
"Verdinant," jawab Tuan Suherman.
'Tunggu, tunggu!' Valeda bangkit dari duduknya. Dia berjalan cepat menuju salah satu rak buku dan meraih box file berwarna hitam. Dia mengambil map merah yang kemarin dia baca bersama Daniel dari dalamnya. "Daniel Kafeel Verdinant," bisik Valeda.
"Kamu bilang apa, Val?" tanya Tuan Suherman karena tidak mendengar jelas perkataan Valeda.
"Ah, bukan apa-apa, Pa," dusta Valeda. Dia tidak mau membuat Tuan Suherman khawatir. Lagipula, Valeda belum menemukan titik terang dari apa yang terjadi. Lebih baik dia menyelidikinya dulu. Dia masih bingung dengan semua yang terjadi. Valeda sendiri yang mempekerjakan Daniel, jadi kecil kemungkinan Daniel memiliki maksud buruk sejak awal.
"Apa kamu beranggapan kalau Daniel adalah Verdinant?" tebak Tuan Suherman.
Valeda memutar otaknya untuk menghindari kecurigaan Tuan Suherman. "Val rasa dia bukan Verdinant yang Papa maksud," Valeda berbohong.
"Bisa saja, Val," Tuan Suherman berkeras.
Valeda tahu, bahwa Tuan Suherman telah menemukan celah untuk meminta Valeda putus dengan Daniel. Jika Tuan Suherman tahu kebenarannya dan Valeda tidak memiliki alasan yang bagus untuk tetap bertahan, hubungan mereka akan berakhir lebih cepat dari yang Valeda perkirakan.
Hati kecil Valeda menjerit. Dia menolak untuk memikirkan kemungkinan buruk itu. Valeda masih ingin berada di dekat orang yang selalu memujinya, walau dia tahu kalau itu ada di dalam kontrak. Dia belum bisa berpisah dari sikap lembut Daniel.
"Tidak usah dibahas lagi. Val jadi pusing," kata Valeda. "Val kerja dulu, Pa. Dadah!" Valeda langsung menutup teleponnya.
Dia menghempaskan diri ke atas tempat duduk dan mengusap keningnya. Valeda benar-benar merasa pusing. Cerita Tuan Suherman tidak sejalan dengan kilasan ingatan yang ada di kepalanya.
"Aaargh! Kenapa di saat seperti ini, aku malah tidak ingat apapun?" erangnya kesal.
Valeda menghela napas panjang. Bayangan saat-saat di mana Daniel kembali bersikap dingin padanya, membuat Valeda sedih. Dia menekan tombol dua pada teleponnya yang langsung terhubung pada meja Celine.
"Ya, Val?" sapa Celine dari seberang.
"Minta Daniel ke ruanganku, sekarang!" jawab Valeda. Dia harus meluruskan sesuatu.
"Lho? Aku kira kamu sudah tahu?" Celine terdengar bingung.
"Tahu apa?" tanya Valeda tidak mengerti.
"Daniel ke kampusnya sama Kris."
Valeda melotot. "Hari ini? Bukannya besok?"
__ADS_1
"Pekerjaan Daniel sudah selesai sejak beberapa hari yang lalu. Jadi, hari ini dia senggang. Aku memberinya izin untuk ke kampus. Aku lihat, jadwalmu hanya di kantor, aku yang meminta Kris mengantar Daniel untuk menghemat biaya," terang Celine.
'Hhh, aku lupa kalau Daniel adalah orang yang cekatan dan cerdas. Tidak heran pekerjaannya cepat selesai,' ujar Valeda di dalam hati.
"Kenapa, Val? Kamu perlu Daniel sekarang?" tanya Celine.
"Tidak. Tidak apa. Terima kasih," Valeda mengakhiri panggilannya. Valeda melirik tumpukan kertas di depannya. "Astagaaa! Pekerjaanku kenapa sebanyak ini? Aku mau nyusul Daniel ke kampus..." rengeknya.
Valeda menguatkan tekadnya untuk menyelesaikan pekerjaannya hari ini secepat mungkin. Bagaimanapun, dia pemimpin perusahaan ini, dan dia mempunyai tanggung jawab besar.
(Tiga jam kemudian...)
"Wah! Lihat siapa yang menyelesaikan pekerjaannya secepat kilat!?" seru Valeda bangga pada dirinya sendiri. Pekerjaan itu harusnya dia selesaikan dalam waktu sehari, tapi dia mempercepatnya hingga tiga jam saja. "Oke! Waktunya nyusul Daniel!" dia merapikan semua berkas di atas meja. Valeda menyambar tas yang dia letakkan di ujung meja kerjanya, lalu berjalan cepat ke luar ruangan.
"Lho, Val? Mau ke mana?" tanya Celine sembari bangkit dari duduknya.
"Mau ke kampusnya Daniel," jawab Valeda.
"Eh? Tapi Kris nggak di sini buat anter kamu."
"Aku bisa pakai mobil kantor," Valeda mulai berjalan kembali.
Mereka turun ke lantai dasar bersama. Celine merasa kalau Valeda terlihat lucu saat ini. Valeda seperti kehilangan induknya. Celine tidak pernah melihat Valeda seperti ini sebelumnya. "Kenapa kamu sampai tidak tahu kalau Daniel tidak di mejanya tadi?" Celine membuka percakapan.
"Tidak usah dibahas," ketus Valeda. "Kamu sudah panggil sopir kantor untuk siap-siap?" Valeda mengalihkan pembicaraan.
Celine mengacungkan teleponnya. "Tentu saja sudah. Aku ini peka terhadap kebutuhanmu, Val," jawab Celine. "Tapi, sepertinya ini sudah jam pulang anak-anak kuliah," ujar Celine.
Valeda melirik jam tangannya. Ternyata sudah pukul empat sore. "Tapi Daniel dan Kris belum kembali."
"Bisa saja nanti kita akan berpapasan di jalan. Lagipula, jalanan akan macet karena jam pulang kantor."
"Aku tidak peduli. Aku mau ke sana." Valeda langsung melompat dari dalam lift dan berjalan cepat menyusuri lobi lantai dasar. Celine mengikuti dengan langkah terburu-buru di belakang Valeda.
Begitu melihat sebuah mobil terparkir di depan lobi, Valeda segera masuk, diikuti Celine. "Astaga, Val! Kenapa harus buru-buru begitu? Aku tinggal menghubungi Kris kalau kamu mau bertemu mereka di kampus!"
"Tidak! Jangan!" cegah Valeda. "Tidak usah menghubungi mereka," tambahnya.
__ADS_1
Jalanan memang macet seperti apa yang Celine katakan. Banyak kendaraan berlalu-lalang memadati jalanan ibu kota. Valeda harus ekstra sabar menghadapi macet itu, karena dia sendiri yang berkeras ingin pergi ke kampus di jam segini.
Setelah menghabiskan waktu selama satu jam, akhirnya mereka tiba di kampus Daniel. Valeda celingukan, mencari mobilnya.
"Itu mobilku!" Valeda menunjuk mobil sedan hitam yang terparkir di bawah pohon. "Mereka masih di sini!"
Celine mendengus geli melihat Valeda bersemangat. "Kamu ini, kelihatan banget sedang bahagia. Tidak sabar bertemu belahan hatimu, ya?" godanya.
"Nggak usah berlebihan, deh!" Valeda meninju lengan Celine. "Ayo, cari mereka!"
Celine kembali mengikuti Valeda memasuki area kampus. Ketika akan melewati gerbang, seorang satpam menghentikan langkah mereka.
"Maaf," kata Satpam itu. "Bisa sebutkan keperluan kalian masuk ke kampus?"
Valeda menoleh pada Celine yang langsung merogoh tasnya. "Ini, Pak!" Celine mengeluarkan copy kartu identitas Valeda dan menyodorkannya kepada Satpam. "Beliau Nona Valeda, salah satu penyalur dana di kampus ini. Saya asistennya. Kami hanya mau menjemput teman kami yang kuliah di sini."
"Oh, Nona Valeda! Maaf saya tidak mengenali Nona!" Satpam itu mengembalikan kartu identitas ke tangan Celine. "Silakan masuk, Nona!"
"Terima kasih," jawab Valeda. Dia bergegas memasuki kampus itu untuk mencari Daniel.
Hampir tiga puluh menit lamanya mereka mengitari kampus itu, namun ujung hidung Daniel tidak mereka temukan juga. "Hhh, kamu masih mau cari mereka, Val?" tanya Celine putus asa. "Kampus ini luas dan kakiku sakit karena berjalan jauh dengan high heels ini."
Valeda menyilangkan tangan di depan dada. "Aneh. Tidak banyak orang di kampus ini, tapi suara Daniel pun tidak bisa aku dengar."
"Siapa tahu, Daniel saat ini lagi sama cewek," sahut Celine asal.
Valeda menoleh cepat. "Apa menurutmu Daniel akan secepat itu menemukan tambatan hatinya?" Valeda malah serius.
Celine mengangkat bahu. "Entah. Semuanya mungkin di dunia ini," Celine masih saja asal menjawab. Celine memandang Valeda lekat-lekat, dan mendapati kalau jawaban yang dia berikan barusan ternyata mengganggu sahabatnya itu. "Mmm, Val, kita coba ke kantinnya, yuk? Siapa tahu mereka ada di sana. Kita juga dulu suka nongkrong di kantin sambil buat tugas, kan?" usul Celine, mengalihkan pembicaraan.
Valeda mulai melangkah kembali. Celine heran, Valeda bisa mengesampingkan rasa sakit di kakinya padahal sama-sama mengenakan high heels.
"Sungguh ada dosen seperti itu? Hahaha!" Tiba-tiba saja suara Daniel terdengar.
Valeda berhenti ketika mendengar suara Daniel. Telinganya menajam. Dia berjalan pelan dan mengintip dari balik dinding. Celine yang ada di belakangnya tidak mengerti kenapa Valeda malah berhenti, bukannya langsung menghampiri Daniel.
"Kenapa tidak langsung ke sana?" tanya Celine.
__ADS_1
"Sssst!" Valeda memicingkan matanya dan melihat Daniel sedang duduk di salah satu kursi yang ada di kantin kampus itu, bersama dua orang perempuan.
***