DILARANG JATUH CINTA

DILARANG JATUH CINTA
40. Alasan


__ADS_3

"Tapi, semua piyamaku sudah aku sumbangkan," jawab Valeda. Dia menunduk saking malunya. "Aku pikir, ini nyaman. Jadi aku putuskan hanya memakai ini ketika di rumah. Celine sudah memboyong habis semua piyama yang biasa aku pakai."


"Terserah padamu," sahut Daniel. "Ingat saja hal ini, jangan bertemu dengan siapapun ketika memakai baju itu!"


Valeda mengusap punggung tangannya dengan canggung. "Iya, aku tahu." Dia melirik ke arah Daniel yang membuang muka, lalu tersenyum. Valeda merasa bahagia karena Daniel mengkhawatirkannya seperti itu.


"Ehem! Aku akan buat makan malam sekarang," kata Daniel. "Kamu mau makan apa?"


"Hmm," Valeda berpikir sejenak, menimbang ingin makan apa untuk malam ini. "Apa saja, terserah kamu," putus Valeda. Valeda tahu, apapun yang Daniel masak, akan menjadi sangat enak baginya.


Valeda duduk di mini bar-nya sambil bertopang dagu, memperhatikan Daniel yang mengupas bawang. Valeda kagum dengan kecepatan tangan Daniel dalam menggunakan pisau. "Dan, kamu sudah pikirkan untuk lanjut kuliah?" tanya Valeda.


"Apakah harus?" Daniel balik bertanya. "Aku berpikir kalau aku cukup bekerja saja untuk sekarang ini. Adik-adikku lebih membutuhkan pendidikan daripada aku."


"Tapi, selagi masih ada kesempatan, kamu harus mengambilnya, kan?" usul Valeda. "Untuk biaya kuliah, aku akan menanggungnya."


"Kamu sudah ikut campur lebih dari yang kamu janjikan, Val." Daniel memotong bawang yang sudah dia kupas. "Hidupku dan adik-adikku telah banyak berhutang padamu."


"Kenapa kamu menyebutnya 'hutang'?" tanya Valeda. "Bukankah kamu sudah membayarnya dengan menjadi pacarku?"


Daniel mengambil sayur-mayur dari dalam kulkas dan langsung mencucinya. "Sebenarnya kamu bisa memilih laki-laki lain yang lebih mudah untuk ditangani. Tapi, kamu tetap bertahan denganku." Daniel berbalik. "Apa yang aku lakukan, tidak ada artinya dengan semua yang kamu berikan."


Valeda ikut tersenyum mendengar pujian dari Daniel. Dia selalu suka dengan kata-kata Daniel yang meninggikan hatinya. Tiba-tiba saja sebuah ide muncul di kepalanya. "Aku akan membayar biaya kuliahmu, dengan satu syarat tambahan."


"Syarat apa?" tanya Daniel seraya memotong sayur yang sudah dia cuci.


Valeda berdeham sebelum menjawab. Sebenarnya dia sendiri malu untuk mengatakan apa yang dia mau. "Setiap hari Sabtu atau Minggu, kamu harus mengajakku kencan," jawab Valeda pada akhirnya.


"Oke," Daniel menanggapi dengan cepat.


Valeda berusaha keras untuk menyembunyikan kebahagiaannya sekarang ini. Daniel kembali menjadi laki-laki yang dia kenal dan itu membuat Valeda merasa sangat nyaman. Kelembutan Daniel terasa hangat bagi Valeda.


Valeda tidak keberatan sama sekali dengan biaya kuliah Daniel. Jika Daniel memintanya untuk menyekolahkan keenam belas adiknya pun, Valeda akan setuju. Selama Daniel ada di sampingnya.

__ADS_1


Valeda mengerjap cepat, menyadari apa yang baru saja dia pikirkan. Hal gila seperti mau melakukan apapun untuk Daniel, bagaikan seorang remaja yang tengah jatuh cinta.


Daniel menyodorkan mangkuk yang berisikan potongan bawang dan sayuran ke depan Valeda, membuat Valeda tersadar dari lamunannya. "Ayo, belajar membuat fuyung hai," kata Daniel.


"Apa? Sekarang?" tanya Valeda cengak.


"Cuma memecahkan telur, lalu kamu aduk," tambah Daniel sembari menyerahkan dua butir telur ke tangan Valeda.


Valeda memandang telur di tangannya secara bergantian. Dia mengetuk keduanya perlahan, namun tidak ada perubahan pada cangkang telur itu. Lalu, dia mengetuk kedua telur dengan tidak sabar.


"Hei," Daniel menangkap tangan Valeda. "Kalau kamu melakukan itu, telurnya bisa pecah di tanganmu."


"Tapi ini tidak mau pecah!" protes Valeda emosi sendiri. Dia merasa kalah dengan cangkang telur itu.


Daniel menangkup kedua tangan Valeda, lalu mengetuk kedua telur secara perlahan. "Kamu harus mengontrol tenagamu, Val," ujar Daniel.


Kepala Valeda menjadi kosong. Perhatiannya tidak tertuju pada telur di tangannya, namun pada kehangatan tangan besar Daniel. Jantungnya terasa mau copot!


"A-a-aku akan latihan lagi lain kali," jawab Valeda gugup.


Daniel melipat tangannya di atas mini bar. Matanya lurus memandang Valeda. "Kenapa wajahmu merah begitu?" tanya Daniel.


"Ng, aku sedang tidak enak badan," jawab Valeda asal.


Daniel mengulurkan tangannya, menyelipkan rambut Valeda ke belakang telinga. Kemudian tangannya bergerak menyentuh kening Valeda. Valeda memejamkan matanya dan merasakan kejutan listrik yang membuat hatinya girang.


"Apa karena hujan-hujanan tadi?" tanya Daniel.


"Tidak tahu," jawab Valeda, masih dengan mata terpejam.


"Val..." suara Daniel melembut, membuat Valeda membelalak kaget. Dia menahan nafas karena wajah Daniel hanya beberapa senti di depannya.


"A-apa?" tanya Valeda gagap.

__ADS_1


"Apa kamu bisa meminta temanmu itu untuk berhenti memanggilmu 'Cinta'?"


Valeda berpikir sejenak tentang apa yang diminta Daniel secara tiba-tiba. Pandangan mata Daniel yang lurus, membuat otaknya bekerja dengan lamban. "Siapa--"


"Aku tidak perlu menyebut namanya, kan?" potong Daniel.


Tenggorokan Valeda tercekat. Dia akhirnya sadar siapa yang dimaksud oleh Daniel. "Kenapa?" Valeda tidak mengerti. Dia dan Rangga sudah bersahabat sejak kecil. Baginya, itu hal yang lumrah kalau Rangga menggunakan nama panggilan khusus untuknya.


Daniel menyibak rambutnya ke belakang. Salah satu gerakan reflek yang Valeda suka dari Daniel. Dia bangkit dan berbalik memunggungi Valeda. "Kalian sudah dewasa. Panggilan seperti itu tidak cocok untuk kalian," ujar Daniel.


Valeda kembali berpikir. Selama ini, Rangga memang memanggilnya seperti itu. Hal itupun sudah berlangsung semenjak mereka mengintip kakak Rangga menonton drama 'Ada Apa dengan Cinta'. Bukan berarti mereka berpasangan, hanya saja Valeda merasa lebih dekat dengan Rangga karena panggilan itu.


Rangga adalah penyelamat bagi Valeda yang susah bergaul kala itu. Dia juga yang mengajarkan Valeda bagaimana cara agar mudah akrab dengan orang lain. Memang tidak semuanya berhasil, sebagian besar hanya memanfaatkan Valeda karena dia anak orang kaya. Tapi, akhirnya dia bertemu dengan Celine dan juga Kris. Dia berpisah dengan Rangga karena Rangga memilih melanjutkan kuliah di luar negeri waktu itu.


"Apa ada alasan lain?" tanya Valeda. Meminta sahabatnya untuk tidak memanggilnya 'Cinta' lagi, harus dengan sebuah alasan yang kuat. Rangga adalah orang spesial untuk Valeda. Dia telah banyak berhutang budi pada Rangga. Valeda juga tidak mau kalau Rangga sampai tersinggung dengan keputusannya.


"Sudahlah. Lupakan apa yang aku katakan tadi," jawab Daniel.


Valeda bangun dari duduknya. Dia melupakan adonan yang seharusnya dia aduk dan menghampiri Daniel. "Kenapa terus menyuruhku melupakan ini dan itu, sementara kamu sudah mengatakannya?" Valeda menarik lengan Daniel sampai Daniel menghadap ke arahnya.


Daniel masih tidak mau membalas pandangannya. "Aku hanya merasa, kalau beberapa kali aku sudah melewati batas. Memang seharusnya aku tidak mengatakan hal itu," jawab Daniel.


"Bukan jawaban itu yang aku mau, Dan," sanggah Valeda. "Kamu membuatku tidak mengerti. Aku bisa merasakan kalau ada yang mengganjal di antara kita."


Daniel tersenyum masam. "Kamu mengatakan itu seolah kita memiliki hubungan khusus."


"Untuk saat ini, kita memang memiliki hubungan khusus," tandas Valeda.


Daniel mengangkat pandangannya, hingga bertemu dengan mata Valeda. "Benarkah? Apakah lebih khusus ketimbang hubunganmu dengan sahabat kecilmu itu?"


Alis Valeda berkerut. Dia mulai curiga kenapa Daniel sampai tidak mau menyebut nama Rangga dengan mulutnya itu. "Daniel, apa kamu cemburu dengan Rangga?" tanya Valeda.


***

__ADS_1


__ADS_2