
Valeda tidak bergeming melihat kotak di samping piringnya. Dia punya firasat tidak enak mengenai kotak itu. Laki-laki yang berdiri di sebelahnya, terlihat mempunyai aura ramah dan serius. Jadi tidak mungkin kalau itu adalah surprise box yang berisi boneka pop-up menyeramkan.
"Apa ini?" tanya Valeda. Dalam sekejap, nafsu makannya menghilang.
Laki-laki itu tersenyum lebar, kemudian membuka kotak yang dia letakkan barusan. Sebuah kalung bertahtakan berlian merah delima, berkilat tertimpa cahaya lampu restoran.
"Terimalah, Nona," dia berkata dengan dada membusung.
Valeda meletakkan sendoknya dan menyilangkan tangan di depan dada. "Anda bahkan belum memperkenalkan diri," jawab Valeda. "Bagaimana saya bisa yakin kalau Anda bukan salah satu kolega saya yang memberikan suap?"
Laki-laki itu bergerak dan duduk di hadapan Valeda. "Kamu tidak tahu siapa aku?" tanyanya dengan dahi berkerut. "Semua pecinta berlian dan orang kalangan atas sangat mengenalku."
"Saya bukan pecinta berlian," jawab Valeda malas. Dia paling tidak suka dengan orang yang menyombongkan dirinya seperti laki-laki di hadapannya.
"Ya, kamu memang terlihat tidak terlalu menyukai gemerlap berlian. Tapi, berhubung mulai saat ini kita akan sering berhubungan, kamu harus terbiasa dengan berlian-berlian pemberianku," jawabnya.
"Nama Anda, Tuan?" Valeda mengingatkan. Dia lebih tertarik dengan nama orang didepannya.
"Hahaha, maaf!" laki-laki itu tertawa pelan.
Valeda tersenyum kecut menanggapi selera humor lawan bicaranya. Menurut Valeda, pembicaraan mereka tidak ada yang lucu. Dia tidak mengerti kenapa lawan bicaranya tertawa.
"Nama saya Raphael," lanjut laki-laki itu. "Saya anak pemilik tambang permata."
Valeda mengangguk sekali, kemudian melanjutkan makannya. Dia mencoba menghabiskan apa yang sudah dia pesan.
"Kamu lapar?" tanya Raphael.
Valeda menelan makanan di mulutnya. Dia mengusap ujung bibirnya terlebih dahulu sebelum menjawab. "Bukankah kita ke sini untuk makan?" jawabnya.
Raphael mengusap dagu runcingnya. Dia mengangguk, membenarkan perkataan Valeda. "Baiklah, aku juga akan memesan sesuatu."
Valeda mengangkat tangan untuk memanggil pelayan restoran. Begitu pelayan sampai di mejanya, dia menyerahkan sebuah kartu berwarna hitam ke atas nampan yang dibawa pelayan itu.
"Mohon ditunggu, Nona," ujar pelayan itu dan undur diri kembali.
"Apa maksudmu?" tanya Raphael. Senyuman di wajahnya menghilang.
__ADS_1
Valeda melirik jam tangan mungil yang melingkar di pergelangan tangan kirinya. "Saya sudah selesai makan malam," jawab Valeda santai.
"Kamu ngambek?" Raphael mendengus.
"Untuk apa?" Valeda balik bertanya.
"Yah, aku mengerti. Aku terlambat setengah jam. Meskipun aku sudah membawa berlian sebagai permintaan maaf, rupanya harga dirimu lebih tinggi daripada itu," jawab Raphael. "Karena kamu cantik, aku akan mentolerirnya. Apalagi sebentar lagi kita akan menjadi pasangan. Tapi, jangan sering-sering seperti ini. Perempuan cantik di dunia ini bukan hanya kamu,"
Valeda hampir berhenti bernafas mendengar jawaban Raphael. Rupanya, orang kedua pilihan Nyonya Emely sama tidak warasnya dengan yang pertama.
"Aku akan kirimkan lima kalung berlian lagi langsung ke rumahmu malam ini. Jadi, jangan marah lagi," sambung Raphael.
Valeda tidak berkedip memandang laki-laki di hadapannya. Bukan karena kagum, melainkan karena tidak percaya dengan apa yang dia dengar. Sebegitu murahkah harga diri Valeda di depan laki-laki yang baru dikenalnya itu?
"Kenapa tidak cari perempuan cantik lain yang tertarik dengan kalung berlian Anda?" tanya Valeda.
Raphael tidak menjawab. Dia hanya memandang Valeda lurus-lurus dengan senyuman tipis.
Pelayan yang tadi kembali lagi ke meja Valeda. "Silakan, Nona," dia menyodorkan nampan tempat kartu.
Valeda meraih kartunya dan berdiri seanggun mungkin. Meskipun dia tidak tertarik membuat kesan baik untuk melunakkan suasana, Valeda tetap menjaga keanggunan dirinya bagai seekor angsa putih. "Silakan nikmati makan malam Anda, Tuan Raphael. Saya harap, kita tidak bertemu lagi, karena saya tidak menyukai berlian." Valeda melemparkan senyuman simpul, kemudian berlalu dari mejanya.
"Tunggu!" sepasang tangan menghalau pintu lift yang akan tertutup.
Valeda terkesiap dan sempat mundur beberapa langkah, karena mengira bahwa Raphael mengejarnya. Namun, dia dapat bernafas lega setelah tahu bahwa yang muncul bukanlah laki-laki sombong itu.
"Maaf, Nona," ujar Si Penyela lift sambil masuk.
Valeda tidak menjawabnya, karena Si Penyela langsung memunggungi dirinya begitu pintu lift tertutup.
Dering handphone lawas tiba-tiba saja memenuhi ruang lift. Si Penyela merogoh saku jaketnya yang lusuh dan segera menjawab. "Halo, Dik? Iya, iya, Kakak pulang sekarang. Tunggu sebentar," jawabnya cepat dengan nada panik.
Selama berada di dalam lift, Si Penyela tampak gelisah. Dia mengetuk kakinya dengan tidak sabar. Begitu pintu lift terbuka, dia menghambur keluar dengan tergesa-gesa sampai tersandung.
Tanpa sengaja, arah tujuan Valeda dan Si Penyela ternyata sama. Valeda sedikit tertarik karena laki-laki itu begitu buru-buru sampai jatuh terguling dari tangga yang hanya ada lima anak tangga.
"Nona, bagaimana makan malamnya?" sapa Kris yang mendapati Valeda sudah berdiri di lobby hotel. Dia mengikuti langkah kaki Valeda menuju pintu keluar hotel.
__ADS_1
"Jangan bahas itu," jawab Valeda. Matanya masih terpaku pada Si Penyela yang saat ini tengah celingukan di pinggir jalan.
Kris mengikuti arah pandangan Valeda. Dia sempat melihat laki-laki itu berlari melewatinya sebelum Valeda muncul. "Ada apa, Nona?"
"Orang itu," Valeda mengedikkan dagu ke arah Si Penyela, "sepertinya butuh bantuan."
"Saya akan bertanya padanya," jawab Kris dan langsung beranjak dari tempatnya berdiri.
Valeda menunggu di pintu masuk hotel. Dia menyilangkan tangannya di depan dada. Kris bicara dengan wajah serius untuk beberapa saat. Kemudian dia kembali menghampiri Valeda.
"Ada apa?" tanya Valeda.
"Adiknya demam dan sempat kejang. Dia mau kembali ke rumah. Tapi mobil yang dia pakai mengantar pasokan sayur restoran ini, belum selesai menurunkan muatannya."
"Ambil mobil. Kita antar dia," Valeda berjalan cepat menghampiri Si Penyela. Kris berlari ke arah parkiran untuk melaksanakan perintah Valeda.
"Permisi," sapa Valeda.
Si Penyela yang memakai topi menoleh kaget mendengar suara Valeda. "Sorry, aku menghalangi jalan, ya?" dia menyingkir dari tempatnya berdiri.
Mobil Valeda berhenti tepat di depan Valeda. Kris segera turun dan membukakan pintu untuk Valeda. "Dia bisa duduk di depan," pesan Valeda pada Kris yang langsung mengangguk.
Begitu pintu mobil di sebelah Valeda tertutup, Kris segera menghampiri Si Penyela yang masih kebingungan. Sepertinya dia menunggu angkutan umum atau ojek yang lewat.
Tidak lama setelahnya, Si Penyela menyusul masuk ke dalam mobil bersamaan dengan Kris. "Terima kasih banyak!" kata Si Penyela sambil membungkuk berkali-kali pada Valeda.
Selama perjalanan, semuanya menjadi sangat diam. Si Penyela hanya membuka mulutnya saat memberitahukan jalan yang harus Kris lewati.
Valeda juga tidak memilih untuk berbasa-basi berkenalan ataupun bertanya kondisi adik dari Si Penyela. Dia mengirim pesan kepada staf di rumah sakitnya untuk menyusul mereka menuju alamat yang disebutkan Si Penyela.
Si Penyela langsung berlari ke luar mobil begitu Kris menghentikan mobilnya di depan sebuah rumah sederhana dengan pagar kayu setinggi dagu Valeda.
Valeda menengok melewati jendela mobil, melihat papan nama bertuliskan 'Panti Asuhan Matahari Terbit' di sebelah gerbang rumah yang sudah lapuk termakan usia.
"Apa kita ikut masuk, Nona?" tawar Kris.
"Tidak usah. Kita kembali ke apartemenku," jawab Valeda. Bersamaan dengan jawaban dari Valeda, suara sirine ambulance terdengar dari kejauhan. Valeda mengirim pesan sekali lagi untuk memberitahukan bahwa pasien ada di dalam panti asuhan dan membebaskan semua biaya perawatan untuk saat ini.
__ADS_1
***