
(Tiga hari kemudian...)
Valeda melihat Daniel yang keluar dari salah satu ruangan rawat inap di rumah sakit Valeda. Mawar sudah dipindah ke ruangan biasa setelah tidak mengalami kejang lagi di hari ketiga dia dirawat. Sebenarnya, Kris sudah menyiapkan kamar VIP untuk Mawar. Namun, Daniel dengan sopan menolaknya.
Daniel memang tidak berniat memanfaatkan Valeda untuk kesehatan Mawar. Dia akan membayar semua biaya perawatan Mawar. Daniel pikir, Valeda tidak perlu ikut terlibat jika ini berhubungan dengan adik-adiknya.
"Bagaimana, Dan?" tanya Mawar.
"Dia baru saja tidur. Sepertinya kamu tidak bisa menemuinya hari ini," jawab Daniel.
Jam sudah menunjukkan pukul sembilan malam. Tentunya Mawar sudah tidur pada jam segini. Sebenarnya Valeda ingin ke rumah sakit lebih cepat, namun pekerjaannya membuatnya terhambat melakukan aktifitas lain belakangan ini.
"Baiklah, aku akan kembali besok," ujar Valeda.
"Tidak usah memaksakan diri. Mawar sendiri tahu kalau kamu adalah orang sibuk. Dia hanya ingin menyampaikan terima kasih karena kamu sudah membantuku," timpal Daniel.
"Tapi--"
"Tidak apa, Val. Kamu bisa menjenguknya ketika Mawar sudah pulang nanti. Aku tahu kamu sedang sibuk dengan urusan pekerjaanmu," potong Daniel. "Sekarang mau langsung pulang? Aku antar."
"Ayo pergi makan fast food," ajak Valeda.
Alis Daniel terangkat. "Serius? Kamu masih lapar setelah menghabiskan dua porsi nasi goreng tadi sore?"
"Aku ingin sesuatu yang asin setelah makan pedas," jawab Valeda. Dia bangun dari duduknya dan memimpin jalan mereka menuju tempat parkir rumah sakit.
Angin semilir berhembus ketika mereka melewati lorong rumah sakit lantai satu. Valeda memperlambat langkahnya, berharap Daniel juga melakukan hal yang sama.
Dia melirik Daniel yang berjalan lambat di sebelahnya. Belakangan ini, hobi baru Valeda adalah memperhatikan Daniel dari dekat. Dia menyukai apa yang Tuhan suguhkan di hadapannya ini. Bisa dikatakan, Valeda menyukai laki-laki tipe Daniel. Bukan hanya karena Daniel yang cerdas, tapi juga karena perilaku Daniel pada Valeda.
Valeda jarang mendapatkan perhatian dan perlakuan lembut dari keluarganya. Dia bisa mendapatkan semua itu dari Daniel. Valeda merasa bersyukur karena dia bertemu dengan Daniel hari itu di restoran. Keputusannya untuk meminta tolong pada Daniel ternyata membawa dampak baik bagi dirinya.
"Kenapa?"
__ADS_1
Pertanyaan yang terlontar dari mulut Daniel secara tiba-tiba, membuat Valeda terlonjak kaget. "Apanya?" Valeda balik bertanya.
Daniel menoleh ke arah Valeda. "Kenapa kamu begitu baik padaku? Apa kamu juga berlaku yang sama pada semua orang?" tanya Daniel.
Valeda berpikir sejenak mendengar pertanyaan Daniel. Dia teringat dengan kejadian di mana orang-orang yang selama ini dia anggap teman, malah menusuknya dari belakang. Lalu, dia bertemu dengan Rangga. Ah, Rangga tidak masuk hitungan. Valeda memang harus berperilaku baik dengan keluarga. Kemudian, Celine. Valeda berlaku baik pada Celine, karena menurutnya Celine memberi keuntungan untuknya. Celine memberikan timbal balik yang Valeda inginkan. Terakhir, Kris. Valeda tahu sifat Kris yang penurut dan jujur. Akan baik memiliki orang seperti Kris di sisinya.
"Tidak. Aku tidak sebaik yang ada di pikiranmu," jawab Valeda akhirnya. "Bisa dikatakan, aku menjadi orang yang licik setelah semua pengalaman yang aku dapatkan."
Daniel terkekeh mendengarnya. "Aku suka caramu berpikir, Val. Memang tidak perlu selalu bersikap baik pada semua orang," timpal Daniel. "Tidak salah kamu sudah sesukses ini di usia muda."
Valeda menggeleng pelan. "Aku sukses bukan karena cara berpikirku saja. Tapi juga karena kesempatan yang aku miliki. Bisa dibilang, aku kaya karena ayahku juga kaya."
"Kamu benar," jawab Daniel seraya membuang wajah. "Setidaknya, Tuan Suherman yang sekarang tidak akan seperti ayahku yang bunuh diri karena bangkrut."
"Apa?"
Daniel menoleh kembali pada Valeda. "Ayahku bunuh diri setelah ditipu rekan kerjanya. Dia berpikiran pendek dan terlalu rindu dengan ibuku."
"Ma... Maaf," ujar Valeda terbata. Dia sebenarnya sudah tahu kalau ayah Daniel meninggal karena bunuh diri. Tapi, mendengarnya langsung dari Daniel membuat tubuhnya terpaku dan menjadi dingin.
Valeda menelan ludah dengan susah payah. "Balas dendam?" bisiknya. Kata-kata itu membuatnya ngeri sendiri. Daniel yang memiliki cap 'laki-laki baik' di pikiran Valeda, berkata tentang sebuah pembalasan dendam.
Daniel menepuk kepala Valeda dengan lembut. "Kamu tidak perlu tahu. Kamu tidak akan kehilangan apapun."
'Tetap saja, itu membuatku takut,' batin Valeda.
"Jadi, apa kamu sudah menemui sahabat kecilmu itu?" tanya Daniel mengubah topik pembicaraan.
Valeda mendengus kesal. "Kenapa tiba-tiba mengungkit Rangga?" protes Valeda. Dia pikir, suasana sedang baik sekarang, tapi Daniel merusaknya dengan menanyakan Rangga.
Daniel mengangkat bahu. "Aku hanya ingin tahu."
"Aku terlalu sibuk dengan ini dan itu, sehingga tidak punya waktu untuk menemuinya," jawab Valeda.
__ADS_1
Valeda dapat melihat bahwa Daniel tersenyum sekilas. Pikiran bahwa Daniel agak mengerikan beberapa saat yang lalu, langsung sirna dari pikirannya.
"Apa dia masih memanggilmu 'Cinta'?" tanya Daniel lagi.
"Bisa kita bicarakan yang lain?" usul Valeda. "Oh, iya! Ngomong-ngomong, tentang kelanjutanmu untuk kuliah, Celine sudah membereskan semuanya tadi sore." Valeda teringat dengan dokumen yang Celine serahkan ketika dia akan keluar ruangan kantor tadi. "Aku baru baca sekilas. Dokumennya aku taruh di mobil."
"Ah... Aku lupa kalau aku perlu kuliah juga," jawab Daniel jujur.
"Kamu bisa baca selama di perjalanan nanti," usul Valeda.
Kris yang melihat Valeda dan Daniel berjalan mendekat, segera keluar dari mobil dan membukakan pintu untuk mereka.
"Cepat sekali kembali, Nona?" tanya Kris ketika Valeda tiba di depannya. Kris mengulurkan tangannya di atas kepala Valeda ketika Valeda hendak masuk ke dalam mobil.
"Mawar sudah tidur. Aku terlambat ke sini," jawab Valeda.
"Sekarang langsung pulang?" tanya Kris sebelum menutup pintu.
Valeda menggeleng. "Aku ingin fast food. Ayo kita drive thru," jawab Valeda.
Kris menutup pintu mobil, lalu segera menuju bangku kemudi. Daniel sudah duduk duluan di samping bangku kemudi. "Bagaimana kondisi adikmu, Dan?"
"Berkat kalian, dia sudah membaik. Demamnya sudah turun dan Mawar mulai makan dengan lahap," jawab Daniel dengan seulas senyuman.
"Baguslah... Aku benar-benar bersyukur dengan kabar baik itu," timpal Daniel.
Valeda memeriksa dokumen-dokumen yang dia selipkan di belakang kursi Kris sebelum mereka ke rumah sakit tadi. Dia memilih dokumen yang Daniel perlukan saat akan kuliah nanti. "Ini, Dan," Valeda menyodorkan dokumen yang dimaksud ke kursi depan.
Daniel langsung menerimanya. Dia membuka dokumen yang Valeda berikan dan membacanya dengan cepat. "Sepertinya jadwal kuliah ini lumayan padat. Aku tidak bisa mengambilnya," ujar Daniel setelah sepuluh menit berlalu.
"Aku akan mengurangi jam kerjamu," jawab Valeda dari kursi belakang. "Aku mau kamu mengambil kesempatan ini, Dan!"
Daniel menghela nafas panjang. "Tidak ada yang lebih diuntungkan dalam situasi ini daripada diriku sendiri." Daniel menutup dokumen di pangkuannya. Dia melirik ke belakang sekilas. "Jangan terlalu baik padaku, Val."
__ADS_1
"Aku melakukan ini karena kamu akan menguntungkan untukku," Valeda menjawab. "Ingatlah bahwa orangtuaku tengah mengawasi kita berdua saat ini. Kalau mereka tahu bahwa kita hanya pura-pura, aku bisa langsung dinikahkan dengan pilihan Mama."
***