
"Sayang, apa kita akan dinner dengan yang lainnya" ucap Dona yang bersama Leo di mobil. Mereka akan menuju apartement Will, karena Zen menghubungi Leo untuk bergabung dengan mereka.
"Ya, kita dinner bersama dengan mereka. Sepertinya ada sesuatu yang mendesak" sahut Leo sambil menyetir.
"Apa berhubungan dengan Key ??" tebak Dona.
"Entahlah, Ayo kita cari tahu sendiri. Tapi sebelum sampai disana, cium aku dulu" ucap Leo menyodorkan pipinya ke Dona.
"Iiih dia ini..." Dona memukul pundak Leo namun ia tetap mencium pipinya.
"Kan hari ini belum absen sayang..." lirik Leo dengan tatapan genitnya.
"Yaa deh, aku tidak mengira bisa berhubungan denganmu. Karena sebenarnya aku lebih suka pria yang lebih muda" ucap Dona.
"Jadi aku ini tidak muda ??" sahut Leo protes mendengar ucapan Dona.
"Hahaha, Yaa tentu saja kau masih sangat muda" Dona mencubit pipi Leo dengan gemas.
"Oya, aku sempat memikirkan hubungan Will dengan Bia. Apa mereka akan bersama selamanya ??" tanya Dona.
"Mengapa kau berkata seperti itu, memangnya ada yang salah dengan hubungan mereka" Leo menjadi cemas dengan pertanyaan Dona.
"Saat aku melihat Will bersama Bia, aku merasa bahagia. Tapi terkadang di pikiranku suka terlintas pemikiran yang lain. Aku tidak meragukan cintanya Will kepada Bia, tapi aku meragukan sahabatku sendiri. Aku ragu jika Bia bisa mencintai Will dengan tulus, entah kenapa seperti ada yang mengganjal di hatiku" Dona mempunyai perasaan yang tidak enak.
"Buang jauh-jauh pikiran seperti itu, aku tidak ingin melihat Will bersedih ataupun kecewa. Semoga itu hanya perasaanmu saja" sahut Leo tidak suka mendengar penjelasan Dona.
"Yaa, aku juga berharap seperti itu. Tapi semakin aku lawan, pikiran aneh itu semakin menjadi momok untukku" Dona mencemaskan hubungan Will dan Bia akan berakhir.
"Sudahlah jangan dibahas, kita sudah sampai. Pasang wajah bahagia untuk mereka, kita serahkan kepada Tuhan saja untuk masalah takdir mereka" tutur Leo.
Dona menganggukan kepalanya, lalu mereka berdua turun dan berjalan menuju lift untuk pergi ke apartment Will.
Leo memencet bel pintu, ia memegang tangan Dona membantu mengontrol mimik wajah Dona yang masih terlihat cemas.
"Hai, ayo masuk" ucap Bia yang membukakan pintu untuk mereka.
Dona berusaha tersenyum, Leo yang memperhatikannya menjadi sedikit lega. Ia tidak ingin jika Dona terhanyut dengan pikirannya, ia harus membantu Dona melupakan apa yang sudah mereka bahas di mobil.
"Leo, lama sekali kau sampainya. Apa kalian open room dulu ??" tanya Will asal bicara.
"Hahaha, brengs*ek kau Will. Apa kau memandangku serendah itu ??" Leo kembali ceria, ia langsung menghampiri Will yang sedang duduk di sofa tengah.
"Lihat Zen dan Sarah sudah dari kemarin disini, bahkan mereka sudah open room. Masa kau kalah dengan mereka" Will kembali membangun suasana menjadi ramai.
__ADS_1
"Sialan kau Will, jangan menebar fitnah" Zen melemparkan bantal sofa ke arah Will.
Wajah Sarah memerah, mendengar Will melempar candaan. Ia merasa Will benar-benar keterlaluan menyebut namanya sudah open room bersama Zen.
"Bia kau yang habisi Will, atau aku yang akan membunuhnya" sahut Sarah di dengar oleh mereka.
Will langsung berjalan meminta perlindungan dengan Bia, ia bersembunyi di belakang tubuhnya.
"Sayang, Sarah akan menyerangku" ucap Will manja, ia tersenyum begitu lebar dan membuat Dona memperhatikan Will.
Dona begitu sedih jika Bia tidak tulus dengan Will, karena yang ia lihat bahwa Will benar-benar mencintai Bia. Lalu Leo menepuk pundak Dona, ia memberi kode dengan menggelengkan kepalanya. Meminta Dona jangan berpikir yang macam-macam, lalu Dona tersenyum dengan Leo.
"Lagian kau asal bicara saja..." ucap Bia memukul tangan Will.
"Ampun sayang, Aku hanya kesal melihat Zen tidak bisa mengambil tindakan. Apa kau tidak sadar, Sarah sudah berjam-jam bersama kita tapi Zen masih saja dingin dengannya" ucap Will.
"Iyasih, Zen payah... Kau tidak bisa merayu sahabatku" sahut Bia yang ikut membela Will.
"Benarkan apa yang aku katakan"
"Zen kau pria payah, tampangmu saja yang tampan. Tapi kau tidak bisa memanfaatkan kejantananmu" ucap Will kembali asal berbicara.
Lalu Sarah melemparkan cangkir gelas yang kosong ke arah Will, ia benar-benar di buat malu oleh perkataan Will.
"Kau tega Sar, aku kan meledek Zen. Mengapa kau yang marah" ucap Will.
"Iyaa yaa, mengapa kau marah Sar ??" sahut Dona spontan.
"Berarti Sarah tidak terima jika Zen kau sakiti" Leo ikut menyambar.
"BIA..." Sarah meminta Bia membelanya.
"Hahaha, sudahlah jangan begitu dengan Sarah. Dia diam-diam juga liar, dan Zen... kau harus hati-hati dengan Sarah karena ia bisa menggigitmu jika kau masih saja dingin dengannya" ucapan Bia malah membuat mereka tertawa terbahak-bahak. Bukannya membela Sarah, Bia ikut meledeknya.
Di saat mereka masih tertawa bersama tiba-tiba bel pintu berbunyi.
TINGGG...
TONGGGGG....
Bia langsung menoleh ke Will, ia seperti bertanya dengan kode tatapan. Lalu Will menggerakan pundaknya memberi jawaban bahwa ia juga tidak tahu siapa yang datang.
"Biarkan aku saja yang membukanya..." ucap Sarah.
__ADS_1
Dan saat Sarah membuka pintu, ia terdiam lama di depan pintu. Melihat Sarah hanya terdiam, Bia lamgsung menghampiri Sarah.
"Siapa sar ??" tanyanya sambil berjalan. Saat ia sampai menghampiri Sarah, ia juga terdiam dan syok melihat kehadiran Darren dan Keysa.
"Darren..." sebut Bia dengan suara rendah.
"Apa kami boleh masuk ??" tanya Keysa kepada Bia.
"siapa sayang ??" ucap Will yang juga menghampiri mereka di depan pintu.
"Key..." ucap Will terkejut membuat Leo, Zen dan Dona menoleh ke arah pintu masuk.
"Apa aku boleh masuk Will, Bia hanya diam saja" ucap Keysa melirik ke arah Bia lalu tersenyum dengan Will.
"Silahkan masuk..." sahut Will mempersilahkan Darren dan Keysa untuk masuk.
"Apa kami mengganggu acara kalian ??" tanya Darren melihat mereka yang sedang berkumpul.
"Aah tidak, kami hanya makan malam bersama" jawab Will berusaha netral.
Lalu Keysa dan Darren duduk di sofa ruang tengah, di temani Will dan Leo. Bia hanya memperhatikan mereka dari dapur bersama Sarah dan Dona sedangkan Zen sedang mematikan laptopnya dan segera bergabung bersama Will dan Leo.
"Ada apa Key ?? mengapa kau dadakan kemari" ucap Will.
"Aku dan Darren datang kemari hanya ingin memintamu untuk menjelaskan tentang kontrak Bia dan hutang Ny.Farida yang sudah kau lunasi atas nama perusahaanmu" jelas Key.
"Oh itu, yaa aku melunasi semuanya karena untuk kebaikan Bia dan juga perusahaanmu" jawab Will terlihat tenang.
"Tapi Bianca masih harus menyelesaikan kontraknya Will, aku membutuhkan dia untuk produk baru kita" sahut Key yang tidak ingin Will membayar ganti rugi atas kontrak Bia.
"Maafkan aku Key, kau bisa mencari model lain. Bianca akan aku tarik di perusahaanku, jadi kau tidak bisa memaksanya untuk kembali di perusahaanmu" Will tetap kekeh dengan keputusannya.
Darren yang mendengar itu hanya terdiam, ia menunduk menahan emosi yang mulai berapi-api. Ia tidak bisa mendengar kakaknya dikecewakan oleh Will, seperti ada dendam yang dalam dengan sikap Will.
Lalu tak lama kemudian, Bia keluar membawa beberapa minuman yang ia sugukan untuk Keysa dan Darren. Keysa yang melihat Bia menuangkan minuman langsung memberikan ekspresi tidak suka. Namun ia menutupi sikap buruknya, agar Will tidak membencinya.
"Terima kasih Bia..." ucap Key melempar senyuman. Namun Bia hanya membalas dengan anggukan lalu ia berjalan kembali ke dapur.
"Iiihhh dasar wajah iblis..." ucap Bia membuat Dona dan Sarah langsung menenangkan Bia.
"Sabar Bi..." Sarah berusaha membuat Bia tenang.
"Yaa sabar Bi, kita harus ikuti Will. Dia sangat tenang menghadapi Key dan Darren. Walau kita sama-sama tahu, bahwa Will sangat membenci mereka" sahut Dona yang seolah tahu perasaan Will.
__ADS_1