DILARANG JATUH CINTA

DILARANG JATUH CINTA
30. Waktu


__ADS_3

Valeda melenggang memasuki mall-nya bersama Daniel. Valeda menyelesaikan pekerjaannya lebih cepat hari ini, sehingga dia bisa mengajak Daniel membeli setelan jas yang cocok dengan dress yang akan dia kenakan untuk makan malam nanti.


Daniel awalnya menolak ajakan Valeda membeli jas baru. Tetapi, karena tekad Valeda yang kuat, akhirnya Daniel menyerah dan ikut mendampingi Valeda memilihkan jas untuknya.


Seperti biasa, orang-orang yang mengetahui identitas Valeda sebagai pemilik mall, menjatuhkan perhatian mereka pada Daniel. Mendapatkan seluruh perhatian seperti itu sudah menjadi makanan Daniel setiap hari belakangan ini. Dia tidak lagi canggung. Malah, Daniel menikmati ketenaran instan yang dia terima.


"Val, jangan yang terlalu mahal," pesan Daniel ketika mereka menaiki eskalator.


"Kamu ini, masih saja bawel," sahut Valeda. "Aku harus menemukan setelan jas yang cocok dengan dress yang akan aku gunakan nanti. Kamu ikut saja."


"Sebenarnya, jas model apapun tidak akan masalah, melihat wajah tampanku," kata Daniel.


"Hahaha!" Valeda tertawa renyah. "Sombong sekali Anda, Tuan! Aku lelang pun, tidak akan ada yang berminat," ejek Valeda.


"Tapi Anda mau berjalan di sampingku, Nona," Daniel menggoda.


Valeda berbalik dan melingkarkan tangannya di leher Daniel. "Iya, Tuan. Aku terlalu mencintaimu sampai tidak peduli dengan wajahmu," Valeda ikut menggoda.


"Wah, beruntungnya aku dicintai perempuan sempurna sepertimu," Daniel menarik pinggang Valeda mendekatinya. "Lihatlah wajah cantikmu yang indah ini. Siapa yang bisa mengalahkannya?"


Valeda menahan nafasnya. Matanya membelalak lebar sementara pipinya merona merah. Alih-alih membuat Daniel tergoda, malah dirinya yang terjebak dengan godaan Daniel.


"Hentikan!" Valeda mendorong Daniel menjauh. "Pintar sekali kamu bersandiwara. Mau coba aku kenalkan agensi yang melahirkan aktor hebat?" Valeda berpaling dan mengalihkan pembicaraan.


"Benarkah?" Daniel meyakinkan. "Kalau aku sepintar itu, aku bisa menjadi aktor terkenal."


"Dulu kamu tidak sebawel ini, Dan," ejek Valeda.


"Aku hanya berusaha bersikap sopan di depan orang yang tidak aku kenal," Daniel mengangkat bahunya. "Lagian, sekarang kamu sudah tahu aku, kan? Kita santai saja seperti teman pada umumnya."


"Hmm... Sudah lama aku tidak 'santai sama teman'. Aku menghabiskan waktunya hanya dengan Celine dan Kris."


Daniel menyilangkan tangan di depan dada. "Makanya kamu tidak punya pacar. Kamu terlalu fokus meniti karier," bisik Daniel pelan, takut ada yang mendengar percakapan mereka.


Valeda membimbing Daniel masuk ke dalam sebuah toko dengan banyak pajangan jas laki-laki di dalamnya. "Aku akan melakukannya denganmu," sahut Valeda. Tangannya menyusuri jas-jas yang digantung dengan teliti. Dia merasakan kelembutan kain yang digunakan.


"Melakukan apa?" tanya Daniel, karena dia jadi berpikir layaknya lelaki sejati.

__ADS_1


"Santai bersama teman," sahut Valeda. "Apa lagi memangnya?"


Daniel menggigit bibir bawahnya, merasa bersalah dengan pikirannya sedetik lalu.


"Selamat datang, Nona Valeda! Anda ingin memilih jas?" sapa seorang karyawan yang mengenakan nametag Siti.


"Aku akan memilih sendiri jas untuk pacarku. Kalian tidak perlu repot," jawab Valeda.


"Baik, Nona. Jika perlu sesuatu, saya ada di sebelah sana," ujar Siti.


Daniel memperhatikan Valeda yang meneliti satu demi satu jas yang masuk kriterianya. "Apa yang membuatmu begitu lama hanya memilih satu jas hitam?" tanya Daniel. "Semua terlihat sama bagiku."


"Tidak sama, Dan. Lihat jaritan yang ini dan yang ini," Valeda menyodorkan dua jas ke depan mata Daniel. "Ini berbeda. Garis jaritan yang bagus akan membuat lekukan indah di tubuhmu."


"Aku jadi ingin melihatmu memakai T-shirt," jawab Daniel.


Valeda menghela nafas. "Dan, aku memakai T-shirt saat aku tidur."


"Orang biasa memakai T-shirt kapanpun," sahut Daniel.


"Ayolah, Dan! Kamu harus memilih jas untuk nanti malam!" protes Valeda. "Aku juga harus ke salon dan memesan pencuci mulut."


Valeda kembali meneliti jas-jas yang digantung, kemudian meraih salah satunya. "Coba pakai yang ini!" perintahnya.


Daniel menerima jas hitam yang Valeda serahkan. Dia langsung pergi ke ruang ganti untuk mencoba jasnya.


Valeda duduk di kursi yang disediakan oleh karyawan toko. Tidak perlu waktu lama untuk Daniel mengenakan jas yang dipilih Valeda. Ketika Daniel keluar, Valeda tidak bisa bergerak. Matanya menikmati setiap lekukan tubuh Daniel dengan seksama.


"Kita ambil yang ini saja," ujar Daniel, menyadarkan Valeda.


"Tidak mau coba yang lain?" tawar Valeda.


Daniel mengibaskan tangan di depan hidungnya. "Ini saja. Kamu tidak usah buang-buang waktu untuk hal sepele seperti ini."


"Tidak ada yang sepele kalau menyangkut diriku, Dan," sanggah Valeda.


Daniel maju dan menangkup pipi Valeda dengan kedua tangannya. "Cukup satu saja, Val," bisik Daniel. Karyawan toko yang melihat adegan mesra di depan mereka, memekik pelan bersamaan. "Karena apapun yang aku kenakan, pastinya akan cocok," tambahnya.

__ADS_1


Valeda mendengus. "Kamu percaya diri sekali, ya?" Valeda balas berbisik.


"Aku hanya menghargai diriku apapun yang terjadi," Daniel tersenyum simpul.


Valeda menahan mati-matian rasa kagum yang mulai merajai pikirannya. Dia tidak bisa untuk mengabaikan setiap tingkah laku Daniel yang polos.


"Ya sudah!" Valeda mendorong Daniel menjauh. Dia merasa tidak nyaman jika terlalu lama ada di dekat Daniel. "Mbak, saya mau yang ini!" panggil Valeda pada Siti.


Siti segera menghampiri pelanggannya dan menerima jas dari tangan Daniel. "Makasi, Mbak," ujar Daniel ketika dia menyerahkan jasnya.


Siti mengangguk canggung dengan wajah memerah. Jelas sekali kalau dia naksir Daniel. Valeda yang sadar akan hal itu, melirik sinis pada Daniel yang malah cengar-cengir.


"Mbak, kirim itu ke apartemen saya," kata Valeda sebelum Siti beranjak. "Ayo, Dan! Kita ke toko kue!"


Alis Daniel terangkat melihat Valeda yang tiba-tiba ketus. "Val, tunggu," Daniel menyusul Valeda. Valeda malah mempercepat langkahnya, membuat Daniel yakin kalau pacar pura-puranya itu tengah ngambek. "Ah!" pekik Daniel.


Valeda menoleh ke belakang dan mendapati Daniel berlutut dengan satu kaki sebagai tumpuan. "Ada apa?" tanya Valeda, panik. Dia menghampiri Daniel. "Kenapa kakimu?"


"Peek-a-boo!" Daniel nyengir, memperlihatkan gigi gingsulnya.


Valeda langsung lemas dan jatuh bersimpuh di depan Daniel. Dia merasa seluruh tenaganya menguap ketika melihat senyum Daniel. Pikirannya kosong. Ada rasa nyaman yang aneh menggelenyar di tubuhnya.


"Val, kamu kenapa?" giliran Daniel yang panik.


Valeda tidak bisa bersuara. Lidahnya kelu. Dia malu sendiri dengan dirinya yang tiba-tiba tidak berfungsi, seperti sebuah robot rusak.


Daniel menarik tangan kanan Valeda sampai melingkar di pundaknya, lalu menyendokkan tangannya yang bebas ke bawah paha Valeda. "Aku bantu sampai tempat duduk sana, ya?" ujar Daniel.


'Astaga! Untung aku diet!' batin Valeda dalam hati ketika Daniel mengangkatnya. Meskipun jarak ke bangku yang ada di tepi ballroom tidaklah jauh, namun jika sampai Daniel berkomentar bahwa Valeda cukup berat, itu akan melukai harga dirinya sebagai perempuan.


Daniel meletakkan Valeda dengan hati-hati ke atas bangku berwarna putih bersih yang ada di beberapa titik di mall-nya. Bangku-bangku itu sengaja Valeda letakkan untuk memberikan tempat istirahat bagi orang yang lelah setelah berbelanja.


Bukannya duduk di sebelah Valeda, Daniel malah berlutut di hadapannya. Dia mendongak untuk melihat Valeda lebih jelas. "Kamu kenapa?" tanya Daniel.


Jantung Valeda seakan berhenti berdetak. Rohnya hampir meninggalkan raganya saat ini. Dia mengutuk dirinya sendiri yang memalukan.


"Maaf, aku tadi bercanda," Daniel mengangkat tangannya untuk menyelipkan rambut Valeda ke belakang telinga. "Kamu kaget? Aku keterlaluan, ya?"

__ADS_1


'Bisakah waktu berhenti sejenak saat ini?' batin Valeda.


***


__ADS_2