DILARANG JATUH CINTA

DILARANG JATUH CINTA
54. Tertangkap


__ADS_3

"Da... Daniel?" bisik Valeda. Dia tidak percaya dengan apa yang matanya lihat. Daniel saat ini tengah berdiri di hadapannya. "Ke-kenapa kamu ada di sini?" tanya Valeda. Tidak tahu kenapa, dia menjadi gugup.


"Memangnya kenapa kalau aku ada di sini?" ketus Daniel. "Apa seharusnya aku tidak di sini dan melihat kalian?"


"Bu-bukan begitu!" sanggah Valeda cepat. Dia tahu telah ada salah paham antara Daniel dan dirinya. "Kami hanya jalan-jalan."


Daniel menatap Valeda dari ujung rambut, hingga ujung kaki. Seketika itu, Valeda menyesal telah dandan habis-habisan.


"Hm... Jalan-jalan dengan sahabat dengan penampilan secantik ini," kata Daniel, nadanya terdengar datar. "Sampai harus menonaktifkan handphone-mu? Sebegitu tidak inginnya diganggu?"


Nyali Valeda menjadi ciut. Keberanian yang dia miliki menghilang mengalir melalui kakinya dan ditelan bumi. Mulutnya terkatup rapat, padahal dia tahu kalau dia harus menjelaskan alasannya menonaktifkan handphone.


"Jangan menyalahkan Cinta," Rangga bersuara. Dia bergerak maju selangkah dan berdiri di depan Valeda. "Dia hanya ingin bersenang-senang di hari cutinya."


Daniel mengangkat dagunya. Valeda dapat melihat rahang Daniel mengeras. 'Kenapa dia bersikap seperti itu?' kata Valeda dalam hati. 'Dan kenapa dia bisa ada di sini? Maksudku, kenapa dia tahu aku ada di sini?'


Daniel tiba-tiba memalingkan wajah. Dia seolah mencoba menghindari masalah. "Valeda, aku mau bicara," kata Daniel. Suaranya terdengar lebih tenang.


"Untuk apa?" sambar Rangga. Rupanya dia tidak begitu saja terima jika Daniel merusak acaranya. Rangga tahu, kalau Valeda menjadi bad mood karena Daniel, dan dia tidak mau melepas Valeda kepada Daniel saat ini.


"Tidak ada hubungannya denganmu," jawab Daniel. Matanya berkilat ketika membalas pandangan Rangga.


"Ada," tandas Rangga. "Aku lebih mengenal Cinta ketimbang kamu."


"Valeda pacarku," timpal Daniel.


"Aku rasa, sahabat lebih penting ketimbang pacar," Rangga berkata dengan angkuh. "Apa kamu tahu, Cinta sampai mengambil cutinya karena kamu membuat perasaannya tidak nyaman?"


"Aku sudah katakan, ini tidak ada hubungannya denganmu," desis Daniel.


Rangga membuka mulutnya, hendak mendebat pernyataan Daniel. Valeda yang tahu bahwa ini akan menjadi medan perang, langsung maju dan menengahi dua laki-laki di depannya.


"Stop!" Valeda mendorong Daniel dan Rangga menjauh. "Kalau seperti ini, kalian berdua merusak hariku!" Valeda tidak mau terdengar berat sebelah. Dia masih bingung dengan apa yang terjadi, tapi dia tidak mau kehilangan salah satu di antara mereka karena keputusannya yang salah.

__ADS_1


"Cinta, tapi dia yang membuat harimu buruk," Rangga memperingatkan.


"Aku mengejarmu ke sini karena ingin membicarakan masalah kita," tambah Daniel.


"Bisa kalian selesaikan nanti. Jangan temui Cinta saat ini!" Rangga malah nyolot.


"Sampai kapan kamu mau memanggilnya 'cinta'!?" Daniel ikut emosi.


Valeda berbalik cepat, lalu berlari meninggalkan mereka berdua. Dia berlari cepat menuju salah satu wahana dan menyusup ke rombongan turis. Ketika menoleh ke belakang, Valeda bisa melihat Daniel dan Rangga mencoba mengejar. Sayangnya, bus yang mengangkut mereka sudah bergerak.


Valeda bersandar pada kursi bus. Dia bernapas lega saat tahu bahwa dia bisa kabur dari kedua laki-laki yang berdebat karena dirinya.


"Hi! You look scared. What happen?" (Hai, kamu terlihat ketakutan. Ada apa?). Seorang laki-laki yang duduk di sebelahnya tiba-tiba saja menyapa.


Valeda berdeham dan menyunggingkan sebuah senyuman. "Nothing. Just escape from my stupid friend," jawab Valeda. (Tidak apa-apa. Hanya melarikan diri dari temanku yang bodoh).


Laki-laki berambut pirang itu terkekeh mendengar jawaban Valeda. Matanya yang berwarna kuning cerah, berkilauan ketika tertimpa cahaya. "Indonesian?" tanyanya.


Alis Valeda terangkat. Mungkin karena dia lebih mirip orang Cina daripada Indonesia asli, jadi turis itu menanyakan asalnya. "Yes, I am."


"Valeda," Valeda menyambut uluran tangan teman barunya. "Mendengar Bahasa Indonesiamu yang fasih, sepertinya kamu sudah lama belajar?"


Liam mengangguk. "Aku sudah tiga tahun tinggal di sini. Kebetulan kampusku sedang libur. Jadi aku pergi jalan-jalan."


Valeda mengangguk saja mendengar ucapan Liam. Sebenarnya, dia tidak dalam mood untuk berbincang-bincang dengan orang asing. Pikirannya melayang mencari cara untuk kabur dari Daniel dan Rangga.


"Kamu benar tidak apa-apa?" Liam memastikan.


Valeda mengangguk. "Kedua temanku bertengkar di sana dan aku malas meladeni. Jadi aku tinggalkan mereka."


Liam tertawa mendengarnya. "Oke, oke... Silakan menikmati satwa di sini." Liam melempar senyuman sebelum menoleh ke arah berlawanan dan bicara pada anak kecil di sebelahnya. Valeda bisa menebak bahwa itu adalah adiknya.


Valeda melempar pandangan ke luar jendela. Dia menopang dagunya dengan satu tangan. Melihat hamparan warna hijau yang luas, membuatnya lebih rileks.

__ADS_1


Valeda tersenyum kecil saat melihat jerapah. Dia ingat bagaimana inginnya dia menyentuh jerapah waktu kecil dulu, sampai membuat Tuan Suherman kewalahan. 'Kangen Papa...' batinnya.


Lalu, Valeda menjadi lupa dengan masalahnya dan mulai menikmati penuh setiap binatang yang busnya lewati.


"Terima kasih sudah menikmati indahnya satwa dengan bus kami! Selanjutnya, silakan melanjutkan perjalanan dan melihat indahnya dunia bawah air!" suara operator bergaung di dalam bus.


Tidak lama kemudian, laju bus terhenti. Valeda keluar bersama rombongan turis itu. Liam melambai kecil padanya sebelum meninggalkan Valeda sendirian.


Valeda menoleh ke segala arah. Tidak ada tanda-tanda Rangga ataupun Daniel. "Hhh... Setidaknya akan damai untuk beberapa waktu," gumam Valeda.


Dia mulai melangkah, masuk ke dalam terowongan yang dikelilingi akuarium raksasa. Valeda berdiri di pagar dan mendongak. Sekumpulan ikan berwarna-warni melintas di atas kepalanya. Matanya silau akan keindahan alam bawah laut.


Valeda masih ingat dengan jelas, ketika dulu Alex mengangkatnya di atas bahu, agar Valeda dapat melihat ikan-ikan dengan lebih jelas.


Valeda menjulurkan tangan ke atas, seakan dia mau meraih kilauan ikan-ikan itu.


GREB!


Valeda tersentak karena tiba-tiba saja ada yang memeluknya dari belakang. Otaknya berhenti bekerja saking terkejutnya, namun indra penciumannya tahu siapa orang yang ada di belakangnya.


"Ketemu," bisiknya.


Valeda menelan ludah dengan susah payah. Jantungnya berdegup kencang. Dia bisa merasakan darah mengalir deras ke kepalanya.


"Ikut aku!"


Sebuah tarikan di tangannya memaksa Valeda untuk pergi mengikuti sumber suara. Mata Valeda terpancang pada bagian belakang kepala orang yang berjalan di depannya. Valeda dapat merasakan hangatnya tangan orang itu. Wajahnya terasa panas.


Mereka tiba di area istirahat. Valeda mendongak saat orang di depannya berbalik. "Jangan pernah berlari seperti itu dariku!"


"Kenapa?" tanya Valeda dengan suara pelan.


"Jangan pergi ke tempat di mana aku tidak bisa melihatmu," katanya lagi dengan suara pelan.

__ADS_1


Valeda tidak bisa mengalihkan pandangannya dari mata sayu lawan bicaranya. 'Kamu curang...' keluh Valeda dalam hati.


***


__ADS_2