DIA BIANCAKU

DIA BIANCAKU
BAB 44. Babak belur


__ADS_3

Malam harinya, Keysa menemui Joe untuk membahas tentang kekalahan Bryan. Ia meminta Joe segera pindah dari Indonesia, karena ia mendengar desas desus Will akan mengambil tindakan kepada Joe yang telah mengintai rumah Bia beberapa waktu lalu.


Setelah kesepakatan itu terjadi, akhirnya Joe menuruti kemauan Keysa. Joe langsung pulang dan membereskan orang-orang yang sudah ia suruh untuk mengintai Bia. Kemudian Keysa menghubungi Bryan untuk mengajaknya bertemu dan menyuruhnya membawa Sandra.


Sesampainya di Colosseum Club, Bryan membawa Sandra di ruangan khusus. Saat masuk disana Keysa belum hadir, kemudian Bryan menyodorkan segelas minuman kepada Sandra. Entah apa yang ada di pikiran Keysa, Bryan pun tidak mengerti. Tapi yang ia tahu bahwa Keysa akan memberikan beberapa bukti baru kepada Bryan terkait tentang hutang piutang Ny.Farida.


"Bryan, tumben kau mengajakku kemari ?? apa kau merayakan kekalahanmu" ucap Sandra meledek.


"Kau senang jika aku kalah dari Will hemm ?? " Bryan terbawa emosi.


"Hahaha apa kau marah denganku sayang, aku hanya bercanda. Jadi mengapa kita disini ??" tanyanya penasaran.


Saat mereka sedang berbincang, pintu ruangan terbuka dan Keysa masuk bersama beberapa bodyguard nya.


"Apa kabar nona Sandra..." ucap Key sambil tersenyum sinis.


"Apa yang kau lakukan disini ??" tanya Sandra terkejut.


"Aku ingin membasmi hama yang bernama Sandra, dan ternyata ada disini" jawab Key sambil melipat kedua tangannya.


Sandra langsung menelan salivanya, ia menoleh ke arah Bryan berkali-kali berharap mendapat pertolongan darinya.


"Apaa ?? mengapa kau melihatku??" ucap Bryan dengan wajah santainya.


"Sialan... kau menjebakku" sahut Sandra kesal dan menahan takut.


"Bawa hama ini ke ruang sebelah, aku ingin langsung membasminya" ucap Keysa kepada para bodyguard nya.


"Baik nona" jawab mereka.


"Lepaskan lepaskan tanganku, Bryan tolong aku.... Bryannnn" panggilnya berkali-kali namun di acuhkan oleh Bryan.


Setelah Sandra di bawa ke ruangan sebelah, Key langsung mengajak Bryan berbicara. Ia menjelaskan banyak hal tentang keluarga Bia, ia ingin jika Bryan bisa melumpuhkan perusahaan milik orangtua Bia. Karena titik kelemahannya ada disana, tapi Keysa tidak tahu jika Will sudah membentengi perusahaan ayahnya itu. Dan Keysa juga tidak mengetahui kalau perusahaan tersebut adalah milik ayah Will.

__ADS_1


Bryan tersenyum puas, lalu ia meminum beberapa gelas dan Keysa meninggalkan Bryan sendirian di ruangan itu. Karena ia harus mengurus Sandra terlebih dahulu.


Sandra terlihat duduk menunduk sambil memegang kepalanya.


Cekrek...


Pintu terbuka, ia menoleh dan terlihat Keysa memasuki ruangan tersebut tanpa di temani bodyguard.


"Apa kau takut Sandra ???" tanya Key berjalan dan berdiri di hadapannya.


"apa yang kau inginkan dariku ??" tanyanya balik.


"Ternyata kau lebih sadis dariku..." ucap Key.


"Maksudmu apa ??" tanyanya masih belum mengerti.


"Kau menyuruh orang untuk membunuh Bianca bukan ??" tutur Key membuat Sandra sejenak terdiam.


"Sudahlah Sandra, aku sudah mengetahui semuanya. Kau membuat pembantu Bianca tewas, apa kau tahu itu ??" jelas Key.


Badan Sandra bergetar hebat, terlihat di wajahnya yang pucat. Sandra menutup rapat-rapat mulutnya, kedua tangannya menggenggam sofa yang ia duduki. Sandra belum mengetahui jika yang di bunuh oleh orang suruhannya adalah bibi Wiwi.


Keysa yang berdiri di hadapannya langsung menurunkan badannya dan menungging menatap wajah Sandra.


"Kau seorang pembunuh... Dasar wanita pel**ur" Key mengumpat Sandra.


Darah Sandra langsung mendidih, tanpa berpikir panjang ia mendorong menerjang Keysa sampai ke tembok, menindih badannya lalu menampar dan menjambak Keysa dengan brutal.


"KAU YANG PEL**UR, CUIHHHH.... MATI KAU KEYSA !!!!" Sandra mengumpat balik dan menamparnya berulang-ulang membuat hidung dan bibir Keysa berdarah.


Keysa berusaha untuk melawan tapi karena badan Sandra lebih besar darinya membuat Keysa tidak berdaya. Tak berselang lama Darren masuk untuk menyusul Keysa, betapa syok nya Darren melihat Keysa sudah babak belur di pukul habis-habisan oleh Sandra.


"Kakak..." ucap Darren yang langsung mendorong tubuh Sandra.

__ADS_1


"HAHAHA... BETAPA PUASNYA DIRIKU, ENYAHLAH KAU DARI KEHIDUPANKU HAHAHAA" Sandra senang dan tertawa tak terkontrol.


Mendengar suara gaduh dari dalam, beberapa bodyguard Keysa masuk. Mereka juga syok melihat bos wanitanya sudah terkapar di lantai. Jika saja Keysa mengizinkan mereka untuk mendampinginnya, mungkin itu tidak akan terjadi.


"KAU INGIN MATI SANDRA !!!" ucap Darren berdiri dan mencekek leher Sandra dengan keras, lalu di lerai oleh bodyguard.


"Jangan tuan.. Biarkan kami saja yang mengurusnya" tutur salah satu bodyguard mereka.


Sandra kesakitan, wajahnya memerah. Mendengar kegaduhan di ruang sebelah Bryan langsung datang untuk melihat situasi di dalam.


"DARREN..." panggil Bryan melangkah dengan cepat.


Darren akhirnya melepaskan Sandra membuatnya terjatuh di sofa dengan memegangi lehernya yang sakit.


"Kau sudah gila Darren..." ucap Bryan.


"Lihat Keysa ??? Dia hampir membunuhnya" jawab Darren menunjuk ke pojok tembok.


"Keysaaa..." Bryan terkejut ia tidak menyadari jika di ujung tembok adalah Keysa karena lampu ruangan gelap hanya menyala lampu kelap kelip saja.


"Apa yang terjadi, Ya Tuhan.... Cepat bawa dia ke rumah sakit..." Bryan panik, dan menyuruh para pengawal membawa Keysa.


"Jika bukan karena Bryan, mungkin kau sudah mati" ucap Darren kepada Sandra, ia langsung meninggalkan Sandra dan menyusul Keysa.


Bryan tanpa berpikir panjang menarik tangan Sandra dan mengantarnya pulang.


Malam yang mencengkam bagi Keysa, ia tidak menyangka jika Sandra bisa melakukan hal buruk kepadanya. Tujuan awal Keysa adalah untuk membuat Sandra tunduk agar mau mengikuti rencana yang sudah Keysa buat, tapi ternyata menjadi senjata makan tuan.


Darren terlihat begitu sigap dalam menemani Keysa, ia menjadi dendam kepada Sandra. pikirannya di kotori dengan tindakan buruk, ia berjanji akan membalas semua perbuatan Sandra kepada Keysa.


Kemudian terlihat Bryan yang sudah mengantarkan Sandra pulang, di perjalanan mereka tidak saling berbicara. Sandra yang masih meringis kesakitan sempat berpikir untuk kabur ke luar negeri menghindari Keysa dan Darren.


Malam itu juga, Sandra mengemasi baju dan barang-barangnya. Ia akan menginap di hotel dan paginya baru akan berangkat pergi ke luar negeri.

__ADS_1


__ADS_2