DILARANG JATUH CINTA

DILARANG JATUH CINTA
73. Saksi Mata


__ADS_3

Suara benturan benda tumpul dan erangan seseorang terdengar samar-samar dari sebuah gudang tua dengan dinding tinggi termakan usia. Di sekitar gudang itu tidak tampak kehidupan. Gudang itu terletak di pinggiran kota dan berdiri di atas tanah pribadi seluas sepuluh are. Tanah itu berpagarkan pagar besi tinggi nan kokoh. Orang-orang yang tinggal di dekat tanah itu mengetahui bahwa tanah itu milik seorang pengusaha muda dan dijadikan gudang alat-alat berat miliknya. Tidak ada yang berani mendekat, karena tempat itu dijaga ketat oleh banyak satpam.


BAK! BUK! BUK!


"Dasar manusia hina! Mati saja!" umpat Rangga sambil melayangkan tongkat di tangannya ke tubuh laki-laki yang meringkuk lemah di dekat kakinya. "Kamu berharap apa!?" pekiknya. Dia berhenti dan mengambil nafas banyak-banyak sambil mengumpulkan tenaga untuk melampiaskan kekesalannya lagi.


"Banyak..." jawab laki-laki di bawahnya. Meski telah mendapat banyak sekali pukulan hingga hampir kehilangan kesadaran, laki-laki itu tetap bertahan. Dia memang tidak tahu caranya putus asa. Badannya bisa saja hancur, namun otaknya tetap bekerja untuk mencari jalan keluar.


Rangga berdiri dengan darah mendidih hingga ke kepalanya. "Banyak?" ulang Rangga sinis. Dia tidak percaya bahwa lawannya masih sanggup menjawab perkataannya.


"Aku berharap banyak... Karena aku mencintai Valeda..."


BUAK!!!


Sebuah tendangan mendarat tepat di dada Daniel hingga membuat nafasnya tertahan. Untuk beberapa saat, dia tidak mampu menarik nafas dan dadanya terasa sakit. Daniel memejamkan mata, berharap Tuhan memberinya sedikit kekuatan lagi untuk bertahan. Dia masih percaya bahwa seseorang akan menyelamatkannya. Dia tidak mau mati sekarang.


Rangga menyibak rambutnya ke belakang ketika melihat Daniel tidak berkutik. Rangga tahu bahwa dia sudah cukup banyak menghajar Daniel. Dia tidak akan membiarkan Daniel mati begitu saja. Ada banyak rencana dan siksaan yang ingin dia berikan pada rivalnya.


Rangga menarik kursi yang ada di dekat dinding hingga berada dekat dengan Daniel. Dia memperhatikan Daniel untuk beberapa saat. Laki-laki di depannya tidak bergerak. Rangga memperhatikan lebih seksama. Senyuman terukir di wajahnya saat mendapati dada Daniel yang masih naik-turun.


"Valeda akan aku buat putus asa," ujar Rangga. "Valeda akan terpuruk untuk beberapa waktu. Itu tidak menjadi masalah bagiku. Aku akan memberikan dia waktu sebanyak yang dia mau untuk bersedih. Itu adalah tawaran terakhirku untuk membiarkan Valeda mengenangmu. Lalu, waktu dia siap untuk bangkit, aku akan ada di sana." Rangga bersandar pada punggung kursi. Rencana ini sudah dia pikirkan matang-matang. "Valeda akan sadar bahwa aku selalu ada untuknya. Di masa lalu dan juga di masa sekarang."


Daniel membuka matanya. Dia melirik Rangga yang duduk di dekatnya. Wajah Rangga tampak puas. Daniel tahu bahwa Rangga akan bertindak sejauh ini untuk mendapatkan apa yang dia inginkan. Itulah salah satu alasan kenapa Daniel tidak menyukai orang-orang kaya. Karena banyak manusia yang mudah dibutakan dengan uang, dan perbuatan seperti ini akan menjadi mudah dilakukan oleh orang-orang jahat.


"Aku akan membuat Valeda jatuh cinta padaku. Berkali-kali dan sangat dalam. Sampai Valeda tidak bisa hidup tanpaku. Dan jangan khawatir tentang janin yang Valeda kandung. Aku akan membesarkan anakmu dengan penuh kasih sayang," Rangga mengakhiri kalimatnya dengan kedua sudut bibir terangkat, membuat sebuah lengkungan bak bulan sabit.


"Hahahahaha!" Daniel tiba-tiba tertawa. Meski dadanya sangat sakit, Daniel tidak bisa merasa tidak lucu dengan apa yang Rangga katakan. "Rangga, kamu tidak akan mendapatkan Valeda. Meski hanya sehelai rambutnya," tambah Daniel.


Rangga bangkit dari duduknya. Wajahnya memerah karena marah. Emosi memenuhi pikirannya hingga akal sehatnya menghilang. Rangga melempar tongkat di tangannya hingga menimbulkan bunyi dentangan beberapa kali.


"Mati kau!" Rangga menerjang Daniel dan memukulinya habis-habisan.


***


Rasa sakit yang tajam di daerah dada membuat Daniel tersadar. Dia tidak bisa membuka matanya dengan baik. Penglihatan sebelah kanannya kabur, sementara mata kirinya bengkak dan sulit dibuka. Dia menatap langit-langit gudang tempatnya disekap. Sinar matahari masuk dari jendela yang letaknya tinggi, bahkan hampir menyentuh langit-langit. Udara di dalam sana terasa lebih hangat. Daniel memperkirakan bahwa sekarang sudah menjelang siang.


'Sudah berapa hari aku di sini?' batinnya lemah. Dia menutup matanya lagi. Rasa lapar mengalahkan rasa sakit yang dia rasakan. Samar-samar, Daniel dapat mencium aroma roti. Namun aroma itu tidak bertahan lama karena darah yang mengering di hidungnya.


Daniel menoleh ke arah pintu besi. Itu adalah satu-satunya jalan keluar-masuk gudang. Ternyata di sana memang ada dua potong roti. Daniel tersenyum senang, karena tidak berhalusinasi. Dia teringat dengan roti terakhir yang ia santap bersama Valeda.


Hari itu cuaca sangat cerah. Bahkan langit bersih tanpa adanya awan. Valeda memutuskan untuk tidak ke kantor karena suasana hatinya sedang baik. Kemudian dia pergi menemui Daniel. Mereka berakhir sarapan bersama.


Daniel tidak merasakan firasat apapun, kalau esok harinya dia akan mengalami kejadian yang mengerikan. Anak buah Rangga menculiknya ketika perjalanan pulang dari kantor. Daniel sangat yakin kalau Rangga telah menghancurkan semua barang bukti hingga Daniel harus tersekap di gudang itu selama beberapa hari.


'Bagaimana kabar Valeda?' pikirnya. 'Aku yakin dia sedang bingung sekarang. Aku harap kepintarannya akan berfungsi meskipun dalam masa kritis. Valeda harus selamat dari iblis berwujud Rangga.'


TIba-tiba mata Daniel terasa panas. Air mata meleleh dari sudut matanya. Dia merasa sedih, bukan karena keadaannya, melainkan karena dia tidak bisa menepati janjinya untuk melindungi Valeda. Daniel tidak ada di sisi Valeda. Kesadaran akan betapa rapuhnya posisi Valeda, membuatnya benar-benar sedih.


'Bagaimana perempuan itu akan melanjutkan hidupnya jika berdiri sendirian di tengah serigala yang kelaparan?' batin Daniel. Dia sangat ingin melindungi perempuan yang kini menjadi tambatan hatinya.


***


"Tidak ada petunjuk sama sekali," bisik Celine ngeri.


Valeda menghempaskan diri di sofa ruang tamu apartemennya. Dia memijit keningnya, gusar. Sudah enam hari berlalu semenjak Daniel menghilang. Valeda tidak menarik kecurigaannya pada Rangga. Tetapi, semakin gencar dia mencari bukti, semakin jauh titik terang yang dia rasakan. Semuanya bias hingga tidak mampu dibedakan secara logika. Valeda tidak menyangka kalau Rangga bisa bertindak sedetail ini tanpa celah yang dapat dia tembus.


"Apa aku harus memeriksa satu-persatu properti yang dimiliki Rangga, hingga menemukan Daniel?" tawar Kris.


Valeda menggeleng. "Itu hanya akan membuat dirimu celaka. Kita memerlukan rencana lain," jawab Valeda.

__ADS_1


Celine menatap Valeda lekat-lekat. Ada banyak pertanyaan di kepalanya dan dia sangat ingin menanyakan semua itu pada Valeda, satu demi satu. Namun lidahnya kelu. Suaranya juga tidak mau keluar. Dia takut akan kemungkinan-kemungkinan buruk yang terjadi. Celine juga ingin mempercayai semuanya akan baik-baik saja pada waktunya.


"Ngomong-ngomong, bagaimana dengan kandungan Nona?" tanya Kris. "Bukankah trimester pertama adalah yang paling sulit?"


"Ah, ya, benar," sahut Celine. "Kalau kamu merasa lelah atau pusing, kamu bisa meminta bantuanku kapan saja."


"Aku juga akan ada kapanpun Nona memerlukanku," tambah Kris.


Valeda tersenyum melihat kedua sahabatnya memberikan dedikasi penuh padanya. Valeda merasa bersalah karena tidak memiliki kesempatan menjelaskan semuanya pada mereka sebelumnya.


"Apakah saat ini adalah waktu yang tepat untuk membicarakan ini?" Celine tampak ragu, tapi dia ingin menginterogasi Valeda lebih jauh. Bagaimanapun, Celine tahu apa saja jadwal Valeda dan menghabiskan sebagian besar waktunya bersama Valeda. Kabar bahwa Valeda hamil benar-benar membuatnya terkejut. "Kapan aku bisa mengetahui jenis kelamin anakmu?" tanya Celine. "Aku sangat suka anak-anak. Aku akan membantumu untuk menjaganya."


"Aku juga akan membantu," sambung Kris. "Memang tidak banyak pengalamanku dengan anak-anak, tapi aku bisa menjaga mereka."


"Setelah masalah ini selesai, ayo kita membeli peralatan bayi dan juga baju-baju," ajak Celine.


Valeda tersenyum simpul. Suasana hatinya menjadi hangat berkat Celine dan Kris. "Kalian harus tahu sesuatu," jawab Valeda.


Celine dan Kris terdiam. Mereka memperhatikan Valeda dengan seksama. Valeda dapat merasakan kasih sayang yang besar dari keduanya.


"Aku tidak hamil," Valeda melanjutkan. Ekspresi Celine dan Kris langsung berubah. Mereka melongo dengan mata terbuka lebar. "Mengatakan bahwa aku hamil adalah ide Daniel. Kami ingin membuat Rangga marah waktu itu."


"Ta... Tapi, USG itu?" tanya Celine.


"Aku tidak tahu kapan Daniel menyiapkan USG itu. Aku sendiri kaget dengan pernyataannya yang tiba-tiba," jawab Valeda. "Kamu tahu sendiri, aku selalu sibuk dengan jadwal yang kamu susun untukku. Lagipula, tiada hari yang aku lewatkan tanpa kalian, 'kan?"


Celine melempar pandangan pada Kris, begitu pun sebaliknya. Mereka bertukar tanda tanya besar di kepala mereka tanpa suara. Celine tidak menyangka bahwa dia tertipu mentah-mentah oleh Valeda.


"Lalu, apa rencana kalian sebenarnya?" tanya Kris. "Bagaimana caranya kami membantu?"


Wajah Valeda kembali lesu. "Aku tidak tahu," jawabnya dengan nada putus asa. "Aku hendak membahas ini dengan Daniel, tetapi dia menghilang. Aku sangat yakin kalau Rangga telah melakukan sesuatu."


"Aku tidak bisa menjaga jarak dengannya. Bagaimanapun, aku tidak boleh menimbulkan kecurigaan di depan Rangga. Dia bisa saja membunuh Daniel seperti--" Valeda terhenti, dia ngeri sendiri ketika mengingat kecelakaan yang menimpa adik-adik Daniel dulu.


TRIRIRIRING!


Suara bel pintu membuat mereka tersentak kaget. Mereka terdiam untuk beberapa detik, sebelum Celine bangkit dari duduknya. "Aku akan bukakan pintu," kata Celine.


"Tunggu!" Valeda menghentikan. "Kalian singkirkan sepatu milik kalian dan gelas-gelas ini. Buat seolah aku tidak sedang kedatangan siapapun. Lalu, bersembunyilah di kamar tamu!" perintah Valeda.


Kris langsung mengerjakan perintah Valeda tanpa bertanya apapun. Melihat Kris seperti itu, Celine buru-buru menelan pertanyaan di mulutnya dan langsung merapikan gelas-gelas di atas meja. Kemudian mereka pergi ke kamar tamu, namun membiarkan pintunya sedikit terbuka.


"Memangnya siapa yang datang?" bisik Celine.


"Ssst, kita diam saja. Kamu sendiri tahu kalau Valeda memiliki feeling yang kuat, 'kan?" Kris balas berbisik. "Ubah handphone-mu dalam mode silent!" Kris memperingati.


Celine merogoh tasnya dan segera melakukan yang Kris katakan. Lalu dia ikut mengintip ke luar ruangan. Kamar tamu itu terletak di sebelah ruang tamu, jadi mereka bisa menyaksikan apa yang terjadi di luar kamar dengan jelas.


Valeda pergi ke arah pintu untuk menyambut tamu yang datang. Setelah mengintip, ternyata orang itu adalah Rangga. "Sesuai dugaanku," gumam Valeda. Dia membuka pintu dengan hati-hati. Dia tidak mau sampai Rangga menyadari ketakutannya.


"Hai, CInta," sapanya seperti biasa.


Kalau saja Valeda tidak mencurigai Rangga, mungkin saja dia merasa tenang dan nyaman dengan kehadiran Rangga. Tetapi, kali ini Rangga membuatnya bergidik ngeri. Kalau benar Rangga adalah orang dibalik semua ini, bagaimana bisa dia muncul dengan wajah tanpa bersalah seperti itu?


"Ada apa?" tanya Valeda.


"Aku hanya ingin berkunjung," jawab Rangga santai. "Boleh aku masuk?"


Valeda mundur selangkah untuk membiarkan Rangga melewatinya. "Aku kira kita akan bertemu saat makan malam di rumahku nanti," Valeda melanjutkan.

__ADS_1


"Aku rindu padamu," jawab Rangga cepat. Dia duduk di sofa ruang tamu Valeda. "Aku juga mau minta maaf dengan kejadian kemarin. Aku sadar sudah membuatmu tidak enak hati dengan berkata seenaknya mengenai Daniel. Bagaimanapun, dia adalah laki-laki yang kamu cintai dan ayah dari anakmu."


Valeda membalas tatapan Rangga. Dia hampir menerjang Rangga dan memaksanya untuk mengatakan di mana sebenarnya Daniel berada sekarang.


"Aku akan menunggumu, Cinta. Sampai kamu siap untuk merelakan Daniel dan datang padaku," Rangga menambahkan.


"Aku tidak akan pernah siap," jawaban berani itu meluncur begitu saja dari mulut Valeda. 'Bahkan, jika aku benar-benar hamil, aku akan memilih membesarkan anak itu sendirian,' batinnya.


Rangga menghela nafas. "Jangan keras kepala. Perutmu tidak akan sekecil itu selamanya. Media juga sebentar lagi akan tahu tetang kondisimu. Bagaimana dengan reputasi yang selama ini kamu bangun? Jika para pemegang saham tahu, bahwa kamu hamil di luar nikah, bagaimana mereka bisa mempercayaimu nanti?"


"Itu urusan mereka."


Rangga menggeleng. "Kamu harus memikirkannya matang-matang. Kamu masih muda. Jangan merusak masa depanmu dan masa depan anakmu. Terimalah tawaranku untuk menikah denganku."


"TIDAK!!!" pekik Valeda. Sebenarnya dia sudah cukup stres dengan desakan Rangga yang tiada henti. Dia tidak mengerti kenapa Rangga sebegitu inginnya menikah dengannya. "Kenapa kamu keras kepala? Memangnya apa yang kamu dapatkan dengan melakukan hal ini?"


"Aku sahabatmu. Aku hanya ingin menyelamatkanmu."


"Pikirkan dirimu sendiri!" Valeda meledak.


Rangga berdiri. Tubuhnya yang menjulang tinggi dengan badan kekar, membuat Valeda ciut. Senyuman di wajah Rangga memudar. Matanya berkilat mengerikan. "Menikahlah denganku," geramnya. "Selagi aku membicarakan ini baik-baik."


Celine hendak keluar dari persembunyiannya, karena merasa Valeda berada di dalam bahaya. Namun dia terhenti karena Kris menarik tangannya. Celine menoleh, mendapati Kris memegang handphone-nya dalam keadaan menyala dan merekam semua kejadian di luar ruangan.


"Tenanglah," bisik Kris.


Celine kembali bersimpuh dan diam. Dia kagum pada Kris yang memikirkan cara ini, sementara dia hanya bisa merasa khawatir dengan Valeda. Celine memeluk lengan Kris yang bebas, mencoba mencari sedikit perlindungan.


"Pergi!" bentak Valeda.


Rangga menyibak rambutnya ke belakang. Alisnya berkerut. Sorot matanya sangat menyeramkan. "Aku akan mengatakan ini sekali lagi saat kita bertemu di rumahmu. Aku harap, jawabanmu tidak akan seperti ini untuk ketiga kalinya."


"Jawabanku akan sama untuk berapa kalipun!" jawab Valeda cepat.


Jawaban itu membuat Rangga kehilangan akal sehatnya. Tangannya melayang dan mendarat di pipi Valeda dengan keras. Tamparan itu membuat Valeda jatuh tersungkur.


"Kamu yang meminta ini, Val," ujar Rangga dengan santainya. "Sejak awal. aku membicarakan ini dengan baik-baik. Aku pikir, kamu masih perempuan cerdas yang dulu aku kenal. Rupanya Daniel telah merubahmu menjadi bodoh dan membosankan."


Valeda mengerjap, menemukan kembali kesadarannya. Dia menarik tangannya untuk menyentuh pipinya yang berdenyut menyakitkan. Ini adalah pertama kalinya Valeda mendapatkan tamparan. Air mata hingga mengalir saking sakitnya tamparan Rangga.


"Kompreslah pipimu dengan es. Kamu tidak bisa datang ke jamuan makan malam dengan wajah seperti itu."


"Aku tidak akan datang," sahut Valeda. Suaranya bergetar. "Aku tidak akan datang ke tempatmu berada. Aku akan menemukan Daniel apapun caranya dan menyeretmu ke dalam penjara!"


Rangga mengernyit. "Apa maksudmu?" tanyanya.


"Aku tahu, orang yang menyebabkan Daniel menghilang adalah kamu. Aku akan mencari dan menemukan buktinya."


"Hahahahaha!" Rangga terbahak. "Kamu berimajinasi apa, Val?"


Valeda menelan ludah. Ini adalah pertama kalinya Rangga tidak memanggilnya dengan panggilan akrab mereka. Memang tidak mungkin Rangga akan terus memanggilnya 'Cinta', padahal mereka berada di dalam situasi tegang seperti sekarang.


"Apa kamu sebegitu inginnya bertemu dengan laki-laki lemah itu?" tanya Rangga.


Valeda mendongak cepat, kaget dengan pertanyaan Rangga barusan. "Apa?" bisik Valeda tidak percaya.


Rangga mengeluarkan saputangan dari saku celananya, kemudian langsung membekap Valeda. Valeda meronta tanpa daya, kalah dengan kekuatan yang Rangga miliki. Lama-kelamaan, tubuhnya lemas dan Valeda akhirnya kehilangan kesadaran. Rangga membiarkannya tergeletak tidak sadarkan diri di lantai, lalu merapikan ruangan yang sedikit berantakan karena mereka bergulat.


"Baiklah, ayo kita pertemukan kamu dan Daniel sialan itu," ujarnya seraya tersenyum kecil.

__ADS_1


***


__ADS_2