
"Ide apa yang kamu dapat, Val?" tanya Celine ikut bersemangat.
Kris batal menyantap ayam gorengnya. Dia juga penasaran dengan ide Valeda. Tangannya berhenti di udara dan lebih memilih mendengar apa yang akan Valeda katakan.
"Undian!" seru Valeda girang. "Undian, lalu nomor telepon, lalu shampo, lalu kencan, lalu masalah beres!"
"Val, Val! Please, pelan-pelan! Aku sama sekali tidak mengerti dengan apa yang kamu bicarakan," jawab Celine. "Kris, apa kamu mengerti?" Celine menoleh pada Kris.
Kris meraih salah satu paha ayam goreng. "Nona Val ingin membuat sayembara berupa undian yang Nona taruh di dalam bungkus shampo. Bagi laki-laki yang menemukannya, akan dia ajak kencan. Begitu garis besarnya," jawab Kris, kemudian melahap ayam goreng di tangannya.
Celine melongo mendengar jawaban dari Kris. Dia menoleh cepat pada Valeda. "Apa benar semua kata Kris?"
"Ya! Benar! Tepat sekali!" Valeda tambah bersemangat.
Celine mengerutkan keningnya. Dia terlihat tidak begitu yakin dengan ide Valeda saat ini. "Val, aku berteman denganmu tidak satu-dua tahun," ujar Celine. "Setidaknya, meskipun tidak di dunia nyata, aku tahu benar laki-laki macam apa yang menjadi kriteriamu."
Semangat Valeda langsung berkurang lima puluh persen. Dia sendiri masih ingat, bagaimana ekspresinya ketika melihat Robert Downey di film-film layar lebar. Hanya pemeran Sherlock Holmes satu itu yang bisa membuatnya terpana tidak bergerak.
Jika Robert Downey muncul di hadapan Valeda, tentu saja usia mereka terpaut jauh. Mungkin sekitar tiga puluh tahun. Hal itu akan menjadi pertimbangan bagi keluarganya.
"Tidak hanya kemungkinan undian itu akan didapatkan oleh orang yang di luar kriteria Nona Val, tapi ada juga kemungkinan kalau pemenangnya adalah perempuan," tambah Kris.
Valeda duduk beringsut di sofanya. Kris dan Celine mampu membuatnya takut untuk merealisasikan idenya yang sedetik lalu merupakan ide cemerlang dari kepalanya.
"Tapi masih ada cara lain untuk antisipasi," sambung Kris.
Valeda kembali duduk tegak. Dia menatap Kris dengan penuh harap. Tumben sekali Kris mempunyai minat terhadap apa yang terjadi, sampai punya ide segala. "Bagaimana?" tanya Valeda tidak sabar, karena Kris tidak langsung menjawab tapi lebih memilih melahap ayam gorengnya.
__ADS_1
Kris buru-buru menelan ayam goreng di mulutnya, melihat nona mudanya tidak sabar. "Intip dulu sebelum bertemu," jawab Kris.
"Jadi, maksudmu Nona Val memilih calonnya dengan cara sembunyi-sembunyi?" tanya Celine.
Kris mengangguk. "Nona Val tidak harus mencantumkan nomor telepon pribadinya. Nona bisa pakai nomor baru dan chatting dengan pemenang undian untuk bertemu di suatu tempat. Nona Val juga tidak harus mengungkap identitas asli kepada pemenang. Lalu, di hari pertemuan, Nona Val bisa memata-matai meja pesanan Nona Val dulu, sebelum pergi menemui pemenang."
"Setuju!" sahut Valeda cepat. Kemudian Valeda berlari kecil menuju ruang kerjanya. Dia harus memikirkan ide ini matang-matang karena menyangkut harga dirinya di depan orangtuanya.
Celine dan Kris yang ditinggalkan di ruang tamu, memilih untuk tidak ikut campur ketika Valeda dalam mode "on". Kris yang sejak awal memang ingin menikmati malam bersama ayam goreng, memilih untuk tetap di tempatnya.
"Kris," panggil Celine yang masih duduk di seberang Kris. "Apa itu ide yang bagus?" tanyanya.
Kris mengangguk sekali. "Selama nona kita aman, tidak ada yang perlu kita khawatirkan," jawab Kris. "Aku juga akan mengawasi Nona Val saat misi ini berjalan. Jadi, kamu tidak usah khawatir terjadi sesuatu yang tidak diinginkan pada sahabatmu."
Celine tersenyum simpul mendengar ucapan Kris. "Kamu memang orang yang paling bisa buat aku tenang," puji Celine.
"Ehem!" Kris berdeham canggung. "Kalau begitu... Bagaimana kalau misi ini sudah selesai, kita makan malam bersama?" tawarnya. Dia tetap melahap ayam goreng di tangannya, untuk mengatasi rasa canggung yang muncul.
Harapan Kris langsung menguap. Jawaban dari Celine jelas mengungkapkan bahwa Celine tidak memiliki pandangan romantis untuk Kris.
Kris mengunyah ayam gorengnya dengan lesu. Rasanya tidak begitu enak lagi sekarang. Kris seperti sudah kalah sebelum bertanding. Dia akan mengubur perasaannya itu dalam-dalam di lubuk hati saja. Lagipula, dia tidak sebaik Celine yang bisa mengimbangi nona mudanya. Kris juga tidak sekaya keluarga Celine. Ada jurang pemisah yang dasarnya tidak terlihat di antara mereka.
"Kenapa? Ayam gorengnya tidak sesuai seleramu?" tanya Celine yang melihat Kris makan dengan tampang sedih. "Padahal aku suka banget sama olahan ayam di restoran ini. Orangtuaku bahkan jadi pelanggan tetap mereka."
"Bukan... Bukan ayamnya..." jawab Kris tidak berselera.
Celine baru akan bertanya lagi tentang Kris yang tiba-tiba kehilangan semangatnya, namun terhenti oleh Valeda yang masuk kembali ke ruang tamu.
__ADS_1
"Ini dia!" Valeda memamerkan selembar kertas yang berisikan banyak coretan.
Celine menerima kertas dari Valeda, lalu membacanya dalam diam. Setelah lewat semenit, Celine mengoper kertas itu pada Kris.
"Begitu matahari terbit, hubungi orang yang aku tulis di kertas itu. Dia satu-satunya orang yang tahu rencana ini selain kalian," ujar Valeda. "Perlu kalian ingat, misi ini rahasia! Tidak boleh sampai bocor ke siapapun, walaupun itu orang yang sangat kalian percayai!" tambahnya.
"Iya, aku tahu," jawab Celine, sementara Kris hanya mengacungkan jempolnya.
Malam itu berlalu dengan cepat. Kris kembali ke rumahnya sekitar pukul dua belas malam, sesudahnya dia mengantar Celine pulang. Valeda juga tertidur dengan cepat saking lelahnya dia hari itu.
Pagi yang cerahpun tiba. Setelah gerimis sepanjang malam, awan tidak ada lagi di atas langit pagi. Membuat sinar matahari dengan leluasa menyeruak masuk dari jendela.
Valeda sudah duduk di kantornya sejak satu jam yang lalu. Dia sibuk memeriksa laporan-laporan yang harusnya bisa dia selesaikan kemarin sore, jika saja tidak ada janji kencan buta.
Tok, tok, tok!
Ketukan pintu yang lembut mengalihkan perhatian Valeda. "Masuk!" jawab Valeda dari kursi kerjanya.
Celine masuk dengan segelas kopi panas di atas nampan yang dia bawa. "Kopi, Val," ujar Celine seraya menghampiri Valeda.
"Sudah kamu hubungi orang yang aku minta?" tanya Valeda. Dia langsung menerima kopi dari Celine. Dia memang memerlukan kopi untuk membantunya lebih berkonsentrasi.
Celine mengangguk. "Sudah," jawab Celine. "Pukul sembilan nanti, bungkus shampo yang berisi cetakan nomor handphone, akan dikirim acak ke lima kota terdekat." Celine mengeluarkan handphone pesanan Valeda. "Apa kamu mau handle ini sendiri, atau aku yang urus?"
"Biar aku saja," Valeda mengulurkan tangan dan menerima handphone dari Celine. "Ini harus aku selesaikan dengan cepat sebisa mungkin."
"Ngomong-ngomong, jadwal meeting dengan tim pemasaran mall barumu, akan dimulai satu jam lagi," Celine memperingatkan.
__ADS_1
"Aku akan tiba di ruang meeting tiga puluh menit lagi," jawab Valeda. Dia menyeruput kopinya terlebih dahulu sebelum kembali sibuk dengan kertas-kertas di atas mejanya.
***