DIA BIANCAKU

DIA BIANCAKU
BAB 79.TAK SADARKAN DIRI


__ADS_3

Malam yang gelap berganti pagi nan dingin dengan diselimuti kabut embun yang tebal, Will terlihat duduk di taman samping halaman rumah yang baru saja ia beli. Will merenungi kesalahannya, mengingat setiap kenangan bersama Bianca. Air matanya jatuh membasahi kulit wajahnya yang putih, sesekali ia terlihat menyeka air mata. Hatinya merasakan sakit yang luar biasa, cintanya telah membuat Bianca terluka bahkan nafsunya menghancurkan impian masa depannya bersama Bianca. Will sangat marah dengan dirinya sendiri, kadang terbesit di pikirannya untuk pergi jauh meninggalkan semuanya. Tapi ketika ia mengingat Bianca, emosionalnya tidak bisa terbendung. Rasa bersalah itu selalu muncul, tiba-tiba kepala Will merasakan pusing, tangannya memegang kepala. Saat ia berdiri untuk berjalan masuk ke dalam rumah, dengan cepat tubuhnya terjatuh dan tergeletak di atas rumput.


Will tak sadarkan diri, sudah 30 menit tubuhnya tergeletak tak berdaya. Will masih berada di halaman tanpa ada yang mengetahui kondisinya. Lalu kemudian Zen datang untuk kembali bekerja dan mengantar berkas-berkas penting yang harus Will tandatangani.


"Will, Will... " terdengar suara panggilan.


"Apa dia di apartemen, tapi subuh tadi dia memberitahuku untuk datang ke rumahnya. Dimana lagi dia ini ??" Zen bergumam sendiri.


Terlihat Zen berjalan masuk ke dalam rumah Will yang tidak terkunci, ia melihat kesana kemari mencari keberadaan Will dan saat ia sampai di pintu samping dimana itu adalah jalan menuju taman. Zen terkejut dan langsung berlari menghampiri Will, ia berusaha menggoyangkan tubuh Will beberapa kali ia mengecek jantung Will kemudian mencari nadi di tangan Will. Zen panik, ia kebingungan. Dengan cepat ia merogoh kantung celananya mencari handphone dan menelepon rumah sakit untuk meminta bantuan darurat.


Tak berselang lama, ambulan pun datang. Ners atau yang lebih dikenal dengan sebutan perawat pria, langsung mengangkat tubuh Will ke atas tandu. Zen mengikuti mereka dari belakang, lalu Will dibawa ke dalam mobil ambulan.


Kemudian Zen berlari ke arah mobilnya untuk mengawal ambulan sampai ke rumah sakit. Dalam perjalanan Zen mengabari Leo yang tak lain adalah sahabat Will, terdengar suara Zen yang bergetar. Ia tak kuasa menahan ketakutan dan kesedihan, ia menceritakan setiap detail kejadian pertama kali menemukan Will tergeletak di taman samping halaman rumah.


Mendengar suara Zen yang begitu panik, Leo bergegas untuk menjenguk Will dirumah sakit. Padahal ia sedang ingin bercinta di hotel bersama Dona, tapi ia tidak mau melihat Zen menghadapi kepanikan itu sendiri.


"Ada apa sayang ??" tanya Dona yang menyelimuti tubuh mulusnya dengan sehelai selimut.


"Will masuk rumah sakit, dia ditemukan sudah tergeletak di halaman rumah" sahutnya yang sedang memakai baju dan celana.

__ADS_1


"Hah, apa benar itu ?? Lalu siapa yang membawanya ?? " tanyanya lagi.


"Zen..."


"Dia sangat panik, aku harus menyusulnya ke rumah sakit" jawab Leo mengambil jam tangan di atas meja.


"Aku ikut yaa sayang" sahut Dona.


"Yaa sudah ayo, pakai pakaianmu" ucap Leo.


Mereka bergegas ke rumah sakit, sepanjang jalan wajah Leo ikut tegang. Ia sangat mengkhawatirkan kondisi Will, ia tidak ingin Will kenapa-kenapa. Dona pun jadi ikut khawatir setiap kali melihat wajah Leo yang memucat.


"Aku tidak bisa berpikir jernih, aku takut Will melakukan sesuatu. Sampai dia seperti ini... " duga Leo memikirkan Will melakukan hal yang bodoh.


"Apa ini berhubungan dengan Bia ??" tanya Dona hati-hati.


"Tentu ini sangat berhubungan dengan Bia. Aku jadi bingung harus bagaimana sekarang, jika aku mendukung Bia bersama Bryan maka Will akan terluka. Tapi aku juga tidak bisa membiarkan Bia terus disakiti oleh Will" Leo dalam dilema.


Mereka sudah berteman akrab saat sedang menempuh pendidikan di Universitas yang sama bahkan masuk jurusan yang sama juga. Jadi tak heran jika Leo dan Zen begitu mencemaskan keadaan Will, apalagi sejarah kehidupan Will yang sangat dramatis. Kesuksesan Will di raih dari otaknya yang sangat cerdas, bahkan Will begitu terkenal di kampusnya karena saat mereka masih kuliah Will sudah mempunyai perusahaan yang sekarang masih bertahan dan semakin meroket di dunia pebisnisan.

__ADS_1


Sesampainya mereka di rumah sakit, mereka langsung mencari ke ruang gawat darurat (UGD). Disana terlihat Zen yang sedang mondar mandir sambil menelepon seseorang. Wajah Zen begitu panik. Tangan kirinya memegang rambut, tak sadar ia menjambak-jambak rambut depannya seperti orang yang sedang frustrasi.


"ZENNN..." panggil Leo.


Dengan cepat Zen menoleh, ia melihat Leo dan dona berjalan menghampirinya.


"Bagaimana keadaan Will ?? "tanya Leo sambil melihat ke arah Will.


"Belum tahu, aku juga sedang menunggu hasil pemeriksaan dari dokter" jawab Zen yang masih menelepon seseorang itu.


"Nanti aku telepon lagi pak... " ucap Zen kepada orang yang sedang ia telepon.


"Untung kau ada disana Zen" seru Dona.


"Ya, itu yang aku syukuri. Tapi aku tidak tahu sudah berapa lama Will tergeletak di taman" keluh Zen.


"Kita berdoa saja semoga Will cepat sadar" sahut Leo yang mencoba mengontrol emosionalnya.


Lalu dokter pun keluar dari ruangan, Zen langsung menanyakan keadaan Will.

__ADS_1


__ADS_2