
"Aku akan berikan apapun untukmu, Val," kata Lucas.
"Jangan berkata 'apapun' semudah itu, Kak," Valeda memperingatkan. "Jika aku meminta nyawamu, tamat sudah riwayatmu dan keluarga kecilmu."
Lucas menjawabnya dengan menunduk lagi, kembali memandang kedua lututnya. "Maaf, Val," ujarnya pelan. "Kejadian di masa lalu, tidak bisa aku ubah. Aku sangat menyesal. Aku merindukan istri dan kedua anakku. Berpisah sehari saja rasanya menguras tenagaku. Aku ingin mereka bisa tinggal di sini bersamaku. Makanya aku berkata bisa memberikan apapun untuk mereka."
"Aku ada ide," ujar Daniel tiba-tiba. "Istri dan anak Kak Lucas bisa tinggal di panti asuhanku untuk sementara," ujarnya.
"Gila kamu!" Valeda menentang. "Aku tidak mau menambah masalah kita dengan Mama."
Daniel menepuk punggung tangan Valeda sambil tersenyum. "Tugas saudara adalah saling membantu. Kita belum tahu rasanya berpisah dengan anak karena kita belum punya anak. Tapi, aku yakin itu adalah hal yang sulit."
"Bagaimana kamu akan meng-handle hal ini, Dan?" tanya Valeda.
Daniel melirik Lucas sekilas, kemudian menarik pandangannya kembali ke Valeda. "Katakanlah aku sibuk dengan pekerjaanku di sampingmu. Selama aku di kantor, aku memerlukan pengasuh untuk anak-anakku. Aku bisa mempekerjakan satu orang lagi untuk mengawasi istri Kak Lucas di panti asuhan."
"Istriku bisa Bahasa Indonesia," sela Lucas. "Dia juga suka anak-anak. Dia bisa banyak membantu nanti."
"Tidak, aku tidak berencana memberikan tanggung jawab pada istri Kak Lucas. Aku hanya akan meminjam namanya," jawab Daniel.
Lucas sesenggukan. Air matanya berlinang membasahi pipi putihnya. "Aku mengerti sekarang, kenapa Val menyukaimu, Daniel..." ujarnya sambil terus menangis.
"Datanglah kembali dalam seminggu bersama istri Kakak," ujar Valeda. "Aku akan mendiskusikan hal ini dengan Daniel. Rencana selanjutnya, aku kirim lewat e-mail." Valeda mengakhiri pembicaraan mereka.
"Baik, baik. Aku akan menuruti semua katamu," jawab Lucas. Dia berdiri seraya mengusap air matanya. "Aku permisi. Terima kasih sudah membantuku," pamitnya. Lucas berjalan terhuyung menuju pintu keluar.
Valeda menunggu hingga Lucas benar-benar menutup pintu di belakangnya, sebelum bicara kembali. "Apa rencanamu, Dan?" tanya Valeda. "Aku tidak begitu dekat dengan Lucas dan ada kenangan buruk di antara kami."
Alis Daniel terangkat. Lagi, dia menemukan cerita menarik dalam keluarga pacar palsunya itu. "Boleh aku tahu kenangan apa?"
Valeda tersenyum miring. "Rasa penasaranmu semakin besar dan kamu mulai berani bertanya, ya?" sindir Valeda.
"Aku ingin semuanya berjalan lancar dan adik-adikku ada di posisi paling aman," kilah Daniel.
"Oke, oke," Valeda menyerah. "Waktu aku berusia delapan tahun, Lucas pernah menjualku ke perdagangan manusia."
"Hah!?" pekik Daniel. "Kamu pikir, kita sedang ada di dalam sinetron?" Daniel tidak percaya begitu saja dengan ucapan Valeda. "Mana ada kakak yang menjual adiknya ke perdagangan manusia?"
__ADS_1
"Sudah kuduga reaksimu akan seperti ini," sahut Valeda sembari mengangkat bahunya.
"Jadi, itu sungguhan?" desis Daniel. Dia sendiri ngeri ketika bertanya hal itu pada Valeda.
Valeda mengangguk. "Lucas frustasi dengan keadaannya. Dia adalah anak laki-laki ketiga di keluargaku. Mama mengharapkan Lucas setidaknya bisa sejajar dengan kedua kakakku yang lain. Namun, aku mengacaukan segalanya."
"Mengacaukan seperti apa?" tanya Daniel.
"Otakku seencer otak ayahku. Di usiaku yang masih delapan tahun, aku bisa mengerjakan soal-soal anak kelas enam sekolah dasar. Aku bisa memainkan enam alat musik berbeda, bicara sepuluh bahasa dunia, dan jago dalam olahraga."
Plok! Plok! Plok! Plok! Plok!
Daniel bertepuk tangan dengan takzim setelah mendengar perkataan Valeda. "Boleh aku bertanya hal lain?"
"Apa?"
"Apa kamu punya kekurangan?" tanya Daniel.
Valeda mengusap dagunya, berpikir sejenak. "Ada."
"Keluarga yang berantakan," Valeda menjawab yakin. "Ketika aku ke panti asuhan, aku takjub melihatmu mengurus adik-adikmu dengan sabar. Mereka sungguh heboh, tapi kamu tetap tersenyum dengan penuh kasih sayang. Walau tidak punya orangtua dan hidupmu susah, kamu penuh cinta."
"Aku tersanjung mendengar ucapan Nona," kata Daniel dengan senyuman yang lebar. "Oke, kembali ke pembicaraan awal. Lalu, apa yang Lucas lakukan?"
"Dia iri dan dendam padaku, kemudian aku dijual ke penadah manusia," Valeda menjelaskan dengan singkat. Dia tidak mungkin menceritakan bagaimana hari-hari bak di neraka kala itu. Baginya, hal itu terlalu traumatis.
"Bagaimana kamu selamat?" Daniel makin penasaran.
Valeda tersenyum simpul. Pikirannya melayang di saat-saat lalu, ketika dia sudah hampir menyerah dengan hidupnya. Waktu itu, Valeda sudah tidak memikirkan apapun lagi. Dia telah menerima takdirnya yang kelam. "Ada seorang anak laki-laki yang menolongku," jawab Valeda.
"Siapa?" tanya Daniel.
"Aku tidak tahu namanya," jawab Valeda. "Saat itu, semuanya kacau dan aku pikir, hanya itu kesempatanku lari. Lalu, dia muncul dan membantuku. Seorang anak laki-laki dengan bekas luka di kepalanya."
"Wow! Harry Potter?"
"Ngawur!" Valeda meninju lengan Daniel. "Dia anak jalanan, menurutku. Pakaiannya lusuh, rambutnya dipotong sembarang, dan dia bahkan tidak mengenakan alas kaki."
__ADS_1
"Lalu?" Daniel duduk tegak di samping Valeda.
"Anak itu membawaku ke kantor polisi, tapi dia tidak mau ikut ke sana. Katanya, dia bisa ikut ditangkap kalau masuk ke kantor polisi," ujar Valeda.
"Setelah itu, cerita di antara kamu dan anak itu berakhir?"
Valeda mengangguk. "Jujur saja. Aku sudah lupa wajahnya."
"Karena kejadian itu kamu membenci Lucas?" tanya Daniel.
"Aku tidak membencinya. Aku takut dengannya. Makanya aku menarik garis batas di antara kami. Kalau kamu tidak di sini, mungkin aku sudah memanggil security untuk mengusirnya," jawab Valeda sembari mengusap lengannya. Dia merinding setiap kali melihat Lucas.
Daniel menepuk punggung Valeda dengan lembut. "Hebat. Kamu benar-benar perempuan yang hebat," puji Daniel.
"Ya, ya. Sentuhlah aku sesukamu," sindir Valeda.
"Aku bukan berniat lancang," jawab Daniel. "Itu salah satu kontak fisik untuk menenangkan orang. Kamu terlihat ketakutan. Persis seperti Mawar setelah mimpi buruk."
"Aku tidak keberatan," ucapan itu meluncur begitu saja dari mulut Valeda, membuatnya terlonjak kaget. Dia menoleh ke arah Daniel. Daniel tidak bereaksi, hanya diam dan membalas pandangan Valeda. "Makanan!" kata Valeda cepat, untuk mengalihkan perhatian. "Cepat buatkan aku makan malam!"
"Iya, iya, Nona Muda," sahut Daniel sembari berdiri. Dia langsung menuju dapur apartemen Valeda dan membuka kulkas untuk meneliti apa saja bahan masakan yang Valeda miliki. "Kulkasmu lebih kosong dari perkiraanku," komentarnya.
"Aku biasa makan di luar," jawab Valeda.
"Lain kali, aku akan datang membawa sayur dan rempah-rempah. Kamu bisa mencoba memasak sesuatu dengan itu," ujar Daniel. Dia mengeluarkan daging ayam dan beberapa sayuran dari kulkas.
"Aku memang akan belajar masak," sahut Valeda sengit. "Bahkan, masakanku akan lebih enak ketimbang buatanmu."
Daniel terkekeh mendengar Valeda yang ingin bersaing. "Oke, aku tunggu," jawab Daniel.
"Kalau benar masakanku lebih enak, kamu harus memberiku satu permintaan," tantang Valeda.
"Satu? Aku akan memberimu tiga, seperti jin lampu ajaib!" Daniel ikut menantang.
"Aku pegang omonganmu!" seru Valeda. Dia memang tidak bisa untuk tidak tertantang jika berada di dalam kompetisi. Apalagi Valeda melihat Daniel yang tersenyum mengejek kepadanya.
***
__ADS_1