
"Sedang apa kau disini" tanya Bia ketus.
"Aku yang seharusnya bertanya kepadamu, aku ini pacarmu. Mengapa kau bersikap seperti ini di depan teman-temanmu ???" jawaban Will malah membuat Sarah dan Dona salah tingkah.
"Apa benar itu Bia, kalian berpacaran ??? mengapa kami tidak mengetahuinya ???" tanya Sarah yang melototin Bia dengan tajam.
"Kalian lebih percaya siapa, aku atau pria gila ini" ucapnya kesal.
"Sayangku, tidak baik jika bertengkar di depan teman-temanmu. Ayo kita pulang, kita selesaikan di rumah saja" Will benar-benar membuat Bia marah besar. Di saat dia sedang berbicara kepada sahabatnya malah di potong olehnya dan Will bahkan pintar dalam bersandiwara.
"Sialan kau Will, jangan menguji kesabaranku" ucapnya berbisik kepada Will agar para sahabatnya itu tidak ikut bingung dengan masalah yang sedang ia alami.
"Jika kau menurutimu, maka aku tidak akan mempermalukanmu lagi" tutur Will sambil merangkul pinggang Bia dengan tatapan yang menyebalkan.
"Oke, jika itu maumu" jawab Bia.
Sarah dan Dona masih terlihat bingung dengan situasi yang sedang terjadi, lalu Bia berpamitan kepada mereka dan berjanji akan menjelaskan yang sebenarnya. Bia pun meninggalkan Sarah dan Dona, kemudian ikut bersama Will pergi.
Bia ikut masuk ke dalam mobil Will, dan meninggalkan mobilnya yang masih terparkir di cafe. Will menyuruh Zen untuk membawa mobil Bia kembali pulang.
Di mobil mereka bertengkar hebat, entah apa yang membuat Bia benar-benar emosi sampai ia merasa Will pria yang sangat buruk di matanya.
"DENGARKAN AKU TUAN WILLY SAN, SEBELUMNYA AKU TIDAK MENGENALMU BAHKAN AKU PUN TIDAK INGIN MENGENALMU. TAPI KAU SENDIRI YANG SELALU MENGGANGGUKU. BISAKAH KAU MENCARI WANITA LAIN UNTUK MENJADI MAINANMU ???" ucapnya dengan nada tinggi.
"AKU SUDAH BILANG KAU BUKAN MAINANKU. AKU BENAR-BENAR MENYUKAIMU !!!!!!" balas Will yang terpancing dengan emosi Bia.
"Aku tidak peduli dengan kata-katamu, dan aku tidak mau jadi mainanmu" perkataan Bia membuat Will semakin kesal. Bia keras kepala, tidak bisa lebih tenang.
Tiba-tiba mobil berhenti mendadak, membuat kening Bia terbentur karena ia tidak menggunakan seatbelt (sabuk pengaman). Will yang melihat itu berusaha mengelus keningnya namun di tolak oleh Bia.
__ADS_1
Will mengambil berkas yang berada di kursi belakang dan memberikannya kepada Bia.
"Tandatangani semua berkas-berkas ini. Aku sudah tahu jika kau akan bekerja sama dengan Key, dan sebelum kau menandatangani kontrak itu aku ingin kau dan aku menandatangani kontrak ini terlebih dahulu. Setelah kau menandatanganinya semua urusan kehidupanmu menjadi urusanku" jelas Will serius.
"HAH KAU SUDAH GILA YAA, SIAPA KAU BISA MENGATUR AKU. DAN AKU TIDAK AKAN MENANDATANGANI ITU. BANGUN DARI MIMPIMU, AKU BUKAN WANITA YANG BISA KAU BELI TUAN WILLY SAN" tuturnya yang masih dengan nada emosi.
"Baiklah, aku akan mengatakan yang sebenarnya. Yang harus kau ketahui adalah yang menjual dirimu itu adalah ibumu, ibu yang melahirkanmu. Dan aku berusaha menyelamatkanmu" jelas Will, semakin membuat Bia marah.
PLAAAAAAKKKK bunyi tamparan.
"Hati-hati kau berbicara, jangan sampai aku membunuhmu Will" Bia berkata kasar.
Will yang mendapat tamparan untuk yang kesekian kalinya berusaha bersikap tenang, lalu ia kembali memberikan berkas yang isinya perjanjian antara Key dan Ibunya.
"Nona Bianca Smith, silahkan kau baca kertas itu. pahami isinya, jika kau masih tidak paham juga maka aku akan memperkosamu disini" ancam Will.
*Yang bertandatangan di bawah ini :
Nama : Ny. Farah Smith
Alamat : zurich, swiss
Memberi kuasa kepada Perusahaan Zigas, untuk menjadikan Bianca Smith Menjadi model selama 5 tahun. Sebagai jaminan hutang yang akan di berikan Nn. Keysa Paul kepada Ny. Farah Smith sebesar 32.120.409,76 CHF / setara IDR. 500.000.000.000 (500 miliar rupiah).
Dengan ini, saya yang membuat kuasa kepada Perusahaan Zigas agar bisa menyetujui perjanjian kontrak kerja sama dengan secepatnya. Dan saya membuat ini dengan keadaan sadar tanpa paksaan siapapun.
^^^Zurich, Swiss 2 Februari 2022^^^
Bia terkejut dengan apa yang ia baca, badan seketika menjadi lemas. Ia menangis dan menutupi wajahnya. Terdengar isak tangisnya, membuat Will tidak tega melihat gadis yang ia cintai terluka karena ulah ibunya sendiri.
__ADS_1
Will menarik Bia untuk bersandar di pelukannya, tangisan Bia semakin keras. Will tidak mau berkata sedikitpun, ia hanya ingin Bia bisa menumpahkan semua air matanya untuk bisa mengurangi kemarahan dan kekecewaannya.
Setelah Bia jauh lebih baik, Will mulai menghidupkan kembali mobilnya. Ia membawa Bia ke apartmentnya untuk bisa beristirahat, hanya disana tempat yang aman menjauh dari orang yang selalu mengawasi gerak gerik Bia. Dan sampai sekarang Will masih mencari tahu siapa dalang di balik orang yang memata-matai Bia.
Tak lama kemudian, mereka sampai di apartment milik Will. penjagaannya sangat ketat, banyak pengawal Will yang menyamar menjadi orang biasa agar bisa menjaga Boss nya dengan baik. Will membuka pintu mobil Bia, terlihat Bia masih begitu syok dengan wajah yang tak bersemangat.
"Ayo, ikut denganku. Aku akan menjagamu disini" ucapan Will tidak di respon olehnya, hanya di anggap seperti angin lewat saja.
Will yang melihat diamnya Bia, tidak mau berkata lagi. Ia mencoba memapah tubuh Bia karena tubuhnya begitu lemas.
Kamar Will ada di lantai paling atas, tempat khusus yang hanya bisa di kunjungi oleh orang yang Will kehendaki.
Bia mengikuti Will, masih dengan wajahnya yang murung. Will menyuruh semua pengawal yang berada di lantai atas untuk turun, ia tidak mau jika Bia menjadi takut karena melihat postur tubuh para pengawalnya yang menyeramkan itu.
Sesampainya mereka disana, Will menyuruh Bia untuk duduk dan memberikan segelas air putih kepadanya.
"Maafkan aku, aku tidak bermaksud memperlihatkan kontrak itu" Will berusaha mengajak Bia berbicara.
Namun Bia malah meminta kontrak yang Will buat untuknya sebelum ia menandatangani kontrak bersama Keysa. Jelas saja, Will terkejut. Will tidak bisa menebak apa yang sedang di pikirkannya.
"Mana kontrak yang harus aku tandatangani, aku akan mengikuti maumu" ucapnya.
"Tapi Bianca..." tuturnya terputus, Bia langsung memotong ucapan Will.
"Aku sudah tidak ada harga dirinya lagi, bahkan harga diriku sudah di jual oleh ibuku. Maka silahkan saja kau membeliku, tawarlah harga dengan harga yang lebih tinggi" jelasnya membuat hati Will sakit.
"Ayo mana kontraknya, aku sudah lelah. Dan aku ingin cepat pulang" ucapnya lagi, mata Will berkaca-kaca mendengar ucapan yang terlontar dari mulut Bia. Ia syok, ternyata tindakannya malah membuat Bia menjadi terpuruk.
Will langsung menelepon salah satu pengawalnya untuk mengambil berkas yang ada di dalam mobil. Lalu Bia masih dalam lamunannya, ia masih murung bahkan tatapannya hanya mengarah ke depan tanpa memperdulikan Will di sampingnya.
__ADS_1