DILARANG JATUH CINTA

DILARANG JATUH CINTA
63. Bersama


__ADS_3

Valeda masuk ke ruang UGD untuk kesekian kalinya. Dia tidak menyangka, kalau dia akan mendatangi rumah sakitnya sesering ini.


Dia mengedarkan pandangan ke sekitar. Suasana UGD rumah sakitnya lumayan ramai saat itu, seperti hari-hari biasanya.


"Nona Valeda?" seseorang menyebut namanya.


Valeda menoleh dan mendapati seorang laki-laki paruh baya dengan kemeja putih berdiri di dekatnya. "Selamat siang, Dok," Valeda balas menyapa orang yang dia kenal sebagai direktur rumah sakitnya.


"Apa Nona mencari Tuan Daniel?" terka Dokter Alan. "Saya langsung turun untuk memeriksa keadaan Tuan Daniel begitu mendapat laporan dari dokter jaga UGD. Nona tidak perlu khawatir."


Hanya sampai di sana saja, Valeda sudah merasa lega. Dia akhirnya mengerti kenapa mempercayakan rumah sakitnya pada orang seperti Dokter Alan. Selain senyumnya yang menenangkan, Dokter Alan pintar mengendalikan suasana. Beliau mirip dengan Daniel.


"Mari, saya antar Nona menemui Tuan Daniel. Saya akan menjelaskan semuanya ketika Nona sudah melihat Tuan Daniel terlebih dulu."


Valeda mengangguk setuju dengan ucapan Dokter Alan. Dia mengikuti Dokter Alan menuju sebuah tempat tidur yang tertutup tirai biru sepanjang mata kaki.


"Silakan," Dokter Alan membelah tirai agar Valeda bisa masuk.


Valeda menunduk saat melewati Dokter Alan. Dirinya seakan tidak berani melihat Daniel begitu saja, walau mereka hanya berjarak satu meter.


"Val..."


Valeda kaget dan spontan mengangkat kepalanya, saat mendengar suara Daniel. Air mata langsung menggenangi pelupuk matanya. Mata mereka bertemu dan itu membuat Valeda bahagia.


"Kamu di sini," kata Daniel sambil tersenyum.


Valeda langsung memeluk Daniel sambil menangis sesenggukan. Dia tidak bisa menutupi bagaimana leganya dia. Mendapati Daniel masih hidup, membuat Valeda lupa diri.


Daniel membalas pelukan Valeda. Sebenarnya, dia bahagia melihat perempuan itu di hadapannya. Hal pertama yang ingin Daniel lihat ketika membuka mata adalah Valeda. "Hei, hei, jangan memelukku terlalu kencang," pinta Daniel.


Valeda melepas pelukannya. Dia mengusap air matanya dengan kasar. "Apa yang terjadi?" tanya Valeda.


"Ada yang menyerangku. Aku belum tahu maksud mereka," jawab Daniel.


Valeda menoleh pada Dokter Alan yang masih berdiri di dekat kaki tempat tidur. "Bagaimana kondisi Daniel sekarang ini, Dok?" tanya Valeda.

__ADS_1


"Tuan Daniel datang dengan cedera kepala ringan, luka tusuk di bagian punggung, dan beberapa luka di tangan. Menurut orang-orang yang mengantarnya ke sini, Tuan Daniel diserang beberapa orang. Untungnya, luka Tuan Daniel tidak parah. Kami sudah mengobati semua lukanya. Hasil CT scan juga tidak terlalu bermasalah. Tuan Daniel hanya perlu istirahat selama beberapa hari di rumah sakit untuk observasi cedera kepalanya," jelas Dokter Alan.


Valeda mengangguk mengerti. "Terima kasih, Dok. Sekarang, saya minta waktu berdua dengan Daniel," ujar Valeda.


"Baiklah." Dokter Alan mengangguk sekali dan undur diri dari bilik Daniel.


"Bagaimana kamu tahu aku ada di sini?" Daniel membelai kepala Valeda. "Sudah berapa lama kita tidak bertemu?"


"Jangan lebay!" Valeda tertawa pelan, namun air matanya tetap menetes. "Kita baru bertemu kemarin."


"Kamu ini, mau menangis atau tertawa, sih? Pilih salah satu, dong," goda Daniel.


Valeda kembali menghapus air matanya yang membasahi pipi. "Aku takut sekali sampai akhirnya melihatmu."


"Aku tidak akan mati karena hal ini," sahut Daniel.


Valeda meninju lengan Daniel dengan wajah kesal. "Jangan bicara apapun tentang kematian!"


Daniel mengusap pipi Valeda, dia bisa merasakan bagaimana khawatirnya Valeda. Pipinya terasa dingin karena air mata yang terus membasahi.


Tirai terbuka dengan kasar. Valeda sontak menoleh ke belakang. Betapa kagetnya dia ketika melihat kedua orangtuanya berdiri di sana.


"Papa? Mama?" Valeda berdiri dari duduknya. "Kenapa kalian ada di sini?" tanya Valeda.


"Semua orang tahu kamu ada di mana," jawab Nyonya Emely dengan nada ketus. "Apa-apaan ini? Kenapa hal ini bisa terjadi? Lalu, kenapa kamu yang harus jadi topik pembicaraan media, Val?"


Kening Valeda berkerut. "Apa maksud Mama?"


Tuan Suherman menyerahkan tiga buah koran ke tangan Valeda. "Kamu menjadi headline. Semua berita tentang kejadian yang menimpa anak-anak panti asuhan dan juga Daniel," jawab Tuan Suherman.


Valeda membaca judul berita di halaman pertama koran itu satu per satu. Semuanya memang menampilkan namanya, namun dalam konteks yang tidak menyenangkan.


"Kamu harusnya menjaga nama baikmu, Val. Kenapa jadi begini hanya karena laki-laki itu?" desis Nyonya Emely.


Valeda memeluk koran itu. Dia tidak mau kalau Daniel sampai melihatnya. "Val akan tangani ini, Ma," jawab Valeda.

__ADS_1


"Tidak, Val," sahut Tuan Suherman. "Tidak untuk kali ini. Lihatlah, kamu dituduh menjadi penyebab semua kecelakaan ini terjadi."


Valeda menelan ludah dengan susah payah ketika ayahnya mengatakan hal itu di depan Daniel. Sebenarnya, Valeda juga tahu kemungkinan hal itu terjadi. Valeda memiliki banyak pesaing bisnis. Akan ada banyak celah bagi mereka yang ingin menjatuhkan Valeda, jika Valeda memiliki seseorang yang lemah di sampingnya.


"Kamu harusnya berpacaran dengan orang yang bisa melindungimu dan juga melindungi perusahaanmu," tambah Nyonya Emely.


"Jika sudah seperti ini, kami tidak bisa berdiam diri, Val," ujar Tuan Suherman. "Putuslah dengan Daniel. Kami akan memberi kompensasi yang setimpal untuk cinta pertamamu yang berharga ini."


Valeda menggigit bibir bawahnya. Dia tidak mau berpisah dari Daniel dengan cara seperti ini. Daniel adalah orang yang penting baginya. Setidaknya, dia harus meluruskan beberapa hal dan mencari tahu siapa dalang di balik semua ini. Jika dia berpisah dengan Daniel sekarang juga, semuanya akan menjadi sia-sia.


"Maaf, Tuan. Saya tidak setuju." Tiba-tiba Daniel bersuara.


"Kamu tidak punya hak untuk bicara, Daniel," jawab Tuan Suherman.


"Meski begitu, mengingat saya yang dirugikan saat ini, saya ingin berbicara." Daniel terdengar mantap. Matanya berkilat, balik menatap Tuan Suherman. "Saya tidak akan berpisah dengan Valeda, kecuali Valeda sendiri yang menginginkannya."


Valeda ganti menoleh pada Daniel. Tanpa segan, Daniel membalas tatapannya. Valeda tidak bisa menilai arti tatapan Daniel untuknya. Kepala Valeda dipenuhi rasa takut yang besar, jika Daniel akhirnya membencinya.


"Kamu sendiri sudah merasakan bagaimana susahnya bersama Valeda, kan?" Tuan Suherman menambahkan. "Kamu terlalu banyak memiliki kelemahan dan hal itu akan mempengaruhi Valeda."


"Saya akui, terlalu banyak orang yang harus saya lindungi. Dari kejadian ini juga, saya akui, para orang kaya memiliki cara yang kotor untuk memenuhi keinginan mereka."


"Hahaha! Apa kamu menuduh kami?" Nyonya Emely terdengar tersinggung.


"Saya tidak mengatakan apapun tentang hal itu," jawab Daniel kalem. "Begitu saya bersama Valeda, saya sadar akan ada banyak rintangan yang harus saya hadapi. Apa kalian berpikir kalau saya tidak siap untuk hal semacam ini?"


"Berani sekali kamu—"


"Saya sendiri yang akan menemukan dalang di balik semua kekacauan yang terjadi. Jangan libatkan Valeda," Daniel memotong kalimat Nyonya Emely.


Hening yang menyiksa menghampiri mereka untuk sekian detik. Valeda tidak berani mengambil tindakan apapun untuk mengakhirinya. Mendengar Daniel berkata seperti itu, membuat dirinya bingung harus merasa sedih atau senang.


Sentuhan Daniel di tangannya membuat Valeda tersadar dari lamunan. Daniel membelainya pelan, seolah ingin memberitahu Valeda bahwa semua akan baik-baik saja.


"Val mau bersama Daniel, Pa..." ujar Valeda pelan, namun tetap dapat didengar oleh orangtuanya.

__ADS_1


***


__ADS_2