DILARANG JATUH CINTA

DILARANG JATUH CINTA
41. Menyerah


__ADS_3

Daniel memalingkan wajahnya lagi. Dia terlihat sangat jelas sedang menghindari tatapan Valeda. Hal itu malah membuat Valeda semakin yakin dengan perkataan Celine. Kalau benar Daniel tidak cemburu, seharusnya Daniel menjawab dengan tegas dan tidak perlu merasa tidak nyaman menyebut nama Rangga.


"Benar, ya? Kamu cemburu sama Rangga?" desak Valeda tidak sabar.


"Kamu bawel sekali kalau lapar, ya?" ejek Daniel.


Valeda maju dan mendongak tepat di depan wajah Daniel yang tertunduk. Valeda dapat merasakan debaran jantungnya yang keras dan memburu ketika melihat wajah Daniel yang memerah. Ini pertama kalinya Valeda melihat Daniel dari sudut ini, dan ekspresi Daniel membuatnya tertegun untuk sekian lama.


"Aku hanya terlalu menikmati peranku," Daniel membungkuk hingga kening mereka membentur pelan. "Jangan menggodaku! Aku bisa saja dirasuki setan dan balas menggodamu," Daniel memperingatkan. "Apalagi--" Daniel menambahkan ketika Valeda membuka mulutnya, "--kita hanya berdua di sini." Daniel maju selangkah dan melingkarkan tangannya di pinggang Valeda.


Valeda menelan ludah dengan susah payah. Kakinya menjadi lemas dan dia jatuh dalam pelukan Daniel. Dia merasa kesal ketika melihat Daniel tersenyum jahil.


"Wah, wah, wah, lihatlah dirimu," kata Daniel. "Ternyata kamu semudah ini jatuh ke dalam pelukan laki-laki."


"Ja-jangan mengejekku!" cicit Valeda sambil mendorong Daniel. Bukannya melepaskan Valeda dan menjauh, Daniel malah mendorong Valeda hingga terpojok di dinding. "Daniel!" Valeda memukul lengan Daniel, panik sendiri. Dia tidak pernah berada di posisi sulit begini dan itu membuatnya takut.


Daniel menunduk hingga wajah mereka menjadi sejajar. Valeda dapat merasakan hembusan nafas Daniel di pipinya. "Kamu manis sekali kalau seperti ini, Val," suara Daniel melembut.


Tanpa sadar, Valeda tersihir. Dia kehilangan tenaga untuk kabur. Matanya terpaku pada hitamnya bola mata Daniel yang indah. Dia tidak pernah merasa begitu lemah seperti ini di depan seorang laki-laki. Tetapi Valeda sama sekali tidak membenci kondisi yang dia alami sekarang ini.


TING! TONG!


Suara bel pintu bergema di seluruh ruangan Valeda. Daniel menoleh ke arah pintu masuk. "Siapa yang datang malam-malam begini?" gumamnya.


"A-aku akan lihat siapa yang datang," Valeda berniat kabur dari rangkulan tangan Daniel.


Daniel buru-buru menangkap Valeda sebelum Valeda jauh dari jangkauannya. "Bukankah sudah aku bilang untuk tidak menemui siapapun jika memakai pakaian ini?" kata Daniel memperingatkan.


"Tapi ada tamu..."


"Ada aku di sini. Kamu masuklah ke kamar dan ganti baju dengan yang lebih..." Daniel terhenti. Dia tidak dapat menemukan kata-kata yang pas untuk menunjukkan kegalauannya. Valeda memakai T-shirt yang tertutup, tidak mungkin Daniel memintanya untuk memakai yang lebih tertutup lagi. Jika Daniel meminta Valeda mengenakan jaket, itu akan terlihat aneh. "Pakai pakaian yang lebih tebal," lanjut Daniel. "Lalu, gunakan celana panjang juga!"


"Kamu tidak pernah berkomentar saat aku mengenakan rok ketika bekerja. Kenapa sekarang repot sendiri?" tanya Valeda.

__ADS_1


"Itu demi kebaikanmu," Daniel menjawab singkat, kemudian mendorong paksa Valeda untuk kembali ke kamarnya.


Valeda menghela nafas panjang waktu masuk ke kamarnya kembali. Selama ini, tidak ada yang begitu memperhatikan bajunya ketika dia sudah di rumah. Bahkan, ketika dia masih tinggal di rumah utama, Nyonya Emely tidak pernah berkomentar sama sekali. Dulu, memang pengasuh Valeda yang menyiapkan pakaian, sehingga selalu sesuai dengan gaya hidup mereka.


Tapi sekarang berbeda setelah Daniel menyarankan Valeda memakai T-shirt. Valeda menjadi nyaman dengan kaos oblong. Piyama sutra yang dia biasa pakai bahkan kalah nyamannya.


Valeda meraih handphone yang dia letakkan di atas tempat tidur. Dia tidak langsung mengganti pakaian seperti yang Daniel instruksikan, tapi malah membuka browser internet. Dia terlalu penasaran dengan sikap-sikap Daniel yang tidak jelas.


'KENAPA PRIA MARAH SAAT PASANGANNYA MEMAKAI CELANA PENDEK?'


Valeda mengetik kalimat itu di pencarian dan mulai membaca artikel dengan cepat. Semakin banyak dia membaca artikel yang muncul, semakin merah pula wajahnya.


"Astaga! Sepertinya aku terlalu percaya diri sampai mengetik kata 'pasangan'," gerutunya.


Valeda melempar kembali handphone-nya ke atas tempat tidur. Meski dia tidak begitu percaya dengan tulisan di internet, dia tetap memilih untuk mengganti pakaiannya. Valeda menghabiskan waktu selama sepuluh menit untuk memilih pakaian yang menurutnya Daniel akan suka.


"Oh, kalian yang datang," kata Valeda ketika melihat Celine dan Kris duduk di ruang tamunya.


"Kami mau melihat keadaanmu," jawab Celine. "Apa aku mengganggu?"


"Val, tumben kamu memakai pakaian formal begini?" Celine menengok jam tangannya sejenak. "Biasanya sudah ganti pakaian dengan piyama?"


"Ah... Itu..." Valeda menggigit bibir bawahnya. Valeda belum memberitahu Celine kalau semua piyamanya sudah tidak ada.


"Apa kalian mau ikut makan malam?" sela Daniel dari dapur.


"Aku ikut," jawab Kris cepat.


Celine menoleh pada Kris yang bereaksi cepat tentang makanan. "Tumben kamu menjawab cepat begitu? Kamu kelaparan? Dua roti tadi tidak cukup?"


"Cel, kamu harus mencoba masakan Daniel! Dia koki yang luar biasa!" Kris bersemangat sendiri.


"Apa kamu belum pernah mencoba masakan Daniel?" tanya Valeda pada Celine.

__ADS_1


"Tidak ada alasan untukku mencoba masakannya. Pacarnya itu adalah kamu, Val. Sementara yang mengantarmu adalah Kris. Aku terlalu sibuk dengan urusan kantor," sindir Celine.


"Baiklah, aku juga akan memasak untuk kalian berdua," sahut Daniel bersamaan dengan aroma gurih yang mulai tercium memenuhi ruangan.


"Apa aku perlu memesan sesuatu sebagai pendamping makanan kita?" tawar Kris.


"Ada banyak bahan di kulkas. Beri aku tiga puluh menit," jawab Daniel.


Valeda berdiri dari duduknya dan segera menghampiri Daniel di dapur. "Aku mau membantu sesuatu," kata Valeda.


Daniel membelai kepala Valeda seraya tersenyum. "Kita harus sering-sering masak bersama," jawab Daniel. "Kalau begitu, bisa kamu goreng telurnya? Aku akan mengolah daging."


"Perhatikan aku! Aku belum begitu mahir," pinta Valeda.


"Iya, iya..."


Celine dan Kris saling bertukar pandang. Mereka heran dengan sikap dua orang di depan mereka yang terkesan seperti pasangan sungguhan. Celine tidak bisa berkomentar karena dia melihat Daniel menanggapi Valeda dengan pandangan lembut dan tulus.


"Jadi, kami hanya duduk di sini dan memperhatikan atasan kami membuat makan malam bersama pacarnya?" goda Celine. Dia sebenarnya memiliki firasat bahwa telah terjadi perubahan dengan perasaan Valeda. Tapi dia tidak mau menanyakannya secara terang-terangan. Celine menikmati bagaimana pipi Valeda bersemu merah setiap kali Daniel tidak sengaja menyenggol bahu Valeda.


"Ya, benar! Ini kesempatan bagi kalian untuk menjadikanku koki," jawab Valeda asal.


"Jangan tersinggung, Nona," Kris menanggapi. "Aku percaya dengan Daniel, tapi jika Nona yang membuat makan malamnya, sepertinya besok aku akan cuti kerja."


"Aku tidak separah itu, Kris!" protes Valeda kesal, mengundang tawa Daniel dan Celine.


"Kris benar. Kamu bahkan tidak bisa membedakan gula dan garam," Celine mendukung Kris.


Valeda hanya bisa mencibir, karena semua yang dikatakan Kris dan Celine benar adanya. Dia menoleh ke arah Daniel untuk meminta bantuan. "Kamu akan mengajariku sampai bisa, kan?"


Daniel tersenyum simpul. "Artinya kamu mengakui kekalahanmu?" tanya Daniel.


"Iya, iya! Aku kalah!" Valeda menyerah.

__ADS_1


***


__ADS_2