
Tuan Suherman tidak bergeming. Beliau dan Daniel saling memandang lekat satu sama lain. Atmosfer yang hadir di ruang tamu berubah menjadi sangat dingin.
"Kamu bercanda?" Tuan Suherman mengeluarkan suara.
Daniel menggeleng pelan. "Kak Lucas tidak seberani Valeda, karena hidup Kak Lucas ada di tangan Tuan Suherman dan Nyonya Emely. Kak Lucas sangat takut jika Anda ataupun Nyonya Emely tahu, bahwa dia telah jatuh cinta dengan perempuan biasa."
Tuan Suherman bangkit dari duduknya. Wajahnya terlihat tertekuk. Jelas sekali bahwa Beliau sedang marah.
"Tuan, percuma marah sekarang," Daniel menambahkan. "Daripada marah, bagaimana kalau Tuan melihat cucu-cucu Anda yang menggemaskan?"
"Apa? 'Cucu-cucu'? Artinya aku punya lebih dari satu cucu?" desis Tuan Suherman.
"Kak Lucas memiliki anak kembar," jawab Daniel.
Tuan Suherman jatuh duduk di sofanya. "Sudah berapa lama dia membohongi orangtuanya sendiri?"
"Tuan, kenapa Anda fokus pada masalah itu?" tanya Daniel. "Apakah Tuan tidak bisa melihat sisi baiknya? Lagipula, sampai saat ini, Kak Lucas masih bisa menjaga nama baik keluarga Anda."
"Ini bukan masalah sepele," tukas Tuan Suherman."
"Begitupun dengan masalah pernikahan Valeda yang Tuan katakan barusan," tambah Daniel. "Tuan bisa dengan mudah membahas sebuah pernikahan di depan putri Anda. Bukankah seharusnya masalah putra Anda bisa dibuat mudah juga?"
"Apa maksudmu, Daniel?" tanya Tuan Suherman. Dia duduk tegak di sofanya. Matanya berkilat mendengar perkataan Daniel.
"Anda bisa membuat kesan baik dengan mengumumkan pernikahan Kak Lucas. Karanglah cerita bahwa selama ini, Anda menyembunyikan kebenaran itu karena ingin melindungi istri dan anak-anak Kak Lucas. Saya rasa, menikmati hari-hari bersama cucu-cucu Anda, merupakan hal penting daripada meminta kami cepat menikah." Daniel meraih cangkir tehnya, lalu menyeruputnya. Dia sengaja menyesap tehnya berkali-kali, memberi waktu untuk Tuan Suherman berpikir.
Valeda melempar tatapan kagum dari Daniel. Dia semakin percaya untuk menyerahkan masa depannya di tangan Daniel.
'Ah, bukan masa depan untuk hidup bersama selamanya, tentu! Tapi untuk keluar dari masalah jodoh-menjodohkan yang dilakukan orangtuaku,' batin Valeda mencoba menegaskan pikirannya yang kacau. Dia merasa terlalu terbawa suasana, jadi dia harus berulang kali mengingatkan bahwa dia tidak boleh sampai jatuh cinta pada Daniel, rekan kerjanya sendiri.
Tuan Suherman memijit keningnya yang terasa sakit. Mendapatkan berita mengenai salah satu anaknya sudah menikah, ternyata menjadi pukulan berat untuknya. Apalagi ada sepasang cucu yang tidak dia ketahui. "Aku harus bicara dengan Lucas," kata Tuan Suherman dengan nada yang lebih tenang.
"Kami tidak akan ikut campur lebih dari ini. Tapi, berita Anda memiliki cucu-cucu yang sangat Anda lindungi, akan menaikkan nama baik Anda. Saya akan membantu apapun sebisa saya," Daniel bangun dari duduknya. Valeda buru-buru mengikuti.
"Kalian akan kembali sekarang?" tanya Tuan Suherman.
Daniel mengangguk. "Saya ingin memberi privasi untuk Anda, Tuan," jawab Daniel. "Lagipula, Valeda sepertinya lelah setelah bekerja keras seharian. Saya akan memastikannya istirahat dengan baik malam ini."
"Uhuk!" Tuan Suherman terbatuk mendengar perkataan Daniel. "A-apa kamu menemani Valeda tidur?"
"Saya rasa, saya tidak akan mendapat izin untuk melakukan hal yang Anda katakan," sahut Daniel dengan senyuman.
__ADS_1
"Kamu memang pintar bicara, Dan. Baiklah, hati-hati di jalan," ujar Tuan Suherman. Dia berjalan ke arah Valeda, kemudian memeluk anak perempuannya. "Jaga dirimu baik-baik, Sayang. Kalau ada yang mengganggu, segera kabari Papa."
"Tidak perlu khawatir, Pa," jawab Valeda.
Tuan Suherman pergi dari ruang tamunya, membiarkan putrinya dan Daniel pamit seperti yang Daniel katakan beberapa saat yang lalu.
"Daniel!" desis Valeda sambil meremas lengan jas Daniel. "Aku tidak menyangka bahwa kamu akan mengatakan semuanya sekarang. Aku pikir, kita hanya akan membahas istri Kak Lucas secara tidak langsung."
Sebenarnya, rencana awal mereka memang hanya akan membahas 'perempuan yang dibawa Lucas' sore ini. Lucas belum pernah membawa perempuan sebelumnya jika ada acara keluarga. Valeda berniat untuk mendapatkan celah yang bagus dan memberitahukan hal itu pada Tuan Suherman secara perlahan. Namun, Daniel melakukan hal di luar dugaan.
Valeda tidak bisa mengatakan apa yang dilakukan Daniel adalah salah, karena Daniel mengatasi semuanya dengan baik. Hanya saja, dia agak kaget. Ayahnya pun merasa kaget.
"Apa kamu lebih suka kalau Tuan Suherman membahas bagaimana kita menikah nanti?" tanya Daniel.
Wajah Valeda kembali memerah. "Bukan itu maksudku, Dan!" protes Valeda.
Daniel menepuk kepala Valeda seraya tersenyum lebar. "Kamu lucu sekali kalau sedang panik. Ayo, kita pulang dulu!"
Valeda berjalan di samping Daniel ke luar rumah. Selama perjalanan ke mobil, Valeda lagi-lagi kehilangan topik pembicaraan. Dia hanya bungkam dan memandang Daniel diam-diam.
Hembusan angin malam menyibak rambut Daniel, membuatnya sedikit berantakan.
"Waktu cepat sekali berlalu, ya?" ujar Daniel.
"Kenapa kamu jadi seperti kakek-kakek yang mau ngasih ceramah ke cucunya yang mau nikah?" goda Valeda.
"Apa, sih? Nggak nyambung banget!" Daniel terkekeh. Daniel membukakan pintu mobil untuk Valeda setibanya mereka di tempat mobil sedan Valeda terparkir.
"Di mana Kris?" tanya Valeda sembari masuk ke dalam mobil.
Daniel yang diberi pertanyaan begitu padahal dia sendiri bersama Valeda daritadi, mengedarkan pandangan ke segala arah. Daniel tidak melihat Kris di sekitar mobil ataupun di gazebo tempat para sopir berkumpul.
"Kita tunggu saja sebentar di dalam mobil," jawab Daniel. Dia ikut masuk di kursi belakang. Angin malam itu memang tidak begitu kencang, tapi bisa membuat mereka terkena flu.
"Hei, Daniel," panggil Valeda pada Daniel yang melihat ke luar jendela.
"Hm?" tanya Daniel tanpa menoleh.
"Kamu pernah pacaran, kan? Coba ceritakan padaku, bagaimana rasanya!"
Daniel menoleh, ganti menatap Valeda dengan wajah penuh tanya. "Yakin mau dengar? Apa nanti kamu tidak akan cemburu?"
__ADS_1
"Hahaha!" Valeda tertawa renyah. "Ceritakan, lalu lihat apakah aku cemburu atau malah bosan."
Daniel bersandar di kursi mobil sambil menyilangkan tangannya di depan dada. "Waktu aku masih tidak memikirkan apapun selain diriku sendiri, aku menyukai seorang perempuan. Dia teman sekelasku saat kelas sebelas."
"Namanya?" potong Valeda.
"Berlian."
"Wow! Nama yang unik!"
Daniel mengangguk setuju. "Dia memang cantik seperti berlian. Bahkan, lebih cantik darimu."
"Oh, ya?" Valeda tidak percaya begitu saja. "Punya fotonya? Aku mau lihat."
"Kamu tahu sendiri kalau aku tidak main media sosial," jawab Daniel. "Pokoknya, Berlian adalah perempuan yang cantik. Dia idola di sekolahku. Anak laki-laki mengejarnya--"
"Termasuk kamu," sela Valeda.
Daniel mengangkat bahu. "Aku tidak begitu ingat bagaimana aku jatuh cinta padanya. Aku hanya mengingat semua anak mengejarnya, jadi aku melakukan hal yang sama." Daniel menggaruk dagunya, mencoba mengingat masa-masa sekolah menengah atasnya. "Dia anak seorang petinggi di pemerintahan."
"Wah... Cantik, kaya raya, dan baik hati. Sempurna!"
Daniel menggeleng saat mendengar komentar Valeda. "Dia tidak baik hati. Sama seperti perempuan yang sadar bahwa dirinya cantik dan kaya, dia memanfaatkan keadaan."
"Perempuan yang pintar," puji Valeda sambil mengangguk-angguk.
"Berlian suka memanfaatkan laki-laki yang mendekatinya. Aku pun tahu bahwa aku dimanfaatkan. Tapi, aku menyukainya. Berada di samping Berlian yang cantik menjadi kebanggaan tersendiri untukku. Entah sejak kapan, aku jadi terbiasa dengan sifatnya."
"Apa kalian pacaran cukup lama?" tanya Valeda.
"Hanya sampai ayahku bangkrut dan kehidupanku berubah drastis. Perempuan seperti Berlian tidak akan mau bersama laki-laki yang bahkan untuk makan saja, harus bekerja di tiga tempat berbeda," jawab Daniel. "Dia langsung pergi begitu saja."
"Apa kamu mencintainya?"
Daniel tidak langsung menjawab pertanyaan Valeda. Dia sendiri tidak begitu yakin dengan apa yang dia rasakan untuk Berlian kala itu. "Aku tidak tahu. Sudah lama aku melupakannya."
"Benar-benar sudah lupa?" Valeda memastikan.
"Kalau aku bilang masih memiliki beberapa kenangan yang tidak bisa aku lupakan, memang kenapa?"
***
__ADS_1