DIA BIANCAKU

DIA BIANCAKU
BAB 50. parfum Zen


__ADS_3

Darren meminta kepada sekretaris kantornya untuk datang ke rumah sakit menemani Keysa, ia akan pergi menemui Daniel. Ia bertemu di sebuah perkebunan milik Darren, disana Darren menanyakan hasil tugasnya.


"Bagaimana pekerjaanmu ??" tanya Darren.


"Aku hanya berhasil menusuknya saja karena ternyata dia jago berkelahi" jawab Daniel.


"Sial, mengapa kau tidak menembak kakinya ??" Darren benar-benar murka.


"Aku hanya membawa pisau, karena pistolku hilang" jawab Daniel.


"Aku akan membelikannya untukmu, ingat aku tidak memintamu untuk membunuh Will. Aku hanya ingin dia lumpuh" jelas Darren.


"Baiklah, mana uangku ??" Daniel menagih janji Darren.


Lalu Darren pun memberikan uang pecahan dolar beberapa lembar, kemudian ia meninggalkan perkebunan itu. Darren masih belum puas dengan pekerjaan Daniel, ia ingin kaki Will menjadi lumpuh seumur hidup. Ia mengenal Daniel sudah 4 tahun lamanya, dan ia memperkerjakan Daniel di perkebunan jagung milik mendiang ibunya.


-------------------"----"----------------------------


Will sudah 2 hari di rawat di rumah sakit, ia merasa bosan tapi ia harus tetap berada di rumah sakit. Saat ia ingin pergi ke kamar mandi, tiba-tiba Sely datang membuat Will sedikit terkejut.


"Sely..." ucap Will.


"Zen memberitahuku tentang serangan itu, kau mau kemana ??" tanya Sely yang melihat Will ingin turun dari ranjangnya.


"Aku ingin ke kamar mandi..." jawab Will sambil memegang luka di pinggangnya.


"Sini aku bantu" Sely langsung memapah Will.


Saat Sely memapah Will, ia menatap Will dengan dalam. Ada rasa yang masih menyelimuti hatinya, namun ia tidak berani mengungkapkannya.


"Apa kau ingin mandi Will ??" tanya Sely di dekat pintu kamar mandi.


"Aku hanya buang air kecil" sahut Will, lalu ia keluar dan kembali di papah oleh Sely.


"Apa di perusahaan baik-baik saja ??" tanya Will kepada Sely yang juga menjadi salah satu model perusahaannya.


"Sangat baik, semenjak fotomu dan Bianca ada di sosial media perusahaan mendapat banyak kiriman bunga dengan ucapan selamat" jawab Sely.


"Baguslah kalau begitu, aku tidak perlu lagi mengumumkan hubunganku" sahut Will.

__ADS_1


"apa kau ingin menikah ??" tanya Sely.


"Yaa, aku ingin secepatnya menikahi Bia agar mantan pacarmu tidak merebut Bia dariku" Will sengaja berkata tajam.


"Bagaimana jika Bia tiba-tiba menolak lamaranmu Will ??" ucap Sely.


"Tidak akan, Bia sudah ingin menikah denganku" jawab Will meyakini hatinya.


"Hahaa wajahmu pucat, kau takut Will..." Sely mengejek.


"Kau, benar-benar menguras isi otakku" jawab Will kesal.


Selesai mereka berbincang, Will meminta Sely untuk besok masuk ke kantor karena akan ada pekerjaan yang harus dilakukan Sely berhubungan dengan kontrak kerja Bianca di perusahaan Keysa.


Lalu Will melanjutkan istirahat, karena pagi harinya ia harus mulai mengatur jadwal baru bersama Sely.


Pagi hari tiba dengan langit yang terlihat tidak bersahabat di karenakan akan turun hujan, Zen datang membawa pakaian kerja Will yang ia ambil dari ruang kantor Will.


"Will, ini aku bawakan kemejamu" ucap Zen.


"Kau wangi sekali Zen, parfum apa yang kau pakai ??" tanya Will sambil mengendus bau parfum Zen yang sangat wangi.


"Wanginya terlalu berlebihan Zen, kau beli parfum harus mencium wanginya bukan gambarnya. Ganti parfummu aku merasa pusing menciumnya" Will protes, ia tidak suka dengan aroma parfum Zen yang terlalu menyengat bahkan menusuk di hidup Will.


"Aah Will kau membuatku kecil hati, kalau begitu parfummu saja untukku" Zen sudah berani beropini.


"Aku akan pilihkan parfum untukmu, yang pasti bukan dilihat dari gambarnya" sindir Will.


"Sensitif sekali kau Will, tidak biasanya kau bawel tentang parfumku" sahut Zen sedikit curiga.


"Entahlah, tapi aku tidak suka dengan bau parfummu. Kepalaku langsung pusing" jawab Will yang memencet hidungnya.


"Oya, bagaimana hari ini ?? apa kau sudah mengatur jadwal pertemuanku dengan perusahaan Joe ??" tanyanya.


"Sudah, tapi Joe tidak bisa datang karena dia tidak berada di Indonesia. Apa aku harus menganti perusahaan lain untuk kontrak baru itu ??" Zen memberi suara.


"Lalu perusahaan siapa yang akan kau rekomendasikan kepadaku??" tanya Will balik.


"Bagaimana jika perusahaan Bryan ?? Karena perusahaannya juga bisa membantu kurva laba naik di perusahaan kita" jelas Zen sambil mengecek berkas.

__ADS_1


"Oke baiklah, undang Bryan datang. Aku ingin melihat responnya jika bekerja sama denganku" jawab Will.


"Lukamu bagaimana Will, apa sudah kering ??" tanya Zen yang melihat Will sedang memakai kemejanya.


"Sudah membaik, kau belikan saja aku perban. Nanti aku akan mengganti perban di kantor" jawab Will.


"Kenapa tidak disini saja, biar aku panggilan suster..." ucap Zen yang ingin keluar ruangan.


"Tidak usah, kita sudah kesiangan. Banyak pekerjaan yang harus aku selesaikan hari ini termasuk masalah kontrak Bia di perusahaan Keysa" jelas Will mengingat Sely harus cepat menggantikan pekerjaan Bia yang tertinggal.


"Baiklah.." jawab Zen.


Setelah Will selesai mengganti pakaiannya, ia dan Zen bergegas pergi ke kantor. Dan meminta kepada para ajudan yang berjaga di rumah sakit untuk kembali pulang ke apartemen.


Sesampai Will di kantor, semua karyawan perusahaan mengucapkan selamat kepada Will atas kabar baik yang telah mereka dengar. Will hanya tersenyum kepada mereka tanpa mengucapkan 1 kata pun karena ia di kenal sebagai bos arogan jadi ia tidak mau banyak bicara atau pun interaksi kepada mereka.


"Apa Sely sudah datang ??" tanyanya kepada Zen.


"Belum tuan.." jawab Zen, ia memanggil tuan jika berada di lingkup pekerjaan dan memanggil sebutan nama jika di luar pekerjaan.


"Cepat hubungi Sely untuk segera datang ke kantor, ada pekerjaan yang harus ia selesaikan" suruhnya.


"Baik tuan.." jawab Zen.


"Bagaimana Sely ini..." gumam Will.


Tak lama kemudian Sely pun datang, ia memasuki ruangan Will.


"Maaf Will, aku telat. Jalan begitu macet..." ucap Sely


"Aku sudah membelikanmu mobil dengan kecepatan tinggi tapi masih juga telat, apa mobilmu rusak ??" Will sedikit protes.


"Aah tidak, hanya saja aku tidak berani melaju terlalu cepat" jawab Sely.


"Oke, baiklah... ini berkas pekerjaanmu. Pelajari itu, aku ingin kau sementara menggantikan Bia untuk pemotretan di perusahaan Keysa. Tapi jika ada kendala, maka aku akan menggantikan dengan yang lain" jelas Will.


"Aku pelajari dulu ini Will..." Sely membawa berkas itu ke meja kerjanya.


"Zen masuk..." ucapnya di telepon memanggil Zen untuk datang ke ruangannya.

__ADS_1


Will begitu sibuk, sampai-sampai ia lupa untuk menghubungi Bia. Bahkan 2 hari ini ia juga tidak menghubungi Bia, Will sepertinya banyak pikiran. Ia tidak fokus dengan prioritasnya, ia hanya fokus dengan masalah yang akan ia hadapan tanpa memikirkan perasaan Bia. Will pikir Bia akan baik-baik saja karena ia merasa sudah berhasil melamarnya. Tapi ternyata pikirannya itu salah, Bia malah menjadi wanita yang lebih protektif karena ia berhak tahu semua tentang Will.


__ADS_2