DIA BIANCAKU

DIA BIANCAKU
BAB 52.PERBAN


__ADS_3

Will masih mengawasi mobil Bia dari kejauhan, ia di rundung pilu. Hatinya merasakan kesedihan yang begitu dalam, ia takut jika Bia memberikan Bryan atau Darren kesempatan untuk bersamanya. Lalu tak lama kemudian, Bia pun keluar dari rumah Sarah. Bia kembali mengendarai mobilnya, dan Will mengikutinya kembali.


Kring...


Kringg...


Handphone Will berdering, ia melihat Zen terus menerus menghubunginya namun Will masih fokus dengan Bia. Tiba-tiba Zen mengirimi Will pesan singkat, ia pun membuka pesan tersebut.


Will, Bryan sudah tiba di kantor. Apa kau tidak ingin bertemu dengannya, jika tidak maka aku hanya memberikan proposalnya saja.


Will langsung membalas dengan pesan suara.


"Aku tidak bisa menemuinya hari ini, jika Bryan setuju dengan proposalnya maka kabari aku" ucap Will di pesan suara.


Kemudian Will kembali fokus menyetir, ia masih mengikuti Bia. Dan ternyata Bia pulang ke apartemen, Will senang dan terus tersenyum dengan mata berkaca-kaca. Setelah Bia turun dari mobil, Will pun ikut turun dari mobil dan berjalan di belakang Bia.


"Ma, ayo kita pergi dari sini" Bia berjalan sambil membereskan barang-barangnya.


"Ada apa ?? datang-datang langsung berkemas, apa yang terjadi ??" tanya Ny.farida bingung.


"Aku tidak betah tinggal disini..." sahut Bia, dan Will masuk mendengar ucapan Bia.


Ny.Farida yang melihat kedatangan Will bertanya dengan isyarat, kemudian dibalas dengan menggelengkan kepala. Will langsung menghampiri Bia, ia berdiri disampingnya namun tetap Bia acuhkan. Melihat anak-anaknya itu akan ribut, Ny.Farida langsung melangkah pergi keluar dari apartemen memberi celah untuk mereka berbicara 4 mata.


"Bianca, kau salah paham. Aku tidak melakukan apa-apa" ucap Will, namun Bia tetap saja berjalan membereskan semua barang-barangnya.


"BIAAA, LISTEN TO ME !!!" Will berucap tegas, membuat Bia langsung menoleh.


"Aku tidak ada hubungan dengan Sely, mengapa kau tidak percaya kepadaku" Will kembali berbicara.


"Kau bisa memberi seribu alasan, tapi mataku tidak bisa kau tipu" jawab Bia.


"Bi...Biaa" panggil Will lagi yang melihat Bia masih saja bulak balik di depannya mengambil beberapa barang miliknya.

__ADS_1


"Jika kau masih seperti ini, aku bisa kasar denganmu" ucap Will masih di acuhkan Bia, karena Will sudah tidak tahan melihat sikap Bia. Ia langsung menarik tangan Bia dengan kasar, dan mendorong tubuh Bia sampai ke tembok.


"Sakit Will, lepaskan tanganku. Aku bodoh selama ini percaya denganmu dan tertipu dengan wajah tampanmu ini. Aku menjadi jijik kita harus berdekatan denganmu, aku yang salah dengan mudahnya percaya ucapanmu. Aku ingin kita selesai sampai disini" jelas Bia yang masih terjebak dengan tubuh Will.


"Tidak, aku tidak akan melepaskanmu begitu saja. Kau hanya salah paham Bia !!!" Will berbicara dengan nada sedih.


"Awas Will, aku sudah muak dengan..." ucapan Bia terputus, Will langsung mencium Bia. Ia lakukan itu agar Bia berenti marah kepadanya.


"Dengarkan aku Bia, kau pegang pinggangku ini. Ada luka tusuk disini, maafkan aku jika aku berbohong kepadamu. Aku di rawat di rumah sakit karena mengalami luka tusuk dan harus mendapat jahitan, aku tidak ingin kau cemas. Jadi aku berbohong pergi ke Singapura, maafkan aku Bia" Will berbicara masih mendekap tubuh Bia.


"Please, believe me (tolong, percayalah padaku)..."


"Aku tidak akan mengulang kebohongan itu lagi" Will memohon.


Bia terdiam, tangannya masih memegang pinggang Will. Lalu Bia memeluk Will, dan menangis dengan kencang.


"Aku takut Will, aku takut jika kau meninggalkanku lagi"


"Hatiku sakit melihat kau bersama Sely, jika nanti kau mencintai wanita lain bicaralah padaku. Aku akan mengalah Will, jangan melakukannya di belakangku" ucapan Bia seperti mencambuk tubuh Will.


"Will..."


"Aku ingin pergi liburan, aku akan membawa mama bersamaku" ucap Bia tiba-tiba.


"Tanpaku ???" tanya Will, ia merasa Bia menyembunyikan sesuatu.


"Kau masih sibuk kerja Will, aku tidak ingin mengganggumu" jawab Bia datar.


"Baiklah, kau ingin liburan kemana ??" tanya Will.


"Aku ingin ke Swiss, bersama mama. Karena sepertinya ayahmu sangat sibuk, jadi aku berniat untuk mengajak mama kembali ke Swiss" jelas Bia yang tidak berani menatap mata Will.


"Swiss ??? Apa kau meninggalkanku sendiri disini Bia" Will semakin curiga, ada yang tidak beres dengan Bia.

__ADS_1


"Hanya 2 pekan saja, abis itu aku kembali ke Indonesia" ucap Bia menahan air mata.


"Emm, baiklah... Aku akan menyuruh Zen mengatur jadwal keberangkatanmu" jawab Will.


"Terima kasih Will..." Bia meneteskan air mata tanpa sepengetahuan Will.


Hari itu menjadi hari yang tegang untuk Will, ia sampai melupakan tanggung jawabnya kepada investor demi berbaikan dengan Bia yang sangat ia cintai.


Bia, menelepon Ny.Farida agar segera pulang, karena ia dan Will sudah baikan. Ny.Farida pun masuk, dan melihat Bia sedang mengemasi pakaiannya. Ia bingung, bukankah sudah baikan mengapa Bia malah berkemas ucapnya dalam hati.


"Bianca, apa yang sedang kau lakukan ??" tanyanya.


"Aku ingin mengajak mama pulang ke Swiss, bukankah tidak baik jika mama meninggalkan suami mama terlalu lama di Swiss. Lagi pula ayah tidak bisa ke Indonesia dalam waktu dekat, jadi kita kembali kesana. Dan aku juga ingin berlibur ma" ujar Bia.


Ny.Farida kaget mendengar penjelasan Bia, ia merasa ada yang tidak beres. Karena Suaminya tidak mengatakan apa-apa dengannya, yang ia tahu suaminya akan segera ke Indonesia. ada apa dengan Bianca pikir Ny.Farida.


Will mendengar ucapan Bia sambil memainkan tabletnya, ia juga berpikir keras dengan sikap Bia yang tiba-tiba berubah dalam hitungan jam. Will akan mencari tahu, tempat terakhir yang Bia kunjungi adalah rumah Sarah maka Will akan meminta Leo mencari tahu yang sebenarnya.


Malam telah tiba, Ny.Farida melihat Bia menjadi murung. Bia sedang duduk di balkon merasakan tiupan angin yang sedang berhembus kencang, semenjak kejadian siang itu Bia belum berbicara lagi. Ia seperti menarik diri, ia memandang langit yang di penuhi bintang.


Will pun melihat Bia, saat ia ingin melangkah menghampirinya tiba-tiba Ny.Farida memegang pundak Will.


"Jangan Will, biarkan saja dia sendiri" ucap Ny.Farida.


"Tapi ma, besok Bia sudah pergi. Waktuku hanya malam ini, untuk berbicara panjang dengannya" jawab Will cemas.


"Tunggu 30 menit lagi, setelah itu kau boleh menghampirinya. Mama curiga, jika Bia mengalami tekanan" jelas Ny.Farida.


"Tekanan ?? tekanan seperti apa ma ??" tanyanya.


"Entahlah, tapi mama merasa ada yang tidak beres" sahut Ny.Farida.


"Aku juga merasa seperti itu ma, Bia berubah dalam hitungan jam" Will memandangi Bia berdiri bersama Ny.Farida.

__ADS_1


"Mama akan menjaga Bia sementara waktu, kau jaga dirimu Will" ucap Ny.Farida yang juga mencemaskan Will.


Sebelum 30 menit itu lewat, ternyata Bia sudah masuk. Ia berjalan melewati Will dan Ny.Farida begitu saja. Lalu langsung tidur, tanpa mengucapkan kata sedikitpun.


__ADS_2