
"Will apa kau sudah tidur" terdengar suara Leo di telepon.
"Belum, bagaimana ?? apa yang dikatakan Sarah ??" tanya Will tidak sabar.
"Cegah Bia ke Swiss, dia mau menemui Joe Will" jawab Leo.
"Joe ?? Mengapa Bia ingin menemui Joe ??" Will sangat penasaran dengan ucapan Leo.
"Joe menghubungi Bia, ia ingin mengatakan sesuatu tentang bibi Wiwi. Aku rasa Joe sengaja memancing Bia untuk jauh darimu" jelas Leo.
"Jadi Bia ke Swiss untuk bertemu Joe, memangnya ada apa dengan bibi Wiwi ??" Will terdengar bodoh, pikirannya benar-benar dibuat bingung.
"Aku juga tidak tahu, Sarah mengatakan bahkan Joe beberapa hari ini menghubungi Bia. Awalnya Bia malas merespon Joe, tapi karena Joe selalu menyebut nama bibi Wiwi. Akhirnya Bia mau mengangkat teleponnya Joe. Hati-hati Will, sepertinya Bia akan melakukan sesuatu di luar jangkauanmu" Leo memperingkati Will agar menjaga Bia dengan baik.
"Oke, terima kasih banyak Leo" sahut Will, kemudian telepon pun mati.
"Ada apa denganmu Bia, mengapa kau rahasiakan itu dariku ??" gumam Will sambil berdiri memandangi wajah Bia yang sudah tertidur pulas.
Pagi harinya, Bia terlihat sudah siap. Ia mencari Ny.Farida tapi tidak menemukannya, mau tidak mau Bia bertanya dengan Will.
"Will, kemana mama ?? aku sudah siap, tapi mama malah menghilang" ucap Bia yang melihat Will sedang berada di depan laptopnya.
"Aku juga tidak tahu, mungkin ke super market" Will bohong.
Ny.Farida sudah Will ungsikan, ia berada di apartemen lain milik Will. Will juga sudah menceritakan semuanya kepada Ny.Farida tentang apa yang sebenarnya terjadi.
"Lalu bagaimana Will, kita kan harus segera ke bandara" Bia mulai panik.
"Batalkan saja" jawab Will sambil mengetik pekerjaannya.
"Kok batal Will, aku sangat ingin liburan itu" Bia berbicara dengan nada manja.
"Jika kau tetap ingin pergi liburan, maka aku akan mengatur jadwalku untuk pergi bersamamu" jawab Will.
"Aah tidak usah, aku ingin berlibur sendiri. Lagi pula hanya 2 minggu Will, abis itu aku akan kembali ke Indonesia" sahut Bia mencoba meyakinkan Will dengan perasaan takutnya.
"Tapi aku sudah membatalkan" jawab Will datar.
"Jadi untuk apa kemarin kau memesankan tiket untukku, kalau hanya untuk mempermainkanku saja" Bia mulai emosi dengan cara Will yang hanya sepihak membatalkan penerbangannya.
"Intinya kau liburan harus bersamaku, titik !!!" ucap Will.
"Kau benar-benar membuatku marah, kenapa kau tidak mengatur Sely saja. Aku malas melihat wajahmu" ucapan Bia begitu tajam.
"BIA...!!!" Will tiba-tiba membentak Bia.
"APAA ?? APA KAU TIDAK TERIMA JIKA AKU MENYEBUT NAMA KEKASIH GELAPMU ITU" Bia memancing Will marah, karena itu alasan Bia untuk bisa pergi dari apartemen Will.
"Apa masalahmu Bia, mengapa kau sekarang suka mencari gara-gara ?? ada apa denganmu ??" Will tidak menyangka Bia bisa berkata sekasar itu.
"Aku malas tinggal disini lagi" Bia langsung berjalan menuju pintu keluar, namun Will bergegas melangkah menghalangi Bia.
"Kembali ke kamarmu Bia" ucap Will yang sudah berada di depan pintu menghalangi Bia keluar.
Karena Bia masih kekeh ingin keluar apartemen, Will tanpa berpikir panjang langsung menggendong Bia untuk kembali ke kamarnya.
"WILL..." jerit Bia.
"Turunkan aku, iihh Will jangan buat aku semakin marah kepadamu" Bia memberontak sambil memukul-mukul dada bidang Will, ia meminta menurunkannya tapi tetap tidak di turunkan.
Kemudian Will sedikit membanting tubuh Bia di atas ranjang, ia harus bersikap keras agar Bia tidak melakukan hal konyol di luar pengawasannya.
"Diam di kamarmu Bia, jika tidak aku akan memperkosamu" ucap Will.
"Dasar mesum, sialan kau Will" jawab Bia, Will langsung meninggalkannya di kamar.
Aku tidak bisa disini terlalu lama, aku harus tahu keberadaan bibi Wiwi ucap Bia dalam hati.
__ADS_1
Lalu Will menelepon Zen, meminta untuk Zen mencari tahu keberadaan bibi Wiwi. dan Zen pun mengabarkan ke Will bahwa Bryan hari ini terbang ke Bangkok bersama Os. Lalu juga memberi tahu tentang perkembangan orang yang telah menusuk Will beberapa waktu lalu. Zen menyebut bahwa pria itu bernama Daniel berusia 54 tahun, namun Zen tidak bisa mengecek keberadaannya. Karena minim informasi tentang dimana dia tinggal sekarang.
Will seperti pernah mendengar nama Daniel, tapi lupa dimana mendengarnya. Lagi pula nama Daniel sangat banyak, jadi belum tentu itu Daniel yang sama dengan Daniel yang pernah Will dengar.
Will pun meminta kembali kepada Zen untuk mencari tahu motif Daniel ingin membunuhnya. Karena Will yakin ada seseorang di belakang pria itu, ia akan melihat siapa sebenarnya yang menyuruh Daniel untuk membunuhnya. Lalu setelah selesai teleponan bersama Zen, Will kembali fokus ke Bia. Ia mencoba melihatnya di kamar, dan ternyata Bia sedang memainkan handphonenya.
Will berjalan menghampiri Bia, dan melihat siapa yang sedang Bia hubungi.
"Bia, kau menghubungi siapa ??" tanya Will.
"Sarah dan Dona" jawabnya singkat.
"Apa perlu aku undang mereka kemari, agar kau lebih leluasa mengobrol dengan mereka" ujar Will.
"Tidak perlu, aku sudah selesai" jawab Bia ketus.
"Baiklah, hari ini aku tidak kerja. Jadi aku bisa mengajakmu pergi jalan-jalan" Will mencoba merayu Bia.
"Tidak, aku ingin tidur saja" Bia langsung membuka selimut dan pura-pura tertidur.
"Oke, aku akan keluar" Will tidak bisa mempercayai Bia, ia tahu Bia hanya mencari alasan.
Saat Will keluar kamar, Bia langsung menelepon Darren. Meminta bantuan kepadanya, karena ia yakin hanya Darren yang bisa membuat Bia keluar dari apartemen.
"Darren..." ucap Bia.
"Bia, ada apa ??" tanya Darren bingung.
"Tolong aku Darren, aku ingin keluar apartemen tapi aku tidak bisa keluar karena Will melarangku" jelas Bia.
"15 menit lagi aku akan keluar menjemputmu" sahut Darren.
Ternyata Will menguping pembicaraan Bia, ia sedikit terkejut dengan keputusan Bia menghubungi Darren. Will sangat cemas, Bia tidak ingin berbagi masalah dengannya. Apa karena Bia masih marah dengannya karena masalah di kantor kemarin. Atau karena Bia tidak ingin Will ikut campur dengan apa yang sedang Bia hadapi.
Will menunggu kedatangan Darren, ia akan lihat seberapa hebat Darren bisa membawa Bia keluar dari apartemen Will.
"Will apa kau sudah tidur" terdengar suara Leo di telepon.
"Belum, bagaimana ?? apa yang dikatakan Sarah ??" tanya Will tidak sabar.
"Cegah Bia ke Swiss, dia mau menemui Joe Will" jawab Leo.
"Joe ?? Mengapa Bia ingin menemui Joe ??" Will sangat penasaran dengan ucapan Leo.
"Joe menghubungi Bia, ia ingin mengatakan sesuatu tentang bibi Wiwi. Aku rasa Joe sengaja memancing Bia untuk jauh darimu" jelas Leo.
"Jadi Bia ke Swiss untuk bertemu Joe, memangnya ada apa dengan bibi Wiwi ??" Will terdengar bodoh, pikirannya benar-benar dibuat bingung.
"Aku juga tidak tahu, Sarah mengatakan bahkan Joe beberapa hari ini menghubungi Bia. Awalnya Bia malas merespon Joe, tapi karena Joe selalu menyebut nama bibi Wiwi. Akhirnya Bia mau mengangkat teleponnya Joe. Hati-hati Will, sepertinya Bia akan melakukan sesuatu di luar jangkauanmu" Leo memperingkati Will agar menjaga Bia dengan baik.
"Oke, terima kasih banyak Leo" sahut Will, kemudian telepon pun mati.
"Ada apa denganmu Bia, mengapa kau rahasiakan itu dariku ??" gumam Will sambil berdiri memandangi wajah Bia yang sudah tertidur pulas.
Pagi harinya, Bia terlihat sudah siap. Ia mencari Ny.Farida tapi tidak menemukannya, mau tidak mau Bia bertanya dengan Will.
"Will, kemana mama ?? aku sudah siap, tapi mama malah menghilang" ucap Bia yang melihat Will sedang berada di depan laptopnya.
"Aku juga tidak tahu, mungkin ke super market" Will bohong.
Ny.Farida sudah Will ungsikan, ia berada di apartemen lain milik Will. Will juga sudah menceritakan semuanya kepada Ny.Farida tentang apa yang sebenarnya terjadi.
"Lalu bagaimana Will, kita kan harus segera ke bandara" Bia mulai panik.
"Batalkan saja" jawab Will sambil mengetik pekerjaannya.
"Kok batal Will, aku sangat ingin liburan itu" Bia berbicara dengan nada manja.
__ADS_1
"Jika kau tetap ingin pergi liburan, maka aku akan mengatur jadwalku untuk pergi bersamamu" jawab Will.
"Aah tidak usah, aku ingin berlibur sendiri. Lagi pula hanya 2 minggu Will, abis itu aku akan kembali ke Indonesia" sahut Bia mencoba meyakinkan Will dengan perasaan takutnya.
"Tapi aku sudah membatalkan" jawab Will datar.
"Jadi untuk apa kemarin kau memesankan tiket untukku, kalau hanya untuk mempermainkanku saja" Bia mulai emosi dengan cara Will yang hanya sepihak membatalkan penerbangannya.
"Intinya kau liburan harus bersamaku, titik !!!" ucap Will.
"Kau benar-benar membuatku marah, kenapa kau tidak mengatur Sely saja. Aku malas melihat wajahmu" ucapan Bia begitu tajam.
"BIA...!!!" Will tiba-tiba membentak Bia.
"APAA ?? APA KAU TIDAK TERIMA JIKA AKU MENYEBUT NAMA KEKASIH GELAPMU ITU" Bia memancing Will marah, karena itu alasan Bia untuk bisa pergi dari apartemen Will.
"Apa masalahmu Bia, mengapa kau sekarang suka mencari gara-gara ?? ada apa denganmu ??" Will tidak menyangka Bia bisa berkata sekasar itu.
"Aku malas tinggal disini lagi" Bia langsung berjalan menuju pintu keluar, namun Will bergegas melangkah menghalangi Bia.
"Kembali ke kamarmu Bia" ucap Will yang sudah berada di depan pintu menghalangi Bia keluar.
Karena Bia masih kekeh ingin keluar apartemen, Will tanpa berpikir panjang langsung menggendong Bia untuk kembali ke kamarnya.
"WILL..." jerit Bia.
"Turunkan aku, iihh Will jangan buat aku semakin marah kepadamu" Bia memberontak sambil memukul-mukul dada bidang Will, ia meminta menurunkannya tapi tetap tidak di turunkan.
Kemudian Will sedikit membanting tubuh Bia di atas ranjang, ia harus bersikap keras agar Bia tidak melakukan hal konyol di luar pengawasannya.
"Diam di kamarmu Bia, jika tidak aku akan memperkosamu" ucap Will.
"Dasar mesum, sialan kau Will" jawab Bia, Will langsung meninggalkannya di kamar.
Aku tidak bisa disini terlalu lama, aku harus tahu keberadaan bibi Wiwi ucap Bia dalam hati.
Lalu Will menelepon Zen, meminta untuk Zen mencari tahu keberadaan bibi Wiwi. dan Zen pun mengabarkan ke Will bahwa Bryan hari ini terbang ke Bangkok bersama Os. Lalu juga memberi tahu tentang perkembangan orang yang telah menusuk Will beberapa waktu lalu. Zen menyebut bahwa pria itu bernama Daniel berusia 54 tahun, namun Zen tidak bisa mengecek keberadaannya. Karena minim informasi tentang dimana dia tinggal sekarang.
Will seperti pernah mendengar nama Daniel, tapi lupa dimana mendengarnya. Lagi pula nama Daniel sangat banyak, jadi belum tentu itu Daniel yang sama dengan Daniel yang pernah Will dengar.
Will pun meminta kembali kepada Zen untuk mencari tahu motif Daniel ingin membunuhnya. Karena Will yakin ada seseorang di belakang pria itu, ia akan melihat siapa sebenarnya yang menyuruh Daniel untuk membunuhnya. Lalu setelah selesai teleponan bersama Zen, Will kembali fokus ke Bia. Ia mencoba melihatnya di kamar, dan ternyata Bia sedang memainkan handphonenya.
Will berjalan menghampiri Bia, dan melihat siapa yang sedang Bia hubungi.
"Bia, kau menghubungi siapa ??" tanya Will.
"Sarah dan Dona" jawabnya singkat.
"Apa perlu aku undang mereka kemari, agar kau lebih leluasa mengobrol dengan mereka" ujar Will.
"Tidak perlu, aku sudah selesai" jawab Bia ketus.
"Baiklah, hari ini aku tidak kerja. Jadi aku bisa mengajakmu pergi jalan-jalan" Will mencoba merayu Bia.
"Tidak, aku ingin tidur saja" Bia langsung membuka selimut dan pura-pura tertidur.
"Oke, aku akan keluar" Will tidak bisa mempercayai Bia, ia tahu Bia hanya mencari alasan.
Saat Will keluar kamar, Bia langsung menelepon Darren. Meminta bantuan kepadanya, karena ia yakin hanya Darren yang bisa membuat Bia keluar dari apartemen.
"Darren..." ucap Bia.
"Bia, ada apa ??" tanya Darren bingung.
"Tolong aku Darren, aku ingin keluar apartemen tapi aku tidak bisa keluar karena Will melarangku" jelas Bia.
"15 menit lagi aku akan keluar menjemputmu" sahut Darren.
__ADS_1
Ternyata Will menguping pembicaraan Bia, ia sedikit terkejut dengan keputusan Bia menghubungi Darren. Will sangat cemas, Bia tidak ingin berbagi masalah dengannya. Apa karena Bia masih marah dengannya karena masalah di kantor kemarin. Atau karena Bia tidak ingin Will ikut campur dengan apa yang sedang Bia hadapi.
Will menunggu kedatangan Darren, ia akan lihat seberapa hebat Darren bisa membawa Bia keluar dari apartemen Will.