
Valeda memandang wajah Daniel saat sedang tertidur. Matanya bengkak karena terlalu banyak menangis. Dia pasti lelah sekali dengan segala hal yang terjadi hari ini.
Valeda melirik jam tangannya. Jam menunjukkan pukul sebelas malam. Cahya baru saja selesai operasi dan saat ini masih dalam pengaruh obat penghilang nyeri. Sementara Wahyu, masuk ruangan ICU dan jam besuk sudah berakhir.
Valeda menyibak rambut Daniel, membuat Daniel bergerak gelisah di tempat tidurnya. "Kamu menjalani hidup yang berat," gumam Valeda. Dia kemudian berdiri dan memutuskan untuk pergi dari kamar rawat inap Cahya. Mereka perlu istirahat yang banyak malam ini.
Ketika melewati lorong rumah sakit, handphone di tasnya melantunkan lagu kesukaan Valeda, menandakan ada yang menghubunginya. Valeda segera mengangkat telepon. "Halo, Cel, ada apa?" sapa Valeda.
"Ada yang aneh, Val," jawab Celine setengah berbisik.
Valeda berhenti berjalan. Dia duduk di salah satu kursi yang ada di lorong rumah sakit. "Masalah apa?"
"Aku akan langsung bicara ke intinya," ujar Celine. "Orang yang menabrak ketiga adik Daniel, meninggal di penjara. Menurut temanku yang bekerja di kepolisian, dia meminum racun untuk bunuh diri."
"Aku tebak, dia bunuh diri karena merasa bersalah telah menabrak tiga orang dalam keadaan mabuk?" terka Valeda.
"Kemungkinan besar seperti itu. Tidak ada bukti apapun yang memperkuat alasannya bunuh diri. Kata temanku, hal itu cukup mencurigakan."
Valeda makin mengerutkan keningnya. Sebenarnya, dia tidak percaya sepenuhnya dengan kabar bunuh diri itu. "Apanya yang mencurigakan?" tanya Valeda.
"Menurut teman satu sel pelaku, pelaku tidak ada alasan kuat untuk melakukan hal itu," Celine menjawab dengan nada pelan. "Malah, pelaku sangat bahagia dan menerima takdirnya berada di penjara."
Valeda mengedarkan pandangan. Dia memastikan tidak ada yang mengupingnya. "Dia bahagia?" tanya Valeda memastikan.
"Aku yakin dengan apa yang aku dengar. Orang itu bahkan menceritakan keluarganya pada beberapa temannya di tahanan," jelas Celine. "Apakah mungkin, orang yang berniat mati, mengatakan hal-hal seperti itu?"
Valeda menggeleng. "Ada sesuatu yang disembunyikan," bisik Valeda. "Cari tahu apa itu secepatnya. Ungkap apa yang terjadi sebenarnya."
"Ya, aku mengerti," jawab Celine.
Valeda menutup teleponnya. Dia perlu berpikir sejenak. Memang ada yang tidak beres di sini. 'Ada yang membunuh Yano," batin Valeda.
"Cinta!"
Valeda terperanjat mendengar suara Rangga. Valeda menelan ludah dengan susah payah. Dia memastikan bahwa tidak ada suara yang keluar saat dia berpikir tadi. Valeda tidak ingin siapapun tahu tentang hal yang dia selidiki bersama Celine, bahkan bila itu Rangga sekalipun.
__ADS_1
"Ternyata kamu di sini," Rangga duduk di sebelah Valeda.
"Kenapa kamu bisa ada di sini?" tanya Valeda.
"Aku menunggumu di apartemenmu, tapi kata Abrah, kamu belum kembali," jawab Rangga. "Jadi, aku bertanya pada Kris dan dia memberitahuku ada kecelakaan. Lalu, aku menemukanmu di sini."
"Ooh..." hanya itu yang keluar dari mulut Valeda. Dia tidak tahu bagaimana harus menanggapi Rangga. Tidak mungkin dia membicarakan kejadian menyakitkan yang terjadi pada Yano atau adik-adik Daniel yang lainnya.
"Kamu sudah makan?" tanya Rangga.
Valeda mengangguk, walaupun hanya tiga sendok nasi yang masuk ke mulutnya. "Aku baru akan pulang."
Rangga mengedarkan pandangan. "Apa Daniel tidak bersamamu?" tanya Rangga.
"Dia sedang istirahat sambil menemani adiknya yang baru selesai operasi." Valeda bangkit dari duduknya. "Aku akan pulang sekarang. Sebaiknya, kamu juga pulang."
"Biar aku antar," tawar Rangga sembari ikut berdiri.
Valeda mengangguk lagi untuk menjawab, kemudian dia memimpin jalan menuju tempat parkir. Valeda memilih bungkam. Dia tidak tahu pembicaraan apa yang harus dia buat untuk mencairkan suasana.
Rangga yang menjajarkan langkahnya di samping Valeda, seakan mengerti dengan kekalutan yang Valeda alami. Rangga ikut berjalan dalam diam. Membiarkan Valeda tenggelam dalam pikirannya sendiri.
***
Valeda menyilangkan tangan di depan dada. Laki-laki bernama Adimas yang datang untuk makan siang bersamanya, sudah menjelaskan kronologis yang terjadi pada pelaku kecelakaan yang melibatkan ketiga adik Daniel.
Adimas adalah teman Celine yang bekerja di kepolisian. Celine sengaja mempertemukan Valeda dan Adimas untuk membahas masalah ini. Kebetulan, Adimas adalah tipe orang yang cepat akrab dengan orang lain dan memiliki banyak teman. Tidak sulit baginya untuk mendapatkan informasi dari siapapun.
Sejak awal perbincangan mereka, Valeda sudah bisa menebak kalau Adimas adalah orang yang mudah untuk disukai. Dia pandai membuat Valeda nyaman untuk bicara dengannya dalam waktu singkat.
"Ya, aku juga berpikir begitu," Valeda membenarkan. "Mana mungkin orang yang memikirkan untuk mati, malah berbelok menjadi bunuh diri?"
Adimas tersenyum kecil sambil menggeleng. "Bukan itu yang aku maksudkan," ujar Adimas. Dia membungkuk di atas meja, agar lebih dekat dengan Valeda.
Valeda ikut membungkuk di atas meja. "Lalu apa?" tanya Valeda.
__ADS_1
"Kenapa ada racun di sana?" bisik Adimas.
Valeda tidak berkedip mendengar pernyataan Adimas. Dia mencoba memikirkan segala kemungkinan yang ada, namun kasus seperti ini tidak pernah dia temui. "Ke...napa?" tanyanya lambat-lambat.
Adimas melebarkan senyumannya. "Ada yang memberikannya pada si pelaku," desisnya.
"Tolong jelaskan lebih terperinci lagi," pinta Valeda.
"Jadi, sebelum pelaku masuk ke sel tahanan, pastinya segala jenis benda milik pelaku akan ditahan terpisah. Barang apapun tidak akan bisa masuk bersama dengan pelaku. Kalau pelaku membawa sejenis racun, pihak kepolisian akan segera tahu. Tapi, pelaku malah meninggal setelah menenggak racun," Adimas menjelaskan.
Alis Valeda berkerut. "Maksudmu, ada seseorang yang membunuh si pelaku?" tanya Valeda.
Adimas mengangguk bersemangat. "Ada yang mencoba membungkam mulut si pelaku," sambung Adimas.
"Untuk apa?" suara Valeda bergetar. Dia ngeri dengan kemungkinan yang Adimas katakan.
Adimas mengangkat bahunya. "Bisa karena berbagai alasan." Adimas membenahi posisi duduknya. "Celine bercerita, kecelakaan itu melibatkan pacar Nona?"
Valeda mengangguk. Mendengar pernyataan bahwa Daniel adalah pacarnya, membuat jantung Valeda melaju cepat untuk beberapa detik. "Ya, kamu benar. Adik-adiknya yang lain mengatakan bahwa Daniel punya banyak musuh."
"Ck, ck, ck," Adimas berdecak tidak percaya. "Aku mengerti kalau dia mau melindungi panti asuhan itu. Sebelum bertemu dengan Nona, pastinya dia bekerja dengan sangat keras untuk melindungi adik-adiknya di sana. Tapi. sekarang semua menjadi rancu. Apakah orang yang mencelakai adiknya adalah orang yang membencinya atau karena Nona sendiri."
Valeda menunjuk dirinya. "Aku?" tanya Valeda.
Adimas mengangguk dengan yakin. "Apakah Nona tidak memperhitungkan hal-hal semacam ini? Misalkan saja, rival Nona atau orang yang mencintai Nona?"
"Kenapa mereka melakukan itu pada adik-adik Daniel?"
"Jangan naif, Nona," ujar Adimas pelan. Dia tidak mau membuat perempuan di depannya tersinggung dengan ucapannya. "Anda berpacaran dengan Daniel. Daniel mencintai adik-adiknya. Membuat satu atau dua adiknya terluka, akan menimbulkan kekacauan dalam diri Daniel. Lalu, Nona akan terpengaruh."
"Lanjutkan!" kata Valeda ketika melihat Adimas membuka mulutnya, namun menutupnya kembali.
"Keuntungan yang didapat rival Anda, adalah menurunnya kinerja yang Nona berikan," jawab Adimas. "Lalu, keuntungan yang didapat dari orang yang mencintai Anda—"
"Stop!" perintah Valeda. Tidak tahu kenapa, dia merinding karena tahu apa kelanjutan dari kalimat Adimas. Karena kalimat itu, Valeda tidak bisa untuk tidak curiga pada keluarganya.
__ADS_1
***
Terima kasih untuk semua pembaca setia yang sudah menunggu update novel saya 😊