DILARANG JATUH CINTA

DILARANG JATUH CINTA
11. Pesan Masuk


__ADS_3

Pembukaan mall Valeda akhirnya berlangsung. Sesuai yang Valeda harapkan, acara itu berjalan sangat meriah dan menyita banyak minat publik. Tidak hanya wartawan lokal, stasiun TV dari luar negeri pun ikut meliputi bagaimana megahnya mall baru milik Valeda.


Valeda menyuguhkan harga barang yang menyasar masyarakat ekonomi kelas menengah ke atas. Uniknya lagi, Valeda mengkhususkan bagi pedagang kaki lima untuk berjualan di lantai tiga mall-nya.


Tidak ada kesenjangan sosial yang terlihat di mall ciptaannya. Valeda sendiri mengatakan bahwa dia ingin membuat sebuah tempat belanja yang nyaman untuk semua kalangan.


"Sukses, Val!" Celine menepuk bahu sahabatnya dengan bangga.


"Berkat bantuanmu," jawab Valeda. "Ke depannya juga, aku akan terus meminta bantuanmu."


"Dengan senang hati, Nona Muda!" Celine tersenyum riang. Dia sangat bersyukur mengikuti orang yang tepat seperti Valeda.


"Hei, Celine. Makan malamlah dengan Kris!" perintah Valeda.


Celine diam untuk beberapa detik. Dia bingung dengan Valeda yang tiba-tiba merubah arah pembicaraan mereka. Celine kemudian teringat dengan pembicaraannya bersama Kris tempo hari di apartemen Valeda. "Kami memang akan makan malam. Dia sudah mengajakku bulan lalu. Tapi itu setelah misi kita selesai."


Valeda melirik ke sekeliling ketika Celine mengatakan mengenai misi mereka. Orang-orang yang memenuhi lantai satu untuk grand opening mall-nya, masih sibuk dengan makanan dan minuman yang disuguhkan. "Kenapa harus menunggu misi kita selesai?" tanya Valeda.


"Makan malam kami hanya untuk merayakan keberhasilan kami merawatmu, Val," jawab Celine.


Valeda menganga tidak percaya dengan jawaban yang Celine berikan. "Celine, astaga! Bukan begitu yang Kris mau!"


"Kris tidak mau makan malam denganku? Lalu, kenapa dia mengajak makan malam?" tanya Celine.


Valeda menggeleng cepat. "Maksudku, Kris mengajakmu makan malam bukan untuk merayakan keberhasilan kalian ada di sampingku."


"Lalu, untuk apa?" Celine masih tidak mengerti.


Valeda berkacak pinggang melihat temannya yang tidak peka ini. Pastinya ini adalah salah satu alasan tidak berkembangnya hubungan asmara Celine dengan mantan-mantannya dulu. "Kris mau makan malam romantis hanya denganmu, Cel," jelas Valeda.


"Apa?" bisik Celine. Dia masih mencerna apa yang Valeda bicarakan. "Makan malam... Romantis?"


Valeda mengangguk bersemangat. "Ayolah! Apa kamu tidak sadar kalau Kris menaruh perhatian padamu?"


"Tidak... Aku tidak sadar kalau Kris seperti itu. Bukannya dia memang baik pada semua orang?"

__ADS_1


Valeda menghela nafas panjang. "Cobalah lebih peka demi kelancaran hubunganmu. Kris orang yang baik. Walaupun dia tidak semampu keluarga kita, aku yakin kalau dia akan menjamin hidupmu," Valeda memberi nasehat.


Celine terdiam. Dia menunduk dan berpikir mengenai apa yang Valeda bicarakan. Melihat Celine diam cukup lama, Valeda berniat mengalihkan pembicaraan.


"Oh, iya! Mengenai misi kita," Valeda berhenti sejenak dan mengedarkan pandangan lagi, memastikan tidak ada yang menguping mereka, "sudah sebulan tapi tidak ada yang menghubungi."


"Benar juga," jawab Celine. "Apa shampo itu tidak laku, ya?"


"Tidak mungkin. Aku menanam saham di sana karena sudah riset mengenai penjualan produknya," tukas Valeda seraya menyilangkan tangan di depan dada. "Apa dikira menipu, ya?"


TING!


Valeda dan Celine saling bertukar pandangan, kaget dengan nada notifikasi masuk yang terdengar dari dalam tas Valeda.


"Itu bunyi smartphone kamu, Val?" tanya Celine.


Valeda menggeleng pelan. "Bukan. Punyaku dalam mode senyap."


"Aku juga," tambah Celine. "Artinya, itu bunyi notifikasi dari handphone baru itu?"


Valeda langsung merogoh tasnya dan mencari handphone yang sebulan lalu Celine serahkan padanya. Dia bahkan tidak menyentuh handphone itu hampir seminggu lamanya, karena handphone itu tetap senyap sunyi. Suatu kebetulan handphone itu berbunyi di saat Valeda mulai berpikir bahwa ide itu sia-sia.


Valeda hanya menghela nafas melihat tingkah sekretarisnya itu, namun tidak mengomelinya. Biarlah Celine yang membacanya terlebih dahulu. Toh itu bukan hal mendesak yang harus Valeda tahu detik ini juga.


Celine tertawa beberapa saat setelah menatap layar handphone. Valeda yang awalnya bersabar untuk mengetahui isi pesan yang masuk, berubah menjadi penasaran.


"Kenapa, Cel?" tanya Valeda.


Celine menyodorkan handphone itu pada Valeda. Valeda melihat isi pesan yang baru saja masuk. Keningnya berkerut. "'Hai, kenalan, dong'?" Valeda membacanya pelan-pelan.


"Astaga! Ini zaman apa, Val?" Celine masih terkikik geli. "Masih ada, ya, orang yang kirim pesan minta kenalan seperti itu?"


Valeda meninju lengan Celine. Dia sebenarnya juga geli setelah membaca pesan yang masuk. "Sudah, jangan tertawa lagi," perintah Valeda, meskipun dia sendiri masih tersenyum. "Hubungi orang ini dan pesankan meja untuk bertemu nanti," Valeda menyerahkan handphone itu kembali ke tangan Celine.


Celine menjadi sibuk dengan handphone itu untuk beberapa lama. Valeda memilih untuk menyapa beberapa relasi kerjanya yang datang berkunjung. Siapa tahu dia bisa bertemu dengan seorang laki-laki idamannya.

__ADS_1


Setelah hampir setengah jam lamanya Valeda berbincang dengan beberapa relasi kerjanya, tamu undangan sudah semakin berkurang. Sepertinya acara pembukaan mall akan segera berakhir.


Valeda berjalan menuju kursinya untuk beristirahat. Celine yang sudah selesai dengan urusannya, menghampiri Valeda.


"Val, kayaknya kamu harus mata-matai dulu orang ini," ujar Celine.


"Apa ada masalah?" tanya Valeda.


Celine mengangkat bahunya. "Dia orang yang sok dekat. Bicaranya juga ngawur. Aku tidak merekomendasikan orang ini. Kalau keluargamu bertemu dengannya, bisa-bisa mulutnya tidak berhenti bicara."


"Lalu, semua rahasia terbongkar," tambah Valeda. Dia menggaruk dagunya yang tidak gatal. "Berapa usianya?"


"Dia bilang tiga puluh tahun," jawab Celine.


"Bayar seorang perempuan dengan usia yang sesuai. Lalu pertemukan mereka. Bagaimana selanjutnya, itu terserah mereka," kata Valeda. "Ah! Dan jangan lupa, blokir nomor orang itu setelahnya."


"Laksanakan!" jawab Celine.


Seorang perempuan bertubuh gempal dengan setelah jas hitam dan rok selutut, menghampiri tempat Valeda duduk. Begitu melihat nametag namanya, Valeda teringat dengan nama ketua panitia pelaksana acara hari ini.


"Ada yang bisa dibantu?" tanya Celine.


Arika menunduk dan tersenyum pada Valeda serta Celine. "Maaf saya mengganggu," jawabnya. "Saya hanya mau memberi informasi bahwa acara kita berjalan dengan sukses! Bahkan, ada dua investor baru yang ingin menanam saham mereka di mall ini."


Valeda tersenyum mendengar kabar baik ini. "Celine, urus para investor baru. Kita memang tidak kekurangan suntikan dana, namun ada baiknya jika mereka mau menanam modal di sini."


"Akan aku urus secepatnya," jawab Celine.


"Kalian boleh mengakhiri acara hari ini. Lagipula sudah sore. Berpestalah dulu sebelum kembali ke rumah masing-masing," pesan Valeda pada Arika.


"Terima kasih, Nona Valeda!" Arika membungkuk sekali lagi.


Valeda bangun dari duduknya. Dia juga harus bergerak cepat. Nyonya Emely akan tiba di Indonesia malam ini. Kalau bertemu dengan Beliau, usaha Valeda kabur dalam sebulan ini akan sia-sia.


"Kris sudah di depan," ujar Celine sebelum Valeda membuka mulutnya untuk bertanya.

__ADS_1


"Baik-baiklah pada Kris," sahut Valeda sambil menepuk bahu Celine.


***


__ADS_2