DILARANG JATUH CINTA

DILARANG JATUH CINTA
26. Lucas


__ADS_3

Lucas menarik nafas panjang dan menghembuskannya perlahan. Dia terlihat bersalah karena emosi sesaat yang lalu. "Maaf," katanya.


Valeda dan Daniel saling bertukar pandang. Mereka tidak menyangka bahwa Lucas akan meminta maaf karena sudah mengkritik hubungan mereka.


"Tidak seharusnya aku naik pitam seperti itu. Aku ke sini bukan untuk membuat suasana panas dan kita jadi bertengkar. Aku minta maaf," kata Lucas lagi. "Aku ke sini benar-benar ingin tahu keadaanmu."


Daniel menunduk, mendekatkan wajahnya di telinga Valeda. "Ayo kita bicara di dalam," bisiknya.


Valeda tidak langsung menjawab. Dia masih menimbang apakah membiarkan Lucas masuk ke dalam, atau cukup sampai di depan pintu apartemennya saja.


"Kita harus hindari paparazzi," tambah Daniel.


"Baiklah," jawab Valeda. "Kalau bukan Daniel yang memintaku, aku tidak akan membiarkan Kakak masuk." Valeda berbalik dan masuk duluan ke dalam.


Daniel melemparkan senyuman minta maaf, dia berakting seakan Valeda adalah benar kekasihnya dan meminta maaf atas perilaku kekanakan Valeda. "Silakan masuk, Kak," Daniel mempersilakan.


Lucas berjalan melewati Daniel yang berdiri di ambang pintu. Dia melepas sepatunya dan mengikuti Valeda ke ruang tamu.


"Duduklah!" kata Valeda. "Cepat katakan apa yang ingin Kakak katakan."


Lucas duduk di hadapan Valeda. Dia mengusap tengkuknya dengan gelisah. Mulutnya masih tertutup rapat, walau sudah berlalu beberapa detik setelah Valeda memintanya untuk bicara.


Daniel pergi ke mini bar apartemen Valeda. Dia meneliti semua alat yang Valeda miliki. Untung saja Daniel mengenal beberapa koki dan bartender. Dari sanalah Daniel belajar menggunakan alat-alat 'ajaib' yang hanya dimiliki orang kaya seperti Valeda.


Daniel mendongak sejenak, melihat Lucas masih saja bungkam. Valeda melirik ke arahnya. Buru-buru Daniel memberinya isyarat untuk bersabar. Daniel membuatkan secangkir teh untuk Lucas. Minuman standar yang pastinya bisa dinikmati semua lidah orang Indonesia.


"Silakan," Daniel meletakkan secangkir teh di depan Lucas. Kemudian Daniel duduk di sebelah Valeda.


"Maaf, aku jarang mengunjungimu, Val," Lucas memulai.


"Kita sama-sama sibuk. Aku tidak menyalahkan siapapun," jawab Valeda.


Daniel bergantian memandang wajah Valeda dan Lucas. Dia sebenarnya masih belum mengerti dengan hubungan buruk yang dimiliki kakak-beradik ini.

__ADS_1


Di mata Daniel, Lucas tampak seperti orang yang baik. Wajah ovalnya dibalut kulit seputih salju. Mata hitamnya sama persis dengan mata Valeda dan Nyonya Emely. Rambutnya disisir rapi ke belakang, walaupun Lucas hanya mengenakan polo shirt. Lucas tampak rapi dan anggun.


"Mendengar kamu memiliki pacar seorang yang biasa, aku jadi kaget," tambah Lucas. "Aku pikir, Mama tidak akan menyetujui hubungan kalian."


"Ya, Nyonya Emely menentang hubungan kami sejak awal," jawab Daniel.


Lucas mengangkat wajahnya. "Lalu, kalian masih bersama?" tanyanya cepat.


Daniel menoleh pada Valeda. "Saya mencintai Valeda. Hanya itu yang bisa membuat kami bertahan."


Valeda tidak bergerak. Mata mereka terpaut lama dan Valeda hampir mempercayai sandiwara Daniel yang sempurna itu. Valeda berdeham untuk menyadarkan dirinya dari imajinasi liar di kepalanya. "Kakak lihat sendiri, kan? Aku baik-baik saja. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan."


"Tunggu, tunggu! Aku ingin tahu lebih banyak. Tentang bagaimana caramu menghindari Mama," jawab Lucas.


Alis Valeda terangkat. "Kami hanya menjalani apa yang kami anggap benar. Tidak ada cara khusus."


"Benarkah?" Lucas tampak tidak percaya. Nada suaranya terdengar sangsi dengan apa yang Valeda ucapkan.


"Sebenarnya Mama belum bertindak apa-apa tentang ini. Semenjak Mama tahu aku menjalin hubungan dengan Daniel dan menentang kami, semenjak itu pula Mama tidak menghubungiku. Mungkin Mama ngambek."


Valeda menangkap sesuatu yang mencurigakan dari Lucas. "Kakak tahu kalau aku tidak mudah dibohongi, kan?" ujar Valeda. "Beralasan ingin tahu keadaanku, tapi yang Kakak tanyakan adalah caraku menghadapi Mama."


Mata Lucas membulat sempurna. Tentu saja dia tidak menyangka bahwa Valeda akan menangkap basah dirinya semudah itu.


Daniel kembali memandang Valeda dan Lucas bergantian. Dia kagum ketika melihat Lucas berwajah cengak karena tebakan Valeda yang tepat. Daniel menyilangkan tangannya di depan dada. Dia semakin tertarik dengan hubungan aneh yang dimiliki keluarga Valeda.


"Benar," jawab Lucas lirih. "Aku memang ingin bertanya masalah Mama."


"Apa hubungannya dengan Kak Lucas?" tanya Valeda.


Lucas diam cukup lama. Dia menunduk, memandang lututnya yang terbalut celana kain berwarna hitam. Valeda tidak buru-buru memintanya menjawab. Valeda tahu, ada yang Lucas sembunyikan dan itu sulit bagi Lucas untuk menceritakan masalahnya. Ditambah, mereka tidak terlalu dekat.


Daniel bergerak, meraih cangkir kopinya. Daniel menyeruput kopinya dengan serius, walaupun sudah dingin. Dia masih rindu dengan rasa manis yang samar dari kopi susu buatan Valeda.

__ADS_1


"Jangan diminum lagi. Aku akan buatkan yang baru. Kopimu sudah dingin," kata Valeda yang melihat Daniel meminum kopinya.


"Tidak usah. Ini pun masih enak," tolak Daniel. "Kamu fokuslah mendengar apa kata Lucas."


Valeda bersandar di sofanya. "Kak, apa Kakak belum bisa bicara sekarang? Sebenarnya, Kakak perlu bantuanku?"


Lucas mengangkat wajahnya. Matanya berbinar karena air mata yang tertahan. "Apa... Apa boleh aku minta bantuanmu?" tanya Lucas dengan suara pelan.


"Tergantung kasusnya," jawab Valeda.


Lucas menarik nafas panjang lagi. "Sebenarnya... Aku memiliki anak."


"APA!?" Valeda bangkit dari duduknya. "Kakak bilang apa!?" serunya.


Daniel yang duduk di sebelah Valeda, ikut kaget. Bukan karena mendengar kabar bahwa Lucas memiliki anak, dia kaget karena Valeda yang menjerit. "Val, tenang dulu," Daniel menarik Valeda untuk kembali duduk. "Dengarkan dulu apa yang mau Lucas katakan."


Valeda duduk dengan enggan. Pikirannya berkecambuk mengenai segala hal. Lucas, kakak yang tidak pernah dia temui bahkan hampir lima bulan, tiba-tiba mengaku mempunyai seorang anak.


Lalu, tiba-tiba dia hadir dan mengakui hal itu di depan Valeda. Bantuan macam apa yang Lucas harapkan dari Valeda?


"Mereka anak kembar yang lucu," tambah Lucas.


"Kembar!?" cicit Valeda makin kaget. Dia menghempaskan dirinya ke belakang saat Lucas tersenyum sumbang. Tangannya terangkat untuk memijit keningnya yang sakit. "Astaga... Kepalaku sakit!"


"Maaf, Val. Aku harus menyembunyikan identitas ibu dan anak-anakku dari media. Itu akan mereka gunakan untuk menjatuhkan keluarga kita," kata Lucas.


"Maka dari itu Kakak tidak bereaksi ketika dicap yang aneh-aneh oleh masyarakat?" tanya Valeda.


Lucas mengangguk saja. "Aku tidak ingin ada masalah."


"Hah!" Valeda mendengus sambil tertawa sinis. "Tapi Kakak malah menciptakan masalah besar!"


"Makanya, aku minta bantuanmu untuk meluluhkan hati Mama. Beliau tidak akan menerima ibu dari anak-anakku. Dia hanyalah gadis desa yang aku temui di Austria. Gadis tidak berpendidikan tinggi dan kami jatuh cinta. Mama tidak akan menyetujui hubungan kami."

__ADS_1


Seketika, Valeda mengerti kenapa Lucas tiba-tiba datang tanpa diundang. Lucas berada di posisi yang sama dengan Valeda. Kakaknya itu jatuh cinta pada orang biasa. Celakanya, dia sampai memiliki anak.


***


__ADS_2