DIA BIANCAKU

DIA BIANCAKU
BAB 54.MAAF


__ADS_3

Ting...


Tong...


Suara bel pintu berbunyi, lalu Bia keluar dari kamarnya. Ia dilirik oleh Will dari meja kerjanya. Will kemudian berdiri lalu berjalan melihat apa yang akan Bia lakukan bersama Darren dengan gaya kedua tangan yang dimasukkan ke dalam saku celana.


Will melihat Bia memeluk Darren, lalu terlihat mereka berbicara dengan nada rendah seperti berbisik. Kemudian Darren melihat Will dan Bia langsung menoleh ke belakang melihat kedatangan Will.


"Hai Will..." Sapa Darren.


"Hai..." jawab Will dengan wajah tidak suka.


"Aku ingin mengajak Bia keluar Will..." tutur Darren.


"Maaf Darren, Bia tidak bisa pergi bersamamu" sahut Will yang melarang Bia keluar.


"Kenapa Will ?? Darren sahabatku, kami sudah bersama sejak bangku sekolah" Bia protes dengan sikap Will yang dingin.


"Apapun alasanmu, aku tidak bisa membiarkanmu bersama seorang pria. Karena kau adalah calon istriku" jawab Will membuat Darren menggepalkan tangannya.


"Kau berlebihan Will, kau mengenalku. Aku bukan orang asing yang harus kau takuti. Izinkan Bia pergi bersamaku" Darren tetap memaksa Will.


"Aku sudah bilang Darren, aku tidak bisa mengizinkan Bia bersama seorang pria" jawab Will sambil menarik Bia untuk dekat di sampingnya.


Lalu Bia memberontak, ia tetap ingin keluar dari apartemen.


"Aku sudah muak dengan sikapmu Will, aku tetap akan keluar bersama Darren" Bia keras kepala, ia tetap kekeh ingin pergi.


"Jika kau tetap pergi, maka aku tidak akan peduli lagi denganmu" Will berusaha santai, walau hatinya mulai teriris.


Bia terdiam sejenak, ia harus memikirkan matang-matang tentang apa yang akan ia lakukan. Bia menatap Darren, dan kemudian berpikir bahwa ia juga tidak bisa hidup tanpa Will, walaupun mulutnya berkata sebaliknya ia harus tetap memikirkan perasaannya dan perasaan Will.


"Huufff... Darren aku akan meneleponmu nanti, maafkan aku" ucap Bia langsung melangkah masuk, dan meninggalkan Darren bersama Will begitu saja.


"Bagaimana Darren, apa kau masih mau disini. Bia sudah bilang akan meneleponmu" Will terlihat santai, dan merasa menang di hadapan Darren.


"Baiklah, aku pulang Will" ucap Darren dengan tidak puas.


Will pun menutup pintu dengan senyuman di wajahnya, ia kemudian menghampiri Bia yang sedang merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Lalu Will ikut merebahkan tubuhnya di samping Bia. Ia melihat raut wajah Bia yang begitu letih, mencoba membelai rambut Bia dengan lembut.


Bia pun langsung membalikkan tubuhnya menghadap ke tubuh Will yang begitu atletis, ia memeluk Will dan menyembunyikan wajahnya di ketiak Will.


"Maafkan aku Will, kau begitu sabar menghadapi sikap keras kepalaku ini" ucap Bia yang masih bersembunyi di ketiak Will.


"Aku tidak marah dengan sikapmu yang menyebalkan itu" jawab Will langsung membuat Bia mengangkat wajahnya.

__ADS_1


"Aku menyebalkan Will ?? Apa aku benar menyebalkan ??" Bia merasa sedih dengan sikapnya.


"Yaa sangat menyebalkan..." ucap Will sambil mencubit hidung Bia dengan gemas.


"Ceritalah kepadaku, aku akan membantumu" ucap Will lagi.


Namun Bia belum ingin bercerita dengan Will, ia masih memeluknya bahkan mencium aroma tubuh Will yang begitu menggoda. Will mengangkat wajah Bia dengan tangan yang menyentuh dagu Bia, lalu ia memejamkan kedua matanya dan perlahan mencium bibir Bia dengan penuh gairah. Kemudian Bia pun menutup matanya dan terhanyut dengan sentuhan bibir Will. Mereka saling mengecap, ciuman itu perlahan berubah menjadi lebih nafsu.


Terasa nafas yang menyembur semakin kuat, membuat mereka menjadi hilang kendali. Will dengan cepat membuka bajunya, lalu membantu Bia membuka bajunya juga. Mereka terlihat sudah setengah telanjang, tangan Bia meraba tubuh Will yang kekar. Merasakan setiap lekukan otot di tubuh Will, membuatnya tidak bisa menahan gairah seksual. Will pun merasakan sentuhan tangan Bia yang sedang meraba dada bidangnya lalu berjalan meraba ke pundaknya membuat Will ingin langsung memangsa Bia.


Will menciumi daun telinga Bia, lalu turun ke leher Bia. Ia membuat tanda merah disana, kemudian turun lagi ke buah dadanya membuat Bia merasakan setruman yang dahsyat. Will sudah tidak tahan, celananya menjadi sempit membuat sesuatu yang di dalam ingin segera keluar dari sangkarnya. Ia ingin melepaskan celana yang sesak itu, dan disaat gairahnya sudah berada di puncak ubun-ubun tiba-tiba bel pintu berbunyi. Gairah Will langsung seketika turun, membuat kepalanya menjadi begitu sakit.


"Aaah sayang, aku sudah siap" ucap Will dengan wajah lesu.


"Tapi ada yang datang, pakai bajumu Will" Bia bergegas membuka pintu dengan tangan yang masih memasang kancing bajunya.


"Yaa, tunggu" ucap Bia sudah dekat pintu.


"Zen, Sarah" ucap Bia lagi.


"Hai Bia, apa kami mengganggumu ??" tanya Sarah.


"Tidak, ayo masuk" Bia mempersilahkan mereka masuk dengan menggandeng tangan Sarah.


"Apa kau jadian dengan Zen ??" ucap Bia berbisik


"Mana Will ???" tanya Zen spontan.


"Oooh Will, dia lagi istirahat" jawab Bia.


"Apa Will sakit ???" tanya Zen lagi.


"Sakit gara-gara kau datang" sahut Will dengan wajah lesu dengan rambut berantakannya.


"Wajahmu kenapa Will, kau begitu buruk ?? ada apa denganku ??" tanya Zen polos.


"Hahaha, Will hanya sakit kepala. Benarkan sayang ??" Bia langsung menghampiri Will dan memeluknya lalu merapikan rambut Will yang berantakan.


"Hmm, Ya..." jawab Will malas.


"Oya ngomong-ngomong ada apa kalian kemari ??" tanya Bia.


"Maafkan aku Bia, aku menceritakan semuanya kepada Zen dan Leo tentang bibi Wiwi" sahut Sarah, tangan Bia yang tadinya sedang merangkul Will dengan cepatnya langsung di lepas dari pinggang Will. Dan berdiri menjauh dari Will, karena ingin menutupi wajah gugupnya yang telah merahasiakan sesuatu dari Will.


Will yang melihat wajah gugup Bia, langsung menarik tangan Bia kembali dan Will gantian merangkul pinggang Bia.

__ADS_1


"Lanjutkan Sarah..." ucap Will.


"Yaa, aku terpaksa Bia. Aku takut terjadi sesuatu denganmu" Sarah mencemaskan Bia.


"Apa kau tahu keberadaan bibi Wiwi dimana ??" tanya Will membuat Bia langsung menoleh.


"Will ?? jadi kau sudah tahu kalau bibi Wiwi menghilang ??" tanya Bia terkejut.


"Yaa, aku tahu. Jika tidak, aku akan kehilanganmu hari ini" jelas Will yang masih merangkul Bia.


"Aku sudah mencari tahu tentang keterlibatan Joe dengan hilangnya bibi Wiwi, sepertinya Joe mempunyai sesuatu Will" jelas Zen.


Bia menelan salivanya, ia gugup mendengar Zen menyebut nama Joe di depan Will. Bia takut untuk melihat ekspresi wajah Will, ia ingin melangkah duduk namun Will menahannya dengan merangkul pinggang Bia yang semakin kuat.


"Mau kemana sayang ??" tanya Will menatap wajah Bia.


"hehee, aku ingin duduk. Kepalaku pusing, apa kepalamu sudah sembuh ??" Bia pintar beralibi.


"Masih, yaa sudah ayo kita duduk" Will tidak ingin melepaskan rangkulannya. Ia sengaja ingin membuat Bia tetap menyimak pembicaraan mereka.


"Kalau begitu, aku sendiri yang akan mengurus Joe" jawab Will kepada Zen.


Bia tidak berani menatap Will, ia lebih baik menoleh ke arah Sarah. dan Sarah membalas dengan wajah yang cemas kepada Bia.


"Joe berada di Hongkong, ia akan menemui Sandra di Thailand" ucap Zen.


"Hongkong ?? Berarti Bia juga tahu jika Joe berada disana ??" tanya Will kepada Sarah.


Bia lagi-lagi menelan salivanya, ia menunduk tidak berani mengangkat wajahnya yang suram.


"Yaa, karena Bia akan menemui Joe di Hongkong" jelas Sarah membuat Bia terpojok.


Astaga Sarah mengapa kau mengatakan itu kepada Will, kau ingin membunuhku gumam Bia dalam hati.


"Sayang, bukankah kau ingin ke Swiss, bukan ke Hongkong ?? Benarkan sayang ??" Will sengaja membuat Bia merasa bersalah.


"Aah, Iyaa... Aa..akuu memang ingin ke Swiss" jawab Bia gugup.


"Lalu mengapa Sarah bilang kau ingin ke Hongkong ??" tanya Will lagi, membuat Zen tersenyum menunduk melihat Will sengaja menyudutkan Bia.


"Aaahh Will, Yaa iyaa aku salah. Aku mengaku salah, maafkan aku Will. Aku hanya ingin mencari bibi Wiwi, tidak ada maksud lain Will" Bia akhirnya mengakui perbuatannya.


"Ooh, jadi karena ingin bertemu dengan Joe pantas saja akhir-akhir ini sikapmu berubah drastis" Will kembali membuat Bia tersudut.


"Will, aku kan sudah minta maaf" ucap Bia langsung melingkarkan kedua tangannya di tubuh Will.

__ADS_1


Zen dan Sarah yang melihat itu menjadi tertawa, mereka berhasil membuat Bia mengakui kesalahannya. Bahkan tindakan Bia hampir membuat Will tertipu.


__ADS_2