DILARANG JATUH CINTA

DILARANG JATUH CINTA
12. Senja (Daniel's POV)


__ADS_3

"Kak Dan! Mawar pipis di ruang tamu!"


"Mawal bebeyet, Kak!" (Mawar kebelet, Kak!)


"Sudah Kakak bilang, kan? Kalau merasa ingin pipis, langsung ke kamar mandi. Mawar sudah tiga tahun, harus belajar ke toilet sendiri, ya," Daniel memberi nasehat. Dia meletakkan jarum jahit di tangannya dengan hati-hati, kemudian bangkit dari duduknya.


Daniel sempat mengusap lembut kepala Mawar saat melewatinya. Tidak enak hatinya melihat salah satu adiknya berwajah masam karena melakukan kesalahan.


"Sini, Mawar. Kak Indah bantu ganti celana," Indah meraih tangan Mawar dan menuntunnya menuju kamar mereka.


Dengan sabar, Daniel mengepel lantai ruang tamu yang basah karena pipis Mawar. Suara riuh rendah terdengar tidak jauh dari sana. Daniel mengintip ke luar jendela, melihat empat orang adik laki-lakinya tengah bermain bola di halaman depan.


Daniel pergi ke luar dan berseru pada mereka karena mereka bermain di dekat pot bunga milik adiknya yang lain. "Gio, Reva, Mika, Aldo! Jangan main dekat pot! Nanti Kak Jingga marah!" serunya.


Keempat anak kecil yang usianya hampir sama itu, langsung berhenti bermain. Mereka menjawab bersamaan, kemudian bergeser agak jauh untuk kembali melanjutkan permainan.


"Tidak boleh nendang terlalu keras, ya!" Daniel memperingatkan lagi, sebelum masuk ke dalam.


"Kak Dan," seorang perempuan kecil menyapa Daniel lagi, sesampainya Daniel kembali ke ruang keluarga. "Benangnya sudah hampir habis. Vio belikan yang baru, ya?" tawarnya.


Daniel melirik ke arah jam dinding. Jam menunjukkan pukul empat sore. Masih ada banyak orang lalu-lalang di sekitar tempat mereka tinggal. "Jangan sendiri, ajak Kak Jingga!" perintahnya, meski merasa aman anak sekecil Vio belanja sendirian.


"Oke," Vio bergegas melesat ke dalam dapur untuk mencari perempuan bernama Jingga.


"Sudah berapa boneka?" tanya Daniel.


"Lima puluh, Kak!" seru Kiki riang.


"Wah, hebat kalian! Tinggal sepuluh boneka lagi," puji Daniel sambil mengacak rambut Kiki. "Kalau bayarannya sudah ada, Kakak akan belikan daging sapi untuk makan malam kita semua!"


"Asyiiiiiikkkk!" sorak keenam anak yang membantu Daniel menjahit boneka.


Daging adalah makanan mewah di panti asuhan yang Daniel kelola. Panti asuhan itu merupakan peninggalan dari almarhum ayahnya. Satu-satunya harta yang tidak disita oleh bank karena hutang yang menumpuk.

__ADS_1


Sebenarnya, Daniel bisa saja menjual panti asuhan itu karena berdiri di atas tanah yang cukup luas, sehingga dia bisa merebut kembali rumah dan fasilitas dari ayahnya, namun tidak dia lakukan.


Daniel sudah terlanjur sayang dengan anak-anak yang tinggal di panti asuhan itu. Banyak kenangan yang dia dapatkan di sana. Setiap anak memiliki cerita tersendiri dan dia tahu semuanya. Daniel tidak mungkin menjual tanah panti asuhan itu dan kehilangan senyuman adik-adik angkatnya.


"Cemilan datang," Jingga muncul dari balik pintu dapur. Dia membawa sepiring penuh pisang goreng berwarna kecoklatan yang sangat menggoda. Vio berjalan di belakangnya dengan mulut penuh dan semangkuk gula aren yang sudah dicairkan.


Anak-anak meletakkan boneka mereka dengan hati-hati, tidak mau hasil kerja keras mereka rusak. Kemudian memasukkan jarum ke tempat semula. Mereka terbiasa merapikan apapun terlebih dahulu sebelum melakukan hal lain. Walaupun sebenarnya liur mereka sudah menetes melihat pisang goreng di depan mata.


Daniel tersenyum bangga melihat adik-adiknya yang bertanggung jawab. Dia tidak lagi merasa khawatir dengan boneka-boneka pesanan pelanggan yang terkena minyak atau gula.


"Kak Dan, aku sama Vio ke supermarket depan dulu, ya? Apa ada yang harus aku beli selain benang?" tanya Jingga.


"Kalau ada yang habis di dapur, kamu beli sekalian," pesan Daniel.


"Iya, Kak." Jingga dan Vio berlalu dari ruang keluarga.


Daniel kembali pergi ke halaman depan untuk memanggil keempat anak yang masih asyik bermain sepak bola, agar bergabung dengan yang lainnya dan menikmati cemilan sore sebelum mandi.


"Besok pagi," jawab Daniel. "Tapi, kamu tidak boleh ikut, Ki. Besok adalah Senin, kamu harus ikut upacara bendera."


Kiki melongos mendengar penolakan Daniel bahkan sebelum dia meminta. Rencananya, dia mau bolos ikut upacara bendera karena tidak kuat berdiri.


"Upacara bendera itu penting, Kak Kiki," Indah ikut memberi nasehat.


"Gio nggak pernah bolos upacara bendera."


"Aldo juga."


"Mika pernah, Kak!"


"Apaan, sih!? Kok kamu ngadu!?"


Suasana menjadi gaduh kembali oleh canda dan tawa dari para penghuni panti asuhan. Daniel tersenyum senang, melihat semuanya sehat. Keadaan mereka bisa dikatakan sudah membaik saat ini.

__ADS_1


Enam tahun lalu, ketika ayahnya baru meninggal, keadaan terasa sangat sulit. Para penyumbang dana mundur satu per satu. Daniel harus pergi ke banyak tempat demi meminta sumbangan dana agar adik-adik angkatnya bisa tetap makan.


Saat itu, Daniel hanyalah remaja berusia sembilan belas tahun yang baru mengenyam perguruan tinggi. Dia mengerti sedikit tentang pekerjaan, namun dirinya belum dilatih untuk itu. Ketika ayahnya tiada, Daniel dihadapkan dengan pilihan menyelamatkan dirinya sendiri atau menyelamatkan anak-anak di panti asuhan.


Dia bisa lanjut sekolah dengan melepas anak-anak panti. Daniel bisa belajar hingga selesai walaupun hidup berkecukupan dengan menjual panti asuhan itu.


Tapi, Daniel memilih memikul beban di pundaknya dan mengesampingkan urusan pribadinya. Daniel adalah anak tunggal dan dia merasa senang saat dikenalkan dengan anak-anak panti dulu. Jadi, dia tidak mau semuanya hilang bersamaan dengan hilangnya keberadaan sosok seorang ayah bagi Daniel.


Suara derap langkah kaki tiba-tiba terdengar, membuat Daniel bangun dari lamunannya. Daniel mendongak ke arah tangga dan melihat tiga orang remaja berlari ke arahnya.


"Jangan lari-lari di tangga!" seru Daniel, agak kesal.


Ketiga remaja itu memelankan laju larinya dan nyengir meminta maaf. Mereka duduk mengitari Daniel, kemudian menyerahkan tiga lembar kertas pada Daniel.


"Apa ini?" tanya Daniel.


"Beasiswa kita bertiga, diterima!" seru Cahya, disambut tepuk tangan riuh dari Wahyu dan Yano."


"Wah! Serius!?" Daniel duduk tegak dan membaca kertas-kertas di tangannya dengan cepat. "Luar biasa! Kalian bisa masuk kuliah dengan beasiswa! Terima kasih, terima kasih!" Daniel memeluk ketiga adiknya.


"Tapi, Kak, masih ada biaya gedung."


"Iya. Tidak bebas seratus persen."


"Kita masih nyusahin Kak Dan."


Daniel mengacak rambut Yano yang bicara terakhir. "Gampang, gampang! Aku masih punya uang simpanan! Pokoknya, kalian harus rajin belajar dan menimba ilmu selagi aku mampu!"


Ketiga remaja itu saling bertukar pandang. Walau mereka merasa sangat bahagia saat ini, di dalam diri mereka terbesit rasa iba pada Daniel. Mereka yang hanya anak panti asuhan, malah dibesarkan mati-matian oleh Daniel. Sementara Daniel sendiri tidak bisa merasakan pendidikan yang semestinya dia terima.


"Tidak perlu menunggu gajian tiba! Malam ini juga, Kakak akan belikan kalian daging sapi yang banyak untuk merayakan ketiga bocah nakal ini masuk kuliah!" seru Daniel. Suasana menjadi gaduh kembali, semangat mendengar bahwa malam ini mereka akan makan yang enak.


***

__ADS_1


__ADS_2