DILARANG JATUH CINTA

DILARANG JATUH CINTA
62. Usaha


__ADS_3

Valeda merasa bersalah pada Celine karena mengajaknya terlibat dalam hal ini. Setelah berbincang dengan Celine kemarin, Valeda semakin ngeri dengan semua yang terjadi. Tapi, dia tidak memiliki pilihan lain. Dia tidak bisa menyelesaikan ini sendirian. Valeda butuh Celine yang cerdas dan memiliki banyak teman untuk membantu.


"Lalu, apa langkahku selanjutnya?" bisik Valeda pada dirinya sendiri. Dia duduk tegak di kursi kantornya sambil menautkan jari-jemarinya yang kurus. Dia mencoba berpikir untuk mencari cara melindungi Daniel dan adik-adiknya. Valeda tahu, ini tidak mungkin berakhir sampai di sini.


"Apa semua ini terjadi karena aku? Daniel terjebak dalam kondisi ini, karena aku?"


BRAK!


Pintu kantor Valeda tiba-tiba menjeblak terbuka dengan kasar, membuat Valeda terlonjak kaget dari kursinya. Celine muncul setelahnya. Wajah Celine terlihat pucat pasi.


Valeda langsung bangkit dari duduknya. "Ada apa?" tanya Valeda. Dia merasa berita yang Celine akan katakan, bukanlah berita baik.


Celine buru-buru menutup pintu di belakangnya dan berjalan cepat ke arah Valeda. Valeda menjadi yakin bahwa Celine akan mengatakan hal buruk, setelah melihat wajah Celine dari dekat.


"Kenapa, Cel?" tanya Valeda sekali lagi.


Celine menggigit bibir bawahnya. Tangannya gemetar. Bintik keringat memenuhi keningnya. "Val, mmm..." Celine tidak langsung menjawab.


"Katakan ada apa!" bentak Valeda gemas.


"Daniel..."


"Apa? Ada apa dengan Daniel?" sambar Valeda.


Celine seakan menahan napas. "Dia diserang sekelompok orang," bisik Celine, seolah kalimat itu tidak mau keluar dari mulutnya.


"Diserang bagaimana?" Valeda menuntut penjelasan yang lebih jauh. Dia memikirkan jawaban terburuk, namun masih berharap kalau bukan itu maksud Celine.

__ADS_1


Celine menyodorkan handphone-nya ke tangan Valeda. Valeda dapat merasakan bagaimana dinginnya tangan Celine ketika menyentuh kulitnya. "Lihat ini," kata Celine.


Valeda menunduk, melihat layar handphone Celine yang menyala. Daniel di dalamnya. Kamera CCTV jelas menangkap sosok dirinya yang tengah berjalan menuju panti asuhannya. Sampai sejauh itu, tidak ada yang aneh. Daniel tiba di depan pintu gerbang panti asuhannya dengan selamat. Dia membuka gerbang dan tidak ada yang terjadi.


Valeda baru mau bertanya lagi pada Celine, ketika tiba-tiba matanya menangkap sesuatu yang mengejutkan.


Sebuah batu bata melayang melewati kepala Daniel. Daniel tersentak dan mundur selangkah. Belum sempat Daniel menoleh ke belakang, batu bata yang lain kembali melayang. Kali ini, batu bata itu mengenai kepala bagian kanan Daniel. Daniel oleng ke depan dan langsung ambruk di atas tanah. Dia memegang kepalanya. Darah merembes dari sela-sela jari Daniel. Tidak sampai di sana. Beberapa orang datang menghampiri dan menendang Daniel dengan membabi buta. Salah satu dari mereka mengeluarkan pisau lipat, lalu menusukkannya sekali ke punggung Daniel.


Valeda membekap mulut dengan tangannya yang bebas. Kakinya gemetar hebat. "Daniel!" suara Valeda terdengar pilu.


"Aku sudah mengirim beberapa orang ke sana begitu melihat kejadian ini," jawab Celine. Dia melirik jam tangannya sekilas. "Aku rasa, saat ini Daniel sedang dalam perjalanan ke rumah sakit."


Valeda mengembalikan handphone Celine ke tangannya. "Kirim rekaman CCTV ini ke email-ku!" perintah Valeda. Dia langsung menyabet tasnya dan berjalan cepat menuju lantai bawah. Celine yang mengetahui ke mana Valeda akan pergi, langsung mengikutinya tanpa banyak bertanya. Dia sibuk dengan handphone di tangannya, meminta Kris segera bersiap dengan mobil Valeda.


Begitu sampai di lantai bawah, Kris ternyata sudah menunggu kedatangan Valeda. Kris segera membukakan pintu belakang mobil. "Silakan, Nona," ujar Kris saat Valeda hampir sampai di hadapannya.


Valeda tidak menjawab, melainkan langsung masuk ke dalam mobil. Celine ikut masuk dari pintu belakang lainnya. Mobil Valeda melaju cepat kali ini. Kris tahu kalau Valeda tidak mau dirinya membuang-buang waktu di jalan. Dari kaca spion, Kris dapat melihat Valeda bergerak gelisah di kursi belakang.


"Aku harus memastikannya dengan mata kepalaku sendiri," jawab Valeda dengan dingin. Dia sendiri kaget dengan nada suaranya yang seperti itu. Tapi, dia tidak bisa berbohong. Hatinya memang sedang gundah karena kejadian yang dia lihat di rekaman CCTV itu.


Valeda merogoh tasnya dan mengeluarkan handphone yang sedari tadi tidak bergeming. Dia membuka email dari Celine, kemudian kembali menonton rekaman tadi. "Cel, apa kamu merasa ada yang aneh?"


Celine melirik ke arah handphone Valeda. "Tentang apa?" dia balik bertanya.


"Lihat!" Valeda membiarkan Celine melihat rekaman itu lebih jelas. "Bukannya ini orang yang sama?"


Kening Celine berkerut. "Orang yang sama dengan siapa?" tanya Celine lagi. Dia benar- benar tidak mengerti dengan apa yang Valeda maksud.

__ADS_1


"Orang-orang di penjara!" jawab Valeda tidak sabar. "Lihatlah!"


Celine memperhatikan arah yang Valeda tunjukkan. "Tapi, di rekaman penjara itu, wajah mereka tidak jelas. Lalu sekarang, kita hanya bisa melihat sekilas. Apa kamu yakin?"


Valeda mengangguk cepat. "Kamu jangan berfokus pada wajah mereka! Lihat, lihat!" Valeda memutar ulang rekaman ke menit ketiga, di saat seseorang menusukkan pisau ke punggung Daniel. Valeda menekan tombol pause dan menunjuk pada tangan pelaku. "Itu, di sana!"


Celine memicingkan matanya. "Ada apa di sana?" Celine masih tidak menangkap maksud Valeda.


"Astaga, Cel! Apa kamu tidak lihat?" protes Valeda. "Orang itu cuma punya empat jari!"


Celine mendekatkan wajahnya ke layar handphone. "Apa?" Celine memokuskan pandangannya. Di detik ketiga, barulah dia sadar dengan apa yang Valeda katakan. "Kenapa aku tidak sadar hal sepenting ini?" desis Celine.


"Kalian membicarakan apa?" tanya Kris dari depan. "Rekaman apa? Siapa yang punya empat jari?"


Valeda dan Celine saling bertukar pandang. "Bukan apa-apa," jawab Valeda cepat, sebelum Celine membuka kartu mereka. "Fokuslah mengemudi!"


Kris menghela napas mendengar jawaban majikannya. Ini bukan pertama kalinya Valeda dan Celine menyembunyikan sesuatu darinya. Kris memang bisa dikatakan dekat dengan Valeda, namun, dia sadar dengan batasan yang tidak boleh dia lewati. Menjaga privasi Valeda adalah salah satu prioritas Kris.


Valeda kembali kepada Celine yang terdiam di kursinya. "Selidiki!" bisik Valeda.


Celine mengangguk mengerti. Walaupun tidak akan mudah mencari orang dengan empat jari di tangan kanannya, Celine harus tetap mencobanya. Setidaknya, ada titik terang dari kejadian ini.


Valeda duduk tegak kembali. Tangannya terlipat di depan dada. Ekspresinya terlihat serius. Dia bertekad menemukan orang itu, bagaimana pun caranya. Lalu, dia akan bertanya apa motif dari tindakannya yang membuat Daniel jadi seperti ini.


Hati Valeda teriris setiap kali melihat Daniel murung. Dadanya sakit dan ia ingin memeluk Daniel sekuat-kuatnya. Tapi, hal ini hanya bisa dia pendam dalam hati, karena kontrak yang telah dia buat sendiri.


***

__ADS_1


Terima kasih untuk para pembaca yang masih setia menunggu update.


Maaf, ini sedikit terlambat. Saya dalam kondisi kurang prima.


__ADS_2