Will dan meninggalkannya sendirian di ruang tengah.
Will kembali bangun, lalu mengirim pesan kepada Zen untuk mengawasi rumah Bia. Dan ia tidak bisa tidur sampai subuh karena ia harus tetap waspada jika rumah Bia di datangi tamu tak di undang.
Sekitar jam 4 subuh, Will naik menghampiri kamar Bia. Secara perlahan ia masuk, kemudian menutup pintu kamar. Melihat tidur Bia, ia tersenyum lalu ikut tidur di sebelahnya.
Ke esokkan hari, bibi Wiwi mengetuk kamar Bia mencoba membangunkannya karena Bia harus bangun pagi untuk bertemu seseorang yang di kirim oleh ibunya.
"Non bangun, sudah pagi. Hari ini ada janji non dari mama non Bia" ucapnya berulang. Karena panggilan itu tidak mendapat jawaban, maka bibi Wiwi membuka pintu yang tidak di kunci dari dalam. Ia terkejut, majikannya sedang tidur bersama seorang pria. Saat ia mendekat untuk melihat wajah pria itu. Ia semakin terkejut, ternyata pria semalam yang menjadi tamu Bia.
Badan Bibi Wiwi bergetar ia langsung keluar kamar, dan menutup pintu dengan suara yang lumayan keras. Ia benar-benar syok.
Karena bantingan suara pintu itu, membuat Will terbangun namun tidak dengan Bia. Ia malah menggerakkan kaki dan tangannya ke arah Will, membuat Will tidak bisa bergerak. Bia seperti memeluk guling, Will membetulkan tangan Bia agar lebih nyaman dan kembali tidur bersama Bia.
Sedangkan Bibi Wiwi masih syok dengan apa yang ia lihat.
"Apa aku tidak salah lihat tadi, apa benar non Bia bisa seperti itu. Iyaa tuhan non, bibi harus ngomong apa dengan mama non" bibi Wiwi memegang kepalanya karena tidak percaya dengan apa yang ia lihat.
"Tapi pria itu cocok sekali untuk non Bia, sangat tampan dan terlihat kuat" bibi malah senyum-senyum sendiri mengingat Will.
Sekitar setengah jam kemudian, Bia bangun dari tempat tidurnya dan masih tidak sadar jika Will ada di sampingnya. Ia melihat jam, dan bergegas ke kamar mandi karena akan ada tamu yang datang.
Will pun bangun, tak berselang lama Bia keluar dari kamar mandi hanya menggunakan sehelai handuk dengan rambut yang basah.
"AAAAAAAA, WILLLLLL!!!!" Bia terkejut menjerit melihat Will ada di atas ranjangnya.
"SEDANG APA KAU DI KAMARKU" ucap Bia marah.
"Aku tidur disini, menemanimu" jawab Will santai.
"Keluar Will, cepat keluar. Jika tidak aku akan berteriak" ucapnya lagi.
Will lalu beranjak dari ranjang Bia, ia menghampirinya dan berdiri di hadapan Bia.
__ADS_1
"Aku suka melihat kau dengan rambut basah seperti ini" Will berkata lembut sambil menyeka rambut Bia ke telinganya.
"Apa???" Ucap Bia.