DILARANG JATUH CINTA

DILARANG JATUH CINTA
8. Perkara Ketiga


__ADS_3

Valeda tidak bergerak ketika mendapati kandidat ketiga dari Nyonya Emely adalah seorang introvert psikopat.


Awalnya, Valeda tidak mau mengomentari penampilannya yang membuat mata sakit. Laki-laki itu memakai kemeja putih dengan dasi kupu-kupu berwarna merah. Dia mengatakan bahwa tema pakaiannya hari ini adalah 'Detektif Conan'. Masih untung dia tidak mengenakan celana pendek ke restoran itu.


Lalu, dia memakai kacamata hias yang sangat besar hingga bisa menenggelamkan hidungnya yang tidak begitu mancung. Rambutnya disisir klimis dengan banyak pomade, membuatnya berkilat ketika tertimpa cahaya.


"Lihat orang di sana," desisnya.


Valeda malas menoleh ke arah yang Febri tunjukkan dengan dagunya. Dia lebih tertarik dengan sushi di depannya. Tapi, berhubung Valeda tidak ingin membuat lawan bicaranya tersinggung, dia mengikuti saja permintaan Febri.


"Orang gendut itu. Dia membuat orang-orang merasa penat hanya dengan melihatnya bernafas," bisiknya.


Valeda mengerutkan keningnya. Tidak percaya dengan sarkasme yang Febri lontarkan. Valeda tidak pernah bermasalah dengan ukuran tubuh ataupun wajah kebanyakan orang.


Dia bukan orang dengan tipe yang mementingkan hal seperti itu. Jadi, dia tidak mengerti kenapa Febri sebegitu terganggunya dengan orang yang tidak ada hubungannya dengan dirinya.


"Saya tidak merasa terganggu. Orang itu bahkan duduk sejauh lima meter dari saya," jawab Valeda.


Febri mengerutkan keningnya. "Kamu harus mulai menjaga kesehatan dirimu!" sahutnya.


"Orang itu tidak seperti punya penyakit menular. Kalaupun punya, saya tidak berinteraksi dengannya," Valeda masih menjawab dengan logikanya.


"Tidak, tidak! Semua orang bisa saja menjadi zombie saat ini. Dunia sudah kacau. Memang lebih baik kalau kita diam di rumah dan bekerja dari balik layar," Febri masih bicara tidak berdasar.


Valeda tidak ingin menanggapi Febri. Dia melahap sushi di mejanya perlahan. Menikmati bagaimana rasa sushi itu meleleh di mulutnya. Dia hanya harus bertahan hingga makanannya habis. Jadi, semakin cepat Valeda menghabiskan makanannya, semakin cepat dia bisa pulang.


"Lihat pelayan itu!" Febri memulai lagi. "Pakaiannya terlalu ketat. Tidak baik jika perempuan berpakaian begitu. Oom-oom botak itu sudah memperhatikan dari tadi. Pantat pelayan itu memang sungguh menggoda."


Valeda menelan makanannya dengan penuh perjuangan. Mendengar Febri mengatakan hal itu, membuat Valeda mual.


Febri menyomot sushinya tanpa menggunakan sumpit, melainkan langsung menggunakan tangannya.


Valeda menutup mulutnya dengan tissue. Dia tidak sengaja melihat ke dalam mulut Febri saat dia membuka lebar mulutnya. Gigi Febri yang berlubang di hampir setiap gerahamnya, mengumbar bau busuk yang tidak menyenangkan.


'Astaga! Laki-laki ini gila!' batin Valeda frustasi.


"Aku tidak suka orang-orang tidak beretika seperti itu. Harusnya mereka lebih peka terhadap pandangan orang lain," Febri bicara lagi.


Valeda mulai pusing. Dia meletakkan sumpitnya di atas piring. Sebenarnya dia merasa sayang dengan sushi enak di depannya. Tapi, nafsu makannya sudah benar-benar hilang karena Febri.

__ADS_1


Valeda bangkit dari duduknya. Dia sudah ingin sekali berlari meninggalkan Febri di sana.


"Mau ke mana?" tanya Febri.


"Toilet," jawab Valeda singkat setelah berpikir sejenak.


"Kamu harus hati-hati saat di toilet," Febri membungkukkan badannya di atas meja, seakan tidak mau ada yang mendengarnya selain Valeda.


"Lantainya licin?" Valeda melemparkan kemungkinan logis yang ada di kepalanya.


Febri menggeleng dengan tatapan tajam. "Hati-hati ada kamera tersembunyi di atas langit-langit kamar mandi. Atau, cermin itu ternyata dua arah. Bisa saja petugas cleaning service memasang penyadap suara di belakang toilet duduk."


Valeda tertawa tidak percaya dengan apa yang dia dengar. Berhadapan dengan Febri ternyata lebih menguras tenaga ketimbang merancang mall barunya. Febri terlalu mengada-ada. Itukah sebabnya dia menjadi seorang introvert psikopat?


Merasa hanya akan buang-buang waktu saja, Valeda berlalu ke toilet untuk sekedar menghirup udara segar. Aroma toilet restoran ini bahkan lebih enak ketimbang bau mulut Febri.


Lantunan suara musik klasik dari Yiruma tiba-tiba saja terdengar dari dalam tas tangan yang Valeda pegang. Nama Celine tertera di layarnya. "Celine, selamatkan aku!" sambar Valeda tidak sabar. "Aku akan mati! Mati sungguhan! Cepat datang kemari!"


"Wow! Wow! Wow! Ada apa, Nona Valeda?" Celine masih sempat juga bercanda, padahal Valeda sudah mau menangis.


"Orang ketiga ini, benar-benar gila! Aku harus bisa melarikan diri! Jemput aku!" seru Valeda panik.


"Aku akan kasih kamu libur tambahan untuk bulan ini. Cepat jemput aku!"


"Oke, oke. Aku ke sana bareng Kris," jawab Celine akhirnya, kemudian menutup telepon.


Valeda menyibak rambutnya ke belakang. Dia berkeringat untuk alasan yang tidak jelas. Perutnya terasa penuh dan dia ingin muntah.


Paling cepat, waktu yang dibutuhkan Celine dan Kris untuk sampai adalah tiga puluh menit. Tidak mungkin Valeda menunggu di dalam toilet sampai selama itu. Febri akan berpikir yang aneh-aneh dan membuat keributan. Valeda tidak mau tertangkap dengan orang aneh seperti Febri.


Valeda keluar dari toilet. Dia mengintip ke mejanya sejenak, melihat Febri yang duduk bungkuk dan bergerak menjauh setiap kali ada yang lewat di sebelahnya.


"Gilaaaaa," gumam Valeda. Dia tidak mau kembali ke meja itu. Namun, dia harus melewati meja itu jika ingin keluar dari restoran.


Ketika rasa putus asa melanda, seorang laki-laki yang sepertinya dia kenal, lewat di hadapannya. Tanpa basa-basi, Valeda menangkap tangan laki-laki itu.


"Tunggu!" pinta Valeda.


Laki-laki itu berbalik karena tangannya ditarik Valeda. Dia membalas tatapan Valeda dari balik topi bisbolnya. "Ya?"

__ADS_1


"Kita pernah ketemu sebelumnya," jawab Valeda, meski dia tidak yakin di mana pernah melihat laki-laki di depannya.


"Oh, ya! Terima kasih atas bantuannya!" laki-laki itu menunduk dalam di depan Valeda. "Kalau bukan karena bantuan Nona, adik saya tidak akan selamat. Bahkan adik saya mendapat kamar perawatan yang terbaik."


Valeda langsung teringat dengan kejadian kemarin malam. "Bayar aku!" Valeda menangkap kedua tangan laki-laki asing di depannya.


"Ba...yar?" tanyanya lambat-lambat dengan wajah melongo. Jelas dia kaget dengan perkataan Valeda. "Ta-tapi... Saya tidak punya uang untuk--"


"Bukan uang!" Valeda menggeleng cepat. "Bayar aku dengan bantu aku keluar dari sini!"


Tanpa menunggu izin dari laki-laki di depannya, Valeda meraih topinya dan langsung mengenakannya di kepala. Dia memasukkan rambut panjangnya ke dalam topi dengan asal.


"Jaketmu! Jaketmu!" pinta Valeda tidak sabar.


Dengan polosnya, lelaki itu menurut saja dengan apa yang Valeda minta. Mungkin, baginya topi dan jaket tidaklah sepadan dengan apa yang sudah Valeda berikan untuk adiknya.


"Ini," dia menyerahkan jaketnya pada Valeda.


Valeda buru-buru memakai jaket yang dia terima. Begitu dia menaikkan retsleting jaket hingga menutupi lehernya, Valeda menengok kembali ke mejanya.


Febri masih di sana. Dia tengah bicara dengan seorang pelayan wanita sambil tertawa-tawa. Berbeda dengan Febri, pelayan itu memasang ekspresi tidak suka dan mendekap nampannya di depan dada. Valeda sekiranya tahu apa yang terjadi.


"Nona, ada a-"


"Apa ada jalan keluar lain dari sini?" tanya Valeda cepat, memotong pertanyaan laki-laki itu.


"Ada. Lewat dapur," jawab si lelaki.


"Tolong bantu aku keluar dari sini!"


Laki-laki itu tidak bertanya lebih lanjut dan menuntun Valeda menuju dapur untuk mencari jalan keluar alternatif.


"Daniel, semua muatan sudah diturunkan. Kamu mau balik sekarang?" Seorang koki menghampiri.


"Ya. Saya pulang sekarang," jawab laki-laki yang memunggungi Valeda.


"Untuk pembayaran, seperti biasa saja, ya?" ujar sang koki. Matanya kemudian menyadari Valeda yang bersembunyi di belakang Daniel. "Siapa itu? Kok balik-balik kamu malah bawa cewek? Ketemu di mana?"


"Maaf, saya menolak untuk memberitahu. Saya dalam misi penyelamatan," pamit Daniel, kemudian langsung menarik Valeda ke luar.

__ADS_1


***


__ADS_2