DILARANG JATUH CINTA

DILARANG JATUH CINTA
25. Membeku


__ADS_3

Valeda membuka pintu apartemennya dan melangkah masuk duluan. Dia menoleh ke belakang ketika membuka high heels-nya. "Masuk, Dan," dia mempersilakan Daniel untuk masuk.


Daniel membuka sepatunya dan meletakkannya dengan rapi di sebelah high heels milik Valeda. "Permisi," ujarnya sebelum naik ke lantai apartemen Valeda.


"Duduk dulu. Aku buatkan minum," tawar Valeda.


Daniel menatap sofa putih yang menghiasi ruang tamu Valeda. Sofa itu sangat bersih dan terlihat lembut. Bahkan, belum menyentuhnya saja, Daniel sudah tahu bahwa sofa itu sangat mahal.


"Kamu memikirkan apa sampai tidak duduk begitu?" tanya Valeda dari mini bar apartemennya. "Duduk saja. Sofa itu tidak makan manusia."


"A... Aku kotor," jawab Daniel.


"Sejak kapan aku peduli?" sahut Valeda sambil mendengus. "Duduk! Jangan membuatku menyuruhmu melakukan hal yang sama berkali-kali."


"Kamu persis ibumu, Val. Galak banget!" sindir Daniel.


Valeda menuangkan kopi ke dua cangkir dan segera membawanya ke depan Daniel. "Kopi susu kesukaanmu," Valeda menyodorkan cangkir milik Daniel.


Daniel menyeruput kopinya perlahan. "Hm! Diluar dugaanku! Kopimu enak!" puji Daniel.


"Aku tidak dilayani untuk semua hal, Dan," ketus Valeda. "Apa kamu kira, untuk membuat secangkir kopi saja, aku akan memakai jasa orang lain?"


"Aku kira, saat masuk tadi, aku akan disambut sekitar sepuluh pelayan dengan seragam elit." Daniel menyeruput kopinya lagi.


"Berlebihan!"


Daniel nyengir mendengar Valeda yang tidak terima dianggap anak manja. "Mumpung aku ingat, kamu pernah bilang kalau kamu punya tiga kakak, kan?"


"Ya. Kenapa?" tanya Valeda.


"Aku membaca semua artikel yang berhubungan dengan keluargamu, tapi..." Daniel meneliti wajah Valeda lekat-lekat. Dalam satu detik yang singkat itu, Daniel menimbang apakah dia akan melanjutkan pembicaraannya atau tidak.


"Katakan saja. Percuma kalau kamu tidak mau bicara sekarang, padahal kamu sudah memulai percakapan ini," kata Valeda.


Daniel setuju dengan ucapan Valeda. Dia merasa kagum dengan perempuan satu ini yang selalu berpikir simpel. "Aku baca, tidak ada yang hebat dari ketiga kakakmu," Daniel menyelesaikan kalimatnya. "Kakak pertamamu yang diserahkan satu perusahaan milik ayahmu, tampak kesusahan menjajarkan diri dengan ayahmu. Dia bekerja keras, tapi tanggapan orang-orang lebih menjelaskan bagaimana kecewanya mereka dengan cara kerja kakak pertamamu."


"Benar," Valeda setuju. "Kakak pertamaku tidak sepintar kedua kakakku yang lain. Tapi, karena statusnya adalah anak sulung di keluarga kami, dia mendapatkan hak spesial yang setiap anak sulung harus dapatkan."


"Lalu, yang kedua," Daniel melanjutkan. "Dia parah."


Valeda tertawa mendengar ucapan Daniel. "Dari semua kata buruk yang ada di dunia, kamu memilih 'parah' untuk menjelaskan kakak keduaku?"

__ADS_1


Daniel mengangkat bahu. "Aku tidak bisa menemukan kata-kata lain yang tepat namun sopan."


Valeda menggeleng masih sambil tertawa. "Ya, kakak keduaku adalah yang paling pintar, namun dia tidak berguna."


"Lalu yang ketiga..."


"Kabarnya, dia penyuka sesama jenis," sahut Valeda cepat. "Aku tidak tahu pasti. Itu kabar burung yang beredar."


"Kenapa sampai tidak nyaman di sekitar mereka?" tanya Daniel. Kopi di cangkirnya sudah habis setengahnya. Sepertinya dia menyukai kopi susu buatan Valeda.


Valeda menggeleng. "Aku tidak dekat dengan mereka sejak kecil. Ketiga kakakku dilatih untuk bersaing satu sama lain, sementara aku dibebaskan melakukan apapun karena aku perempuan. Waktu berlalu begitu saja, dan begitu juga hubungan kami."


"Akan terlalu canggung kalau sekarang ingin mendekati mereka," tambah Daniel, seakan mampu membaca pikiran Valeda.


DING! DONG!


Valeda dan Daniel menoleh bersamaan ke arah pintu ketika bel pintu apartemen Valeda berbunyi.


"Kalau ada tamu, sebaiknya aku pergi," ujar Daniel.


"Tidak!" Valeda mencegah dengan cepat. "Aku tidak sedang menunggu siapapun."


"Sebegitunya ingin bersama denganku?" goda Daniel.


Mata Valeda membelalak. Dia tidak percaya dengan apa yang dia lihat dengan mata kepalanya sendiri.


DING! DONG!


Bel pintu berbunyi kembali. Valeda menelan ludahnya dengan susah payah. Dia tidak ingin membuka pintu untuk laki-laki yang ada di balik pintu.


"Siapa? Kenapa kamu malah berdiri di sini?" Daniel yang melihat Valeda terpaku diam, menghampiri Valeda untuk tahu siapa yang datang.


Valeda menoleh cepat ke arah Daniel. "Dia Lucas," jawab Valeda. "Kakak ketigaku."


"Kenapa tidak dibukakan pintu?"


"Aku tidak mau bertemu dengannya," jawab Valeda.


Daniel menepuk punggung Valeda. "Ada aku di sini."


"Tapi tidak ada alasan aku harus menemuinya," Valeda masih bersikeras. Dia benar-benar enggan bertemu dengan kakaknya itu.

__ADS_1


"Lebih baik kamu temui dia sekarang, lalu biarkan dia bicara apa yang dia ingin katakan, dan semuanya selesai," usul Daniel. "Atau, kamu mau dia kembali ke sini ketika aku tidak ada?"


"Aku akan menemuinya," jawab Valeda dan langsung melangkah ke pintu. Dia merasa lebih aman jika ada Daniel di sampingnya. Daniel akan menjadi tameng sempurna untuk melindunginya dari Lucas.


"Hai, Val," sapa Lucas ketika pintu terbuka. "Apa kabar?"


"Tidak usah berbasa-basi. Ada apa Kak Lucas ke sini?" tembak Valeda.


Lucas tersenyum canggung. "Aku hanya ingin tahu kabarmu," jawabnya. "Boleh aku masuk? Kamu tidak si--" Lucas terhenti. Matanya memandang melewati puncak kepala Valeda. "Dia..."


Valeda menoleh ke belakang. Daniel ternyata mengikutinya sampai ke pintu. Daniel membelai kepala Valeda, kemudian melingkarkan tangannya di leher Valeda.


"Apa dia laki-laki itu?" tanya Lucas. Matanya berkilat melihat Daniel.


"Dan, dia kakak ketigaku yang aku ceritakan," Valeda ikut memainkan perannya.


"Lucas?" Daniel pura-pura tidak tahu.


Valeda mengangguk. "Iya. Lucas."


"Maaf saya tidak menyapa Kakak dengan baik," ujar Daniel. Dia melepas pelukannya dan mengulurkan tangan. "Nama saya Daniel. Saya pacar Valeda."


Alis Lucas berkerut. Dia tidak serta merta menyambut uluran tangan Daniel. Mata Lucas meneliti Daniel dengan seksama.


Valeda menarik tangan Daniel, tidak mau Daniel merasa malu karena Lucas tidak menyambut jabatan tangannya. "Kakak bisa katakan apa yang ingin Kakak katakan di sini," ujar Valeda.


"Apa saya mengganggu? Saya akan masuk dan membiarkan kalian bicara berdua," Daniel mencoba tarik ulur.


Valeda mengamit lengan Daniel. "Tetaplah di sini. Temani aku," rengek Valeda.


"Val, apa yang terjadi padamu?" tanya Lucas. Dia sendiri tidak percaya bahwa Valeda bisa menjadi lembek seperti perempuan lainnya. "Kamu dulu adalah orang yang tegas dan berwibawa. Kenapa sekarang jadi budak cinta orang ini?"


"Tidak sopan jika Anda mengatakan kata 'budak' untuk seorang Valeda," sambar Daniel. "Dia adalah sebuah permata. Permata yang patut dilindungi dan dilimpahkan kasih sayang."


"Jangan ngawur," sahut Lucas. "Orangtua kami selalu memberikan Valeda kasih sayang yang cukup. Memangnya, orang baru seperti kamu tahu apa tentang keluarga kami?"


Daniel tersenyum seraya mengusap kepalanya. "Kasih sayang itu, tidak pernah cukup. Kita selalu menginginkan lagi dan lagi," ujarnya dengan nada tenang. "Walau saya orang baru, bisa saja saya lebih mengenal Valeda dibanding Anda sendiri." Daniel mengamit dagu Valeda dan memandangnya dalam-dalam.


Sekilas, Valeda berpikir bahwa Daniel akan mendaratkan sebuah ciuman untuknya. Entah kenapa, Valeda tidak keberatan dan dia membenci otaknya yang membeku itu.


"Val, aku tidak setuju kamu menjalin hubungan dengan laki-laki ini!" cicit Lucas, persis Nyonya Emely.

__ADS_1


"Apakah Anda berhak melarang kami?" tanya Daniel.


***


__ADS_2