DILARANG JATUH CINTA

DILARANG JATUH CINTA
18. Pemenang


__ADS_3

"Undian apa?" tanya Valeda tanpa berkedip.


"Entahlah," jawab Daniel. "Adik saya sedang mandi dan tiba-tiba berseru sambil menyerahkan bungkus shampo ini." Daniel memperlihatkan sebuah bungkus shampo yang di dalamnya tertera nomor telepon Valeda. "Adik saya meminta saya untuk menghubungi nomor ini. Dia bilang, punya feeling yang bagus mengenai ini. Jadi, saya turuti."


"Lalu, kamu datang ke sini?"


Daniel mengangguk. "Saya diminta datang ke sini dan menerima sejumlah uang. Nona tahu sendiri, sekarang ini sangat susah mendapat suntikan dana. Jika benar ini adalah undian berhadiah, tidak ada salahnya saya datang," jawab Daniel.


Valeda menangkap tangan Daniel. "Baguslah orang itu adalah kamu!" kata Valeda. "Aku yang menyebarkan undian itu. Aku sangat bersyukur kamu yang mendapatkannya! Bantu aku!"


Daniel menatap Valeda tanpa berkedip. "Benarkah Nona Val yang mempunyai undian itu?"


Valeda mengangguk. "Aku akan menjadi pendonor tetap untuk panti asuhanmu, kalau kamu bisa menolongku keluar dari masalah," jawab Valeda mantap.


"Masalah apa?" tanya Daniel.


"Valeda?" Nyonya Emely muncul di belakang Valeda. "Kenapa kamu malah diam di sini?"


"Ma-maaf, Ma. Val menjemput pacar Val," jawab Valeda.


Daniel menoleh kaget ke arah Valeda yang sekarang memunggunginya. Dia melirik Nyonya Emely sekilas. Wajah mereka yang mirip membuat Daniel sadar bahwa mereka memiliki hubungan darah.


"Jadi ini dia?" Nyonya Emely memastikan. "Masuklah ke dalam. Kita bicara sambil makan siang," ujar Nyonya Emely, kemudian berbalik dan berjalan duluan ke dalam restoran.


Valeda menoleh cepat pada Daniel. "Berpura-puralah jadi pacarku," bisik Valeda. Dia menyeret Daniel mengikuti Nyonya Emely.


Daniel tetap diam. Dia masih menimbang berat-ringan pilihannya ini. Dia tahu bahwa Valeda berasal dari kalangan atas. Berpura-pura menjadi pacar Valeda akan membuatnya bertanggung jawab atas sebuah masalah besar.


Akhirnya, mereka duduk bersama di meja yang sudah dipesan. Daniel yang berhadapan langsung dengan Nyonya Emely, mampu menyadari bahwa Nyonya Emely tidak menyambutnya dengan tangan terbuka.


Valeda mengangkat tangan, memanggil pelayan di sana untuk memesan makanan. Dia melirik sekilas ke arah Daniel yang duduk diam. Dalam hati, Valeda sedikit bersyukur karena Daniel berpenampilan rapi kali ini. Dia tidak mengenakan kaos oblong dan celana training seperti tempo hari.

__ADS_1


Valeda tersenyum senang. Lega rasanya karena Daniel yang duduk di sampingnya. Daniel yang baik hati dan perhatian. Lagipula, mereka sudah saling mengenal. Sedikit banyaknya, Daniel sudah tahu mengenai latar belakang Valeda.


"Apa kamu tahu siapa saya?" Nyonya Emely memulai percakapan, setelah mereka selesai memesan makanan.


Daniel mengangguk, namun tidak mengeluarkan suara. Wanita paruh baya di depannya terus menatapnya dengan pandangan tidak suka.


"Bukankah tidak sopan jika kamu diam terus? Setidaknya, perkenalkan dirimu, Nak," ujar Nyonya Emely.


"Nama saya Daniel," jawab Daniel dengan tenang. Dia tidak ingin Valeda merasa bersalah karena Nyonya Emely telah membuatnya tersinggung.


Nyonya Emely mendengus geli ketika Daniel tidak berkata apa-apa lagi. "Itu saja? Kamu hanya bisa menyebutkan namamu? Tidak ada yang bisa kamu ceritakan lagi?" sindirnya.


Valeda melirik Daniel. Baru lima menit mereka duduk di sana, rasa bersalah sebesar gunung sudah menyelimuti Valeda. Dia tahu bahwa Daniel adalah laki-laki sabar. Namun, kali ini Nyonya Emely sudah keterlaluan.


"Tidak ada," jawab Daniel seraya tersenyum. "Tidak ada yang perlu saya ceritakan lagi. Valeda yang berkompeten memilih saya. Bukankah itu sudah cukup untuk menilai bagaimana saya?"


Valeda merasakan sebuah siraman air hangat yang menyejukkan di kepalanya ketika mendengar jawaban Daniel. Apalagi melihat senyumnya.


Nyonya Emely tidak berkomentar untuk beberapa lama. Beliau seakan memikirkan hal lainnya untuk menjatuhkan Daniel lagi. "Ya. Anak saya memang sangat pintar dan memiliki karier yang bagus. Makadari itu saya ingin dia memilih laki-laki yang sesuai."


Dada Valeda membusung mendengar ucapan Daniel. Dia sangat senang mendengar Daniel mendukungnya. Bahkan dia membalas ucapan Nyonya Emely dengan sopan namun menusuk.


"Memiliki pasangan dari status yang sama, juga merupakan pertimbangan bagi setiap ibu," Nyonya Emely menolak pendapat Daniel. Beliau menoleh pada Valeda yang diam seribu bahasa. "Bagaimana kamu bisa bertemu laki-laki ini, Val?"


Daniel tertawa pelan. "Cerita di restoran itu," bisik Daniel, tapi masih bisa didengar Nyonya Emely. "Waktu kita kabur di bawah hujan."


"Val jatuh cinta sama Daniel sejak pandangan pertama. Daniel menyelamatkan Val dari calon ketiga yang Mama kirimkan," jawab Valeda. Dia sendiri sudah lupa dengan nama laki-laki psikopat yang membuatnya kabur.


"Hanya itu?" tanya Nyonya Emely. "Hanya karena anak ini menyelamatkanmu, kamu jatuh hati padanya?" Nyonya Emely menggeleng tidak percaya.


"Ma, Val mengenal Daniel. Dia orang yang baik," bela Valeda.

__ADS_1


"Baik saja tidak cukup, Val," tolak Nyonya Emely.


Daniel menepuk punggung tangan Valeda, memintanya untuk berhenti berdebat. "Makanan sudah datang. Ayo kita makan siang dulu," ujar Daniel.


Valeda ingin memberi tepuk tangan yang meriah untuk Daniel. Meskipun mereka hanya berpura-pura, Daniel dapat mengendalikan keadaan dengan baik. Sifatnya yang tenang juga sangat menguntungkan.


Nyonya Emely yang melihat anaknya menjadi diam, ikut tidak bersuara. Membiarkan suara piring yang beradu dengan meja memenuhi sekeliling mereka.


Makan siang yang menyesakkan bagi Valeda. Tentu dia sudah menduga bahwa Nyonya Emely tidak akan langsung menerima Daniel. Di awal seperti ini saja, Nyonya Emely tidak sungkan memperlihatkan ketidaksukaannya pada Daniel. Apalagi saat Beliau tahu bahwa Daniel bekerja serabutan untuk menghidupi sebuah panti asuhan. Nyonya Emely akan langsung menarik kesimpulan bahwa Daniel memanfaatkan Valeda hanya karena urusan uang.


Valeda melirik Daniel berkali-kali. Daniel makan perlahan dan tenang. Valeda tidak terlalu memperhatikan Daniel saat di panti asuhan kemarin. Namun, kali ini Valeda bisa mengatakan bahwa cara makan Daniel sangat anggun. Dia seperti mengerti tata krama makan kelas atas.


Merasa tidak ada yang bisa dicela dari cara makan Daniel, Nyonya Emely mencari cara lain agar Daniel tidak betah di kursinya. "Apa pekerjaanmu, Daniel?" Nyonya Emely angkat suara.


"Mama, bisa kita bicara nanti saja?" tanya Valeda. Dia tidak ingin membuat Daniel semakin tidak enak hati.


"Saya mengelola sebuah panti asuhan," Daniel malah menjawab. Dia mengusap ujung bibirnya dengan serbet. "Untuk memenuhi kebutuhan anak-anak panti asuhan, saya bekerja serabutan. Sebagian besar waktu saya, saya gunakan untuk mengirim sayuran ke berbagai restoran."


Valeda tidak berani bergerak. Bahkan dia tidak berani melihat Nyonya Emely yang terdiam. Jantungnya berdebar sangat cepat dan hampir membuatnya pingsan.


"Cukup, Valeda," desis Nyonya Emely. "Jangan kamu permalukan dirimu sendiri lagi!"


Daniel tertawa rendah. "Valeda tidak perlu malu bersama laki-laki yang mampu menjaga orang lain dengan baik," sahut Daniel.


"Saya sungguh tidak menyukaimu, Daniel!" cicit Nyonya Emely, naik pitam.


"Begitupun dengan saya yang tidak menyukai semua orang, saya tidak bisa berharap semua orang menyukai saya," jawab Daniel kalem.


Nyonya Emely meletakkan sendoknya dengan kasar di atas meja. Wajahnya merah karena marah. "Valeda, lebih baik kamu akhiri hubunganmu dengan laki-laki ini," perintah Nyonya Emely sebelum beranjak dari tempatnya duduk.


Untuk beberapa detik, Valeda hanya memandang ke arah Nyonya Emely menghilang. Dia tersadar karena tawa kecil dari Daniel.

__ADS_1


"Nona lihat?" Daniel mengangkat tangannya. "Saya sampai gemetaran!"


***


__ADS_2