
"Tidak! Aku tetap menentang!" cicit Nyonya Emely. "Aku tidak bisa membiarkan putriku satu-satunya menjalin hubungan dengan laki-laki yang tidak punya pekerjaan tetap seperti kamu!"
Daniel tetap menjaga senyuman di bibirnya. "Tapi, sekarang saya adalah salah satu pegawai di sini. Saya memiliki penghasilan tetap," jawab Daniel penuh percaya diri, membuat Nyonya Emely cengak dan Tuan Suherman menahan tawa.
Valeda hanya bisa diam. Dia sudah menyangka bahwa Daniel akan sepintar itu dalam menjawab. Daniel pintar bersilat lidah. Pilihan Valeda saat ini hanya percaya dengan kemampuan Daniel menghadapi orangtuanya.
"Papa! Pecat dia!" rengek Nyonya Emely.
"Mana bisa. Ini bukan kantorku," jawab Tuan Suherman sambil mengangkat bahu. Nyonya Emely sudah hampir meledak emosinya lagi, ketika Tuan Suherman mengusap lengannya, meminta Nyonya Emely sabar. "Papa ke sini hanya untuk melihat pacar Valeda, bukan memulai perselisihan."
Nyonya Emely mendengus keras. "Terserah!" jawabnya, kemudian berlalu dari ruangan Valeda.
Tuan Suherman hanya bisa menghela nafas menghadapi temperamen istrinya. "Maaf, istriku belum bisa menerima anak gadisnya ini telah tumbuh dewasa," ujar Tuan Suherman.
"Apa Papa menerima?" tanya Valeda.
Tuan Suherman tersenyum. "Datanglah makan malam di acara keluarga besok," kata Tuan Suherman.
"Kami ada urusan, Pa," tolak Valeda.
Tuan Suherman berdiri dari duduknya. "Datanglah!" katanya sekali lagi. Nada bicaranya menegaskan bahwa itu adalah sebuah perintah. "Papa pamit. Masih ada urusan lain."
Daniel dan Valeda ikut berdiri. Mereka mengikuti Tuan Suherman ke luar ruangan. Celine dan yang lainnya berdiri lalu membungkuk mengantar kepergian Tuan Suherman.
"Sampai sini saja," ujar Tuan Suherman ketika pintu lift terbuka. Beliau langsung masuk ke dalam dan menekan tombol ground floor.
"Sepertinya aku akan dibantai habis-habisan di acara makan malam besok?" Daniel mengira-ngira.
Valeda menyibak rambutnya ke belakang. "Aku lupa kalau besok adalah acara tahunan keluarga besar kami."
"Jangan bingung dan cemas," Daniel membelai kepala Valeda.
Valeda sempat kaget dengan perlakuan Daniel. Tapi, dia segera sadar bahwa semua karyawannya tengah memperhatikan mereka. "Ayo kita masuk dulu," ajak Valeda.
__ADS_1
Merekapun berjalan beriringan kembali masuk ke dalam ruangan Valeda, untuk menghindari tatapan para karyawan.
"Bagaimana aku tidak cemas?" ujar Valeda saat Daniel menutup pintu di belakangnya. "Semua keluargaku akan berkumpul. Tidak hanya keluarga inti, tapi juga keluarga dari Papa dan Mama. Astaga! Keluarga intiku saja sudah membuatku pusing!" keluh Valeda.
Daniel duduk di sofa yang beberapa saat lalu dia tinggalkan. "Apa yang harus aku waspadai?" tanya Daniel. Dia sendiri sebenarnya gugup, karena kapan saja jika dia salah bertindak, kedoknya akan terbongkar. Lalu, kesepakatannya dengan Valeda akan berakhir saat itu juga.
"Semuanya!" jawab Valeda frustasi. "Papa, Mama, Kak Alex, Kak Joan, dan lainnya! Terutama Kak Joan! Astaga, dia akan ada di sana juga!"
Daniel bukannya tidak mengira bahwa hari ini akan tiba. Walaupun hanya pura-pura, Valeda bukanlah orang biasa. Bersandiwara mencintainya sama saja dengan menyerahkan hidupnya. "Tidak apa. Aku akan berlaku sesopan mungkin dan tidak akan mencoreng nama baikmu."
"Kalau ada sesuatu yang terjadi di luar kendalimu--"
"Tidak akan ada yang di luar kendaliku," potong Daniel cepat. Daniel yang terlihat yakin membuat Valeda bernafas sedikit lega.
Valeda menghempaskan diri ke kursi kerjanya. "Aku bisa percaya kamu?" tanya Valeda.
Daniel mengangguk. "Aku tidak akan menyia-nyiakan uangmu."
"Aku bahkan bisa memberimu bonus kalau kau bisa lolos besok," tambah Valeda.
"Bukan tidak berarti," sahut Valeda. "Aku hanya ingin nyawaku aman di tanganmu."
Daniel menggaruk dagunya. "Aku tidak mau bonus," kata Daniel. "Aku mau kamu memasak sesuatu untukku."
Valeda menganga, tidak percaya dengan apa yang dia dengar. "A..." dia tidak bisa mencari alasan.
"HAHAHAHAHA!" Daniel terbahak. "Sudah aku duga! Masakanmu tidak enak!"
Wajah Valeda memerah ketika mendengarnya. Tangannya menyabet pulpen dan melemparnya ke arah Daniel. "Berhenti tertawa!" seru Valeda kesal.
"HAHAHAHAHAHAHA!" tawa Daniel malah semakin kencang, seakan menantang Valeda untuk berduel.
Valeda bangkit dan langsung menghampiri Daniel. Dia mencubit pipi Daniel dengan gemas. "Berhenti! Berhenti tertawa sekarang juga!"
__ADS_1
"Nona, Nona! Hahahaha, ini sakit, Nona!" jawab Daniel, masih dengan tawanya. Namun dia tidak menepis tangan Valeda, karena dia sendiri merasa pantas diberi hukuman.
Wajah Valeda semakin memerah, seakan asap keluar dari ubun-ubun kepalanya saking malunya Valeda. "Stop, Dan!" Valeda menutup mulut Daniel dengan tangannya. Valeda sempat tertegun ketika telapak tangannya menyentuh bibir Daniel yang lembut dan hangat.
Daniel masih terkekeh walau mulutnya dibekap. Tangannya bergerak memegang pergelangan tangan Valeda. Dia membuka tangan Valeda perlahan. "Maaf," ujarnya seraya nyengir. "Aku keterlaluan. Maaf."
Valeda tidak berkutik. Dia bingung dengan reaksi tubuhnya saat itu. Jantungnya berpacu sangat cepat, matanya menjadi tidak fokus, otaknya berhenti, dan tubuhnya mematung.
Daniel menyadari Valeda yang kehilangan kesadaran. "Val?" panggilnya. Valeda masih tidak bereaksi. Daniel mengulurkan tangannya, lalu menyentuh pipi Valeda. "Valeda?"
Mata Valeda mengerjap, kaget dengan hangatnya tangan Daniel. "Hah? Apa?"
"Kamu baik-baik saja?" tanya Daniel, bingung mendapati Valeda hanya diam. "Ada apa?"
Valeda menggeleng canggung. "Ti-tidak, tidak apa-apa," jawabnya gugup. Valeda memalingkan wajah dan pergi dari hadapan Daniel.
Daniel melirik jam tangannya. "Aku akan antar kamu pulang."
Valeda menoleh cepat. "Kenapa?" tanyanya.
Daniel menelengkan kepalanya. "Kamu terlihat tidak baik-baik saja," jawab Daniel. "Aku akan antar sampai apartemenmu. Kalau kamu mau, aku juga bisa buatkan makan malam."
"Tidak usah, tidak usah," tolak Valeda cepat. "Aku baik-baik saja. Aku cuma perlu duduk."
Daniel makin tidak percaya dengan Valeda. "Aku berkeras, Nona," katanya.
Valeda duduk di kursi kerjanya. Dia menatap Daniel lekat-lekat. Valeda mengatur nafasnya yang tersengal, tidak tahu karena apa. Dia memaksakan otaknya untuk kembali bekerja. Dia tidak begitu mengerti kenapa rasanya menyesakkan setiap kali berdekatan dengan Daniel.
"Aku akan menunggumu di luar. Satu jam lagi, kita pulang bersama. Jangan berpikir untuk lembur. Istirahatlah dengan tenang sesekali," kata Daniel. Dia menunggu jawaban dari Valeda untuk beberapa saat, namun Valeda hanya membalas pandangannya. Daniel bangkit, dan berlalu dari ruangan Valeda.
Valeda menarik nafas panjang ketika Daniel sudah menghilang dari jangkauan pandangannya. "Apa yang terjadi?" tanyanya pada dirinya sendiri. "Ada yang aneh. Aku harus konsultasi dengan dokterku tentang ini. Sepertinya ini hal yang serius, karena aku tidak bisa mengendalikan diriku."
Valeda meraih smartphone-nya dan mengetik e-mail ke dokter pribadinya, membuat janji untuk bertemu. Setelah menekan tombol kirim, Valeda bersandar kembali ke kursinya.
__ADS_1
Desiran aneh yang Valeda rasakan tadi, masih membekas di kepalanya. Dia merasa aneh, sekaligus ketagihan. Dia menyukai desiran itu, namun juga mempunyai pikiran untuk berhati-hati.
***