DILARANG JATUH CINTA

DILARANG JATUH CINTA
61. Kemungkinan


__ADS_3

Daniel duduk bersama Valeda di kursi belakang mobil Valeda yang melaju menuju panti asuhannya. Suasana sore itu sangat cerah, dengan semburat langit kemerahan di ufuk Barat dunia.


Kepala Daniel bersandar di bahu Valeda. Dia tertidur sejak lima menit mereka meninggalkan rumah sakit. Napasnya terdengar teratur. Valeda yakin, dia tidak bisa tidur nyenyak selama beberapa hari di rumah sakit.


Sore itu, ketika Cahya sudah stabil dan pemeriksaan penunjangnya menunjukkan kemajuan yang baik, Valeda mengusulkan Daniel untuk menengok adik-adiknya yang lain di panti asuhan. Sudah lama Daniel tidak kembali. Anak-anak lainnya pasti merasa khawatir. Setidaknya, semua penghuni panti asuhan harus tahu apa yang terjadi dari mulut Daniel sendiri. Kris sudah hampir tidak bisa menangani mereka lebih lama lagi, apalagi Jingga dan Kiki ada di sana juga.


Valeda menunduk, memandang puncak kepala Daniel. Wangi shampo tercium samar dari rambutnya yang mulai panjang. Sudah enam hari dia di rumah sakit. Valeda yakin, tidurnya tidak nyenyak, pikirannya juga kacau. Bahkan Valeda merasa kalau Daniel bertambah kurus dalam kurun waktu yang singkat itu.


"Kris," panggil Valeda pada Kris yang duduk di kursi kemudi.


"Ya, Nona?" Kris melirik sekilas dari kaca spion.


"Apa anak-anak panti makan dengan baik?" Valeda bertanya.


"Nona tidak perlu khawatir. Walau keadaan kacau, aku memastikan mereka makan dengan benar. Begini-begini, aku jago dalam mengurus anak kecil."


Valeda tertawa kecil mendengar kepercayaan diri yang Kris miliki. "Ya, aku percaya. Buktinya Mawar terus menempel padamu. Aku sampai bingung, yang pacarmu itu Celine atau Mawar?"


Kris ikut tertawa pelan. Dia tidak mau sampai membangunkan Daniel yang tertidur pulas.


Lalu, pembicaraan mereka berakhir begitu saja. Kris tetap fokus pada jalan, sementara Valeda tenggelam dalam pemikirannya sendiri. Valeda masih tidak membicarakan apapun yang berkaitan dengan kecelakaan tempo hari. Mulutnya masih sulit terbuka untuk Daniel.


Valeda menunduk lagi. Dengkuran pelan terdengar dari arah Daniel. Valeda merasa sedih ketika melihat Daniel seperti ini. Dia yang bisa melakukan segalanya, malah tidak bisa berbuat banyak saat ini.


"Yano..." gumam Daniel di dalam tidurnya.


Ada rasa sakit yang mengganggu tiba-tiba muncul di dalam diri Valeda. 'Dan, aku janji. Aku akan ungkap siapa dalang di balik semua kejadian ini,' batin Valeda.


Hampir satu jam berlalu. Jalanan sore benar-benar macet kala itu. Dan selama itu pula, Daniel terlelap di bahu Valeda.


"Dan, bangun... Sudah sampai," bisik Valeda seraya membelai kepala Daniel.


"Maaf," kata Daniel saat Valeda membangunkannya. Daniel segera menarik dirinya menjauh dari Valeda. "Sejak kapan aku tertidur?" tanya Daniel.


"Belum lama," dusta Valeda. "Adik-adikmu keluar untuk menyambutmu," tambah Valeda sambil mengedikkan dagu ke arah pintu masuk panti asuhan.


Daniel menoleh ke arah yang Valeda tunjuk. Anak-anak panti memang berjajar di sana, memandang ke mobil Valeda yang memasuki area taman. Ketika mobil berhenti dan Daniel menampakkan dirinya, barulah semua bersorak dan berhamburan menghampiri Daniel.


Valeda tersenyum kecil. Dia menyukai saat-saat seperti ini, ketika satu keluarga berkumpul. Bisa dikatakan, Valeda iri dengan keakraban yang Daniel miliki. Pikiran Valeda pergi pada ketiga kakaknya yang terasa seperti orang asing.

__ADS_1


"Nona tidak ikut turun?" tanya Kris dari balik kemudi, merasa heran karena nonanya tidak mengikuti Daniel turun.


"Tidak. Kita langsung pergi saja. Daniel butuh waktu untuk menjelaskan semuanya tanpa campur tangan dariku," jawab Valeda. "Kita pergi ke kantor saja."


"Pada jam segini?" tanya Kris.


"Ada yang perlu aku diskusikan dengan Celine. Aku sudah memintanya untuk menunggu di kantor." Valeda mengeluarkan handphone-nya. Dia memeriksa e-mail yang Celine kirimkan beberapa saat yang lalu, sebelum Valeda pergi dari rumah sakit.


Valeda menyandarkan dirinya ke kursi. Dia menatap lekat layar handphone-nya. Tidak disangka, Celine menemukan CCTV di dekat lokasi pelaku bunuh diri.


'Bunuh diri? Hahaha! Ini jelas pembunuhan!' ujar Valeda di dalam hati.


Mata Valeda membulat ngeri ketika melihat seorang pria paruh baya dengan tubuh tambun, diseret ke tengah lapangan dengan tali tambang yang menjerat lehernya. Pria itu meronta-ronta, mencoba melepaskan diri dari orang-orang yang menariknya.


Ya. 'Orang-orang'. Tidak hanya satu yang menariknya seperti menarik hewan peliharaan secara paksa, tapi ada lima orang. Kelimanya memakai topeng dan berpakaian serba hitam. Tidak akan mudah mengenali mereka dengan penampilan seperti itu.


Ketika akhirnya tali tambang di leher pelaku berhenti ditarik, pelaku itu langsung berlutut dan memohon. Valeda tidak tahu apa yang dia katakan, tapi Valeda bisa merasakan bagaimana putus asanya orang itu.


Salah satu dari mereka mengeluarkan botol kecil dari dalam kantong celana, kemudian menendang pelaku hingga terjungkal ke depan. Empat orang lainnya segera memegangi pelaku, hingga dia tidak bisa berkutik sekuat apapun usaha yang dilakukannya. Kejadian itu berlangsung cepat. Pelaku tambun yang tidak berdaya itu, dicekoki isi dari botol itu.


"Dalam sekejap, seorang pelaku tabrak lari menjadi korban pembunuhan di mataku," gumam Valeda. Dadanya terasa sakit melihat pertempuran yang jelas tidak imbang itu.


"Nona mengatakan sesuatu?" tanya Kris.


Tapi, dia tidak bisa bergerak, jika hanya sendirian. Celine sudah lama bersamanya. Valeda yakin, Celine tidak akan membocorkan hal ini pasa siapapun, termasuk pada Kris yang merupakan pacarnya.


Sesampainya di kantor, Valeda langsung memerintahkan Kris untuk menunggu di bawah dan tidak mengikutinya. Valeda ingin privasi penuh untuk dia dan Celine.


"Val!" Celine bangkit dari kursinya ketika melihat Valeda akhirnya muncul.


Valeda menempelkan telunjuk di depan bibirnya, kemudian memberi isyarat agar Celine mengikutinya masuk ke dalam ruangannya.


TAK!


Valeda mengunci pintu ruangannya waktu Celine sudah masuk. "Jangan anggap aku lebay. Aku harus waspada dengan apapun yang terjadi," kata Valeda saat Celine membuka mulutnya.


"Apa kamu merasa terancam?" tanya Celine. Dia duduk di sofa ruangan kantor Valeda.


"Apapun bisa terjadi." Valeda duduk di hadapan Celine dengan wajah tegang. "Setelah melihat rekaman CCTV yang kamu berikan, aku menjadi takut."

__ADS_1


"Lalu, menurutmu, apa yang terjadi?" tanya Celine dengan suara pelan.


Valeda menghela napas panjang. "Apakah posisiku sedang diambang kehancuran?" Valeda balik bertanya.


"Ini perusahaanmu dan aku rasa tidak ada masalah dengan kinerjamu. Tidak ada yang protes mengenai bagaimana kamu memimpin sebuah perusahaan," jawab Celine, terdengar sangat yakin.


"Menurutmu begitu?" Valeda sangsi. "Bagaimana dengan kakak-kakakku yang merasa tersaingi olehku?"


Celine mengerutkan keningnya. "Tidak ada hubunganya dengan mereka. Mereka tidak ambil bagian dalam perusahaanmu. Jika mereka merasa iri, seharusnya mereka mencoba lebih keras lagi agar bisa lebih unggul darimu."


Valeda diam sejenak. Dia tahu, pemikiran kakaknya tidak seperti Celine, terutama Alex dan Joan. Mereka cenderung akan melakukan hal kotor agar mendapat pengakuan.


"Bagaimana dengan orangtuamu?" tanya Celine.


"Kata Lucas, Papa sibuk dengan kedua cucunya. Sementara Mama, sibuk menghubungi teman-temannya untuk dijodohkan denganku. Mereka bahkan tidak repot-repot menjenguk adik Daniel di rumah sakit."


"Aku menutup kejadian itu dari media, ingat?" Celine mengingatkan. "Aku tidak berpikir hal seperti itu akan berpengaruh baik bagi perusahaan dan juga dirimu. Jadi aku menutup mulut media sebagai kecelakaan biasa."


Valeda terkekeh mendengarnya. "Papa dan Mama tidak sebodoh itu, Cel. Mereka tahu lebih banyak dari yang kita bayangkan," sahut Valeda.


"Lalu, apa maksud kejadian ini?" Celine semakin bingung.


"Kemungkinan pertama, ada yang ingin aku mengacau di dalam pekerjaanku, sehingga aku 'jatuh'."


"Orang itu memanfaatkan Daniel yang dia kira adalah pacar aslimu?" tebak Celine.


Valeda mengangguk. "Orang itu pikir, aku akan kacau jika adik dari pacarku mengalami kecelakaan." Valeda menyilangkan kaki dan bersandar. Tangannya saling bertautan di atas pahanya. "Kemungkinan kedua, orang itu adalah musuh Daniel dan ingin menghancurkannya."


"Apakah tujuannya adalah menguasai panti asuhan milik Daniel?" tanya Celine.


Valeda mengangguk lagi. "Tapi, jika ini tujuannya, akan lebih mudah bagiku untuk melindungi Daniel dan adik-adiknya," tambah Valeda.


Celine mengusap dagunya. Dia berusaha mencerna setiap perkataan yang Valeda ucapkan. Semuanya terdengar masuk akal baginya, mengingat sahabatnya ini adalah orang penting yang berpacaran dengan pemilik panti asuhan yang tanahnya paling diminati saat ini.


"Kemungkinan ketiga, orang yang ada di balik semua ini adalah orangtuaku."


"Apa? Kenapa?" Celine terdengar cengak.


"Alasannya simpel. Mereka tidak mau aku dan Daniel bersama. Jadi, mereka mau membuat Daniel berpikir bahwa semua ini terjadi karena dia bersamaku."

__ADS_1


"I... Itu terlalu mengerikan," desis Celine. "Jika benar Tuan Suherman dan Nyonya Emely melakukan hal seperti itu, aku..." Celine tidak menyelesaikan kalimatnya. Tenggorokannya tercekat.


***


__ADS_2