
Ke esokan harinya, Will melihat banyak wartawan yang berada di depan gedung kantor.
"Zen ini ada apa ?? mengapa mereka berkumpul disini ??" tanyanya bingung.
"Apa belum melihat media hari ini tuan ??" Zen tersenyum sambil mengintip di kaca spion bagian dalam mobil.
"Media ?? ada berita apa ??" tanyanya lagi masih bingung.
Zen tidak ingin menjawab, lalu Will membuka handphonenya dan memeriksa sosial media. Betapa terkejutnya Will melihat fotonya terpanjang bersama Bia yang sedang berpelukan dan berciuman di pinggir laut. Ia sempat begitu emosi, tapi saat membaca isi artikelnya ia malah tersenyum sendiri. Zen pun ikut tersenyum, karena isi artikelnya tertulis bahwa CEO muda dan tampan bernama Willy San sedang melamar seorang gadis cantik di pinggir laut. Gadis itu bernama Bianca Smith dan berprofesi sebagai model. Ternyata Willy San bisa juga jatuh cinta dengan seorang gadis, para pengagumnya akan merasakan patah hati massal. Dan tanpa mereka sadari, banyak pasang mata yang sudah mengabadikan moment romantis tersebut.
"Zen berikan hadiah untuk fotografer yang sudah memasang artikel itu" ucap Will yang masih duduk di dalam mobil.
"Siap tuan, lalu apa kita akan turun tuan ??" tanya Zen yang masih menunggu bosnya. Karena banyaknya wartawan Zen harus menunggu keputusan Will untuk turun atau tetap berada di dalam mobil.
"Sepertinya kita pulang saja, biarkan mereka penasaran dengan foto itu.." ujar Will yang masih saja tersenyum.
"Baik tuan..." jawabnya.
Lalu di rumah sakit, terlihat Keysa sudah semakin membaik. Ia membuka handphonenya dan banyak notif pesan masuk. Keysa pun melihatnya dan ternyata isinya tentang Will dan Bia, betapa kesalnya ia melihat Will sedang mencium Bia. Ia mengamuk, bahkan infusan di tangannya ia cabut begitu saja dan menjerit tidak karuan.
"BRENGS*EK KAU WILL, BRENGS*EKKKK...." amuk Key.
Darren yang sedang berada di kamar mandi, terkejut saat mendengar Keysa menjerit dengan keras. Ia bergegas keluar, dan Keysa sudah terlihat histeris.
"Key, ada apa ?? mengapa kau seperti ini"
"DOKTERRRR, SUS... SUSTEEERRR" jerit Darren sambil menekan alarm rumah sakit.
Tak lama kemudian suster pun datang, Keysa langsung di beri suktikan penenang agar bisa terkendali. Kemudian Darren melihat handphone Keysa, dan Darren terdiam ia merasa hatinya hancur lalu kembali melihat wajah Keysa yang mulai tertidur. Darah Darren mendidih ketika matanya tertuju kepada Keysa.
"Will kau membuatku harus ikut campur, aku tidak akan membiarkanmu bahagia" ucap Darren berapi-api setelah melihat Keysa mengamuk karena Will.
Lalu ia menelepon seseorang, dan meminta kepada orang itu untuk membuat Will menderita.
"Hallo, dimana kau ?? aku ada pekerjaan untukmu" ucap Darren.
__ADS_1
"Aku ada di rumah, apa yang harus aku kerjaan ??" tanya orang itu yang bernama Daniel.
"Aku akan mengirim gambar seseorang, buat dia lumpuh" tutur Darren.
"Baik, harga di depan" sahutnya.
"OKE !!!" jawab Darren.
Telepon pun mati, lalu ia kembali mengurus Keysa yang masih tertidur. Darren begitu sayang kepada kakaknya, karena ia tidak ingin kehilangan Keysa.
Lalu Will dan Zen terlihat sedang menikmati kopi di restaurant hotel. Mereka tidak langsung pulang, karena Bia pasti akan mengomel jika tahu Will sengaja tidak ke kantor.
"Menurutmu negara mana yang Bia sukai ??" tanya Will sambil menikmati kopinya.
"Mungkin saja Paris, karena biasanya para wanita paling suka berlibur disana" jawab Zen.
"Tapi aku lebih suka Turki" sahut Will.
"Hhhmm jika kau suka Turki mengapa masih bertanya kepadaku" Zen memasang wajah masam.
"Kau gila yaa Will, bagaimana bisa aku menikah dengan orang yang belum tentu mencintaiku" tutur Zen.
"Berarti kau mencintainya hahaa, akhirnya kau mengakui itu" sahut Will membuat Zen terpojok.
Setelah mereka selesai minum kopi, Will memutuskan untuk kembali ke apartemen ia akan siap jika Bia mengomelinya. Tapi tanpa disadari, mereka telah diawasi oleh orang suruhan Darren. Saat Will dan Zen sedang berjalan menuju parkiran mobil tiba-tiba mereka diserang. pinggang Will tertusuk pisau, Zen yang melihat itu langsung memberi perlawanan. Mereka berkelahi, tapi karena Zen tidak terlalu mahir dalam berkelahi ia terjatuh. Will yang masih kuat untuk berdiri mencoba melawan orang asing itu, ia berkelahi untuk melindungi Zen padahal luka di pinggangnya cukup parah. Darahnya terus menetes, Will menyerah matanya lalu meninju bagian rahang pipi kemudian menendang perutnya. Orang itu pun terjatuh, karena tidak ingin indentitasnya terungkap ia langsung bangun dan berlari. Tapi sayang, pisau yang ia gunakan untuk mencelakai Will tertinggal di tempat.
"Zen kau tidak apa-apa ??" tanya Will sambil memegang pinggangnya yang mengeluarkan darah.
"Aku tidak apa-apa, pinggangmu Will.." ucap Zen langsung berdiri dan bergegas membawa Will ke rumah sakit terdekat.
Di perjalanan Will berpikir macam-macam, ia curiga dengan seseorang dan mengajak Zen berbicara.
"Zen, apa kau tidak merasa aneh dengan kejadian barusan" ucap Will.
"Maksudmu...??" tanya Zen masih tidak mengerti.
__ADS_1
"Aku merasa ada yang tidak beres, sepertinya orang yang baru menyerang kita itu adalah orang suruhan" jelas Will sambil menahan sakit.
"Maksudmu ada orang yang menyuruhnya" jawab Zen pandai.
"Yaa, aku tidak pernah bermusuhan dengan siapapun kecuali Keysa. Dan kita sama-sama tahu masalah apa yang ia tidak suka dariku" Will masih menduga-duga.
"Tapi Will, jika itu perbuatan Keysa bagaimana mungkin ia bisa melakukan itu kepadamu. Bukankah Keysa sangat menyukaimu" ucapan Zen ada benarnya.
Will kembali berpikir, ia seperti mengumpulkan puzzle di otaknya. Tapi hatinya merasa ini ada hubungannya dengan Keysa. Tak berselang lama, mereka pun sampai di rumah sakit. Will langsung mendapatkan perawatan khusus, sebelum mereka sampai disana Zen sudah terlebih dahulu menelepon para ajudan Will untuk bergegas mengamankan rumah sakit yang akan mereka tuju.
Will meminta kepada Zen untuk tidak memberitahu Bia apa yang baru saja mereka alami, ia tidak ingin Bia khawatir. Lalu Zen memberi alasan kepada Bia bahwa Will sedang meeting mendadak di Singapura. Jadi Will akan menginap beberapa hari di rumah sakit demi memulihkan luka sobekan yang berada di pinggangnya.
"Zen kau cari tahu sidik jari di pisau itu ? aku tidak ingin polisi menangani kasusku ini" ucap Will, ia tidak suka jika polisi ikut campur dalam masalahnya karena akan mengundang banyak pihak.
"Baik Will, istirahatlah..." jawab Zen.
Will yang sudah terbaring di ranjang rumah sakit, masih memikirkan siapa orang yang berani menyakitinya.
Tiba-tiba handphone berdering...
"Hallo sayang..." ucap Will
"Will, mengapa kau tidak mengabariku ?? sampai kapan kau di Singapura ??" Bia mengomel.
"Hanya 3 hari, aku akan segera kembali. Baik-baik sayang, selama aku pergi jangan pergi kemana-mana. Tunggu aku pulang jangan keluar apartemen" jawab Will yang juga mencemaskan Bia.
"3 hari kau bilang Hanya ?? Menyebalkan !!!"
"Baiklah, jika kau pulang nanti aku akan memukulmu" ucap Bia manja.
"Aku rela jika kau memukulku dengan cinta apalagi..." Will mulai menggoda Bia.
"Bye, sayang hati-hati disana. I LOVE YOU" sahut Bia cepat, ia tidak ingin mendengar ucapan Will yang mesum itu.
Telepon langsung Bia matikan, dan Will terkekeh mendengar tingkah lakunya.
__ADS_1