DILARANG JATUH CINTA

DILARANG JATUH CINTA
32. Mengambil Hati (1)


__ADS_3

Valeda menggapai tangan Daniel dan meremasnya. "Jangan gugup," bisiknya sebelum Daniel turun dari mobil.


Daniel menjawab dengan seulas senyuman menawan. Kemudian, dia keluar dari mobil untuk membukakan pintu untuk Valeda. Daniel mengulurkan tangan ketika Valeda menurunkan satu kakinya.


Valeda menerima uluran tangan Daniel. Dia merasa tidak boleh melewatkan kesempatan untuk bergandengan bersama Daniel. "Makasi," kata Valeda saat mereka mulai berjalan berdampingan.


"Ini pertama kalinya aku melihat rumahmu secara langsung," ujar Daniel.


Beberapa mobil mewah tampak sudah terparkir rapi di jalanan rumah Valeda. Sudah banyak anggota keluarga yang datang, terutama saudara-saudara Tuan Suherman.


Lampu taman yang temaram menambah kesan romantis di antara mereka. Daniel dan Valeda melewati jalan setapak yang mengitari rumah Valeda. Langkahnya membawa mereka menuju taman belakang, di mana pesta makan malam diadakan.


Taman bunga milik Nyonya Emely telah disulap sedemikian rupa, sehingga menjadi tempat berkumpul yang luar biasa indah. Lampu hias berkedip-kedip bak bintang. Suara indah biola memanjakan telinga para tamu undangan. Wangi makanan memenuhi sekeliling taman.


"Ayo langsung temui Papa dan Mama," ajak Valeda.


Daniel menghela nafas, kemudian membusungkan dadanya. Dia sudah siap dengan segala hal yang akan terjadi malam ini.


Valeda menarik tangan Daniel menuju salah satu meja, di mana Nyonya Emely tengah duduk sembari bercengkrama dengan bibi-bibi Valeda.


"Selamat malam, Ma," sapa Valeda.


Nyonya Emely menoleh mendengar suara Valeda. Wajah senangnya berubah menjadi kecut ketika mendapati Daniel ada di sebelah Valeda.


"Selamat malam, Nyonya," Daniel sedikit membungkuk. "Selera Anda sangat bagus untuk acara makan malam ini," Daniel menambahkan untuk memuji.


"Kapan kamu datang, Nak?" Nyonya Emely tidak menggubris sapaan Daniel. Terlihat sengaja, memang. Tapi Daniel berusaha untuk tidak memasukkannya ke dalam hati. Dia ingin menjaga suasana makan malam indah ini sampai akhir acara.


"Baru saja, Ma," jawab Valeda. "Apa kakak-kakak Val juga datang?" Valeda mengubah topik pembicaraan.


"Tadi mereka ada di sini. Mungkin sedang menyapa tamu lain," ujar Nyonya Emely. "Kenapa kamu mengajak dia kemari, Val?"


"Emely, kenapa ketus sekali?" sela Nyonya Evan yang duduk di sebelah Nyonya Emely.


"Benar, Em. Tidak baik jika kamu terus menentang hubungan anakmu begitu," sahut Nyonya Reyki.


"Selamat malam, perkenalkan saya Daniel," sapa Daniel pada kedua wanita paruh baya yang duduk bersama Nyonya Emely.

__ADS_1


"Kami sudah tahu tentangmu," jawab Nyonya Reyki. "Kami adalah bibi dari Valeda. Aku Reyki, dan Beliau Evan."


Daniel membungkuk sekali lagi untuk menyapa. "Saya pernah membaca artikel tentang Anda, Nyonya. Kalian sungguh wanita yang luar biasa."


Nyonya Evan dan Nyonya Reyki tertawa bangga mendengar pujian Daniel. "Sudah berapa lama kamu mengenal Valeda, Daniel?" tanya Nyonya Reyki.


"Sekitar dua bulan," jawab Daniel. "Saya jatuh cinta dengan Valeda pada pandangan pertama. Maksud saya, siapa yang tidak jatuh cinta pada perempuan cantik seperti Valeda? Bohong namanya kalau saya berkata saya tidak memandang perempuan dari wajahnya."


"Setiap laki-laki memang begitu, kan?" timpal Nyonya Reyki.


"Kamu benar, Rey," jawab Nyonya Evan. "Jika kita tidak memiliki modal tampang, pastinya suami-suami kita tidak akan memilih kita."


"Orang bilang, wanita yang cantik akan melahirkan anak-anak yang manis," tambah Daniel.


Nyonya Evan dan Nyonya Reyki kembali tertawa. "Andai kamu masih single, Dan. Aku ingin mengenalkanmu pada anakku," ujar Nyonya Evan.


"Apa kalian tidak ingat dengan status sosialnya?" cicit Nyonya Emely. Dia masih tidak setuju dengan hubungan Valeda dan Daniel. "Tidak apa jika perempuan hanya bermodalkan wajah. Tapi jika laki-lakinya yang hanya bermodalkan wajah--"


"Tapi yang aku dengar, Daniel adalah pengelola sebuah panti asuhan?" potong Nyonya Reyki. "Kamu mengelolanya sendirian?"


Valeda menelan ludah dengan susah payah. Lagi, dia hampir terhanyut dengan rayuan gombal Daniel yang pastinya hanya sandiwara belaka.


"Ini seperti mendengar drama 'Romeo dan Juliet' di zaman modern," ujar Nyonya Evan. "Ngomong-ngomong, tiga orang adikmu mendapat beasiswa di universitas ternama, kan?"


"Benar. Mereka sudah berusaha dengan baik," jawab Daniel.


"Kebetulan anakku juga akan masuk universitas itu. Aku akan meminta anakku untuk membantu adik-adikmu di sana nanti."


"Terima kasih banyak, Nyonya!" jawab Daniel cepat dengan senyuman.


"Kalau begitu, aku juga akan meminta anakku bersekolah di universitas itu," sahut Nyonya Reyki. "Setidaknya, anak perempuanku bisa memilih salah satu adik Daniel."


"Wah, kamu sengit juga, ya?" goda Nyonya Evan.


Valeda melirik Nyonya Emely yang hanya diam. Sedikitpun, tidak ada ekspresi merestui dari ibunya itu. Memang tidak mudah meluluhkan hati ibunya yang seperti batu, sama seperti dirinya.


"Malam, Daniel!" sapaan dari seseorang menyela percakapan mereka. "Apa kabar?"

__ADS_1


"Malam, Kak Lucas," balas Daniel. "Aku baik, seperti biasa."


"Kamu sudah pernah bertemu dengan Daniel?" tanya Nyonya Emely pada Lucas.


"Ah... Ya..." Lucas tidak menemukan alasan untuk berbohong. "Aku mencoba memastikan adikku baik-baik saja dengan seorang laki-laki. Jadi, aku menemui mereka."


"Aku tidak menyangka kalian sedekat itu?" Nyonya Emely tampak sangsi.


"Bukankah bagus jika saya bisa membuat mereka dekat?" potong Daniel.


Nyonya Emely menggebrak meja sambil berdiri. Dia mengangkat tinggi dagunya, ingin memperlihatkan bahwa dia sedang marah. "Terserah padamu!" ujarnya dan langsung pergi dari mejanya.


Daniel menghela nafas panjang. "Sepertinya apapun yang aku lakukan akan tetap salah di mata Nyonya Emely," katanya pada Valeda.


"Tidak usah terlalu dipikirkan, Dan," Nyonya Evan menjawab. "Nikmati saja makan malammu."


"Terima kasih, Nyonya."


Tangan Valeda yang masih bergelantung manja di lengan Daniel, tiba-tiba meremas lengan Daniel. Daniel menunduk untuk memastikan. Valeda menjawab pandangan tanya Daniel dengan mengangguk ke arah kerumunan perempuan tak jauh dari tempat mereka berdiri.


"Sepertinya kami harus menyapa kakak Valeda yang lainnya," kata Daniel. "Senang bertemu dengan Nyonya-Nyonya cantik malam ini," pamit Daniel sambil membungkuk.


"Tante, Val ke sana dulu, ya!" Valeda ikutan pamit.


"Iya, pacar gantengmu ini jangan kamu sembunyikan terus," pesan Nyonya Reyki.


Valeda buru-buru menarik Daniel untuk menjauh. Lucas menguntit di belakang mereka dalam diam. "Dia kakak keduaku. Joan," kata Valeda. Tatapan matanya tidak lepas dari gerombolan wanita yang mengelilingi seorang laki-laki jangkung berambut perak.


"Apa kalian akan menyapanya sekarang?" tanya Lucas.


"Kami tidak bisa terus menghindarinya," jawab Daniel. "Apa benar dia yang paling berbahaya?"


"Ya. Dia tipe orang yang akan menghancurkan musuhnya sampai ke akar-akarnya yang terdalam," desis Lucas.


"Asal tidak menjadi musuhnya, aku aman, kan?" tanya Daniel. Dia tidak memikirkan dirinya sendiri yang ada di dalam bahaya. Namun, dia memikirkan adik-adiknya di panti asuhan. Jika sampai dia memiliki musuh dengan reputasi buruk seperti Joan, adik-adiknyalah yang akan rugi.


***

__ADS_1


__ADS_2