DILARANG JATUH CINTA

DILARANG JATUH CINTA
45. Guratan


__ADS_3

'Kenapa aku jadi gelisah?' pikir Valeda dalam hati. Kening Valeda menjadi berkerut, karena tidak mengerti dengan apa yang dia rasakan.


"Bagaimana?" tanya Daniel lagi. "Mungkin, kalau aku bertemu lagi dengannya, dalam keadaan seperti sekarang ini, dia akan mau menerimaku kembali."


"Benarkah?" Valeda memicingkan matanya. "Artinya kamu masih suka dia?"


Daniel hanya menjawab dengan mengangkat bahunya, menyisakan segudang keraguan di dalam hati Valeda. Mereka memang tidak memiliki hubungan khusus, bahkan hubungan yang mereka miliki ada di bawah sebuah kontrak. Namun, entah kenapa Valeda ingin memiliki Daniel dari ujung kepala hingga ujung kakinya.


"Itu Kris!" Daniel mengedikkan dagunya ke arah depan.


Valeda menoleh dan mendapati Kris berlari kecil ke arah mobil. "Maaf," kata Kris ketika membuka pintu mobil. Dia bergegas masuk dari pintu kemudi. "Apa kalian sudah lama di sini? Aku dari toilet."


"Tidak apa. Kami punya banyak hal untuk dibahas," jawab Daniel.


"Kita langsung kembali ke apartemen Nona?" tanya Kris sembari menghidupkan mobil.


"Mampir beli fast food dulu," sahut Valeda cepat.


'Hhh, karena pertanyaan bodoh itu, aku jadi kepikiran sendiri,' batin Valeda, ketika mobilnya mulai melaju. Valeda menoleh ke arah Daniel yang memandang ke luar jendela. Daniel seolah menikmati indahnya langit malam hari itu.


Valeda bergerak sedikit, mencari posisi nyaman di tempatnya duduk. Dia ikut melempar pandangan ke luar jendela. Malam yang cerah dan memang terlihat indah. 'Sudah lama aku tidak bertemu Rangga,' pikirnya. Valeda melirik Daniel sekilas. Tidak tahu kenapa, Valeda merasa bersalah memikirkan Rangga saat ini. Tapi, tetap saja dia tidak enak hati karena terus menghindari Rangga. Cepat atau lambat, mereka pasti bertemu juga pada akhirnya.


Valeda kembali melirik Daniel. Kepala Daniel menengadah dengan mata terpejam. Valeda dapat melihat gerakan dada Daniel yang teratur.


'Sejak kapan dia tertidur?' pikir Valeda sambil tersenyum kecil. Kali ini, Valeda tidak sembunyi-sembunyi lagi. Dia memandang Daniel dengan terus terang. Ini adalah pertama kalinya Valeda melihat Daniel terlelap. Wajah Daniel tampak tenang dan seperti tidak memikirkan apapun.


Ketika tengah asyik merekam lekuk wajah Daniel di ingatannya, Valeda menyadari guratan tipis yang ada di leher Daniel. Sekelebat ingatan di masa lalu, terlintas di kepala Valeda.


Valeda mengerjap beberapa kali. Kilasan ingatan yang dia sendiri tidak tahu apa karena terlalu cepat, membuat kepalanya sedikit pusing.


"Kenapa, Nona?" tanya Kris dari kursinya. Dia sempat melihat majikannya geleng-geleng dengan wajah tertekuk.


"Ah, aku seperti mengingat sesuatu, tapi sekaligus lupa kembali," jawab Valeda, tidak mengerti dengan apa yang dia rasakan.

__ADS_1


"Apa Nona baik-baik saja? Nona terlihat sedikit pucat. Mau kembali ke rumah sakit?" tawar Kris.


Valeda mengangkat wajahnya dan melihat melalui spion mobil. Dia menjadi bingung melihat wajahnya yang memutih seperti hantu. "Ada apa denganku? Apa aku kelihatan tidak baik-baik saja?" tanya Valeda.


"Ya, Nona. Apa Anda mau kembali ke rumah sakit sekarang? Kita belum terlalu jauh."


Valeda kembali melihat Daniel yang terlelap di sebelahnya. "Tidak, tidak usah. Aku tidak apa-apa. Kita lanjutkan saja perjalanan kita," jawab Valeda.


Kris tidak bersuara untuk mendebat Valeda. Dia memutuskan untuk menuruti perkataan Valeda. Kris hanya akan melirik ke arah belakang lewat spion lebih sering untuk mengecek kondisi Valeda.


Perhatian Valeda kembali terarah pada guratan halus di leher Daniel. Valeda yakin, kalau itu bukanlah bekas luka biasa. Jika dilihat sekilas, guratan itu seperti sebuah luka bakar. Tapi, tidak begitu terlihat jika tidak benar-benar diperhatikan.


Kening Valeda berkerut. Dia mulai berpikir sangat keras. Kenapa bekas luka Daniel membuatnya mengingat sesuatu? Tapi, ingatan itu tidak jelas dan hanya menyisakan tanda tanya besar di kepalanya.


'Sudahlah! Aku akan tanyakan Daniel saat dia bangun nanti,' ujar Valeda di dalam hati. Valeda menghirup udara banyak-banyak sampai dia merasa paru-parunya tidak muat lagi, kemudian menghembuskannya perlahan. Valeda mencoba melepas pikiran-pikiran yang menurutnya tidak begitu penting untuk dijadikan beban dalam hidupnya.


***


(Keesokan harinya...)


"Baguslah," jawab Daniel. Dia merapikan kotak bekal makan siang yang dia bawa.


Valeda melirik ke arah leher Daniel lagi. Kemarin malam, Valeda kehilangan kesempatan untuk bertanya karena Daniel tampak lelah. Jadi, Valeda memendam rasa ingin tahunya sampai hari ini.


"Apa ada yang mau kamu tanyakan?" Daniel ternyata sadar dengan tatapan serius dari mata Valeda.


"Ummm... Aku mau tanya sesuatu yang agak sensitif," Valeda berkata dengan hati-hati.


Daniel segera menyelesaikan beberesnya, lalu duduk tegak di samping Valeda. "Oke, sesensitif apa pertanyaanmu, Nona?"


Valeda sempat ragu sedetik lalu. "Bekas luka apa itu?" akhirnya pertanyaan itu meluncur dari mulutnya.


"Yang mana?"

__ADS_1


Valeda mengulurkan tangannya, menyentuh guratan tipis di leher Daniel.


PLAK!


Mata Valeda terbelalak ketika Daniel menepis tangannya dengan kasar. Rasa panas dan perih terasa sedetik kemudian, setelah Valeda sadar apa yang Daniel lakukan.


Daniel membuang wajah. Air mukanya berubah serius. Dia mengusap bekas lukanya. "Aku menjadi kesal setiap kali ditanya bekas luka apa ini," nada bicara Daniel berubah menjadi kasar.


"Ke...napa?" Valeda masih syok. Dia bahkan tidak mampu berkedip.


Daniel melirik dengan tatapan dingin. "Kenapa kamu penasaran sekali tentang luka ini?"


"Aku teringat sesuatu ketika melihatnya. Tapi itu tidak jelas. Seperti sebuah kilasan kejadian," jelas Valeda.


Daniel mendengus dengan senyuman masam mendengar jawaban Valeda. "Kamu tidak perlu tahu."


"Apa? Apa maksudmu?" protes Valeda kesal. "Hal itu menggangguku dan kamu bilang aku tidak perlu tahu?"


Daniel mendongak, memperlihatkan guratan lukanya pada Valeda. "Apa kamu terganggu sekarang?" tanyanya dengan nada meninggi.


Valeda menggigit bibir bawahnya. Dia merasa sangat kesal karena Daniel marah padanya tanpa Valeda tahu alasannya. "Apa yang membuatmu begitu marah!?" bentak Valeda. "Ya! Aku tidak lagi terganggu dengan itu! Kau puas dengan jawabanku!?"


Daniel bangun dari duduknya. "Bagus. Kamu memang harus melupakan hal-hal tidak penting agar hidupmu bahagia seperti sekarang."


Valeda ikut bangkit. "Sebenarnya apa yang terjadi? Ada apa? Apa luka itu berhubungan denganku? Kita pernah bertemu sebelumnya?"


"Luka ini tidak ada hubungannya denganmu. Aku permisi!" Daniel meraih kotak makan siangnya dan bergegas ke luar ruangan Valeda.


Valeda masih berdiri di tempatnya. Dia mencoba mencerna apa yang terjadi. Menit selanjutnya, Valeda tahu bahwa ada yang Daniel sembunyikan. Ada hal yang Valeda tidak tahu tentang Daniel. Dia bukan hanya sekedar laki-laki dari panti asuhan, seperti yang Valeda kenal.


Daniel kabur darinya. Bukan hanya sekali atau dua kali, tapi setiap kali dia terpojok. Daniel tidak langsung menjelaskan apa yang Valeda tanyakan. Daniel mencoba mengulur waktu tentang apa yang ingin Valeda ketahui.


"Apa sebenarnya yang terjadi?" bisik Valeda pada dirinya sendiri.

__ADS_1


***


__ADS_2