
Valeda melihat Daniel yang menghempaskan diri di sofa dekat deretan vas bunga mawar milik Nyonya Emely. Wajah Daniel tampak kusut meski dia sudah menyantap banyak makanan yang disediakan di acara makan malam keluarga Valeda.
"Capek?" tanya Valeda, sembari duduk di sebelah Daniel. Valeda mengambil jarak aman bagi dirinya agar tidak terpesona dengan karisma yang Daniel miliki.
Mereka duduk jauh dari keramaian yang ada. Valeda dapat melihat Tuan Suherman dan Nyonya Emely yang asyik bersenda gurau dengan tamu mereka. Tuan Suherman tampak sibuk sedari mereka datang, jadi Daniel memutuskan untuk menyapa Beliau saat pulang saja.
Sementara itu, Alex dan Joan menghindari Daniel ataupun Valeda. Mereka tahu, jika membuat masalah sekarang, Tuan Suherman akan murka pada mereka.
Lalu Lucas, dia sudah pulang sedaritadi. Lucas sempat pamit pada Valeda dan Daniel sebelum dia pergi. Pastinya, Lucas ingin menemui istri dan anak-anaknya di setiap kesempatan yang dia punya.
"Sudah lama aku tidak mengikuti acara resmi seperti ini. Rasanya melelahkan juga," Daniel menjawab sambil tersenyum. "Terima kasih untuk makanan lezatnya. Aku bisa merasakan perutku yang mengembang."
Valeda terkikik melihat Daniel mengusap-usap perutnya. Memang benar kalau Daniel makan terlalu banyak tadi. "Jangan sampai tidak bisa bernafas, Dan," ujar Valeda.
"Tapi, seenak apapun makanan di sini, aku masih menunggumu memasak sesuatu untukku," celetuk Daniel.
"Jangan bahas itu dulu. Mood-ku sedang bagus, nih!" Valeda manyun.
"Hahaha, lihatlah wajahmu saat ini, Val," Daniel tertawa.
"Baiklah, baiklah! Sarapan besok, biar aku yang mengerjakannya!" jawab Valeda sengit.
Daniel menggeleng pelan. "Aku mau kamu istirahat lebih banyak malam ini. Sarapan biar aku yang buat dan kita bisa makan siang di warung makan langgananku."
"Lalu?"
"Buatkan aku makan malam," Daniel tersenyum simpul.
Valeda langsung memalingkan wajahnya begitu melihat senyuman Daniel. Dia menyukai senyuman itu, bahkan amat menyukainya. Hal itu menjadi sangat berbahaya baginya. "Oke, baiklah! Makan malam besok di apartemenku."
Daniel meletakkan tangannya di punggung sofa belakang Valeda. "Kamu mulai sering mengundangku ke apartemenmu."
"Hah!?" cicit Valeda. Wajahnya langsung memerah. "Kalau kamu tidak suka, tidak usah datang!"
"Bukannya tidak suka..." Daniel berkata pelan. "Selain denganku, jangan mengundang siapapun untuk masuk ke apartemenmu semudah ini."
__ADS_1
"Hahaha! Memangnya kamu tidak 'berbahaya'?" selidik Valeda.
Daniel tidak langsung menjawab, membuat Valeda berhenti tersenyum. Mereka sama-sama diam dan bertukar pandangan.
"Tadi, saat aku melihatmu selesai berdandan," Daniel berbisik, "aku hampir kehilangan akal sehatku."
Valeda merasa seperti tersengat listrik ketika mendengar perkataan Daniel. Jika saja yang mengatakan hal itu adalah orang lain, Valeda pasti berpikir kalau itu adalah pelecehan. Tapi, dia merasa senang karena Daniel yang mengatakannya. Pipi Valeda bersemu merah, dia urung memalingkan matanya. Valeda menyukai detik-detik seperti ini.
'Waktu... Berhentilah sejenak...' batin Valeda.
"Jadi, kamu setuju?" Daniel membangunkan Valeda dari lamunannya.
"Apanya?" Valeda malah tidak connect.
Daniel mengulurkan tangannya, memilin rambut panjang Valeda dengan lembut, kemudian menciumnya. "Jangan undang laki-laki lain ke apartemenmu. Setuju?"
"A... Aku bahkan tidak membiarkan kakakku masuk..." jawab Valeda pelan.
Daniel tersenyum lagi. Kali ini, Valeda terlambat memalingkan wajahnya. Dia menyaksikan senyuman Daniel dari dekat dan itu membuatnya tersihir untuk sekian detik.
"Kamu belum pernah melihat mereka, ya?" tanya Daniel.
Valeda menggeleng pelan. "Belum."
"Kapan ada waktu luang? Besok sepulang kerja? Kita ke panti asuhanku dulu, lalu malamnya ke apartemenmu?"
"Iya, boleh," Valeda setuju.
"Mau lihat fotonya? Aku punya beberapa. Mereka sangat aktif dan lucu." Daniel mengeluarkan ponselnya dan langsung mencari album foto. "Lihatlah! Kembar buncing yang menggemaskan!"
Valeda menunduk, melihat layar handphone Daniel yang menampilkan dua anak dengan wajah yang sama persis. "Wah! Aku tidak bisa membedakan mereka!"
Daniel terkekeh mendengarnya. "Aku juga tidak bisa membedakan mereka, kalau tidak membuka celana mereka," jawabnya. "Tapi, ibunya bisa membedakan mereka dengan mudah!"
"Benarkah? Siapa nama mereka?" Valeda mulai tertarik karena melihat wajah Daniel yang berubah cerah.
__ADS_1
"Bram dan Angel."
"Aku ingin segera bertemu mereka," ujar Valeda. "Kamu sangat suka anak-anak, ya?"
Daniel mengangguk semangat. "Sangat, sangat suka!" jawabnya dengan antusias. "Aku sangat menginginkan adik saat itu, tapi Tuhan mengambilnya. Ketika Ayah memberiku banyak adik di panti asuhan, detik itu juga aku bersumpah akan menjaga mereka baik-baik."
Valeda menghela nafas. "Tapi... Kamu malah mencari masalah dengan Joan."
Senyuman Daniel langsung lenyap bak ditelan bumi. "Kamu benar... Aku membuat masalah tadi."
"Padahal Lucas sudah memberimu peringatan," tambah Valeda. "Joan akan menghantui hidupmu mulai dari sekarang. Kamu harus memperingatkan adik-adikmu tentang Joan. Aku juga akan menambah beberapa security di panti asuhan. Lalu, beberapa CCTV akan aku pasang di sekitar tempatmu. Kita harus memastikan adik-adikmu aman dari bahaya Joan."
"Hhh," Daniel ikut menghela nafas. "Aku sudah bertekad untuk tutup mulut sejak bertemu dengan Joan. Tapi, mendengar dia merendahkan kamu seperti itu, membuatku ingin menghajarnya!" Daniel meninju telapak tangannya dengan genggaman tangannya yang lain.
"Hihihihihi," Valeda terkikik melihat tingkah Daniel.
"Itu juga berlaku pada Tuan Alex, Nona!" tambah Daniel.
Valeda menepuk punggung tangan Daniel, lalu menggenggamnya. "Terima kasih, Dan..." kata Valeda. "Sebelumnya, tidak ada yang memihakku. Aku sangat bersyukur mengenalmu."
"Aaargh! Tapi tetap saja, aku gagal mengambil hati keluargamu," Daniel menghempaskan diri ke belakang lagi. "Padahal aku sudah dandan seperti ini. Aku juga sudah membulatkan tekad untuk bicara baik-baik sejak pagi tadi. Namun semuanya kacau gara-gara mulutku."
"Kamu sendiri yang bilang, kan? Kamu tidak bisa mengharapkan semua orang menyukaimu, karena kamu pun belum tentu menyukai mereka," Valeda mengutip perkataan Daniel saat di restoran dulu.
Daniel mengangguk setuju. "Kamu benar. Bagaimana bisa mereka menyukai orang yang ingin menonjok mereka habis-habisan."
Valeda terkekeh lagi karena Daniel mengatakannya dengan wajah serius. "Kamu tidak gagal, Daniel," tambah Valeda. "Kamu menemaniku dengan sabar sampai detik ini, padahal ada pilihan untuk menghajar kedua kakakku atau kabur. Bagiku, itu sudah cukup. Kamu tidak gagal sama sekali."
Daniel ikut tersenyum. Jelas sekali dia merasa bangga setelah dipuji Valeda. "Kalau begitu, untuk upahku malam ini, aku minta dimasakkan nasi goreng besok malam."
"Dan, itu di luar topik!" tolak Valeda. "Untuk pemula sepertiku, berhasil membuat mie instan saja sudah merupakan keajaiban!"
Alis Daniel berkerut mendengar penolakan Valeda. "Aku mau nasi goreng."
"Singkirkan kepala batumu itu sekarang!" Valeda tetap menolak.
__ADS_1
***