DIA BIANCAKU

DIA BIANCAKU
BAB 55.DAPUR


__ADS_3

"Malam ini kau tidak bisa lolos dariku" ucap Will di telinga Bia.


Kemudian Zen melanjutkan obrolannyan dengan Will, ia meminta untuk berbicara 4 mata saja. Karena ada beberapa rahasia yang tidak boleh di dengar oleh Bia dan Sarah.


Will pun mengajak Zen untuk pergi ke balkon, disana mereka membicarakan dalang di balik penyerangan. Mendengar ucapan Zen, Will terkejut bahwa Darren adalah dalang dari penusukannya. Lalu Will melihat ke arah Bia dari kaca balkon, ia berpikir bahwa Darren melakukan itu karena sesuatu atau karena Darren mencintai Bia atau juga karena dirinya menolak Keysa.


Entahlah, Will masih di obok-obok dengan pikiran jeleknya. Yang harus ia pahami adalah Darren sengaja melakukan itu untuk menyakitinya.


"Sarah, kau menginap yaa ?? aku takut tidur sendiri" ucap Bia untuk menghidari Will malam ini.


"Tapi Bi, aku tidak enak dengan Will. Lagi pula besok aku ada jam kuliah" sahut Sarah.


"Sekali ini saja, please !!!" Bia memohon.


"Eeemmm baiklah, tapi kau harus izin dulu dengan Will" ucap Sarah.


"Yaa tenang saja, ayo kita tidur" ajak Bia tanpa memberitahu Will.


Bia mengajak Sarah pergi ke kamarnya, ia langsung pergi tidur tanpa basa basi kepada Will. Lalu di balkon terlihat Will dan Zen masih mengobrol serius. Sekita jam 11 malam, Zen pamit pulang dan melihat Sarah sudah tidak ada di ruang tengah maupun di ruang tamu.


"Will, apa kau lihat Sarah ?? Dia tidak ada dimana-mana" ucap Zen.


"Coba aku cek di kamar Bia dulu" sahut Will, dan benar saja Sarah sudah tertidur bersama Bia. Ia paham bahwa ini adalah perbuatan Bia yang sengaja ingin menghindarinya dari malam yang akan ia ciptakan.


"Sarah sudah tidur bersama Bia di kamarnya" ucap Will.


"Kalau begitu aku juga akan menginap disini" jawab Zen, mendengar ucapannya Wll tidak bisa percaya.


"Kau serius Zen ?? apa aku tidak salah dengar ??" tanya Will


"Yaa aku ingin menginap disini bersama Sarah" Jelas Zen.


"Akhirnya kau menyukai wanita juga Zen" ucap Will bercanda.


"Sialan kau..." sahut Zen.


Malam itu menjadi saksi keseruan Bia yang telah mengakui kesalahannya, bahkan membuat Zen menginap di apartemen Will bersama Sarah.


Kemudian Will yang terlihat sibuk di depan laptopnya membuat pesan yang akan dikirim ke email Joe.


Selamat malam Joe, aku hanya ingin memberitahu bahwa Bianca tidak akan bisa menemuimu tanpa diriku. Dan jangan pernah lagi menghubungi Bianca, karena dia adalah milikku.


Pesan itu sengaja Will kirim hanya ingin bermain-main dengan Joe dan sengaja menarik emosi Joe agar tersulut emosi dengan mudah. Ia ingin lihat seberapa besar nyali Joe melawan dirinya.


Pagi harinya, Bia bangun lebih awal bersama Sarah. Ia bergegas menyiapkan sarapan, dan betapa terkejutnya Bia melihat Zen tertidur di sofa di depan televisi.


"Sar...Sarah, sini..." ucap Bia memanggil Sarah.

__ADS_1


"Ada apa pagi-pagi sudah berisik saja" jawab Sarah.


"Zen menginap juga, sepertinya dia tidak bisa jauh darimu" Bia meledek Sarah.


"Hmm sudah Bi, jangan mengejekku. Apa kau juga ingin aku ledek tentang kejadian semalam" sahut Sarah.


"Iiihh mainannya ancaman" ucapnya.


"Hahaa, iyaa sudah sana siapkan sarapan. Nanti tuan Willy San mu itu keburu bangun" ledek Sarah.


"THIS IS NOT FUNNY, Beb !!!" Bia sedikit kesal.


"Hahaha i'am very funny hunny" ucap Sarah.


"Dasar..." sahut Bia.


Setelah Bia masak bersama Sarah, ia langsung berpikir untuk mengadakan liburan ke pantai Z bersama Sarah dan Dona. Ia ingin merasakan kebersamaan bersama sahabat-Sahabatnya itu, ia rindu mengukir moment indah bersama mereka.


"Lusa kita ke pantai Z yukk, aku ingin sekali liburan bersamamu dan Dona" ucap Bia.


"Ayo, tapi jangan bilang kau membawa Will yaa Bi. Karena pasti Dona akan membawa Leo juga, dan aku hanya jadi kambing congeknya saja" jawab Sarah.


"Hahaha, kalau begitu Zen saja yang kau bawa" sahut Bia meledek.


"Aah lebih baik tidak usah" Sarah malas jika harus berpasang-pasangan.


Tak lama dari mereka berbincang, Zen pun bangun melihat Sarah sedang berada di dapur bersama Bia. Ia tersenyum seolah membayangkan Sarah sudah menjadi kekasihnya.


"Pagi..." ucap Zen.


"Pagi juga Zen, ehmmm" sahut Bia sambil melirik Sarah.


"Apa kau tidak ingin menjawab salam Zen Sar" Bia memprovokasi.


"Pagi..." Sarah langsung menjawab.


"Bagaimana tidurmu Zen, apakah nyenyak ??" tanya Bia.


"Lumayan..." jawab Zen sambil mengambil roti tawar di atas meja makan.


"Oya Sar, bukankah hari ini kau ada kuliah pagi ??" Bia kembali menggoda Sarah.


"Telat Bi, ini sudah jam berapa..." Sarah malas membahas kuliah, karena pasti memancing Zen berkomentar.


"Apa kau ada kuliah ??" tanya Zen.


Benar saja, Zen ikut berkomentar tentang kuliahnya. Bia sengaja membuat bahan omongan agar Sarah dan Zen berbicara satu sama lain.

__ADS_1


"Aah yaa, tapi aku sudah izin dengan asdos ku" jawab Sarah, melirik Bia dengan mata tajamnya.


"Hahaha, PEACE Sar" ucap Bia.


Mendengar suara berisik di dapur, Will pun terbangun. Ia beranjak dari tempat tidurnya dan menghampiri mereka yang sedang berbincang.


"Pagi Will..." sapa Zen.


"Pagi..." Will langsung berjalan menghampiri Bia memberi kecupan di pipinya.


"Uuhh, masih pagi Will" ucap Sarah sirik melihat Will bermesraan bersama Bia.


"Apa ada yang salah, itu ada Zen" ledek Will kepada Sarah, membuatnya mendapat cubitan dari Bia.


"AWW, sakit sayang" ucap Will.


"Jangan seperti itu, Sarah mudah ngambek" sahut Bia sambil tersenyum melirik Sarah.


"Hmm, baiklah"


"Oya, kau masih ada hutang sayang" ucap Will berbisik di telinga Bia.


"Hutang lunas" jawab Bia membuat Will mengerutkan dahinya, saat mereka sedang membahas masalah ranjang tiba-tiba Zen mendapatkan kabar buruk mengenai bibi Wiwi.


"Will, aku melihat email masuk. Ada berita buruk !!!" ucap Zen membuat Will dan Bia menghampirinya.


"Apa isinya ??" tanya Will.


"Sayang, aku minta kopi" ucapnya kepada Bia.


"Ya, aku buatkan" jawab Bia kembali ke dapur lagi, Will sengaja menyuruh Bia agar ia tidak mendengar kabar buruk tersebut.


"Isinya bahwa bibi Wiwi telah tewas 2 minggu yang lalu, tapi aku tidak yakin. Karena sampai sekarang, informanku masih bisa melacak keberadaan handphonenya" jelas Zen yang membuka email lewat laptopnya.


"Untuk sementara rahasiakan ini dari Bia" sahut Will yang sudah duduk di samping Zen, lalu melihat Bia menghampiri mereka.


"Apa isi emailnya Zen ??" tanya Bia sambil membawa segelas kopi milik Will.


"Aah itu hanya email dari investor"


"Terima kasih sayang" ucap Will menerima kopi dari tangan Bia.


"Apa benar Zen ??" tanya lagi.


"Yaa, benar. Hanya email dari investor" jawab Zen melirik Will yang sedang menyeruput kopi panasnya.


"Ooh, yaa sudah. Aku kembali ke dapur menemani Sarah" ucapnya kepada Will. Dan di balas dengan anggukan oleh Will, ia takut jika Bia mendengar kabar tentang bibi Wiwi tewas akan mempengaruhi emosionalnya kembali.

__ADS_1


__ADS_2