
Valeda tidak bergerak dari diamnya. Dia mencoba mencerna perkataan Daniel, namun otaknya menolak untuk bekerja. Dia hanya memandang Daniel lurus-lurus, siapa tahu Daniel tertawa dan mengatakan bahwa semua itu hanya candaan.
Tapi tidak. Daniel membalas tatapannya dengan serius.
"Se... Sejak di restoran?" suara Valeda akhirnya keluar.
Daniel menggeleng. Dia tidak melepas pandangannya dari Valeda. "Sejak kita kecil."
"Apa?" desis Valeda. Pernyataan Daniel yang pertama saja belum bisa dia terima, sekarang sudah ada pernyataan lainnya. "Sejak kecil? Memangnya kita—" Valeda tidak melanjutkan kalimatnya.
"Dulu, kamu memanggilku Verdi," tambah Daniel.
Valeda menggigit bibir bawahnya. Setelah Daniel mengakui hal itu, semua pertanyaan yang ada di kepalanya terjawab sudah. "Jadi benar, kita sudah saling kenal sejak kecil?"
"Mungkin kamu tidak ingat. Aku dengar dari ayahku, kamu mengalami trauma saat kebakaran itu terjadi."
"Lalu, kenapa kamu marah waktu aku menanyakan bekas luka itu?" sambar Valeda. Dia sekarang sangat yakin kalau Daniel adalah anak yang menolongnya.
"Aku merasa dikhianati setiap kali ada yang menanyakan bekas luka ini," jawab Daniel dengan suara parau. "Dulu, aku berharap, kamu akan menyelamatkan aku dan ayahku dari tuduhan palsu kecelakaan itu. Tapi, saat kamu bangun, kamu tidak mengingat apapun. Ayahku dipenjara. Ibuku menanggung beban selama lima tahun sendirian. Aku membencimu," Daniel membelai kepala Valeda. "Tapi juga sangat mencintaimu."
"A... Aku minta maaf... Aku benar-benar tidak begitu ingat," ujar Valeda lirih. Dia menunduk, merasa bersalah dengan apa yang terjadi, walau dia tidak sepenuhnya mengingat kejadian itu. "Sekarang, apa kamu bisa ceritakan semuanya?"
Daniel mengangguk. "Waktu ulangtahunmu, aku ingin menyerahkan kado di saat yang tepat. Salah satu saudaramu mengatakan kalau kamu menyukai rumah kaca dan ingin menerima hadiah di sana. Aku menurutinya. Siapa sangka, dia akan membakar rumah kaca itu, lalu meninggalkan kita berdua di dalamnya."
"Aku ingat!" sahut Valeda cepat. "Waktu itu, ada anak lainnya yang pergi ke rumah kaca. Anak itu mendorongmu hingga jatuh dan menyalakan lilin. Api menyambar dengan cepat. Aku ketakutan dan kamu berusaha membantu." Valeda menutup mata dengan kening berkerut.
"Apa kamu ingat anak itu?" tanya Daniel.
Valeda menggeleng lemah. Dia belum bisa mengingat dengan pasti semua kejadian itu.
"Baiklah, kita tunda sejenak tentang kejadian masa lalu kita," kata Daniel yang merasa wajah Valeda menjadi pucat pasi. "Lalu, kejadian yang menimpa adik-adikku, apa kamu menemukan sesuatu?"
Valeda menimbang sejenak apakah dia harus mengatakan surat yang Kiki miliki. Setelah melihat ketulusan di sinar mata Daniel, akhirnya Valeda mengangguk. "Aku menemukan ini," Valeda merogoh tasnya, lalu mengeluarkan dompet berwarna hitam. Dia menyimpan surat itu sebaik mungkin.
Daniel membaca tulisan yang tertera di atas secarik kertas itu. "Kalau kamu membaca ini, jelas kamu merasa bahwa semuanya adalah ulah pesaingmu."
"Kenapa menurutmu ini bukan ulah pesaingku?" tanya Valeda tidak mengerti.
"Jelaskan dulu, apa lagi yang kamu tahu!" pinta Daniel.
__ADS_1
Valeda menelan pertanyaannya mentah-mentah. "Pelaku yang menabrak ketiga adikmu, dibunuh."
"Apa lagi?"
"Orang yang membunuh pelaku tabrakan adalah orang yang sama dengan yang menusukmu."
Daniel mengangguk beberapa kali. "Apa kamu punya fotonya?" tanya Daniel.
Valeda menggeleng. "Aku belum sejauh itu."
"Sebenarnya, aku mencurigai seseorang. Tapi, aku tidak akan mengatakan apapun sampai memiliki bukti yang pasti," kata Daniel dengan suara pelan. "Aku mau kamu membantuku untuk menangkap pelaku sebenarnya."
"Apa itu berbahaya untukmu?"
Daniel tersenyum simpul. "Aku sudah masuk ke kandang singa. Tidak ada gunanya aku kembali. Aku harus menyelesaikan ini."
Valeda tiba-tiba memikirkan sesuatu. "Apa... Mungkin orang yang menyerangmu, adalah orang yang sama dengan yang membakar rumah kaca ibuku?" pemikiran gila itu muncul begitu saja di kepala Valeda.
Daniel menjawabnya dengan mengangkat bahu. Ekspresinya tidak bisa Valeda baca.
"Untuk sementara, aku akan perketat keamanan di panti asuhan. Adik-adikmu akan diantar-jemput oleh orangku," tambah Valeda.
Valeda memikirkan hal lain. Dia ingin melanjutkan pernyataan cinta Daniel beberapa saat yang lalu.
"Oh, iya!" Daniel tiba-tiba bersuara.
"Ya? Kenapa? Apa ada yang aku lewatkan?" tanya Valeda.
"Kamu belum memberiku jawaban."
Valeda menelengkan kepalanya, tidak mengerti. "Jawaban? Untuk apa?"
Daniel mendengus kesal. "Aku harusnya menyatakan cinta di saat yang tepat. Bukan sekarang," gerutunya.
"Hah? Ka-kamu menanyakan jawaban untuk itu?" tanya Valeda cengak.
"Memagnya apa lagi? Aku tidak mengharapkan cinta tanpa balasan. Kamu harus memberiku kepastian. Kamu juga cinta aku, atau tidak?"
Wajah Valeda memerah. Dia sendiri bisa merasakan bagaimana panas kepalanya sekarang ini.
__ADS_1
Daniel tersenyum lebar, memamerkan gigi gingsulnya. "Terima kasih atas jawabanmu," ujar Daniel.
***
PRANG!!!
"Aaaaargh!!! Dasar tidak berguna!!!" teriakan lantang itu memenuhi ruangan. Di tangan orang itu terdapat sebuah tongkat bisbol yang berlumuran darah.
"Maaf, Tuan..." rintih lawannya yang bersimpuh di lantai. Kepalanya mengeluarkan banyak darah, tapi dia tetap mempertahankan posisinya dan memilih diam menerima amarah majikannya.
"Aku mempekerjakanmu, karena kamu mengatakan kamu akan berguna untukku. Tapi, apa yang aku dapat?"
"Saya tidak menyangka kalau dia datang bersama orang lain, Tuan."
"Hahahahaha!" suara tawa yang melengking membuat bulu kuduk yang mendengarnya menjadi meremang. "Apa harus aku yang memeriksanya untukmu?"
"Tidak, Tuan!" jawab pesuruh itu dengan suara bergetar hebat. "Saya akan menyelesaikannya dengan cepat."
Orang itu menggeleng. "Tidak. Sekretaris Valeda sedang melakukan penyelidikan. Kamu harus diam untuk sementara waktu."
"Saya akan menyingkirkan sekretaris itu jika perlu."
BUAK!
Sebuah pukulan melayang kembali ke tubuh pesuruh itu, sampai dia kehilangan keseimbangan dan ambruk di atas lantai yang dingin.
"Sombong sekali kamu! Membunuh satu orang laki-laki tidak berguna saja, kamu tidak bisa. Sekarang mau melibatkan orang lagi?"
Orang itu duduk di sofa yang ada di tengah ruangannya. "Celine... Dia lebih berguna dari yang kamu pikir. Aku akan memanfaatkannya untuk membalikkan keadaan," gumamnya. "Cloe, kamu bilang, Celine pacaran dengan Kris, kan?" orang itu menoleh pada perempuan berjas hitam di sebelahnya.
"Benar, Tuan."
Orang itu tertawa pelan. "Cari tahu kelemahan mereka, terutama Kris. Aku ingin mengajarkan pada mereka, sekalinya jatuh cinta pada orang yang tidak bisa diandalkan, semuanya akan sia-sia."
Perempuan bernama Cloe itu mengangguk mengerti. "Baik, Tuan!"
"Hei, kau!" serunya pada pesuruh yang masih meringkuk di atas lantai. Dia merasa kesusahan untuk bangkit lagi karena kepalanya berdenyut menyakitkan. "Aku memberimu waktu tiga hari untuk istirahat! Lalu, bunuh si brengsek Daniel! Kalau kamu bisa mendapatkan panti asuhannya untukku, aku akan menjamin kehidupan yang layak untukmu!"
"Uhuk! Uhuk!" pesuruh itu tersedak darahnya sendiri ketika hendak menjawab. "Ba-baik, Tuan," jawabnya lirih.
__ADS_1
***