
"Cinta!"
Panggilan itu membuat Valeda dan Daniel menoleh ke arah sumber suara. Valeda dapat melihat Rangga memunggungi mereka, tampak menoleh ke sana kemari. Dia pasti mencari keberadaan Valeda.
"Rang—" belum selesai Valeda menjawab panggilan Rangga, Daniel sudah menariknya untuk pergi. "Dan, itu si Rangga nyariin aku," kata Valeda, namun tetap mengikuti Daniel.
"Aku tidak akan membiarkanmu pergi ke tempatnya," suara Daniel terdengar seperti geraman.
Valeda berusaha untuk tidak memikirkan apapun, tapi tetap saja hatinya berpihak pada Daniel. Dia senang melihat Daniel yang menemukannya. Jujur saja, Valeda bersyukur bahwa Daniel yang saat ini menarik tangannya, bukan Rangga.
Valeda menggeleng keras. Dia mencoba menyingkirkan imajinasi-imajinasi yang tidak masuk akal mengenai Daniel. 'Kita hanya pacaran berdasarkan kontrak!' Valeda mengingatkan dirinya lagi. 'Jika Daniel menemukan tambatan hatinya, aku tidak akan berguna lagi!'
Daniel akhirnya berhenti menyeret Valeda, ketika mereka tiba di wahana harimau. Daniel mendorong Valeda agar naik ke tangga paling atas dan duduk di sana. Sorakan penonton yang kagum akan atraksi harimau di panggung membuat mereka berdiam untuk sesaat.
Valeda mengatur napasnya. Dia menoleh pada Daniel yang duduk diam di sebelahnya. Raut wajah Daniel terlihat marah. Valeda tahu, kalau Daniel sedang memikirkan sesuatu, tapi enggan untuk mengatakannya.
Valeda menunduk, melihat tangan mereka yang masih saling bertautan di atas lutut Daniel. 'Apa Daniel belum sadar kalau dia masih menggandeng tanganku?' pikir Valeda. Valeda menyentuh lengan Daniel untuk mendapatkan perhatiannya. Lengan yang tempo hari pernah disentuh oleh mantan pacar Daniel.
Daniel menoleh kaget, kemudian melepas tangan Valeda. "Maaf," katanya canggung.
"Bukankah saat ini terlalu terlambat untuk minta maaf?" Valeda terkekeh. "Daripada meminta maaf, aku ingin kamu menjelaskan mengenai apa yang terjadi. Kenapa kamu mengajakku kabur dari Rangga dan kenapa kamu marah," pinta Valeda.
Daniel menyibak rambutnya ke belakang. "Tidak tahu," jawab Daniel ambigu. "Aku marah saat melihatmu bersamanya. Jadi, aku mengajakmu kabur."
"Sudah aku katakan, dia adalah sahabatku. Kami sudah dekat sejak kecil. Lagipula, kami keluarga," Valeda membela Rangga. Dia mulai berpikir kalau apa yang Rangga katakan di mobil tadi, adalah benar adanya.
"Kenapa tidak mengajakku? Kenapa kamu tidak bisa dihubungi?"
"Kamu marah padaku tadi pagi, ingat?" tanya Valeda.
"Kenapa kamu selalu saja menyulut amarahku?" gerutu Daniel dengan wajah kesal.
Alis Valeda terangkat. "Apa? Aku? Menyulut amarahmu?" Valeda tertawa nyaring. "Kamu yang tidak jelas! Kamu menyembunyikan banyak rahasia dariku! Apa kamu pikir aku tidak kesal? Lihat saja ting–"
__ADS_1
Tanpa aba-aba, Daniel mendaratkan sebuah ciuman tepat di bibir Valeda, membuat Valeda terdiam saking kagetnya. Dia dapat merasakan bulu mata Daniel yang lentik menggelitiki pipinya. Valeda ikut memejamkan mata. Walau dia kesulitan bernapas, Valeda menikmati hangatnya sentuhan bibir Daniel.
Tangan Daniel menyentuh pipi Valeda, perlahan bergerak menyusuri tengkuknya. Bulu kuduk Valeda meremang merasakan sentuhan Daniel di kulitnya.
Daniel melepas ciumannya. Dia memandang lurus pada Valeda. Sorotan matanya menegaskan bahwa dia siap untuk ditampar. "Val..." bisik Daniel, karena Valeda tidak bereaksi. "Maaf untuk yang ini..."
Valeda baru mau bertanya untuk apa tepatnya Daniel meminta maaf, namun Daniel sudah ******* bibirnya lagi. Kali ini bukan hanya sekedar kecupan, tapi lebih intens.
Valeda bergerak canggung. Ini pertama kalinya dia mendapatkan ciuman. Dia sendiri kaget karena dia menyukai hal itu. Rasanya seperti ada seribu kupu-kupu yang menyeruak keluar dari perutnya, persis seperti lagu-lagu cinta yang pernah dia dengar.
Tepat saat sorakan berikutnya terdengar, Daniel menarik diri kembali. Matanya sayu, seakan dia sedang mabuk. Pipinya tampak kemerahan.
"Ka... Kamu baik-baik saja, Dan?" Valeda menangkup pipi Daniel, cemas dengan perubahan ekspresi Daniel.
Daniel tertawa mendengar perkataan Valeda. Valeda yang dari awal memang menyukai gigi gingsul Daniel, menjadi semakin terpesona. "Lihatlah, Val! Yang harusnya dikhawatirkan itu adalah kamu sendiri. Wajahmu merah seperti kepiting rebus," ujar Daniel sambil terbahak.
Valeda langsung menutupi wajahnya dengan kedua tangan. "Jangan lihat aku!" cicitnya malu.
Daniel memegang kedua pergelangan tangan Valeda dan menariknya perlahan. "Jangan ditutupi," katanya dengan nada lembut. "Kamu cantik sekali..."
Kreeeoookkkk!
Daniel dan Valeda menunduk, memandang perut Valeda yang meraung-raung. "Kamu lapar?" tanya Daniel.
"Aaaaah! Nggak tahu!" Valeda berdiri, hendak melarikan diri.
Daniel buru-buru menangkap tangan Valeda sebelum dia berhasil kabur. "Kita pergi bersama. Aku tidak mau menyerahkanmu pada laki-laki itu lagi," kata Daniel. Wajahnya terlihat serius, hingga Valeda tidak berani membantah.
Sebenarnya, Valeda masih ragu dengan semua orang yang ada di sekitarnya. Daniel yang memiliki hasrat untuk balas dendam dan hubungannya dengan Valeda dulu. Lalu, Tuan Suherman dan Rangga yang seolah bungkam dengan apa yang terjadi sebenarnya.
Apakah Daniel sebenarnya ingin balas dendam pada ayahnya yang sudah menyebabkan ayah Daniel kehilangan pekerjaannya? Pertanyaan itu muncul di kepala Valeda.
Daniel menggandeng tangan Valeda, seolah dia takut Valeda akan kabur lagi seperti tadi. Matanya bergerak waspada, tidak mau berpapasan dengan Rangga di tengah jalan. "Oh iya, Val... Aku ke sini dengan taksi. Aku harap, kamu tidak keberatan jika harus menggunakan taksi untuk kembali ke apartemenmu," kata Daniel sambil menoleh ke samping.
__ADS_1
Valeda mengangguk saja untuk menjawab. Lidahnya masih kelu. Pikirannya masih melayang di waktu Daniel menciumnya dengan lembut.
"Kamu mau makan apa?" tanya Daniel ketika mereka sampai di pintu masuk kebun binatang.
"Apa saja," jawab Valeda dengan wajah tertunduk.
Daniel memberhentikan satu taksi yang kebetulan lewat, kemudian mereka langsung masuk. Daniel segera memberitahukan tempat tujuan mereka pada sopir taksi.
Daniel bersandar pada kursi dan menoleh ke arah Valeda. "Val, apa kamu baik-baik saja?" tanya Daniel.
Valeda tidak berani membalas tatapan Daniel. Rasanya, jantungnya akan meledak jika pandangan mereka bertemu. "Memangnya aku kenapa?"
Daniel tersenyum. "Kamu cantik sekali jika sedang malu-malu begini. Tidak ada bedanya dengan seorang gadis biasa. Sangat manis."
"Aaaargh! Jangan terus menggodaku!" Valeda meninju lengan Daniel. "Kamu yang membuatku jadi aneh seperti ini!"
"Hehehe," Daniel malah cengengesan. "Iya, iya, aku akan bertanggung jawab penuh." Daniel membelai kepala Valeda.
Valeda menyilangkan tangan di depan dada. "Ehem!" dia berdeham. Agak sulit baginya untuk menanyakan masalah pribadinya sendiri. "Aku mau menanyakan hal yang penting."
"Ya, kamu bisa bicara," jawab Daniel santai.
"A-apa kamu akan menemui dia lagi?" tanya Valeda gugup.
"Siapa yang kamu maksud?" Daniel tidak mengerti.
Valeda mencibir, seakan dia jijik menyebut sebuah nama yang ada di kepalanya.
Hal itu membuat Daniel langsung mengerti. "Maksudmu Berlian?"
Valeda membuang muka. Terlihat jelas bahwa dia tidak menyukai Berlian. Tiba-tiba saja Valeda sadar akan satu hal. Dia benci menyebut nama Berlian, sama seperti Daniel yang tidak mau menyebut nama Rangga.
Daniel memainkan rambut Valeda dengan jari-jemarinya. "Dia salah satu asdos di kampusku. Tidak mungkin aku selalu menghindarinya," jawab Daniel kalem.
__ADS_1
***