DILARANG JATUH CINTA

DILARANG JATUH CINTA
20. Syarat


__ADS_3

Malam yang riuh di apartemen Valeda, berakhir dengan kekalahan Celine dan Kris. Mereka berdua memilih menyerah dan mengikuti kemauan Valeda. Meskipun tidak mungkin membuat Daniel menjadi seorang laki-laki yang setara dengan Valeda, namun mereka akan berusaha membuat Daniel menjadi orang kalangan atas.


Pagi yang cerah, seperti biasa di bulan Juni. Anak-anak sekolah mulai sibuk mempersiapkan diri untuk kembali ke sekolah mereka. Jalanan menjadi bertambah ramai.


Valeda yang tidak mau terjebak macet, sudah ada di kantornya sejak pukul setengah tujuh pagi. Dia tidak mau menghabiskan waktunya yang berharga di jalanan ibu kota yang ramai.


"Kopi, Val," Celine masuk ke dalam ruangannya, membawa secangkir kopi seperti biasa.


Kopi hitam pahit adalah bagian dari ritual pagi yang harus Valeda jalani untuk mendapatkan semangat dalam menjalani hari ini.


"Sudah baca keluhan karyawan untuk bulan lalu?" tanya Celine. Dia menyodorkan cangkir kopi Valeda.


"Terima kasih," Valeda menerimanya dan langsung menyeruput kopi pahitnya. Rasa dan aroma kopi yang nikmat membuat Valeda merasa segar. "Mereka tidak mengeluh. Mereka memberi saran tentang acara akhir tahun nanti."


"Apa? Acara akhir tahun?" Celine tertawa geli mendengarnya. "Tapi ini bulan Juni."


Valeda ikut terkekeh. "Bukankah itu bagus? Artinya mereka menikmati bekerja di sini, sampai mereka tidak tahu harus memasukkan apa di kotak keluhan," sahut Valeda.


"Yah..." Celine duduk di sofa yang terletak di depan meja kerja Valeda. "Mungkin saat ini memang tidak ada yang mereka keluhkan. Dan kamu jadi tahu bahwa mereka sibuk memikirkan acara akhir tahun nanti."


Valeda bersandar di kursi kerjanya. "Artinya, ruang rekreasi yang kita buat, ada manfaatnya. Kita harus menambah beberapa kegiatan outdoor. Mereka tidak boleh sampai jenuh dengan pekerjaan mereka," pesan Valeda. Dia tahu bahwa beban kerja yang dia berikan untuk orang-orang yang dia pilih sangat berat.


"Val, mengenai Daniel..." Celine mengubah topik pembicaraan. "Sebenarnya, aku sendiri masih merasa bimbang dengan keputusanmu."


"Kenapa bimbang? Bukankah kamu biasa melakukan apapun yang aku minta, dan hasilnya memuaskan?" tanya Valeda.


"Tapi itu hal berbeda, Val," jawab Celine. "Aku mengerjakannya karena itu masuk akal. Menurutku itu mungkin dan aku bisa mengatasinya."


Valeda memijit keningnya yang berdenyut. "Apakah sangat mustahil membuat Daniel menjadi seorang yang dikagumi?"


"Dia tidak bisa mengimbangimu dalam waktu semalam," Celine mencoba menyadarkan Valeda. "Aku sudah memikirkannya semalaman. Terlalu banyak celah untuk menjatuhkan kalian kedepannya."


"Benarkah?" Valeda tampak masih tidak mau menyerah.


Celine tidak menjawab. Dia hanya bisa berdoa di dalam hati agar Valeda mempercayai perkataannya. Celine sudah memikirkan cara terbaik untuk memanipulasi identitas Daniel, namun dia terlalu takut jika itu menjadi bumerang untuk Valeda nantinya.


Kerja keras mereka selama ini akan langsung jatuh hanya karena satu kesalahan kecil. Bagaimanapun pintarnya seekor tupai melompat, pasti ada kalanya dia jatuh juga. Begitupun dengan mereka. Celine percaya bahwa Kris dan Valeda akan menutup mulut mereka rapat-rapat. Namun, siapa yang tahu apa yang terjadi di masa depan?

__ADS_1


"Baiklah, aku mengerti," ujar Valeda.


Celine menghela nafas lega mendengar jawaban sahabatnya. "Aku akan cari cara lain untuk memperkenalkan Daniel."


"Aku ada ide," Valeda tersenyum miring. "Jika masyarakat sulit menerima identitas Daniel, aku akan buatkan mereka drama romantis."


"Drama romantis apa maksudmu?" tanya Celine.


"Kamu ingat novel remaja yang pernah kita baca waktu kita SMA dulu?"


"Romeo dan Juliet?" terka Celine.


Valeda mengangguk. "Kenapa aku tidak memikirkan jalan cerita itu?" ujarnya sambil tertawa. "Aku akan buat drama, di mana seorang putri jatuh cinta pada rakyat jelata. Lagipula, Daniel orang yang baik. Dia cukup pantas untuk dicintai."


"Tapi..." Celine masih merasa ragu. "Kalau nantinya Daniel tersakiti?"


"Itu kompensasi yang harus dia terima. Setuju membantuku bukan berarti semua hal yang terjadi adalah hal baik," jawab Valeda. "Lagipula, kemungkinan Daniel menolak tawaranku sangat kecil. Dia memerlukan uang, dan aku punya itu."


"Kita tetap harus bicarakan ini dengan Daniel," kata Celine. "Kita perlu mempersiapkan dirinya untuk hal-hal buruk yang mungkin terjadi."


"Undang dia ke sini. Aku sedang sibuk, tidak ada waktu untuk pergi ke manapun." Valeda meraih kopinya, lalu menyeruputnya banyak-banyak, sebelum membuka map di depannya.


***


Celine pergi ke panti asuhan Daniel pagi tadi untuk melakukan survey lapangan dan meminta pendapat Daniel mengenai beberapa orang yang ahli dalam berkebun. Diskusi itu berlangsung selama hampir tiga jam karena Daniel menginginkan orang yang bisa menjaga kualitas sayurannya tetap sama seperti saat dia yang merawat.


Setelahnya, Celine mengundang Daniel untuk pergi ke kantor Valeda dan membicarakan kontrak. Berakhirlah Daniel di depan kantor Valeda siang ini.


"Kenapa melamun? Ayo, temui Nona Valeda," panggil Celine dari pintu utama.


Daniel segera menyusul Celine. Dia sudah mempersiapkan diri untuk bertemu Valeda. Bukan rahasia lagi kalau ketenaran Valeda sudah sampai di setiap telinga sebagai pengusaha muda yang sukses.


Daniel yang berjalan mengikuti Celine, rupanya menarik perhatian banyak karyawan di gedung itu. Bagaimana tidak? Celine yang merupakan tangan kanan pemilik gedung, berjalan bersama seorang laki-laki asing yang berpenampilan seadanya. Daniel memang mengenakan pakaian terbaiknya, tapi belum tentu itu dipandang baik di antara orang-orang berjas mahal.


Daniel berusaha mengabaikan pandangan penuh tanya orang-orang di sekitarnya. Dia mencoba memokuskan dirinya pada kontrak yang akan Valeda bicarakan. "Anda bilang, Nona Valeda sedang sibuk. Apa tidak apa saya datang kemari?" tanya Daniel ketika mereka memasuki lift.


"Nona sendiri yang meminta Anda datang," jawab Celine.

__ADS_1


"Cel," Michael yang kebetulan ada di belakang Celine, berbisik pada Celine. "Siapa?"


"Kepo banget, ih!" Celine balik berbisik.


Tiga orang karyawan yang berdiri di belakang Celine, meneliti Daniel dengan seksama secara terang-terangan. Tidak banyak orang yang masuk bersama Celine. Artinya, orang itu adalah orang penting karena dikawal Celine sendiri.


Mereka berlima keluar di lantai paling atas. Ketiga antek Celine, langsung pergi ke meja mereka masing-masing, meskipun mereka masih penasaran dengan sosok Daniel.


Celine membimbing Daniel menuju ruangan Valeda. "Nona?" panggil Celine sambil mengetuk pintu.


"Masuk!" jawab Valeda dari dalam.


Celine membukakan pintu, kemudian mengangguk pada Daniel, memintanya masuk menemui Valeda. Daniel menuruti isyarat Celine dan masuk ke ruangan.


"Sebelah sini," Valeda mengangkat tangannya ketika melihat Daniel masuk sambil celingukan. "Duduklah di sana," Valeda menunjuk sofa di depan meja kerjanya. "Tunggu sebentar, aku masih dalam panggilan," tambahnya, kemudian kembali sibuk dengan telepon di tangannya.


Valeda tidak membiarkan tamunya lama menunggu, meskipun telepon yang sedang dia terima sangatlah penting.


"Maaf, aku lama," ujar Valeda sambil duduk di hadapan Daniel. "Aku sedang banyak kerjaan, jadi tidak bisa ke tempatmu."


"Untung saja saya masih di rumah saat Nona Celine datang tadi. Saya ada jadwal mengantarkan sayuran setiap hari Jumat. Nona sebaiknya menghubungi saya terlebih dahulu," jawab Daniel.


Valeda diam sesaat mendengar jawaban Daniel. Dia memang mengutus Celine tanpa pemberitahuan apapun tadi pagi. Tapi, jawaban dari Daniel agak mengagetkannya. "Biasanya, orang akan menjawab 'tidak apa-apa, Nona, saya sedang senggang' kalau aku meminta maaf," kata Valeda.


"Benarkah? Saya tidak pandai berbasa-basi seperti itu," jawab Daniel kalem.


Valeda menatap Daniel lekat-lekat. "Aku menyukai kejujuranmu. Tapi, saat kamu menerima kontrak pacaran kita, kamu harus berbohong sebaik mungkin."


"Saya akan bekerja sebaik saya dibayar," jawab Daniel mantap.


"Bagus!" Valeda mengangguk setuju. Dia sudah menyiapkan kontrak dengan nominal yang cukup untuk Daniel dan panti asuhannya. "Sebelum itu, ayo kita makan siang dulu. Aku kelaparan." Valeda menyodorkan sebuah kotak makan siang pada Daniel.


Daniel menerima kotak yang disuguhkan untuknya. Dia melirik Valeda dulu sebelum membuka kotak makan siang itu.


"Ngomong-ngomong, aku mau menegaskan syarat utama dari kontrak kita," Valeda bicara sebelum menyuap sesendok nasi ke dalam mulutnya.


"Apa itu?" tanya Daniel.

__ADS_1


"Dilarang jatuh cinta," jawab Valeda cepat.


***


__ADS_2