
Valeda dan Daniel termenung dalam diam. Valeda sudah mencoba mencari jalan keluar, namun hasilnya nihil. Hanya ada sebuah pintu yang pastinya terkunci rapat dan jendela setinggi langit. Mereka bahkan tidak bisa berdiri untuk sekedar berpindah tempat. Keadaan Daniel sangat buruk. Hanya dengan melihat sekilas, Valeda tahu bahwa Daniel hampir tidak bisa mempertahankan kesadarannya.
"Val... Jangan terlalu memaksakan diri," kata Daniel. "Aku sudah mencoba mencari jalan keluar, namun tidak berhasil."
"Kita harus memikirkan cara lain," sahut Valeda.
Daniel tersenyum melihat semangat Valeda yang masih membara. Setidaknya, Daniel merasakan sinar kehidupan dari Valeda. Daniel terluka parah akibat Rangga yang murka. Suatu keajaiban dia masih bisa bertahan selama ini.
Krriieeeetttt...
Pintu gudang terbuka perlahan. Valeda dan Daniel menoleh kaget, karena tidak menyangka Rangga akan kembali secepat itu. Tetapi, mereka lebih kaget lagi ketika yang muncul dari balik pintu besi nan kokoh itu adalah Celine dan Kris.
Tenggorokan Valeda tercekat. Rasa senang dan takut bercampur menjadi satu di kepalanya. Dia ingin melompat kegirangan karena melihat kedua orang kepercayaannya, sekaligus ingin berteriak memerintahkan mereka untuk pergi dari tempat itu secepat mungkin.
Celine berlari cepat menghampiri Valeda. Sementara itu, Kris menutup kembali pintu gudang hingga meninggalkan celah kecil yang cukup untuknya mengintip ke luar.
"Sedang apa kalian di sini?" pertanyaan bodoh itu meluncur begitu saja dari mulut Valeda.
Celine membuka ikatan di tangan Valeda tanpa waktu dengan gunting. "Menurutmu, untuk apa aku di sini?" Celine menjawab, kesal sendiri. Begitu selesai dengan Valeda, Celine berpindah pada Daniel. "Kamu bisa bertahan sebentar lagi, Dan?" tanyanya.
"Aku harap begitu-ah! Hati-hati, tulang rusukku ada yang patah," pinta Daniel.
Kris datang mendekat begitu melihat Celine selesai membuka ikatan Daniel. "Ayo, cepat! Kita tidak punya banyak waktu!" kata Kris. Dia berusaha secepat mungkin membopong Daniel.
Daniel mengernyit kesakitan. Dia merapatkan rahangnya untuk menahan rasa sakit yang mendera tubuhnya. Valeda berpindah ke tangan Daniel yang bebas dan ikut membopongnya. "Daniel, bertahanlah!" pinta Valeda.
Kris dan Valeda menyeret Daniel menuju pintu gudang. Celine berjalan di depan mereka tanpa suara. Tangan Celine sudah berada di gagang pintu gudang, sebelum tiba-tiba pintu itu terbuka sendiri. Semua membeku di tempatnya.
"Wah, wah, wah!" Rangga muncul. Senyuman yang menakutkan terulas jelas di wajahnya. Dia seolah memancarkan aura hitam dan siap menerjang orang di depannya seperti banteng. "Lihatlah reuni yang mengharukan ini!"
Tanpa perintah, enam orang anak buah Rangga langsung maju dan melumpuhkan semua orang yang ada di hadapan Rangga. Celine terjatuh hanya dengan sekali hempasan tangan. Valeda berhasil memberikan dua pukulan tidak berarti pada salah satu bodyguard Rangga, tapi akhirnya jatuh juga. Kris mengerahkan segenap tenaganya untuk adu jotos dengan tiga orang lainnya. Sementara seorang bodyguard lainnya menghajar Daniel yang langsung jatuh tersungkur.
Tanpa memerlukan banyak waktu, pihak Valeda kalah. Mereka diikat tangan dan kakinya, kemudian dijejerkan layaknya hewan yang akan disembelih.
"Aku sudah curiga waktu melangkah ke luar gudang. Gudangku yang dijaga orang-orang pilihan sampai terbakar, bukanlah hal yang lumrah. Ternyata benar, kalian datang untuk membebaskan Daniel dan Valeda." Rangga menarik kursi dan duduk di dekat jejeran mangsanya. "Kalian benar-benar konyol! Lihatlah keadaan kalian saat ini," ujarnya kemudian tertawa terbahak-bahak. "Celine, Kris, apa kalian tidak mau berpihak padaku?"
"Tentu tidak," jawab Kris cepat.
Rangga bangkit dan melayangkan sebuah tendangan ke dagu Kris. Kris terjatuh ke samping. Matanya berkunang-kunang. Beberapa detik kemudian, Kris kembali duduk di sebelah Daniel. Daniel tidak lama diam dalam posisi duduk. Dia akhirnya jatuh telentang dengan nafas tersengal. Tidak ada suara yang keluar dari mulutnya.
"Kalian ternyata belajar sangat lambat," cibir Rangga. Dia kembali duduk dengan kaki menyilang.
"Kalau aku mengikutimu," Kris bersuara kembali, "apakah kamu tidak akan menjebakku menjadi tersangka kebakaran?"
Rangga terdiam untuk beberapa detik. "Kebakaran?"
__ADS_1
"Tentu mudah bagimu untuk mencari kambing hitam atas perbuatan jahat yang sudah kamu lakukan," jawab Kris. "Melihat kamu bisa berbuat ini pada kami, aku tidak bisa membayangkan sudah berapa banyak korban di tanganmu."
"Hahahahaha! Itulah hebatnya uang!" Rangga yang terdengar bangga, membuat bulu kuduk Valeda meremang. Dia masih tidak percaya bahwa orang yang dia anggap sahabat dan bersamanya sejak kecil adalah seorang psikopat gila.
"Kebakaran apa maksudmu, Kris?" tanya Valeda.
"Apa Nona tidak curiga?" sahut Kris. "Kebakaran yang terjadi ketika Nona kecil, bukanlah sebuah kecelakaan."
Rangga terkekeh mendengar jawaban Kris. "Apa kamu punya bukti kalau itu bukan kecelakaan? Memangnya apa yang kamu miliki sampai bisa menyeretku ke dalam kasus itu lagi?"
"Oh, sekarang kamu mengakui kalau hal itu adalah perbuatanmu?" sambar Kris. "Nona dengar sendiri, 'kan? Kebakaran itu bukan salah Daniel, tapi salah manusia satu ini!"
Rangga menghampiri Kris dan menyarangkan pukulan membabi buta pada Kris. Celine yang kaget dengan gerakan tiba-tiba Rangga, langsung menjerit dan memohon agar Rangga menghentikan perbuatannya.
"Tidak! Rangga, berhenti! Jangan!" cicit Celine putus asa.
Rangga berhenti setelah merasa puas menghajar Kris. "Kamu menyebalkan sekali," kata Rangga. "Kenapa kamu mengungkit masa laluku? Tidak ada untungnya bagimu mengetahui semua itu sekarang."
Kris menyeka darah di ujung bibirnya dengan bahu. "Kalau begitu, tidak ada ruginya kamu menceritakan kebenarannya di depan Nona Valeda," sahut Kris.
"Hehehehe," Daniel yang sedaritadi diam, tiba-tiba terkekeh. Dia masih tidur telentang menghadap langit-langit gudang. "Dia tidak akan menceritakan apapun, Kris. Dia terlalu pengecut untuk mengotori tangannya dengan kejujuran."
Valeda dan Celine saling bertukar pandang. Mereka tidak mengerti kenapa Daniel dan Kris banyak bicara, padahal mereka adalah pihak yang dirugikan? Lebih parahnya lagi, mereka berdua selalu memancing amarah Rangga.
"Apa kalian sebegitu inginnya tahu tentang kebenaran kasus kebakaran itu?" Rangga bertanya. "Tapi, setiap satu kalimat yang aku katakan, kalian akan menerima pukulan dariku. Adil, 'kan?"
Rangga bangun mendekati Kris. "Apa pertanyaanmu?"
"Apa kamu yang membakar rumah kaca Nona Valeda?"
BUAK!
Sebuah pukulan mendarat di rahang kiri Kris. Rangga tersenyum saat melihat Daniel tetap kokoh di tempatnya. "Ya, aku pelakunya," jawab Rangga enteng.
Mata Valeda membulat. Dia tidak percaya bahwa Rangga bisa menjawab pertanyaan itu dengan mudahnya saat ini. Jantung Valeda berdegup sangat kencang. Kepalanya menjadi sedikit pening. Dia memejamkan mata, mencoba mengingat kembali apa yang sebenarnya terjadi.
"Apa kamu belum bisa mengingat kejadian itu, Cinta?" perhatian Rangga beralih pada Valeda.
"Kenapa kamu melakukan hal itu?" tanya Valeda. Suaranya bergetar mengikuti debaran jantungnya yang sekencang kereta api yang tengah melaju.
"Kenapa?" Rangga mengulang pertanyaan Valeda. "Menurutmu, apa lagi alasanku melakukan hal itu, selain karena aku begitu menyukaimu?"
Valeda menelan ludah. Bulu kuduknya berdiri. Valeda ngeri sendiri, karena dia sadar pernah jatuh hati pada Rangga ketika mereka duduk di bangku SMP dulu. Namun, perasaan itu dia kubur dalam-dalam saat melihat Rangga berpacaran dengan perempuan lain. Dia menyimpulkan bahwa di antara dirinya dan Rangga, tidak boleh ada hubungan asmara.
"Aku tidak mengerti, kenapa kamu tidak menyadarinya?"
__ADS_1
"Kamu berpacaran dengan banyak perempuan. Bagaimana aku menyadarinya?" sanggah Valeda.
"Itu hanya cara membuatmu cemburu. Tapi, malah ini yang aku dapatkan sekarang." Rangga menggulung lengan bajunya hingga siku. Dia melemaskan otot pergelangan tangannya dengan wajah ceria. "Apa ada pertanyaan selanjutnya?"
"Kenapa kamu menuduhku sebagai pelaku waktu itu?" Daniel angkat suara.
Rangga melangkah cepat mendekati Daniel, hendak menendangnya kuat-kuat. Namun Kris buru-buru menghadang dan membalas tatapan mata Rangga dengan berani. Rangga langsung mendaratkan tinju keduanya pada Kris. "Wah, persahabatan yang mengharukan," kata Rangga. Dia menyeka darah di buku tangannya dengan saputangan. "Daniel, setelah ini kamu harus tutup mulut supaya temanmu itu tidak babak belur seperti nasibmu!"
"Jawab pertanyaannya!" potong Kris.
Rangga tersenyum lagi. Suasana hatinya sedang bagus karena mendapatkan banyak mangsa hari ini. "Daniel itu seperti serangga pengganggu. Ayahnya adalah tangan kanan ayah Valeda dulu, tapi Daniel bertindak seolah-olah dia adalah pasangan hidup Valeda. Laki-laki rendahan yang tidak tahu diri. Dia lupa daratan dan harus diberi pelajaran, 'kan?"
Valeda mengerjap. Beberapa kilasan tentang masa kecilnya melintas di kepalanya. Dia teringat tentang seorang anak laki-laki yang selalu mengajaknya bermain. Valeda bukan anak yang pandai berbaur, namun anak itu membantunya bersosialisasi dan Valeda menyukai anak itu.
"Cinta, apa kamu tahu seberapa banyak uang yang ayahmu keluarkan agar kenangan itu tidak muncul di kepalamu lagi?" Rangga bertanya. "Aku masih ingat bagaimana terguncangnya ibumu saat orang-orang memanggilmu 'Tuan Putri Gila'."
Daniel menoleh ke arah Valeda. Dia tahu bahwa perempuan itu sedang menghadapi masa sulit. Ada alasan baik sampai dia melupakan segalanya. Daniel tidak tahu apa yang akan terjadi pada Valeda, kalau dia sampai mengingat semuanya. Satu keyakinan Daniel, dia tidak akan meninggalkan Valeda apapun risikonya.
"Ada pertanyaan lagi?" tantang Rangga.
Kris baru akan membuka mulutnya, ketika suara debam keras memotongnya. "Val!" pekik Celine kaget. Dia bergeser cepat untuk mendekati Valeda yang tergeletak di lantai. "Val! Valeda!" panggil Celine khawatir.
Daniel terdiam. Dia ingin mendekati Valeda, namun sulit baginya bergerak. Sekujur tubuhnya kaku karena kesakitan. "Val..." gumamnya lirih. "Celine, apa Valeda pingsan?" Daniel memastikan.
Celine mengangguk. "Sepertinya kepalanya sakit lagi karena ingat kejadian masa kecilnya," jawab Celine.
"Baguslah," Rangga menyela. "Dengan begitu, akan mudah bagiku membawanya ke rumah sakit untuk menggugurkan kandungannya."
Rahang Daniel mengeras. Dia ingin sekali menghajar Rangga habis-habisan. "Aku punya pertanyaan," Daniel mencoba mengulur waktu, walau dia tahu tidak ada harapan meskipun dia melakukan hal itu. Akhirnya Rangga akan membawa Valeda dan mengetahui bahwa kehamilan itu hanyalah berita palsu.
Kris menegakkan badannya, bersiap menerima pukulan Rangga selanjutnya. Dia tidak mau jika Daniel dihajar Rangga lagi. Kris tahu bahwa Daniel sudah mencapai batasnya. Kalau lebih dari ini, Daniel bisa tidak sadarkan diri, atau yang lebih buruk, Daniel akan kehilangan nyawanya.
BUAK!
Kris jatuh dengan posisi meringkuk setelah Rangga menendangnya. Kris dapat merasakan kalau bahunya bergeser. Dia merapatkan rahangnya untuk menahan rasa sakit.
"Silakan pertanyaannya," Rangga mempersilakan.
"Apa kamu yang membunuh adikku?" geram Daniel. Matanya berkilat penuh dendam, tetapi hal itu tidak membuat Rangga gentar.
Alis Rangga terangkat. Dia berbalik dan memanggil salah satu anak buahnya. Seorang laki-laki berkaos hitam dengan badan sedang menghampirinya. "Bukan aku yang membunuh anak-anak itu," jawab Rangga. Dia menarik tangan anak buah itu dan menunjukkan jari-jarinya. Rangga tersenyum miring. "Tapi orang ini yang membunuhnya."
Gigi Daniel bergemeletuk. Amarah meluap menguasai dirinya. Wajahnya terasa panas dan jantungnya berdetak cepat. Saat ini dia hanya ingin melenyapkan Rangga. Seorang manusia kotor yang tidak bisa menerima kenyataan dan menghalalkan segala cara, sampai mencabut nyawa orang tidak bersalah sekalipun.
Namun, amarah itu mereda saat Daniel tidak sengaja melihat senyum Kris walau hanya sekilas, ketika Rangga membelakangi mereka untuk memerintahkan anak buahnya agar menyiapkan mobil. Daniel mencoba untuk tenang dan tidak bertanya apa rencana Kris saat ini. Semenjak orang paling 'diam' itu menjadi sangat bermulut besar, Daniel hanya mengikuti alur mainnya.
__ADS_1
"Aku rasa sesi tanya-jawab kita harus berakhir di sini. Kita masih akan bertemu dan kalian akan membusuk di sini," Rangga kembali pada mereka. "Daniel, aku akan membawa anakmu ke sini sebagai cendera mata," tambahnya dengan wajah puas penuh kemenangan.
***