DILARANG JATUH CINTA

DILARANG JATUH CINTA
9. Siasat


__ADS_3

Selama menunggu Celine dan Kris sampai, Valeda duduk di dalam mobil pick up milik laki-laki itu agar tidak terkena udara malam yang dingin. Kebetulan sekali, di luar sedang hujan gerimis. Walau tidak lebat, tetap saja akan membuat basah kalau berdiri di bawahnya selama tiga puluh menit.


"Kak, bau, ya?" seorang anak kecil yang duduk di sebelah Daniel bertanya. Gigi depannya yang ompong membuat wajahnya tampak lucu jika tersenyum.


Valeda mengendus-endus dengan serius. "Bau apa? Sayuran maksudmu?" Valeda balik bertanya.


Anak itu menoleh pada Daniel. "Kak Dan," dia berbisik, namun masih bisa didengar oleh Valeda. "Cewek cantiknya nggak masalah sama bau sayur. Kak Dan udah pinter nyari pacar."


"Uhuk! Uhuk! Uhuk!" Daniel sengaja batuk agar kalimat terakhir terdengar samar di telinga Valeda. Dia pastinya merasa tidak enak dengan perempuan yang sudah menolongnya.


"Kak Dan, kalo batuk, tutup pake siku bagian dalam, dong! Tangannya jadi banyak kuman!" protes anak kecil itu.


"Nama kamu siapa, Dik?" Valeda mengalihkan pembicaraan.


"Gio," anak kecil itu mulai tertarik lagi dengan Valeda.


"Kemarin, siapa yang sakit?" tanya Valeda.


"Adik Gio yang sakit. Namanya Indah. Tapi udah sembuh. Kata Kak Dan, ada orang kaya yang bantuin Indah sampai sembuh," jawab Gio apa adanya.


"Perempuan ini yang bantu Indah, Gi," sahut Daniel cepat.


Mata Gio jadi membulat sempurna dan berbinar, seakan dia melihat pelangi di pagi yang cerah setelah hujan semalam. "Benarkaaaaaah?" tanyanya takjub.


"Cuma kebetulan. Kebetulan aku ada di sana dan bisa membantu," Valeda tersipu malu. Dia menyukai tatapan jujur Gio. Ingin rasanya dia membawa Gio pulang ke rumahnya dan menjadikannya saudara.


"Terima kasih, Kak! Berkat Kakak, adik saya sehat lagi!" Gio memeluk Valeda sangat erat.


Wajah Valeda jadi merah. Dia jatuh cinta dengan kehangatan dan kejujuran dari anak kecil itu.


"Oh, itu jemputan Nona," Daniel memotong kebahagiaan Valeda.


Mobil sedan kesayangan Valeda berhenti tepat di depan pick up Daniel. Tidak mungkin Daniel salah, karena mobil Valeda bukanlah mobil pasaran yang bisa digunakan oleh banyak orang.


Tidak lama setelah mobil berhenti, Celine turun membawa payung diikuti Kris. Valeda buru-buru membuka pintu mobil dan turun dari pick up agar Celine melihatnya.


"Astaga, Val!" pekik Celine kaget saat melihat Valeda. "Kenapa? Ada apa?"

__ADS_1


"Ini malam yang gila!" keluh Valeda. "Kita langsung kembali ke apartemenku."


"Jaket siapa ini, Nona?" tanya Kris yang tiba di sebelah Valeda.


Valeda baru ingat dengan keberadaan Daniel dan Gio. Dia mengetuk kaca mobil pick up. Daniel langsung menurunkan kaca jendela mobilnya. "Jaket dan topimu akan aku kembalikan setelah dicuci."


Daniel akan menjawab bahwa tidak apa-apa jika dikembalikan sekarang. Namun, dia teringat laki-laki yang tadi diintip Valeda. Dia tidak mau dicap sama sebagai psikopat, meskipun beda urusan. "Oke," jawab Daniel pada akhirnya.


Malam itupun akhirnya berlalu. Malam yang bagi Valeda adalah malam paling buruk selama dia hidup. Tidak pernah Valeda menghabiskan banyak tenaga untuk menghadapi laki-laki. Bahkan, tadi dia sampai memerlukan bantuan orang asing. Selama Valeda bersama Celine, hanya Celine satu-satunya orang yang Valeda percayai untuk diminta bantuannya.


Valeda bisa bernafas lega begitu tiba di apartemennya yang nyaman dan hangat. Dia segera membersihkan diri dan bergabung bersama Celine dan Kris di ruang tamu.


"Masih bisa makan?" tanya Celine.


"Kalian memesan sesuatu?" Valeda mengusap kepalanya dengan handuk. Rambutnya masih sedikit basah saat ini.


"Kris memesan ayam goreng dan bir," Celine melirik ke arah Kris. "Dia sedang ingin memberi 'hadiah' untuk dirinya."


Valeda duduk di sebelah Celine. Dia menatap Celine dan Kris bergantian. "Karena kalian sudah menolongku, silakan pakai tempatku sesuka kalian malam ini."


Valeda tidak keberatan jika saat ini Celine dan Kris memenuhi ruangannya dengan wangi ayam goreng. Valeda juga akan menikmati makanan yang mereka pesan. Dia mau melepas penat setelah berhadapan dengan tiga laki-laki gila dalam tiga hari berturut-turut.


"Aku tidak akan menemui Mama besok," putus Valeda.


"Tapi Nyonya Emely akan mencarimu, Val," Celine mencoba mengingatkan. "Beliau adalah orang yang paling tidak ada kerjaan di dunia ini."


"Hhh, kamu benar," keluh Valeda.


"Bagaimana kalau kamu sembunyi untuk beberapa hari? Misalnya pergi ke luar negeri?" tawar Celine.


"Nyonya Emely akan mengejarnya," sahut Kris. "Luar negeri bukanlah tempat yang sulit untuk dijangkau Nyonya Emely."


"Apalagi dengan mata-mata di sampingku," tambah Valeda, inginnya menyindir Kris, tapi Kris malah manggut-manggut dan membuat Valeda terkekeh geli.


Kris tidak menyangkal. Memang benar, bahwa Nyonya Emely sering menghubunginya untuk bertanya kabar atau keberadaan Valeda. Berbeda dengan Celine yang sibuk, Kris masih bisa menjawab panggilan masuk karena tugasnya hanyalah di belakang kemudi saat Valeda membutuhkan.


"Cel, apa kamu punya ide untuk menghindari kencan buta seperti ini lagi?" tanya Valeda.

__ADS_1


"Sudah saya katakan pada Nona. Ada tiga hal yang bi--"


"Kris, stop!" bentak Valeda, memotong perkataan Kris. "Kamu sendiri lihat, kan? Mamaku tidak semudah itu menghentikan kencan buta yang tidak berguna ini."


"Nona benar," Kris manggut-manggut lagi.


"Kamu biasanya pintar. Masa tidak punya ide apapun?" Celine balik bertanya pada Valeda.


Valeda memijit-mijit keningnya, mulai berpikir dengan serius. Dia harus mendapatkan ide yang cemerlang untuk keluar dari masalah ini. Valeda harus bisa mencari siasat yang paling bagus agar tidak lagi jatuh ke dalam perjodohan yang mengerikan itu.


Tidak hanya Celine. Valeda sendiri heran, kenapa otaknya tidak berfungsi sebagus waktu dia bekerja. Semuanya seakan tidak berfungsi sekarang, membuatnya pusing tujuh keliling.


"Val, seriusan kamu tidak ada ide?" Celine bertanya lagi.


Valeda mendengus keras mendengar pertanyaan Celine yang tidak membantu. "Kamu juga mikir, dong!" perintah Valeda.


"Permisi, pesanan!" suara Abrah terdengar dari balik pintu apartemen Valeda. Kris bergegas bangun dari duduknya dan menghampiri pintu, sementara Valeda dan Celine berpikir dalam diam.


"Ambilah," Kris menyelipkan selembaran uang seratus ribu ke tangan Abrah.


"Te-terima kasih, Tuan!" Abrah tersenyum senang, kemudian membungkuk dan pamit dari hadapan Kris.


Kris kembali ke tempat duduknya. Dia membuka kotak ayam gorengnya dengan perlahan, kemudian lanjut membuka kaleng bir.


Saat mendongak, Kris masih mendapati kedua perempuan di depannya sedang berpikir keras. Padahal, Kris sudah membukakan kaleng bir mereka. Ayam goreng juga telah tersedia di depan mata. Tidak ada satupun yang tertarik.


Kris menghela nafas panjang. Dia berencana untuk melepas penat malam ini, sebelum Valeda menelepon Celine lalu menyeretnya hingga kemari. Namun, yang sekarang dia dapatkan adalah dua orang pekerja keras yang berpikir keras merusak jam istirahatnya.


"Apa kalian belum menemukan jawaban?" tanya Kris.


"Kris, ini seperti kamu ingin menemukan undian berhadiah di dalam bungkus shampo. Kamu harus berusaha!" jawab Valeda kesal. Sedetik kemudian, Valeda diam dengan mata membulat. "Celine!"


"Apa!?" Celine menoleh kaget karena Valeda tiba-tiba berteriak sambil memanggil namanya.


"Aku ada ide!" Valeda bertepuk tangan riuh, heboh sendiri.


***

__ADS_1


__ADS_2