DILARANG JATUH CINTA

DILARANG JATUH CINTA
36. Tertarik


__ADS_3

Valeda mengedarkan pandangannya ke segala arah, mencoba mencari sosok Daniel yang beberapa menit lalu meninggalkannya. Sebenarnya, Valeda sendiri tidak begitu mengerti kenapa Daniel semarah itu. Yang pasti, ada kesalahpahaman terjadi di antara mereka. Valeda tidak mau hal itu menjadi besar dan merusak rencana yang sudah dia susun baik-baik. Apalagi, mencari laki-laki berkompeten seperti Daniel sangatlah susah dan pastinya memerlukan banyak waktu.


"Ada apa, Nona?" Kris yang berhasil menyusul Valeda, menjadi bingung dengan tingkah laku atasannya. "Anda mencari Daniel?" tanya Kris lagi.


"Apa kamu melihatnya?" Valeda balas bertanya.


"Daniel sudah naik taksi daritadi," jawab Kris. "Aku rasa, dia sudah lumayan jauh, berhubung tidak banyak kendaraan pada jam segini."


Bahu Valeda merosot mendengar jawaban Kris. Artinya, Daniel sudah lumayan jauh dari rumahnya. Pikiran Valeda menjadi kosong. Valeda menyampirkan jas Daniel di bahunya. Wangi tubuh Daniel masih tercium jelas. "Kris..."


"Ada apa, Nona?"


"Aku tidak begitu mengerti. Tapi, aku rasa ada kesalahpahaman antara aku dan Daniel," jawab Valeda pelan. Ada rasa menggebu yang aneh di dalam dada Valeda.


"Sudah pukul sepuluh malam, Nona. Jika memang kalian sedang berselisih paham, bisa Nona selesaikan besok," usul Kris.


"Tapi aku ingin bertemu dengannya sekarang."


Kris tersenyum mendengar pengakuan Valeda. "Kalian sama-sama lelah. Tidak baik jika bicara sekarang. Akan ada lebih banyak emosi dan kata berbaikan akan menjadi lebih jauh."


"Memangnya apa yang kamu tahu tentang itu?" protes Valeda. "Kamu sendiri tidak ada di sana saat Daniel marah."


"Apa Daniel marah setelah Nona bicara dengan Tuan Rangga?" tanya Kris.


Valeda mengingat sejenak. "Sepertinya iya."


"Rupanya Nona masih seakrab dulu dengan Tuan Rangga, ya?" ujar Kris.


"Tentu saja aku akrab dengan saudara dekatku," sahut Valeda. "Aku juga akrab dengan kamu dan Celine walaupun kita bukan saudara. Apa yang salah dengan hal itu?"


"Jika Nona bicara hal ini dengan Celine, dia akan lebih bijak dalam menasehati. Jika aku yang bicara, itu seperti aku memihak pada Daniel," jawab Kris.


Valeda menyilangkan tangan di depan dada. Dia kesal karena Kris sendiri juga bermain teka-teki seperti Daniel. Meski begitu, Valeda setuju kalau saat ini bukanlah waktu yang tepat untuk bicara dengan Daniel. Kalaupun dia menyusul Daniel, dia akan tiba di panti asuhan larut malam. Adik-adik Daniel sudah tidur dan Valeda hanya akan mengganggu mereka.


"Baiklah, kita kembali ke apartemen saja sekarang. Aku akan pamit dulu pada orangtuaku," putus Valeda pada akhirnya. Valeda kembali masuk menyusuri jalan setapak menuju halaman belakang rumahnya, untuk berpamitan pada orangtuanya. Selama berjalan, dia memikirkan alasan yang tepat kenapa Daniel tidak bersamanya, agar Tuan Suherman ataupun Nyonya Emely tidak curiga.


***

__ADS_1


"Ada apa, Val?" Celine masuk ke dalam ruangan Valeda sambil membawa secangkir kopi. "Kamu bisa menceritakannya sekarang?"


Celine sudah penasaran dengan cerita Valeda semenjak dia menjemput Valeda di apartemennya tadi pagi. Tentu saja Celine langsung sadar kalau sahabatnya ini ada masalah. Valeda tidak menghabiskan sarapannya dan tampak lesu sejak bangun tidur.


"Ada yang aneh dengan Daniel," kata Valeda.


Celine berdiri di sebelah meja Valeda seraya memeluk nampan yang dia bawa. "Jadi, alasanmu murung sedari tadi, adalah Daniel?" Celine memastikan.


"Kamu tahu, kan? Kemarin aku dan dia pergi bersama ke acara makan malam keluargaku. Awalnya, semua berjalan baik. Malam itu sangat indah, menurutku. Tapi, tiba-tiba saja dia marah."


"Daniel bukan tipe orang yang akan marah tanpa sebab," jawab Celine.


"Ya, aku tahu itu. Dia pasti punya alasan yang bagus kenapa sampai marah begitu," timpal Valeda.


"Memangnya apa yang kamu lakukan?" tanya Celine.


"Tidak ada yang aneh," jawabnya. "Awalnya berbincang dengan Mama dan tante-tanteku, lalu Kak Joan, kemudian Kak Alex, setelah itu beberapa sepupuku dan juga saudara Papa."


"Ada yang lainnya?" selidik Celine dengan mata menyipit.


Valeda menyeruput kopinya sekali sebelum menjawab. "Terakhir, kami ngobrol dengan Rangga."


Valeda mengangguk. "Iya. Semalam dia sampai dan langsung ke rumahku untuk menjemput ibunya."


"Wah! Adikku akan heboh kalau mendengar Rangga pulang! Bagaimana visualnya sekarang? Apa dia masih tampan? Apa dia bertambah tinggi?" cerocos Celine. Dia terlihat sangat senang mendengar Rangga pulang.


"Yang heboh itu kamu sendiri, Cel," sahut Valeda. "Rangga memang bertambah tinggi dan dia sekarang jago bersolek. Kalau adikmu mau, aku bisa mengatur makan siang untuk kita berempat. Akan canggung kalau aku mengatur makan siang hanya untuk mereka berdua."


"Asyik!" Celine bertepuk tangan, heboh sendiri. "Sudah lama aku tidak ngobrol dengan laki-laki ceroboh satu itu!"


Valeda terkikik mendengar pengakuan Celine. "Dalam lima tahun, bisa saja dia tidak seceroboh yang kamu ingat."


"Sifat itu susah dirubah, Val," tukas Celine. "Oh iya! Kembali ke topik!"


Valeda menghela nafas karena dia sendiri lupa dengan tujuannya curhat. "Lalu, apa yang membuat Daniel marah begitu?"


"Rangga," jawab Celine cepat.

__ADS_1


Valeda mengerutkan alisnya. "Apa hubungannya dengan Rangga? Daniel bahkan tidak mengenal Rangga. Tidak ada alasan Daniel marah tentang hal itu."


Celine terkikik mendengar perkataan Valeda. "Apa Rangga masih memanggilmu dengan sebutan 'Cinta'?" tanya Celine.


"Ya. Dia masih memanggilku begitu. Memangnya kenapa?"


"Hhh, kamu perlu banyak belajar menghadapi lawan bicaramu, Val," Celine menasehati.


Valeda makin tidak mengerti. Dia merasa jadi semakin bingung setelah bicara dengan Celine. Padahal, Kris mengatakan kalau Celine akan memperjelas semuanya. "Aku tidak suka jika kamu bermain kata seperti ini," kata Valeda, sebal.


"Daniel menaruh perhatian padamu, Val."


"Memang seharusnya begitu, kan? Dia harus bersikap maksimal karena aku membayarnya mahal," sahut Valeda.


"Bukan hanya sekedar itu," jelas Celine. "Dia menaruh perhatian layaknya laki-laki pada perempuan yang mereka suka."


"Hahahahaha! Jangan melawak!" Valeda tertawa mendengar penjelasan Celine.


"Apa yang membuatmu berpikir kalau aku sedang melawak?" tanya Celine.


Valeda menghentikan tawanya. Dia memandang Celine lekat-lekat. "Karena peraturan pertama dari kontrak kami adalah 'dilarang jatuh cinta'," Valeda menjawab.


"Kamu tidak bisa mengontrol perasaanmu, Val," Celine duduk di sofa depan meja kerja Valeda. "Sama seperti aku pada Kris. Rasanya tenang setiap kali aku ada di dekatnya. Tapi, begitu dia menghilang dari pandanganku, ada rasa khawatir yang mengganggu. Aku juga merasa cemburu setiap melihat dia berbincang dengan perempuan lain."


"Wow! Kamu mengakui perasaanmu segampang itu di depanku saat ini?"


Celine tersenyum simpul. "Tidak ada yang perlu disembunyikan. Kami memang sedang dimabuk asmara."


"Ckckck," Valeda berdecak. Dia merasa heran sekaligus kagum dengan sahabatnya yang akhirnya mau menerima Kris. "Jangan bermesra-mesraan di depanku!"


"Baiklah, baiklah! Tidak ada yang perlu kamu khawatirkan tentang kami," ujar Celine. "Val, apa kamu tidak pernah merasakan sesuatu saat bersama Daniel?"


Valeda menahan nafasnya ketika diberikan pertanyaan semacam itu. "Merasakan apa?"


"Apapun?"


Valeda menggigit bibir bawahnya. Dia tidak berani mengeluarkan suara. 'Apakah yang selama ini aku rasakan adalah sebuah tanda kalau aku tertarik pada Daniel?' batin Valeda dalam hati.

__ADS_1


***


__ADS_2