
"Apa?" tanya Nyonya Emely yang tidak percaya dengan apa yang dia dengar. "Celine, kamu sedang membantu Valeda untuk kabur lagi?"
Celine menggeleng. "Saya yang membuat janji makan siang Nona Valeda. Kalau Nyonya Emely tidak percaya, bagaimana kalau Nyonya ikut dengan Nona Valeda?" tawar Celine.
Valeda mendelik tidak percaya pada Celine. Bagaimana mungkin Celine memakai alasan seperti itu untuk menyelamatkannya?
Memang benar bahwa Celine telah membuat janji ketemuan dengan pemenang undian kedua. Namun, bukan berarti Valeda akan menemuinya secara langsung, kan?
Bagaimana jika kejadian pertama terulang kembali? Valeda tidak mungkin mengakui seorang laki-laki beristri sebagai pacarnya.
Atau, bagaimana kalau yang datang adalah anak sekolahan, atau yang lebih parah adalah laki-laki paruh baya seumuran ayahnya?
'Astaga! ****** aku!' batin Valeda dalam hati. Satu demi satu pikiran buruk terus melintas di kepalanya. Dia terlalu takut untuk berpikir positif.
"Baiklah, Mama akan ikut," Nyonya Emely memutuskan sambil berdiri dari duduknya. "Bersiaplah. Mama akan menunggu di bawah," ujarnya, kemudian berlalu dari ruangan Valeda.
"Apa yang kamu lakukan, Celine?" desis Valeda kesal. "Bagaimana bisa kamu bilang kalau kita akan menemui pacarku? Dan bagaimana bisa orang yang akan kita temui adalah pacarku?"
"Kita harus tenang, Val," jawab Celine. "Ayo berpikir sambil jalan. Sekarang, bersiaplah!"
Valeda pergi ke meja kerjanya untuk mengambil tas tangannya. "Apa kamu tahu ciri-ciri orang yang akan kita temui?" tanya Valeda.
"Laki-laki berusia dua puluh lima tahun. Aku sudah memastikan bahwa dia belum mempunyai istri," jawab Celine. Dia mengikuti Valeda melangkah ke luar ruangan untuk menyusul Nyonya Emely.
"Bagaimana kalau tidak sesuai seleraku?" tanya Valeda. Dia tetap cemas.
"Pura-pura saja dulu. Urusan sesuai atau tidak, nanti kita pikirkan lagi."
Valeda menghela nafas dengan kasar. "Kalau Mama sampai sadar bahwa aku hanya pura-pura atau aku sudah membohonginya, aku tidak akan bisa menolak perjodohanku lagi," keluh Valeda.
"Aku akan kirim pesan lagi pada laki-laki itu untuk mengatur skenario kita," ujar Celine.
Mereka memasuki lift bersama dan turun ke lantai dasar. Celine tidak banyak bicara lagi, karena dia sibuk dengan ponsel di tangannya. Valeda sendiri sibuk berdoa dalam hati, agar rencana mereka berjalan sempurna kali ini.
Siapapun Sebastian yang Nyonya Emely sebutkan, atau seberapapun hebatnya laki-laki itu, Valeda tetap tidak ingin menikah karena dijodohkan. Valeda juga tahu, bahwa perjodohannya dengan Sebastian didasari hubungan bisnis ayahnya. Bagi Valeda, hubungan seperti itu tidak akan berhasil.
Sesampainya mereka di lantai dasar kantor Valeda, Nyonya Emely yang berdiri di pintu masuk langsung melambai, meminta mereka untuk segera menyusulnya.
__ADS_1
Rupanya Nyonya Emely sudah meminta Kris untuk menyiapkan mobil. Nyonya Emely benar-benar akan ikut kali ini. "Ayo masuk!" ajak Nyonya Emely. Kris segera membukakan pintu untuk Nyonya Emely.
"Fokuslah pada rencana kita, Val," bisik Celine. "Urusan kantor dan rapat internal nanti, biar aku yang urus. Laporannya akan aku taruh di atas mejamu." Celine menyelipkan ponsel yang dia genggam ke tangan Valeda.
"Nona Val, silakan masuk," panggil Kris. Ternyata dia sudah membukakan pintu untuk Valeda.
Jantung Valeda berdebar sangat cepat ketika dia duduk di sebelah Nyonya Emely. Valeda menurunkan kaca jendelanya untuk bicara dengan Celine.
"Semoga berhasil!" seru Celine sebelum Valeda membuka mulutnya lagi.
Mobil mulai melaju. Valeda menutup kaca jendelanya dan berusaha duduk tenang di sebelah ibunya. Dia tidak mau memberi kesan bahwa dirinya sedang gugup sekarang ini.
"Val, sejak kapan kamu pacaran?" tanya Nyonya Emely.
"Se... Sekitar sebulan yang lalu," jawab Valeda asal.
"Kenapa tidak langsung dikenalkan ke Mama?" selidik Nyonya Emely.
Valeda memutar otaknya untuk mencari jawaban. "Val belum siap."
Valeda menoleh pada Nyonya Emely ketika mendapatkan pertanyaan seperti itu. "Maksud Mama?"
"Mama harus memastikan bahwa pasanganmu lebih baik daripada laki-laki yang Mama pilihkan," jawab Nyonya Emely.
Tidak tahu kenapa, Valeda menjadi sangat kesal setelah mendengarnya. Ada sebuah jurang yang sangat dalam terbentuk di antara dirinya dan Nyonya Emely. "Bagi Val, laki-laki yang bertanggung jawab adalah laki-laki yang Val butuhkan."
"Realistislah, Val," sahut Nyonya Emely. "Kamu bisa mengatakan itu sekarang. Namun, jika laki-laki itu hanya akan menjadi parasit, Mama tidak akan menerimanya. Kariermu yang bagus bisa saja menjadi alasan baginya untuk mendekatimu. Makanya, kamu perlu seorang laki-laki yang imbang denganmu. Seperti Sebastian," jelas Nyonya Emely panjang-lebar.
'Jangan ikut campur masalah asmaraku!' batin Valeda kesal. Ingin sekali dia berteriak seperti itu, namun urung dia lakukan. Valeda sendiri tidak tahu bagaimana laki-laki yang akan dia temui siang ini.
Tiga puluh menit yang terasa lama itu, akhirnya membawa Valeda dan Nyonya Emely ke sebuah restoran yang terletak di pusat kota. Restoran itu lumayan ramai karena jam makan siang baru saja dimulai. Valeda bisa dikatakan beruntung karena masih mendapatkan tempat di sana.
"Selamat datang di restoran kami!" sambut perempuan yang berdiri di pintu masuk. "Apa Anda sudah memesan meja?"
"Saya sudah memesan meja atas nama Valeda," jawab Valeda.
"Silakan lewat sini," perempuan itu mempersilakan, kemudian menuntun mereka menuju meja yang sudah dipesan.
__ADS_1
"Pacar kamu belum datang?" tanya Nyonya Emely sambil duduk.
Valeda duduk di hadapan Beliau. Dia tidak berharap terlalu banyak dengan apa yang akan terjadi. Valeda meraih ponsel dari dalam tasnya dan mengecek apakah ada pesan yang masuk.
Nihil.
Valeda menoleh ke arah pintu masuk, namun tidak ada tanda-tanda kedatangan seseorang. "Val keluar sebentar untuk menelepon," pamit Valeda. Lalu dia pergi ke luar tanpa menunggu izin dari Nyonya Emely.
"Gila! Aku benar-benar bisa gila!" gerutu Valeda. Dia segera menghubungi pemilik nomor yang akan bertemu dengannya. Pada dering keempat, akhirnya ada yang menjawab dari seberang.
"Halo?" sapa orang di seberang telepon.
Valeda menarik nafas lalu menghembuskannya perlahan. "Anda sudah di mana?" tanya Valeda.
"Sebentar lagi saya akan sampai," jawab laki-laki itu.
"Baiklah, saya tunggu." Valeda menutup teleponnya. Dia menatap layar ponsel itu sejenak. "Apa aku minta salah satu anak magang di perusahaanku untuk datang dan pura-pura jadi pacarku saja, ya? Mama tidak mungkin mengenalinya," gumam Valeda.
Valeda menengok ke dalam restoran. Dia melihat Nyonya Emely masih duduk sendirian di bangkunya. Pikiran untuk kabur dari tempat itu semakin bergejolak di kepala Valeda.
Sebuah tepukan di bahu Valeda membuat Valeda terlonjak kaget. Dia berbalik cepat. "Siapa--" ucapannya berhenti ketika melihat siapa yang berdiri di hadapannya saat ini.
"Selamat siang, Nona," sapa Daniel. "Apa yang Nona lakukan di luar sini?"
"Ah, itu... Aku sedang... Menghirup udara segar," jawab Valeda asal.
Alis Daniel terangkat, jelas dia tahu bahwa Valeda tidak mau mengatakan apa yang dia lakukan saat ini. Tapi, Daniel memilih tidak ambil pusing. Dia menganggapnya angin lalu.
"Kamu sendiri, sedang apa di sini?" Valeda balik bertanya.
Daniel memandang melewati kepala Valeda, melihat ke dalam restoran. "Saya akan menemui seseorang di sini."
"Pelangganmu? Apa kamu juga menyuplai bahan makanan di sini?" terka Valeda.
Daniel menggeleng. "Bukan," jawabnya. "Saya memenangkan sebuah undian."
***
__ADS_1