DILARANG JATUH CINTA

DILARANG JATUH CINTA
7. Kencan Ketiga


__ADS_3

"Huhuhu! Huhuhu! Hiks, hiks! Huhuhu" tangis Nyonya Emely pecah, menggema di seluruh ruangan rumah Tuan Suherman.


Tuan Suherman tersenyum masam melihat tingkah istrinya yang bisa dikatakan kekanak-kanakan saat ini. Beliau mengusap-usap punggung Nyonya Emely, berusaha untuk menenangkan Nyonya Emely.


Valeda menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Dia merasa agak bersalah ketika melihat Nyonya Emely mulai menangis.


Sore itu, setelah menyelesaikan pekerjaannya untuk hari itu, Valeda berkunjung kembali ke rumah orangtuanya. Nyonya Emely sudah menunggunya di ruang tengah sambil berkacak pinggang. Awalnya, Nyonya Emely hanya memasang wajah cemberut. Namun, saat Valeda membuka mulut untuk bicara, Nyonya Emely langsung menangis.


Kurang-lebih, Valeda tahu apa yang membuat ibunya menangis. Ya, tentu saja karena kencan buta Valeda yang gagal lagi. Raphael bahkan mencoret nama Nyonya Emely dari daftar VIP di toko berlian milik Raphael. Bagi Nyonya Emely yang sangat menyukai barang-barang berkilau, hal itu sungguh membuatnya sedih.


"Sayang, jangan menangis lagi," pinta Tuan Suherman.


"Huwaaaa! Huhuhu! Hiks, hiks!" tangis Nyonya Emely semakin kencang. Tuan Suherman sampai menutup telinganya dengan kedua tangan.


Valeda menghela nafas panjang. "Mama..." Valeda melembutkan suaranya. "Val tidak mau menjalin hubungan asmara dengan orang yang menyelesaikan masalah menggunakan hadiah. Itu seperti dia bebas melakukan apa saja, yang penting dia sudah menutup mulut Val dengan hadiah darinya," Valeda mencoba menjelaskan jalan pikirnya.


"Tetap saja, Val!" seru Nyonya Emely. Wajahnya sembab dan matanya bengkak. "Meninggalkan Raphael yang baru datang, di mana sopan santunmu?"


Valeda menggigit bibir bawahnya. Dia tidak menyangkal bagaimana tidak sopannya dia kemarin malam, hanya dengan meninggalkan Raphael sendirian di meja itu.


"Bagaimana ini, Pa?" Nyonya Emely berpaling ke suaminya yang duduk tenang di sebelahnya.


"Apanya yang bagaimana?" tanya Tuan Suherman kalem.


"Anak perempuan kita gagal kencan dua kali berturut-turut. Ini pertanda buruk!" sahut Nyonya Emely.


Tuan Suherman tersenyum mendengar kekhawatiran istrinya. "Benarkah?" Tuan Suherman balik bertanya. "Bukannya itu karena anak kita yang terlalu pintar dan berharga? Mungkin saja bocah-bocah itu yang tidak bisa mengimbangi Valeda."


Nyonya Emely memukul pelan lengan suaminya. "Kamu ini, selalu saja membela Valeda!"


"Bukan membela, Sayang. Valeda sangat mirip denganku. Dia cerdas dan berambisi," Tuan Suherman masih memegang teguh pemikirannya.

__ADS_1


Valeda yang mendengar pembelaan dari ayahnya, merasa sangat bersyukur. Tuan Suherman memang merupakan orang yang paling mengerti dengan apa yang Valeda inginkan.


'Mama pasti sekarang jadi mengerti dengan apa yang aku pikirkan," ujar Valeda di dalam hati. Dia tidak ingin mengikuti kencan buta lagi, dan ayahnya kali ini mendukung.


Nyonya Emely menghela nafas panjang. Pandangannya kembali terarah pada Valeda. "Nanti malam, datanglah ke restoran langganan keluarga kita. Jam tujuh malam."


Valeda melongo tidak percaya setelah mendengar perkataan Nyonya Emely. "Apa, Ma?" tanyanya.


"Mama sudah pesankan meja. Jadi, jangan terlambat!" Nyonya Emely bangkit dari duduknya, kemudian berlalu dari ruang tengah tanpa memedulikan pandangan protes dari Valeda.


"Papa! Bagaimana ini?" rengek Valeda.


Tuan Suherman hanya tersenyum menanggapi anaknya yang putus asa. "Kamu tahu bagaimana mamamu, Val," ujar Tuan Suherman.


Valeda mengerang gemas. Dia masih tidak ingin percaya bahwa Nyonya Emely memutuskan kencan lagi untuknya. Dalam dua hari, dia sudah mengikuti dua kencan buta yang melelahkan. Bukankah itu cukup membuktikan bahwa urusan ini tidak berjalan lancar dan hanya buang-buang waktu?


Tuan Suherman melirik arlojinya. "Waktu pertemuanmu satu jam lagi. Mau istirahat di sini saja?" tawar Tuan Suherman.


"Papa akan meminta ART menyiapkan kamarmu. Masuklah setelah sepuluh menit," kata Tuan Suherman. "Papa mau lanjut kerja."


Valeda mengangguk saja untuk menjawab kata pamit dari Tuan Suherman. Begitu Tuan Suherman menghilang dari balik pintu ruang tengah, Valeda mengeluarkan smartphone-nya untuk menghubungi Kris.


"Ya, Nona?" sapa Kris dari seberang. "Apa Nona akan pulang sekarang?"


"Tidak. Aku istirahat di sini. Satu jam lagi--" Valeda berhenti bicara, karena berat sekali rasanya untuk pergi kencan.


"Ada apa, Nona?" tanya Kris, mendapati atasannya tiba-tiba diam.


Valeda malas menjelaskannya pada Kris. Dia tidak akan membantu. Kris bahkan akan memihak pada Nyonya Emely untuk memata-matai Valeda.


"Pokoknya begitu. Kamu dibebastugaskan!" sahut Valeda dan langsung menutup telepon. Valeda menyandarkan dirinya sejenak ke sofa. Dia berusaha berpikir positif tentang kencan ketiganya.

__ADS_1


"Gagalnya kencan pertama dan keduaku, boleh jadi adalah pertanda baik untuk kencan buta ketiga yang diatur Mama," Valeda mencoba meyakinkan dirinya sendiri.


Sepuluh menit kemudian, Valeda pergi ke kamarnya untuk beristirahat. Kamar yang menemaninya sejak dia berusia tiga tahun. Namun, sekarang ini sangat jarang dia tempati.


Bukan karena kamarnya tidak nyaman. Tuan Suherman berusaha sangat keras untuk mendekorasi kamar Valeda menjadi seperti sebuah apartemen pribadi (minus ruang tamu). Tapi, tetap saja Valeda memilih untuk keluar dari rumah dan tinggal sendiri.


Valeda merasa tidak nyaman jika harus berhadapan dengan ketiga kakaknya. Lebih tepatnya, dia tidak tahu bagaimana cara memulai percakapan dengan tiga orang keluarga yang terasa asing baginya.


"Hai, Val!" suara berat yang terdengar asing, terdengar ketika Valeda melewati lorong rumahnya.


Valeda menengok ke belakang, mendapati seorang laki-laki berparas persis seperti Nyonya Emely, bersandar di daun pintu berwarna biru langit. "Hai, Kak Joan," balas Valeda. Dia urung menanyakan kabar kakak keduanya itu, karena dari ekspresi wajahnya, jelas terlihat bahwa Joan baik-baik saja.


"Tumben di rumah?" Joan melanjutkan percakapan.


"Papa yang minta," jawab Valeda sekenanya.


"Sebaiknya kamu jangan sering-sering buat Mama nangis," Joan memberi nasehat. "Jangan seperti Alexandre yang sampai saat ini melajang. Mama benar-benar frustasi dengan anak satu itu."


Rupanya, keadaan tidak akur dari ketiga kakak laki-lakinya, tidak berubah sejak kecil dulu. Valeda sebenarnya tidak ingin ikut campur atau berpihak pada siapapun di antara mereka.


"Bagaimana dengan Kak Joan?" Valeda mengingatkan. Joan yang berkomentar dingin seperti itu mengenai kakak pertama mereka, bukanlah orang yang patut membanggakan diri.


Jika sebuah keluarga kaya raya memiliki beberapa anak yang hidup dalam kemewahan sejak kecil, tentunya sebagian atau lebih dari mereka akan menjadi terlalu terlena. Seperti itulah Joan.


Anak kedua dari Tuan Suherman dan Nyonya Emely ini, bisa dikatakan yang paling bermasalah. Joan sangat suka berpesta-pora, mabuk, dan bergonta-ganti pacar. Kelakuannya sering membuat Tuan Suherman kehilangan muka di depan publik.


Valedalah yang menjadi penyelamat bagi Tuan Suherman. Prestasi Valeda yang luar biasa, serta visualnya yang menakjubkan, mampu mendongkrak popularitas Tuan Suherman.


"Bukankah memiliki pacar lebih baik daripada tidak sama sekali?" Joan membela dirinya. "Setidaknya, aku tidak menjadi perjaka tua seperti Alex atau dianggap memiliki penyimpangan seksual seperti Lucas."


"Aku kemari bukan untuk mendengar ocehan ngawur Kak Joan," tandas Valeda. Dia langsung berbalik dan berjalan cepat menuju kamarnya. Tidak lupa dia mengunci pintu kamar begitu dia masuk. "Keputusan yang buruk untuk kembali ke kamar ini," gumam Valeda sambil geleng-geleng kepala.

__ADS_1


***


__ADS_2