
Rangga tampak tidak suka dengan Daniel yang meremehkannya. Wajahnya tertekuk dan alisnya berkerut sempurna. Daniel tidak pernah melihat Rangga sekesal ini sebelumnya.
"Ah, apa itu?" Valeda menyadari tas yang ada di atas meja. Sebelum Rangga datang, tas itu ti hf fdak ada di sana.
Rangga balik tersenyum pada Valeda. "Aku bawakan makan siang untukmu, Cinta," jawab Rangga kalem. Seketika ekspresinya berubah tenang kembali.
Valeda melirik pada Daniel. Dia ingat kalau Daniel tidak suka jika Rangga memanggilnya dengan sebutan 'Cinta'. Tapi, hal itu sudah berlangsung lama. Valeda perlu waktu untuk membicarakannya dengan Rangga.
"K-kamu tidak perlu repot-repot membawakan kami makan siang," jawab Valeda.
Rangga menggeleng. "Aku tidak membawakannya untuk Daniel. Hanya kamu," sanggah Rangga. "Apa kamu ada waktu? Setelah makan, aku mau mengajakmu pergi."
Valeda menjadi bimbang. Sedetik lalu, Daniel memperingatkannya untuk tidak percaya pada siapapun yang datang dan tidak memakan apapun. Tapi, ini Rangga. Rangga yang adalah keluarganya dan juga sahabatnya sejak kecil. Valeda merasa sudah mengetahui Rangga luar dan dalam. Kenapa dia tidak bisa percaya pada siapapun yang datang setelah kejadian tadi?
"Kamu bilang, kalau kamu lapar, kan, Val?" tiba-tiba Daniel bersuara.
Valeda tersentak dan bertambah bingung dengan ucapan Daniel. Dia melemparkan pandangan 'apa maksudmu' pada Daniel tanpa bersuara.
"Kalau kamu tidak mau, biar aku yang makan," Daniel menyambar tas di atas meja, namun dengan cekatan ditangkap Rangga. "Wah, wah wah... Sampai sebegitunya kamu menjaga makanan untuk Valeda? Memangnya ini apa? Emas?"
"Bukan urusanmu," hardik Rangga. "Apakah gaji yang diberikan Valeda masih kurang, sehingga kamu juga mau mengambil makan siangnya?"
Daniel tersenyum miring. "Apakah Valeda semiskin itu, sampai kamu membawakannya makan siang segala?" tukas Daniel. "Sebenarnya, apa yang ada di dalam makanan itu, sampai aku tidak boleh mencobanya?"
Rangga tertawa nyaring. "Kecurigaan apa yang baru saja kamu katakan? Apa sekarang kamu sedang berakting menjadi detektif? Atau kematian adikmu membuatmu gila?"
Daniel tersenyum miring. "Siapapun yang kehilangan adiknya, akan menjadi gila," jawab Daniel.
Hening jatuh di sekitar mereka. Rangga tidak melanjutkan argumennya, sementara Daniel menatap Rangga lurus-lurus, seperti tidak takut. Valeda yang berada di tengah-tengah, menjadi bingung harus bagaimana.
__ADS_1
"Mmm," Valeda memutar otaknya. "A-aku akan makan makanan yang kamu bawa, Ga," ujar Valeda pada akhirnya.
"Bagaimana kalau kita makan di mobil?" tawar Rangga. "Ada tempat yang mau aku kunjungi sama kamu, Val."
Valeda menoleh ke arah Daniel. Daniel mengangguk sekilas. "Aku tidak bisa menahanmu, kan? Kamu bukan tahanan," Daniel melucu.
Rangga berdiri tanpa berusaha berbasa-basi lagi. Niatnya untuk pergi dari tempat itu sangat terlihat jelas di wajahnya. Bahkan, dia tidak tampak ingin menutupi keinginannya itu.
"Rangga, aku mau bicara sedikit lagi dengan Daniel. Bisa tunggu aku di luar?" tanya Valeda, sebelum mengikuti Rangga berjalan menuju pintu kantornya.
Ada kilatan kebencian yang Rangga lemparkan pada Daniel untuk sekian detik. Tapi, akhirnya dia mengalah dan keluar dari ruangan Valeda.
Valeda berbalik, dia hendak mengatakan sesuatu pada Daniel. Namun, sebelum dia mengeluarkan suara, Daniel memberikan isyarat untuk diam. Daniel bergerak mendekat. "Semua akan baik-baik saja. Bukan kamu targetnya," bisik Daniel sepelan mungkin.
Pikiran buruk tiba-tiba menyergap kesadaran Valeda. Melihat Daniel menatapnya lurus-lurus, dia seakan tahu apa yang tengah laki-laki di depannya pikirkan.
"Tidak apa. Kamu tenang saja," kata Daniel lagi, kali ini dia tersenyum. Daniel tahu bahwa dia telah mengatakan sesuatu yang membuat Valeda khawatir. Daniel mengusap pipi Valeda dengan punggung tangannya. Pipi Valeda terasa dingin. Daniel tahu, Valeda tidak bisa tenang saat ini. Valeda memang bukan perempuan biasa. Tapi, kali ini keadaan berbeda dan dia pintar membaca situasi.
"Val," Daniel berkata lambat-lambat dengan nada lembut. "Aku sangat mencintaimu. Maaf jika aku melanggar janjiku. Tapi, aku tidak mau membiarkanmu pergi lagi."
Valeda tertawa pelan. "Apaan, sih? Kenapa tiba-tiba bicara begitu?"
Daniel ikut tertawa pelan. "Aku percaya padamu. Kamu bisa mengendalikan keadaan saat aku tidak ada, kan?"
Valeda mengangguk yakin. Dia ingin laki-laki di hadapannya bisa percaya padanya. Valeda sadar bahwa Daniel sudah melalui banyak hal demi dirinya. Dia sampai menyatakan cintanya dua kali dan mengakhiri kontrak mereka. Pemikiran bahwa Daniel mengatakan hal yang sama sedetik yang lalu, membuat hatinya berbunga.
"Aku akan menjemputmu secepat mungkin. Sabarlah..."
Valeda mengangguk sekali lagi. Dia tahu bahwa dia bisa mempercayai Daniel. Valeda pun berlalu mengikuti Rangga yang sudah menunggunya di luar.
__ADS_1
Daniel duduk kembali di sofa. Dia meregangkan lehernya yang pegal. Dia harus segera memikirkan cara untuk keluar dari situasi ini. Daniel tahu, semakin dia mengulur waktu, semakin besar kemungkinan adik-adiknya ada di dalam bahaya. Begitu juga dengan dirinya. Dia berhadapan dengan seorang manusia gila yang tidak memiliki belas kasihan.
"Apa aku harus menerobos masuk ke rumahnya untuk mencari bukti?" tanya Daniel pada dirinya sendiri. Kemudian, dia menggeleng cepat. "Itu sama saja dengan aku mengubur diri hidup-hidup."
Daniel bangkit. Dia berjalan secepat yang dia bisa. Saat berpapasan dengan Celine d luar ruangan kantor Valeda, Daniel berhenti sejenak.
"Apa kamu akan pergi sekarang?" Celine berbasa-basi.
"Aku harus menangkap tikus yang membuatku seperti ini," jawab Daniel seraya tersenyum.
"Kris bisa mengantarmu," tawar Celine.
Daniel menatap Celine lekat-lekat. "Kalian lebih baik berhati-hati. Ada kemungkinan tikus itu juga mengincar kalian," ujar Daniel.
Celine bergerak gelisah. "Sebenarnya..." dia berkata lambat-lambat. "Aku mengkhawatirkan Kris."
"Apa ada sesuatu yang terjadi?" tanya Daniel. Celine tidak langsung menjawab. Daniel tahu, bahwa Celine tengah menimbang apakah dia akan bercerita atau tidak. "Katakan saja. Apapun itu, meski itu hanya sebuah hal kecil."
"Aku dan keluargaku bisa melindungi diri kami sendiri. Kami cukup waspada dengan apapun di sekitar kami, karena dunia kami memang seperti ini," Celine memulai. "Tapi Kris..."
Daniel seketika itu mengerti dengan maksud Celine. "Kamu bisa membuktikan cintamu pada Kris saat ini. Jika uang tidak masalah bagimu, tentunya apa yang Valeda lakukan untukku, bisa kamu lakukan pada Kris," usul Daniel.
Celine tersenyum kecil. Sebenarnya dia sudah menyewa beberapa orang untuk menjaga Kris dan keluarganya.
"Aku harus pergi," pamit Daniel.
"Hati-hati!"
Daniel terpikirkan satu cara yang mungkin saja bisa dia gunakan untuk memancing musuhnya keluar dan melakukan kesalahan.
__ADS_1
***