DILARANG JATUH CINTA

DILARANG JATUH CINTA
22. Wangi


__ADS_3

Kehebohan di kantor Valeda berlangsung lumayan lama. Valeda yang gila kerja, jatuh cinta pada seorang laki-laki sederhana yang bukan merupakan siapa-siapa. Bahkan, saking cintanya, Valeda memberikan peran penting di dalam perusahaan pada laki-laki itu.


Itulah yang orang-orang pikirkan. Dan hal itu pula yang Valeda inginkan. Semua berjalan lancar dan terkendali sesuai rencananya.


Daniel yang memegang peran penting di dalam drama itu, ber-acting sangat lihai bagai aktor profesional. Berkat bakatnya, Valeda tidak sungkan dalam mengalirkan banyak dana untuk kebutuhan anak panti dan operasional panti asuhan milik Daniel.


Berhubung sudah hampir tiga hari Daniel menjalankan tugasnya sebagai pasangan yang baik untuk Valeda, kini giliran Valeda yang menunjukkan bagaimana dia dimabuk kepayang karena cinta dari Daniel.


"Celine, kamu benar bisa atur pertemuan itu, kan?" tanya Valeda. Sebenarnya dia sudah melontarkan pertanyaan itu lima menit yang lalu, namun dia ulangi lagi hanya untuk memastikan bahwa dia tidak perlu khawatir sebelum melimpahkan pekerjaannya kepada Celine.


"Val, aku sudah ikut kamu sejak lama. Kamu bisa percayakan hal sekecil ini padaku," jawab Celine mantap.


"Sekecil apapun itu, tolong jangan kamu anggap remeh," Valeda memperingatkan.


Celine menepuk pundak Valeda. "Fokuslah, Val. Fokus dengan rencanamu," bisiknya sambil memandang Valeda lurus-lurus.


"Kita berangkat sekarang, Nona?" Kris berdiri di sebelah pintu mobil yang telah dia buka daritadi. Daniel terlihat sudah duduk lebih dulu di kursi belakang.


Valeda menarik nafas panjang, lalu menghembuskannya perlahan, sebelum mengikuti Daniel masuk ke dalam mobil.


"Maaf, aku masih kepikiran tentang pekerjaanku di kantor," ujar Valeda begitu duduk di sebelah Daniel.


"Jika Nona sibuk, seharusnya tidak memaksakan diri untuk pergi ke panti asuhan," jawab Daniel.


Valeda menggeleng. "Aku juga harus mengambil hati anak-anak panti. Sehingga jalanku untuk bersamamu akan lancar tanpa hambatan."


Daniel tersenyum mendengarnya. "Nona berkata seperti itu, seolah Nona jatuh cinta pada laki-laki yang telah memiliki anak," goda Daniel.


"Ya, enam belas orang anak," sindir Valeda. "Kris, kamu sudah beli semua bahan yang aku minta?" tanya Valeda, mengubah topik pembicaraan.


Kris melirik dari spion. "Sudah semua, Nona. Ada di bagasi. Tanpa kurang satu hal pun," jawab Kris.


"Jadi, apa yang Nona rencanakan kali ini?" tanya Daniel.


Valeda bersandar dan menyilangkan tangan di depan dada. "Aku akan buat paparazzi yang mengikuti kita menulis berita bagus untuk dikomsumsi oleh publik. Bahkan sampai ibuku mendengarnya."


"Nyonya Emely bergerak lambat kali ini," Kris berkomentar.

__ADS_1


Valeda diam untuk beberapa detik. Dia juga memikirkan hal yang sama. "Aku mulai khawatir jika Mama seperti itu."


"Mungkin saja Nyonya Emely sedang memikirkan ulang tentang kencan buta untuk Nona?" terka Daniel.


"Tidak mungkin!" Valeda bergidik ngeri. "Aku sudah membuat drama sehebat ini. Tidak mungkin Mama masih punya niat untuk menyuruhku ikut kencan buta lagi. Jangan ngawur!" protes Valeda.


"Apa Nona tidak mau menemui Nyonya Emely?" Daniel bertanya lagi.


"Apa kamu gila?" Valeda menjadi galak. "Di saat seperti ini, jika aku menemui Mama, sama saja seperti aku meminta maaf padanya karena jatuh cinta pada laki-laki bukan pilihan Mama."


Daniel tersenyum hambar. "Saya bahkan tidak ingat bagaimana rupa ibu saya," ujarnya lirih.


Valeda melirik Kris dari spion, kebetulan Kris juga membalas lirikan Valeda. Mereka berdua masih memiliki orangtua yang lengkap. Baik Valeda maupun Kris tidak tahu caranya menghibur teman yang tidak memiliki orangtua.


"Tidak usah repot-repot menghibur," Daniel menambahkan. "Itu sudah lama berlalu. Saya sudah tidak begitu sedih lagi."


Valeda bernafas lega mendengar Daniel berkata demikian. Valeda bukan tipe orang yang pintar berbasa-basi, apalagi menghibur orang.


"Maksud saya, selagi orangtua Nona masih lengkap, ada baiknya Nona mencoba terus untuk meyakinkan mereka bahwa Nona bisa bertanggung jawab atas apa yang Nona pilih," kata Daniel.


"Saya setuju dengan Nona Val," timpal Kris. "Saya bahkan tidak mau masuk ke dalam rumahnya jika salah satu kakak Nona Val ada di rumah."


"Nona punya kakak?" tanya Daniel.


Valeda menoleh dengan tatapan tidak percaya. "Kamu tidak membaca mengenai keluargaku di artikel?" tanya Valeda.


Daniel menggaruk kepalanya dengan canggung. "Maaf, saya terlalu sibuk mengerjakan ini dan itu," jawab Daniel.


"Aku akan kenalkan ketiga kakakku nanti. Saat ini, kita perlu fokus membangun opini publik." Valeda mengingatkan.


"Nona juga perlu ingat satu hal. Nyonya Emely adalah orang yang tidak mudah menyerah. Bisa saja dalam diamnya Beliau kali ini, ada rencana yang Beliau siapkan," pesan Kris.


Tanpa terasa, perjalanan mereka yang panjang terlewat begitu saja. Valeda dan Daniel sibuk berdiskusi tentang kesukaan mereka dan hal-hal yang biasa mereka lakukan.


Anak-anak panti yang mengetahui kedatangan Valeda, menyambut Valeda di pintu depan. Memang tidak lengkap, tapi sebagian besar ada di sana. Beberapa dari mereka masih sibuk dengan sekolah sehingga hingga sore belum juga kembali ke panti.


"Sore, anak-anak!" Valeda melambai riang pada penghuni panti asuhan yang menunggunya dengan mata berbinar.

__ADS_1


"Sore, Kak!" balas semuanya serentak.


Valeda tersenyum geli mendengar mereka menjawab seperti sedang membalas sapaan guru mereka di sekolah. "Hari ini, Kakak akan bantu Kak Dan masak untuk makan malam kita. Kalian harus makan yang banyak, ya!"


"Iyaaa!" jawab mereka lantang.


Indah, Lia, dan Nana yang melihat Kris membawa banyak barang belanjaan, segera menghampiri Kris dan mengambil masing-masing satu kantong belanja. Mawar yang awalnya diam, ikut mengulurkan tangannya, meminta Kris memberinya sesuatu untuk dibawa juga.


"Hati-hati, ya," Kris menyerahkan satu bungkus kemasan daging cincang kepada Mawar.


Mawar merasa bahagia karena Kris mempercayakan sesuatu padanya untuk dibawa. Dia benar-benar melangkah dengan hati-hati ke arah dapur, mengikuti ketiga kakaknya yang lain.


"Silakan," Daniel mempersilakan Valeda untuk masuk ke dalam panti asuhannya. "Sebelumnya, apa Nona pernah masak?"


"Aku tidak pernah masuk ke dapur," Valeda mengaku. "Aku pikir, masih ada waktu nanti untuk mempelajari masak-memasak. Ternyata hari itu datangnya cepat sekali."


"Dengan daya ingat Nona yang cemerlang, saya yakin Nona akan cepat belajar," kata Daniel.


Valeda melirik Daniel sembunyi-sembunyi, memperhatikan bagaimana lekukan rahang Daniel yang tegas. Walaupun Kris masih lebih jangkung daripada Daniel, tinggi Valeda hanya sebatas bahu bidang Daniel.


'Hmmm, Daniel ganteng juga,' puji Valeda di dalam hati. Dia tidak begitu memperhatikannya selama ini. Namun, jika Daniel diberi kesempatan, dia bisa menjadi model atau aktor yang menjanjikan.


"Nona, awas!" Daniel menarik tangan Valeda dengan cepat, membuat Valeda limbung dan jatuh ke pelukannya. "Kenapa melamun?"


Valeda mengerjap. Dia baru sadar kalau sedetik lalu, dia hampir menabrak dinding.


"Panti asuhan ini tidak selapang lapangan sepak bola. Nona harus lebih memperhatikan langkah Nona," tambah Daniel.


Valeda terdiam. Wangi tubuh Daniel tiba-tiba memenuhi rongga parunya. Wangi lembut nan maskulin. "Parfum apa yang kamu pakai?" tanya Valeda tanpa sadar.


"Apa?" Daniel cengak. "Kenapa malah membicarakan parfum?"


Valeda menarik dirinya dari dalam pelukan Daniel. Dia hampir lupa diri karena tubuh Daniel yang hangat dan wanginya yang enak. Valeda hampir menutup mata dan tertidur.


"Nona?" Daniel menyelipkan rambut Valeda ke belakang telinga. "Nona tidak apa-apa?"


***

__ADS_1


__ADS_2