
"Kami tidak tahu, tapi sepertinya dia turun gunung untuk melihat pantai Z" sahutnya.
"Oke, terima kasih banyak!!! " ucap Bryan sambil menyatukan kedua telapak tangan untuk mengucapkan terima kasih kepada mereka.
Setelah ia meninggalkan mereka, Bryan berjalan dengan tubuh yang gemetar dan wajahnya terlihat begitu sedih bercampur marah. Ia tidak menyangka wanita yang sangat ia cintai disakiti oleh orang seperti Will yang telah ia percayai untuk bisa menjaga Bianca.
Saat Bryan melewati Sarah dan Os, ia tidak mau berkata sedikit pun seperti membisu seribu bahasa.
"Bryan, bagaimana??? apa kau mendapatkan petunjuk??? " tanya Sarah yang melihat Bryan berjalan melewati mereka dengan tertunduk.
Namun Bryan tidak merespon pertanyaan Sarah bahkan melewati mereka begitu saja.
"Bryan, heyyy Bryan..."
"Ada apa dengannya???" tanya Sarah sambil teriak dan menoleh ke arah Os.
"Mungkin dia kelelahan... " jawab Os asal, ia yang menatap punggung Bryan sudah bisa menebak bahwa sahabatnya itu pasti sudah mendapatkan informasi tentang keberadaan Bianca namun tidak sesuai dengan ekspetasinya.
"Dasar aneh, beberapa jam yang lalu dia begitu riang tapi tiba-tiba sekarang dia mengunci mulutnya. Menyebalkan... " gumam Sarah yang masih duduk bersama Os.
Mereka berdua sepertinya akan berdamai dengan keadaan, dan Sarah pun mulai berani melempar senyuman kepada Os.
Tapi tidak dengan Bryan, ia mungkin akan menentang keadaan dengan membuat pemikirannya menjadi kenyataan.
Sesampainya Bryan di Villa, tanpa basa basi ia langsung mengambil tas ranselnya untuk segera turun gunung Z dan pergi untuk mencari Bianca di pantai Z. Bryan terlihat tergesa-gesa, ia pun berpapasan dengan Zen, Leo dan Dona namun tetap saja diam hanya satu kalimat yang ia lontarkan dan membuat mereka bertiga begitu terkejut.
"Aku turun duluan... " ucap Bryan sambil berjalan menuruni tangga gunung Z melewati mereka tanpa menoleh dan hanya melambaikan tangannya sambil menunduk terus berjalan.
__ADS_1
" Bryan.... " jerit Leo yang heran dengan sikap Bryan.
" Ada apa dengannya??? " tanya Dona bingung.
" Ya, aneh sekali... Apa Bryan bertengkar dengan Sarah!!! " Ucap Leo yang selalu memperhatikan Bryan begitu akrab dengan Sarah.
" Entahlah, dia seperti wanita saja sebentar-sebentar berubah" sahut Zen juga heran.
Setelah itu mereka semua berkumpul di Villa dan membicarakan sikap Bryan yang tiba-tiba berubah, akhirnya mereka memutuskan untuk turun gunung ke esokan harinya. Karena melihat keadaan Sarah dan Dona yang sudah begitu lelah.
Dan Bryan sedang menapaki jalan yang sangat terjang, ia benar-benar berjalan tanpa mobil offroad. Terdengar suara nafasnya yang lelah, tapi ia tetap semangat dan harus terus berjalan untuk bisa sampai di pantai Z dengan cepat.
Tidak sampai 1 jam, Bryan pun sampai di pantai Z dengan langit yang sudah gelap menandakan malam telah tiba. Disana banyak lampu yang menyala dengan warna warni yang berbeda, terlihat begitu indah di tambah ramainya pengunjung yang selalu melengkapi keseruan di pantai Z. Suara musik terdengar dimana-mana, banyak cafe dan bar memberikan suguhan musik untuk para pengunjung. Dan Bryan berjalan menghampiri tempat pondok terdekat dari posisi ia berdiri. Lalu beristirahat sejenak, kemudian matanya memperhatikan setiap pengunjung yang berada di sekitarnya. Ia berharap bisa langsung melihat Bianca.
"Dimana kamu Bia?? " ucapnya sambil meneteskan air mata.
Setelah ia selesai beristirahat, ia langsung menuju cottage untuk menaruh tas bawaannya.
Dan Degg...
Jantung Bryan berdetak dengan cepat, ia tidak percaya dengan apa yang telah ia lihat. Bianca menjadi pelayan di Cafe itu.
"Bi... Biaaa" ucap Bryan dengan suara pelan.
Mata Bryan membelalak, lalu meneteskan air mata. Ia tidak menyangka jika Bianca mau bekerja sebagai pelayan. Kemudian dengan cepat ia menghapus air matanya, dan berjalan menghampiri Bianca yang sedang melayani pengunjung.
"Aduuhhh... " ucap Bianca terkejut mendapati dirinya di peluk oleh seseorang dari belakang.
__ADS_1
"Bi, jangan menghilang lagi" seru Bryan yang memeluk Bianca dengan erat. Mendengar ucapan itu, Bianca langsung menoleh ke belakang dan menatap wajah Bryan dengan mata berkaca-kaca. Ia langsung membalas memeluk Bryan begitu kuat. Banyak pasang mata yang tertuju kepada mereka, ada yang bersiul dan ada pula yang memberi tepuk tangan. Sadar bahwa mereka mendapat perhatian banyak orang, Bianca langsung melepas pelukannya. Ia kemudian melemparkan senyuman kepada mereka lalu menarik tangan Bryan untuk pergi dari sana dan yang pasti sudah mendapat izin dari pemilik cafe tempat dimana Bianca baru bekerja.
"Bryan, apa yang sedang kau lakukan disini" ucap Bia dengan mata nanar.
"Aku mencarimu... " jawab Bryan sambil memegang kedua tangan Bia dan sesekali melihat ke arah perut Bia.
"Please, jangan beri tahu siapa-siapa" Bia memohon.
"Sekarang mereka sudah berada di puncak gunung Z Bi, kemungkinan besok mereka akan turun kesini" jelas Bryan yang masih menatap wajah Bia.
"Hufffttt..."
"Aku belum siap... " air mata Bia membasahi wajahnya.
" It's ok Bi, ada aku di sampingmu" jawabnya.
"Aku takut Bryan, aku takut... " ucap Bia yang mengingat dirinya sedang hamil.
Bryan langsung memeluk Bia dengan erat, di temani suara deburan ombak pantai Z.
"Maafkan aku Bia, mulai sekarang aku akan menjagamu dan calon bayimu" ucapan Bryan membuat mata Bia terbelalak dan melepaskan pelukannya.
"Bagaimana kau bisa tahu itu Bryan???? " Air mata Bia keluar semakin deras.
"Bukan sekarang saatnya untuk menjelaskan itu, tapi aku berjanji akan selalu berada disampingmu" tutur Bryan yang membelai rambut Bia dengan lembut.
"Berjanji juga untuk tidak memberitahu kepada siapapun, termasuk Will" seru Bia serius menatap mata Bryan.
__ADS_1
"Oke, aku tidak akan memberitahu kepada siapapun" jawab Bryan dengan yakin.
Setelah mereka saling berjanji satu sama lain, akhirnya Bryan berani untuk bercerita kepada Bianca tentang hubungan Will bersama Keysa. Bianca tak henti-hentinya menangis, hatinya terasa sakit dan dadanya begitu sesak. Semua ucapan Bryan tentang keburukan Will sudah ia rekam di kepalanya, ia berjanji dengan dirinya sendiri untuk tidak akan memberitahu tentang kehamilannya kepada Will dan akan selalu merahasiakan itu sampai kapanpun.